Revitalisasi MI Nahdlotusy Syubban dengan Pendekatan PSM (Peran Serta Masyarakat) untuk Meningkatkan Kemandirian Sekolah

2016 ◽  
Vol 16 (1) ◽  
pp. 103
Author(s):  
Edi Daenuri Anwar ◽  
Wahyudi Wahyudi ◽  
Joko Budi Purnomo

<p>It has been succesfully done the community services activity by using Participatory Action Research (PAR) entitled “Revitalisasi MI Nahdlotusy Syubban dengan pendekatan peran serta masyarakat (PSM) untuk meningkatkan kemandirian sekolah”. The object of this community services is MI Nahdlotusy Syubban Sarimulyo Winong Pati. To explore the problems in this Islamic Boarding School, 3 correlated actions have been formulated. They are Training on School Based Management, PAIKEM Training, and Focus Group Discussions (FGD) addressed to all school management people. The discussions are mainly about the interconnection of the Islamic School (madrasah) with the society in the field of management, feed-back, and school facilities.</p><p>The results are that the teachers already applied PAIKEM in the teaching learning process and the society can directly involved not only in providing the school facilities but also in implementing the control function to the <em>madrasah.</em>As for knowingthe targetandthe quality of graduates, avision, missionand quality standardsarebeing developedin theschool curriculum.</p><p> </p><p>Telah dilakukan pengabdian dengan metode PAR / Participatory  Action Research dengan judul  “Revitalisasi MI Nahdlotusy Syubban dengan pendekatan peran serta masyarakat (PSM) yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian sekolah”. Objek  pengabdian ini adalah MI Nahdlotusy Syubban Sarimulyo Winong Pati.  Untuk mengurai masalah-masalah di madrasah ini di rumuskan 3 tindakan  kegiatan yang saling berkaitan. Pelatihan Manajemen berbasis sekolah (MBS), dan untuk memperjelas komponen MBS dalam proses pembelajaran  diadakan pelatihan  pembelajaran aktif, inovatif, kreatif, efektif dan  menyenangkan (PAIKEM ) sedangkan komponen keuangan, sarpras dan hubungan dengan masyarakat yang merupakan penjabaran dari MBS dirangkum dalam<em> Focus Group Discussion  </em>( FGD) yang di ikuti oleh pemangku kepentingan madrasah meliputi Guru, kepala Sekolah, Yayasan, Komite dan masyarakat secara umum. Dalam FGD ini membahas keterkaitan antara madrasah dengan masyarakat baik dalam bidang manajemen, umpan timbal balik, dan pengadaan sarana dan Prasarana</p><p>Hasilnya guru-guru mulai menerapkan PAIKEM dalam pembelajarannya, dan ternyata masyarakat langsung membuktikan peran sertanya dalam pengadaan dan pembuatan sarana dan prasarana madrasah serta melaksankan fungsi kontrol terhadap madrasah. Sedangkan untuk mengetahui target dan mutu lulusan di susunlah visi misi dan standar mutu lulusan yang mulai  dikembangkan dalam kurikulum pembelajaran sekolah.</p>

2020 ◽  
Vol 20 (2) ◽  
pp. 159
Author(s):  
An Ras Try Astuti

<p><em>This research aims to design an empowerment model that is appropriate to the character of the community in Wajo, South Sulawesi. The focus of this research-based empowerment activity is the development of the business of women fisherman Bale Bungo (oxyeleotris marmorata). This study uses a qualitative approach model with a participatory action research (PAR) method. The research subjects consisted of the head of the sub-district, the village head and the fisherman Women's Community. The data of this study were obtained by observation, interview and documentation techniques. The results of the study are as follows. (1) Identification of community needs through Brainstorming (2) Mapping of Village Potential (3) Planning and increasing the capacity of group members through a series of training and focus group discussions (FGD). Indicators of successful training include increasing knowledge and skills to process Bungo into value-added souvenirs. Fisherman women, as well as the increasing economic income of the surrounding community. In addition, it is expected that in the future there will be a Sustainability of women's empowerment program in developing business products in order to compete and compete at the national and international levels.</em></p><p> </p><p>Penelitian ini bertujuan untuk mendesain model pemberdayaan yang sesuai dengan karakter masyarakat di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Fokus pada kegiatan pemberdayaan berbasis penelitian ini adalah pengembangan usaha perempuan nelayan Bale Bungo (oxyeleotris marmorata) Penelitian  ini  menggunakan model pendekatan kualitatif dengan metode  participatory  action  research  (PAR).Subjek  penelitian  terdiri  dari  kepala kecamatan dan Komunitas Perempuan nelayan.  Data penelitian ini diperoleh dengan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian adalah sebagai berikut. (1) Identifikasi kebutuhan masyarakat melalui Brainstorming (2) Pemetaan Potensi (3) Perencanaan dan melakukan peningkatan kapasitas anggota kelompok Melalui serangkaian pelatihan dan focus group discussion (FGD). Indikator keberhasilan pelatihan diantaranya adalah bertambahnya pengetahuan dan keterampilan untuk mengolah ikan bungo menjadi produk oleh-oleh yang bernilai tambah ekonomis. Perempuan nelayan, serta meningkatnya pendapatan ekonomi masyarakat sekitar. Selain itu, diharapkan kedepannya akan ada Keberlanjutan program pemberdayaan perempuan dalam pengembangan produk usaha agar dapat bersaing dan berkompetisi ditingkat nasional dan international <strong></strong></p><p> </p>


Author(s):  
Darul Ilmi ◽  
Melia Afdayeni ◽  
Kori Lilie Muslim

<p>This article aims to describe the existence of the <em>majelis taklim</em> (Islamic forum) and how this <em>majelis taklim</em> strengthen its role in providing multicultural education for multicultural communities in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra. In contrast to several studies which show that the <em>majelis taklim</em> is an agent of spreading intolerant narratives in society, this article tries to present the face of the <em>majelis taklim</em> that is friendly to diversity by strengthening multicultural education. This study uses a participatory action research method. Data were obtained through interviews, focus group discussion<em>, </em>observations, documentation, and actions or improvements through workshops in the July-November 2018 period at <em>majelis taklim</em> in Sitiung Dharmasraya, West Sumatra. The findings of this study indicate that the <em>majelis taklim</em> in Sitiung are attended by people who come from various elements and backgrounds and different mindsets, but the attitude of togetherness is maintained and synergized. In addition, the existing <em>majelis taklim</em> are used as a forum for increasing awareness of community members who are starting to feel the impact of modernization and globalization, and are starting to plunder solidarity and tolerance. The strengthening of multicultural education carried out through participatory action research in this study shows that the taklim assembly can function as a center for peace values, a center for change agents to become better Muslims, a community development center, communication and information center, a cadre center and a social control agent.</p><p> </p><p class="abstrak"><em>Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan eksistensi majelis taklim dan memperkuat perannya dalam menghadirkan pendidikan multikultural bagi masyarakat multikultural di Sitiung Dharmasraya, Sumatera Barat. Berbeda dengan beberapa studi yang menunjukkan bahwa majelis taklim menjadi agen penyebar narasi intoleran di masyarakat, artikel ini berusaha menghadirkan wajah majelis taklim yang ramah keragaman dengan usaha memperkuat pendidikan multikultural. Studi ini menggunakan metode participatory action research. Data diperoleh melalui wawancara, focus group discussion, observasi, dokumentasi, serta aksi atau penguatan melalui workshop pada periode Juli-November tahun 2018 di majelis taklim yang ada di Sitiung Dharmasraya, Sumatera Barat. Temuan studi ini menunjukkan bahwa majelis taklim-majelis taklim yang ada di Kecamatan Sitiung diikuti oleh masyarakat yang datang dari berbagai unsur dan latar belakang serta pola pikir yang berbeda, namun sikap kebersamaan tetap terjaga dan bersinergi. Selain itu, kelompok majelis taklim yang ada dijadikan sebagai wadah untuk peningkatan kesadaran anggota masyarakat yang mulai merasakan dampak modernisasi dan globalisasi, serta mulai menjarah solidaritas dan toleransi. Penguatan pendidikan multikultural yang yang dilakukan melalui participatory action research dalam studi ini, menunjukkan bahwa majelis taklim dapat berfungsi sebagai pusat nilai perdamaian, pusat agen perubahan untuk menjadi umat Islam yang lebih baik, pusat pengembangan masyarakat, pusat komunikasi dan informasi, pusat kader dan agen kontrol sosial.</em></p>


2018 ◽  
Vol 17 (2) ◽  
Author(s):  
Sepriyandi .

Abstrak  Penelitian ini bertujuan untuk menyempurnakan program intervensi awal yaitu Pengembangan Kegiatan Pelatihan dan Pemagangan Bagi Penyandang Disabilitas Pada Program Equal Employment Opportunities For Disabled People In Hospitality Industry di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif, jenis penelitian Participatory Action Research (PAR). Teknik pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD) dan studi dokumentasi. Pemeriksaan keabsahan data dilakukan melalui uji kredibilitas, uji konfirmabilitas, uji transferabilitas, dan uji dependabilitas. Penelitian ini didasarkan pada terjadinya beberapa permasalahan pada program. Hasil asesmen menunjukkan bahwa : 1) belum adanya kesepakatan bersama dalam koordinasi antara STPB dengan berbagai industri dalam kegiatan pemagangan peserta disabilitas, dan 2) belum adanya kesempatan industri untuk memberikan penilaian kebutuhan mereka terhadap penyandang disabilitas yang akan dimagangkan. Berdasarkan kondisi diatas, maka dirancanglah program yaitu pengembangan jaringan. Program tersebut dielaborasi dalam beberapa kegiatan antara lain : 1) Penyusunan perjanjian kerjasama tentang perlindungan bagi penyandang disabilitas yang menjadi sasaran program Equal Employment Opportunities For Disabled People In Hospitality Industry. 2) Pengembangan Jaringan antara STPB dengan HHRMA Bandung. 3) Supervisi pengembangan jaringan dalam kegiatan pelatihan dan pemagangan tahun 2016. Hasil evaluasi akhir dalam keberhasilan pelaksanaan program, dirasakan oleh STPB dengan meningkatnya jumlah industri yang ingin bekerjasama dengan STPB dalam memberikan job training atau magang kerja kepada penyandang disabilitas, dan terbatasnya waktu untuk melegitimasikan/mengesahkan lembar perjanjian kerjasama antara STPB dengan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jawa Barat, menyadarkan STPB harus melakukan koordinasi lebih intensif lagi dengan instansi tersebut.  Kata kunci : Jaringan, Program disabilitas STPB, Industri.


Jurnal PEPADU ◽  
2020 ◽  
Vol 1 (3) ◽  
pp. 280-297
Author(s):  
Halil Halil ◽  
Taslim Sjah ◽  
IGL Parta Tanaya ◽  
I Ketut Budastra ◽  
Suparmin Suparmin

Pengusahaan sorgum oleh petani di Desa Loloan Kecamatan Bayan KLU belum intensif dan masih sebatas sebagai tanaman sela dan bahkan hampir punah, padahal sorgum sangat layak dikonsumsi karena kandungan gizinya tidak jauh berbeda dengan kandungan gizi jagung, beras dan gandum. Oleh karena itu, sorgum perlu direvitalisasi pengusahaannya. Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi petani untuk melakukan revitalisasi usahatani sorgum secara intensif untuk meningkatkan produksi sorgum sebagai bahan makanan lokal pengganti beras di Desa Loloan Kecamatan Bayan KLU. Mengintroduksi model usahatani sehat dengan biaya rendah berbasis agribisnis sorgum yang berdaya saing tinggi untuk menghasilkan produk pangan lokal yang sehat dengan nilai gizi seimbang tanpa/minim residu bahan beracun. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan dengan metode pengajaran orang dewasa dengan pendekatan kelompok melalui Focus Group Discussion (FGD) dipadukan dengan percontohan budidaya sorgum di lahan milik petani. Kesimpulannya adalah masyarakat tani sangat antusias dan sangat bersedia melakukan revitalisasi usahatani sorgum, baik di lahan kering (ladang) maupun sawah untuk konsumsi pangan lokal pengganti beras. Pasar merupakan faktor utama pengusahaan sorgum secara luas.Revitalisasi memerlukan usaha yang komprehensif dengan melibatkan berbagai stakeholder karena tidak ada petani yang membudidayakan sorgum secara khusus sebagai tanaman utama. Oleh karena itu, revitalisasi usahatani sorgum memerlukan keperdulian penentu kebijakan dan pengambil keputusan seperti pemerintah daerah untuk bersinergi dengan perguruan tinggi dan perusahaan untuk menjadikan sorgum sebagai bahan baku industri pengolahan makanan dan sebagai makanan local pengganti beras dan gandum. Revitalisasi usahatani sorgum dapat digandeng dengan introduksi model usahatani sehat dengan biaya rendah berbasis agribisnis sorgum yang berdaya saing tinggi untuk menghasilkan produk pangan lokal yang sehat bernilai gizi seimbang dan tanpa/minim residu bahan beracun. Ketua Kelompok Tani dapat difungsikan sebagai diseminator usahatani sehat berbasis usahatani sorgum dengan paket teknologi produksi sorgum yang telah teruji secara lokal dan secara ekonomi diterima oleh petani. Direkomendasikan agar pelaksanaan kegiatan pengabdian perlu disertai dengan Longitudinal Action Research) dengan metode Participatory Action Research dengan pendekatan partisipasi masyarakat (Rural Community Participatory Approach)


2020 ◽  
Vol 30 (Supplement_5) ◽  
Author(s):  
G Maharjan ◽  
B Devkota ◽  
S Gjotterud ◽  
S L Bastien

Abstract School education has immense role for the better future of a country. However, schools such as in a developing, country like Nepal face many barriers in demand creation as well as quality in classroom delivery. Students enter the school with mental stress and family problems. This restricts the educational outcome of schooling. Social entrepreneurship (SE) is an alien idea still in most schools in Nepal. By this venture, School social entrepreneurship can help the students and society to detect the skill of life which changes their life standard in future. It helps students to be regular in school, improve their health and ultimately bring change in overall educational achievement. In contrary to this, because of students poor economic condition they are neither able to have proper breakfast nor lunch which leads to sleepiness and inability to concentrate in the class room. Hence their learning outcome is poor. Following a Participatory Action Research (PAR) paradigm, the first author spent more than a year with rigorous field engagement in Janajivan Secondary school at Chitwan district of Nepal in order to understand the context and real need of SE. The school has own building and enough land where opportunity to develop entrepreneurship activities with the concept of 'supporting livelihood of parents through SE' approach. To dig out the reasons, We used informal talk, focused group discussion, observation and interview with teachers, students, community members, school management committee and parents. The study finding indicates that lack of time, teacher's fear of commercialism, impeding educational structures and sustainability were some of the challenges integrating SE in school. Experiential earning and learning based activities can be practiced in school outside the classroom. Having SE at school with parental involvement can be innovative pedagogical approach in school education of Nepal. Key messages Entrepreneurship linking with health education. Promote livelihood with entrepreneurship by participatory action research.


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 11-20
Author(s):  
Citra Dwi Palenti ◽  
Iis Prasetyo ◽  
Ririn Gusti

Abstrak Keberhasilan destinasi wisata tidak akan terlepas dari perencanaan yang dilakukan di awal. Kebutuhan masyarakat lokasi destinasi wisata menjadi hal yang pertama dan utama mengingat bahwa suatu program berkaitan erat dengan potensi dan masalah. Sehingga tujuan penelitian ini yaitu untuk melakukan analisis kebutuhan masyarakat desa Sidoluhur sebagai dasar dalam perencanaan program permberdayaan masyarakat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode Participatory Action Research (PAR) melalui 3 strategi yaitu: sosialisasi, pelaksanaan, serta monitoring dan evaluasi program. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, Focused Group Discussion (FGD), wawancara dan teknik dokumentasi. Berdasarkan strategi yang dilakukan kemudian dapat disimpulkan bahwa permasalahan utama yang dihadapi oleh masyarakat yaitu terkait dengan masih rendahnya wawasan masyarakat terkait dengan pengelolaan destinasi wisata dan belum semua elemen masyarakat aktif berpartisipasi. Berdasarkan hasil kebutuhan tersebut, maka upaya pengembangan diperlukan pembinaan secara berkala dan sinergi dengan program pemerintah agar dapat saling berkolaborasi. Abstract The success of a tourist destination will not be separated from the planning done at the beginning. The needs of the tourist destination location community are first and foremost considering that a program is closely related to potential and problems. So the purpose of this research is to analyze the needs of the community in Sidoluhur village as a basis for planning community empowerment programs. The study was conducted using the Participatory Action Research (PAR) method through 3 strategies: socialization, implementation, and program monitoring and evaluation. Data collected through observation techniques, Focused Group Discussion (FGD), interviews and documentation techniques. Based on the strategy carried out then it can be concluded that the main problems faced by the community are related to the still low level of community insight related to the management of tourist destinations and not all elements of society actively participate. Based on the results of these needs, the development effort needed for regular development and synergy with government programs in order to collaborate with each other. 


EGALITA ◽  
2017 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
Author(s):  
Naimah Naimah

<p>Research method used in this research is Participatory Action Research (PAR) using techniques Forum Group Discuddion (FGD). The purpose of the activities FGD specially fo women are to (1) Identify violations of children's rights in the community of Igir-igir village, (2) Knowing the factors cause the existence of violations of children's rights (3) find out how the activity of law FGD Law can be one of the efforts to minimize violations of children's rights in the hamlet of Igir-igir.</p><p>The results of FGD Law specially for Women in igir-igir are as follows: first, breach of the rights of children are as follows: (1) many children dropped out from school (2) many wedding early age are occured, (3) many children have no legal identity and citizenship status. Secondly, the causes of violations of children's rights are economic factor, lack of knowledge, and culture. Third, after getting knowledge of FGD regarding law and Government policy then it can minimize the violation of children's rights, one of the proof there are 27 women who register the birth certificates of her family.</p><p>Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Participatory Action Research (PAR) dengan menggunakan teknik Forum Group Discuddion (FGD). Tujuan kegiatan FGD Hukum khusus perempuan adalah (1) Mengidentifikasi pelanggaran hak anak di masyarakat dusun Igir-igir, (2) Mengetahui faktor-faktor penyebab adanya pelanggaran hak anak (3) Mengetahui bagaimana FGD Hukum Khusus perempuan dapat menjadi salah satu upaya meminimalisir pelanggaran hak anak di dusun Igir-igir.</p><p>Hasil FGD Hukum khusus perempuan di Dusun igir-igir sebagai berikut: Pertama, Pelanggaran hak anak sebagai berikut: (1) banyak anak putus sekolah (2) Banyak ditemui pernikahan usia dini, (3) Banyak anak tidak mempunyai legalitas identitas diri dan status kewarganegaraan. Kedua,Penyebab pelanggaran hak anak faktor perekonomian, kurangnya pengetahuan, dan budaya. Ketiga, setelah mendapatkan pengetahuan dari FGD mengenai Hukum dan kebijakan pemerintah maka dapat meminimalisir pelanggaran hak anak, salah satu buktinya ada 27 Perempuan yang mendaftarkan akte kelahiran keluarganya.</p><p align="center"> </p>


2021 ◽  
Author(s):  
◽  
Duc Tran

<p>This research employed a Participatory Action Research methodology to work with minority inter-provincial students and unearth their lived experiences at the University of Danang in Vietnam. It focused on examining the undervaluation of inter-provincial students’ voices in the university’s policies – and to a wider extent, in most Vietnamese universities – by facilitating a process in which their challenges and ideas for change at university could be heard.  This research also sought to observe and analyse the influences of power dynamics within a Confucian-heritaged context on the participatory research process itself. Vietnam is believed to be a society in which hierarchical power takes its deepest roots due to the effects of Confucianism. By using Participatory Action Research with a variety of methods – photovoice, diagraming, group discussion, interviewing and exhibition – I sought to facilitate student voices and document some of the potential and constraints of the methodology within this cultural context.  The research involved eleven student participants and ten teacher participants over a period of six weeks. Data was collectively analysed and shared by student participants with invited teachers through an exhibition at the University of Danang. Throughout the process, I took extensive field notes of my observations and interactions with participants. Data analysis was then written and presented in this thesis based on what participants had provided. Key themes that this thesis explores are: (1) challenges that faced inter-provincial students, (2) the impact of Confucius hierarchical power on participants’ involvement and ownership in the research and (3) the role of language and emotion when undertaking Participatory Action Research in such a context.  The process generated clear evidence of the common challenges facing interprovincial students associated with limited finances, mentality/spirituality, and poor living conditions. From analysis of these challenges, the research provides recommendations for teachers, university administrators and policy-makers. These recommendations promote a more holistic pedagogy that better encourages students to develop themselves throughout their time at university.  The thesis also concludes that the use of Participatory Action Research within higher education settings in Vietnam can serve as a research model for the betterment of disadvantaged minority students. It could help minimise the effects of neoliberalism on the country’s higher education sector and foster better development outcomes for students and their home provinces.</p>


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document