scholarly journals COVENANTAL NOMISM AS A 'SYMBOLIC UNIVERSE'

Scriptura ◽  
2016 ◽  
Vol 96 (0) ◽  
Author(s):  
M Cromhout
Author(s):  
Gert J. Malan

The kingdom of God was a central theme in Jesus’ vision. Was it meant to be understood as utopian as Mary Ann Beavis views it, or existential? In 1st century CE Palestine, kingdom of God was a political term meaning theocracy suggesting God’s patronage. Jesus used the term metaphorically to construct a new symbolic universe to legitimate a radical new way of living with God in opposition to the temple ideology of exclusivist covenantal nomism. The analogies of father and king served as the root metaphors for this symbolic universe. They are existential root metaphors underpinning the contextual symbolic universe of God’s patronage in reaction to the collapse of the patronage system which left peasants destitute. Jesus’ paradoxical use of the metaphor kingdom of God had a therapeutic value and gave the concept new meaning. The initial motivation for proclaiming God’s patronage originated in Jesus’ primary identity formation by Mary as single parent and was reinforced in his secondary identity formation by John the Baptist. From these results can be concluded that kingdom of God was not meant to be understood as utopian, but existential. In order to clarify the meaning of kingdom of God and God’s patronage for the 21st century, emythologisation and deconstruction can be helpful especially by highlighting the existential meaning of the kingdom of God.


2012 ◽  
Author(s):  
Hans-Dieter Evers Evers ◽  
Ramli Nordin
Keyword(s):  

2006 ◽  
Vol 12 (2) ◽  
pp. 15-24
Author(s):  
Renata Fox

This article applies corpus linguistics to research the ideologies of Fortune 500 corporations as institutionalised through those corporations’ mission statements. The methodology used is both qualitative and quantitative. Qualitative methodology relates to the semantics of corporations’ ideologies. More precisely, it explains the ideas, beliefs, meanings, and concepts found in corporations’ mission statements, the relation between those ideas, beliefs, meanings, and concepts and society, and what makes those ideas, beliefs, meanings, and concepts meaningful. Quantitative methodology relates to the description and comparison of corporations’ ideologies based on a corpus-driven approach and computational text analysis of a corpus of corporations’ mission statements. Ultimately, through its ideology a corporation creates a symbolic universe: “a matrix of all social and individual meanings” that determines the significance of the corporation and its stakeholders.


1997 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 156-172
Author(s):  
Elaine Wainwright

Responses to the question about Jesus' identity have varied across history and culture. A contemporary Australian answer to this question requires attention to the fruits of feminist theological imagination. This essay thus first offers an overview of the key issues which this question raises within feminist theology generally, with particular attention to the maleness of Jesus, the symbolic universe of male titles, and the attempts made by women to “re-member Jesus”. Notes on recent Australian feminist responses to this question are then followed by a reading of Matthew 11:2–19 as a framework for a future understanding of the identity of Jesus.


2021 ◽  
Vol 31 (Supplement_2) ◽  
Author(s):  
Margarida Pocinho ◽  
Fatima Matos ◽  
Ana Amaral

Abstract Background The symbolic universe of cancer is associated with death, but its treatment has undergone innumerable innovations, which may lead to a new meaning for social representations. The theory of social representations seeks the new, which changes in the knowledge of common sense (Guareschi & Jovchelovitch, 1994). Thus, the objective of this work is to identify the social representations of cancer and breast cancer, identifying their changes and their meanings based on the central nucleus and the peripheral system. Methods Qualitative and descriptive study, based on the structural approach of the theory of social representations. The sample was non-probabilistic and due to accessibility. The collection instrument was a Word Evocation Test with two inducing words, ‘cancer’ and ‘breast cancer’. The subjects were asked to mention three words that came to their mind immediately and spontaneously. The SPSS and IRAMUTEQ software were used. Results 753 subjects participated and 2316 words were evoked for each inducing word. In the central core of cancer the words pain, illness, death, suffering. Central core of breast cancer: treatment, pain, feeling, woman, strength. Conclusions The social representation of cancer is still strongly death, while in breast cancer it is the treatment. Suffering and pain are part of the central core of the two words and continue to characterize the disease, but in breast cancer the word strength appears. It is concluded that the social representation of breast cancer is being reframed.


Cahiers ERTA ◽  
2021 ◽  
pp. 57-79
Author(s):  
Sofia Chatzipetrou

This essay aims to analyze the poetics of the soundscape in Albert Camus’ work, based in the notions of happiness and unhappiness. Our purpose will be to define the characteristics of the symbolism of auditory perception, which are elaborated on the double configuration between happiness and unhappiness. The fact that the symbolic universe of Camus outlines a total sensory experience does no longer need to be demonstrated. Starting from his first lyrical writings to the Notebooks, his writing appeals arouses all the senses. Through a comparative study of examples relating to happiness and unhappiness and while underlining the predominant place of silence in Camus’ aesthetics, we will come off to the conclusion that Camus’s work constitutes a real kind of field recording.


2009 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 207-238
Author(s):  
Chandra Gunawan

Diskusi mengenai soteriologi Yudaisme Bait Allah Kedua (selanjutnya akan disingkat Yudaisme BAK) telah menjadi perdebatan “terpanas” bagi para pakar PB dalam 2-4 dekade ini. Sejak era Reformasi, para pakar PB memandang Yudaisme BAK sebagai agama legalis. Tokoh yang dinilai paling berpengaruh dalam membawa pandangan tersebut adalah Martin Luther dan Rudolf Bultmann. Akan tetapi, sejak E. P. Sanders (1977) menulis buku Paul and Palestinian Judaism, perdebatan mengenai soteriologi Yudaisme BAK mulai menjadi “panas.” Sanders mengatakan Yudaisme BAK bukan agama legalis, sebab mereka tidak pernah menganggap ketaatan pada Taurat dapat membeli keselamatan, ketaatan pada Taurat adalah syarat untuk tetap berada dalam ikatan perjanjian dengan Tuhan. Pandangan Sanders dibenarkan oleh N. T. Wright (1978). James D. G. Dunn (1982) juga meneguhkan pandangan Sanders mengenai Yudaisme BAK dan ia menegaskan juga bahwa pergumulan Paulus dengan Yudaisme BAK harus dilihat dalam konteks sosial dan historis Paulus dan bukan dalam “kaca mata” pergumulan Luther. Disertasi Raisanen (diterbitkan tahun 1983) juga meneguhkan pandangan Sanders, tetapi ia menambahkan bahwa Paulus dalam surat-suratnya sedang menyerang suatu konsep pembenaran melalui perbuatan, namun soteriologi tersebut bukan soteriologi Yudaisme BAK, namun soteriologi yang merupakan bayangan pergumulan Paulus sendiri. Pandangan Sanders kemudian mendapat perlawanan dari Hans Hubner (1984), ia mengatakan dalam Galatia, Paulus jelas-jelas menentang soteriologi Yudaisme BAK. Disertasi Francis Watson (diterbitkan tahun 1986) juga meneguhkan pandangan Sanders mengenai “covenantal nomism,” namun ia melihat polemik Paulus tertuju pada konsep yang salah mengenai hubungan Yahudi-Yunani. Llyod Gaston (1987) memandang soteriologi Yudaisme BAK sama dengan Sanders, namun ia melihat persoalan utama Paulus adalah sikap Yudaisme BAK terhadap orang-orang bukan Yahudi. Pandangan Sanders, kemudian mendapatkan perlawanan dari Stephen Westerholm (1988). Westerholm mengatakan Luther dan para reformator tidak salah, Yudaisme BAK adalah agama legalis sebab soteriologi mereka berasal dari tradisi deuteronomistik yang memang legalis. Akan tetapi, disertasi John M. G Barclay (diterbitkan 1988) kembali meneguhkan Sanders, ia berkata Paulus tidak pernah mengatakan bahwa Yudaisme BAK adalah agama legalis, persoalan utama Paulus adalah ia melihat Yudaisme BAK tidak percaya pada Yesus. Disertasi Walter Hansen (diterbitkan tahun 1989) kembali meneguhkan pandangan Sanders, ia mengatakan, Yudaisme BAK tidaklah legalis dan Paulus tidak sedang menyerang Yudaisme BAK, namun ia sedang menyerang Kristen Yahudi. Disertasi Don Garlington yang dibimbing oleh James D. G. Dunn (diterbitkan tahun 1991), juga meneguhkan pandangan Sanders, Garlington mengatakan ketaatan pada Taurat tidak pernah dimaksudkan untuk membeli keselamatan, namun sebagai konsekuensi seseorang yang telah berada dalam keselamatan. William S. Campbell (1991) meneguhkan pandangan Sanders bahwa persoalan utama Yudaisme BAK di mata Paulus adalah mereka tidak percaya kepada injil. Perlawanan yang keras kemudian diberikan dalam disertasi Timo Laato (diterbitkan tahun 1995), ia memandang aspek kehendak bebas adalah dominan dalam soteriologi Yudaisme BAK, mereka memandang keberadaan seseorang dalam ikatan perjajian dengan Tuhan ditentukan oleh pilihan manusia sendiri. Colin G. Kruse (1997) menyatakan dukungannya atas pandangan Sanders mengenai soteriologi Yudaisme BAK, ia memandang Paulus sedang melawan sebagian kalangan Yahudi yang memandang ketaatan pada Taurat dapat membenarkan mereka. Terence L. Donaldson (1997) mendukung gagasan Sanders, ia melihat persoalan utama Paulus adalah hubungan Yunani dan Yahudi, perubahan sikap Paulus terhadap orang-orang bukan Yahudi, terjadi saat Paulus mengalami pertemuan dengan Kristus di Damsyik. Timo Eskola (1998) melawan pandangan Sanders, ia menemukan bahwa ketidaktaatan pada Taurat akan membuat Israel dibinasakan, oleh sebab itulah Yudaisme BAK (menurut Eskola) adalah “synergism.” Disertasi Kent L. Yinger (1999) menentang Sanders, ia menemukan, dilihat dari aspek penghakiman akhir, Yudaisme BAK tetap memandang ketaatan pada Taurat adalah syarat keselamatan. Carson dan kawan-kawan (2001), juga memberikan perlawanan sengit bagi Sanders, mereka mengatakan Yudaisme BAK meyakini bahwa ketaatan pada hukum adalah syarat untuk tetap berada dalam keselamatan dan dilihat dari konsep tersebut, Yudaisme BAK tetaplah legalis. Andrew Das (2001) melihat dalam konteks keselamatan, Yudaisme BAK menuntut kesempurnaan dalam mentaati Taurat, Yudaisme BAK memandang ketaatan yang sempurna pada Taurat adalah syarat anugerah Allah dan ia juga membuktikan bahwa Paulus sama sekali bukan penganut “covenantal nomism.” Disertasi Simon Gathercole (diterbitkan tahun 2002) meneguhkan pandangan Yinger dan melawan Sanders, ia menegaskan (dalam konteks penghakiman) aspek ketaatan pada Taurat adalah ukuran untuk keselamatan. Chris VanLandingham (2006) menulis hal yang sama dengan Gathercole, namun ia memberikan penekanan yang berbeda, ia melihat konsep penghakiman berdasarkan perbuatan memang dinyatakan dengan kuat dalam Yudaisme BAK, namun hal yang sama juga dinyatakan dalam surat-surat Paulus. Michael F. Bird (2007) menyatakan bahwa Yudaisme BAK memang tidak selegalis yang dituduhkan sebelumnya, namun konsep ketaatan yang menentukan keselamatan memang ada dalam soteriologi mereka, selain itu, Bird (secara tidak langsung) menyanggah pandangan Gathercole dan VanLandingham mengenai konsep “judgment by work” dalam Yudaisme BAK yang dianggap sama dengan yang terdapat dalam PB. James D. G. Dunn (2008) dalam bukunya New Perspective on Paul, ia seorang diri merespons semua kritik yang dilontarkan lawan-lawan “New Perspective.” Jadi, perdebatan mengenai soteriologi Yudaisme BAK belum berakhir. Para pakar PB tidak sepakat dalam menjawab pertanyaan apakah Yudaisme BAK adalah agama yang legalis ataukah tidak. Dalam artikel ini, penulis akan memperlihatkan aspek-aspek yang menjadi perdebatan antara Sanders (dan pengikutnya) dan pakar-pakar yang menjadi lawan-lawannya, tujuannya adalah pembaca dapat melihat kelemahan dari perdebatan yang telah berlangsung sehingga dapat mencari dan meneliti aspek lain/berbeda yang dikontribusikan untuk menjawab perdebatan soteriologi Yudaisme BAK.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document