hernia inguinalis
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

34
(FIVE YEARS 2)

H-INDEX

2
(FIVE YEARS 0)

2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 115-123
Author(s):  
Ringgo Alfarisi ◽  
Mizar Erianto ◽  
Fitri Chintiyani

ABSTRACT: RELATIONSHIP BETWEEN BODY MASS INDEX AND TYPES OF INGUINAL HERNIA Background: One of the risk factors that can influence or increase the incidence of inguinal hernia is overweight and obesity. Body mass index (BMI) is a simple way to see the nutritional status of adults, especially with regard to underweight and overweight.Objective: To determine the relationship between Body Mass Index and the type of inguinal herniaResearch Methods: The design in this study used a cross sectional design. The population in this study were all inguinal hernia patients at Pertamina Bintang Amin Hospital Bandar Lampung in 2019-2020. The sample in this study amounted to 98 people using purposive sampling technique. Where patients with congenital hernia, chronic cough, and comorbid disease, were excluded from the study. The data obtained were analyzed using the chi square statistical test.Result: 18 respondents (20.45%) patients diagnosed with lateral inguinal hernia had normal weight and 70 respondents (79.55%) other respondents diagnosed with lateral inguinal hernia. Meanwhile, 6 respondents (60%) who were diagnosed with medial inguinal hernia were overweight-obese, while the other 4 respondents (40%) who were diagnosed with medial inguinal hernia were overweight-obese. The results of the bivariate statistical test using chi square obtained a p-value of 0.013.Conclusion: There is a significant relationship between body mass index and the type of inguinal hernia. Keywords: Body Mass Index, Lateral Inguinal Hernia, Medial Inguinal Hernia  INTISARI: HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUHDENGAN JENISHERNIA INGUINALIS  Latar Belakang:Salah satu faktor resiko yang dapat mempengaruhi atau meningkatkan angka kejadian dari hernia inguinal adalah overweight dan obesitas. Indeks massa tubuh (IMT) merupakan cara sederhana untuk melihat status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan jenis hernia inguinalisMetode Penelitian:Rancangan dalam penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien hernia inguinalis sebanyak di RS Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung tahun 2019-2020.Sampel pada penelitian ini berjumlah 98 orang dengan menggunakan tekhnikpurposive sampling. Dimana pasien dengan hernia kongenital, batuk kronis, dan penyakit komorbid, diekslusi dari penelitian. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan uji statistic chi square.Hasil penelitian:Didapatkan 18 responden (20,45%) pasien yang didiagnosa hernia inguinalis lateralis memiliki berat badan normal dan 70 responden (79,55%) responden lainnya yang didiagnosa hernia inguinalis lateralis. Sementara itu, 6 responden (60%) responden yang didiagnosa hernia inguinalis medialis memiliki berat badan overweight-obesitas sedangkan 4 responden lainnya (40%) yang didiagnosa hernia inguinalis medialis memiliki berat badan overweight-obesitas.Hasil uji statistik bivariat menggunakan chi square diperoleh nilai p-value 0,013.Kesimpulan:Terdapat hubungan yang bermakna antara indeks massa tubuh dengan jenis hernia inguinalis. Kata kunci: Indeks Massa Tubuh, Hernia Ingunalis Lateralis, Hernia Inguinalis          Medialis


2021 ◽  
Vol 2 (5) ◽  
pp. 637-641
Author(s):  
Mirza Nuchalida ◽  
Agus Ujianto ◽  
Niko Yuandi
Keyword(s):  

Kegawatdaruratan Bedah Abdomen Anak terhitung 2,4-3,1% pada kasus anak. Penyebab kegawatdaruratan bedah abdomen anak sangat umum dan sulit untuk diterapi. Objek pada penelitian ini menerapkan pada Rumah Sakit Sekunder di Rumah Sakit Islam Banjarnegara dengan pola dan hasil yang ada. Metode rekam medis anak usia 1 tahun hingga 16 tahun yang di rawat inap dengan operasi bedah abdomen pada anak di Rumah Sakit Islam Banjarnegara, antara tahun 2018 hingga Maret 2021 secara retrospektif. Hasil penelitian ada 40 anak usia 1 bulan hingga 16 tahun dalam penelitian ini. 25 laki-laki dan 15 perempuan. Rata rata usia nya adalah 10 tahun sementara lamanya dirawat inap di rumah sakit adalah   4,5   hari 25 pasien (62,5%) didiagnosis dalam 24 jam, 11 pasien (27,5%) di terapi setelah 24 jam hingga 48 jam, dan 4 pasien (10%) di terapi dalam waktu > 48 jam. trauma abdomen 1 anak (3,25%), intususepsi 3 anak (7,5%), hernia inguinalis 2 anak (3,125%), obstruksi usus 5 anak (12,55%), apendisitis perforasi 13 anak (32,5%), dan akut apendisitis 16 anak (40%), 39 anak (97,5%) yang mendapat komplikasi setelah operasi. Rata -rata komplikasinya adalah infeksi dan terjadi perforasi apendiks dengan nilai (p: 0,05). Tidak ada kematian dalam kasus ini. Kesimpulan dalam penelitian ini, akut apendisitis adalah penyebab tersering dalam penanganan kegawatdaruratan bedah abdomen anak di Rumah Sakit Islam Banjarnegara. Ilustrasi ini memiliki pola dan hasil.


2020 ◽  
Vol 9 (4) ◽  
pp. 650-661
Author(s):  
Tahalli Tahalli ◽  
I Ketut Anom Dada ◽  
I Wayan Wirata

Hernia inguinalis merupakan protursi dari suatu organ atau bagian dari organ, lemak atau jaringan melalui cincin inguinal, yaitu diantara pangkal paha dan otot perut. Tujuan penulisan studi kasus ini adalah untuk mengetahui cara mendiagnosis, penanganan dan pengobatan kasus hernia inguinalis pada anjing. Seekor anjing campuran Pomeranian berumur tiga tahun dengan berat badan 4 kg, dengan warna rambut putih, berjenis kelamin betina, telah didiagnosis menderita hernia inguinalis dengan prognosis fausta. Metode pengobatan yang dipilih adalah tindakan pembedahan. Sebelum dilakukan pembedahan, anjing kasus diberikan premedikasi menggunakan atropin sulfat 0,03 mg/kg BB dan sebagai anestesi digunakan kombinasi ketamin dan xylazin. Dosis ketamin diberikan 13 mg/kg BB dan xylazin 2 mg/kg BB. Anjing ditangani dengan pembedahan, insisi dilakukan pada kulit dan subkutan tepat di atas cincin hernia hingga terlihat isi hernia. Selanjutnya dilakukan reposisi dengan cara memasukkan isi hernia ke dalam rongga abdomen. Setelah reposisi, pada bagian tepi cincin hernia dibuat luka baru untuk memungkinkan terjadinya penyatuan jaringan. Kemudian dilakukan penjahitan pada peritoneum dengan polyglycolic acid 3.0 dengan pola jahitan terputus sederhana, jahitan subkutan menggunakan catgut 3.0 dengan pola jahitan menerus sederhana dan pada kulit dijahit menggunakan pola jahitan terputus sederhana menggunakan benang silk 3.0. Pasca operasi diberikan antibiotik injeksi amoxicillin 1 ml/10 kg BB yang dilanjutkan dengan pemberian obat peroral yaitu antibiotik amoxicillin 500 mg (20 mg/kg BB) selama tujuh hari, pemberian analgesik meloxicam 7,5 mg (0,2 mg/kg BB) selama lima hari. Satu minggu kemudian anjing dinyatakan sembuh berdasarkan keadaan fisik dan klinis.


2020 ◽  
Vol 47 (1) ◽  
pp. 97-110
Author(s):  
Devby Ulfandi ◽  
Wifanto Saditya Jeo

Latar Belakang: Angka komplikasi dan kekambuhan pascaoperasi herniorafi cukup tinggi dan menuntut teknik operasi terbaik. Teknik Lichtenstein merupakan gold standard untuk openherniorafi hernia inguinalis. Saat ini teknik laparoskopi minimal invasive semakin berkembang dan banyak studi menunjukkan hasil lebih baik dibandingkan Lichtenstein. Studi ini bertujuan membuktikan perbedaan insidensi komplikasi pascaoperasi herniorafi dengan mesh  teknikLichtenstein dan teknik laparoskopi pada pasien hernia inguinalis di RS dr. Cipto Mangunkusumo dalam 5 tahun (2011-2015). Metode: Studi ini bersifat potong lintang/cross sectional deskriptif analitik terhadap 62 subjek dewasa yang telah menjalani operasi elektif herniorafi dengan mesh di RS dr. Cipto Mangunkusumo. Dengan stratified random sampling subjek dibagi dua kelompok,Lichtenstein dan laparoskopi, kemudian dilakukan analisis statistik dengan Chi square atau uji Fisher, dan regresi logistik multivariat. Didapatkan hubungan apabila ditemukan nilai p < 0,05 dengan interval konfidensi 95%. Hasil: Insidensi terjadinya komplikasi pascaoperasi herniorafi dengan mesh teknik Lichtenstein dan laparoskopi dari 62 subjek secara signifikan berhubungan (p = 0,006 , OR 7,229 , IK 95% 2,33–22,35) sehingga berisiko 7,2 kali menimbulkan komplikasi pada teknik Lichtenstein.Juga didapatkan bahwa variabel lama rawat dan jenis operasi berhubungan secara signifikan dengan terjadinya komplikasi pascaoperasi (p = <0,001). Variabel usia, lama operasi, dan indeks masa tubuh tidak memiliki hubungan secara signifikan dengan komplikasi pascaoperasi kedua teknik tersebut (p = >0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan insidensi komplikasi pascaoperasi herniorafi dengan mesh teknik Lichtenstein dan teknik laparoskopi pada penderita hernia inguinalis di RS dr. Cipto Mangunkusumo, yang menunjukkan insidensi komplikasi lebih banyak muncul pada tindakan Lichtenstein dibandingkan laparoskopi dengan faktor lama rawat dan jenis operasi yang bermakna secara signifikan terhadap insidensi komplikasi pascaoperasi.


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Eneng Daryanti ◽  
Fitriani Mardiana

ABSTRAKUpaya untuk menyembuhkan hernia inguinalis salah satunya adalah dengan cara operasi. Pada pasien pertama yang menjalani operasi seringkali pasen merasakan kecemasan yang sangat tinggi. Kecemasan adalah pergolakan emosional seseorang yang terkait dengan sesuatu di luar dirinya. Studi pendahuluan yang dilakukan peneliti pada Oktober 2019 di RS TNI AU dr. M Salamun Bandung melalui wawancara dengan lima pasien hernia yang akan dioperasi, semuanya menyatakan khawatir dan cemas ketika mau menjalani operasi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas hipnoterapi dalam mengurangi kecemasan pada pasien pra operasi hernia inguinalis. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen dengan pendekatan eksperimen semu, total populasi 32 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Purposive Sampling yang berjumlah 28 orang. Instrumen yang digunakan adalah HARS, dan analisis data menggunakan rumus uji T. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata tingkat kecemasan sebelum hipnoterapi pada pasien pra operasi hernia inguinalis adalah 42 dengan kategori tingkat kecemasan parah, tingkat kecemasan median setelah hipnoterapi pada pasien pra operasi hernia inguinalis 23 orang termasuk kategori sedang. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kecemasan rata-rata sebelum dan sesudah diberikan hipnoterapi 19,4, standar deviasi 3,1, thit sebesar 33,11 dengan t-tabel 2,056, nilai CI 95% sebesar 18,16-20,55, dengan nilai signifikan 0,000, dari hasil diperoleh tht lebih besar dari nilai ttabel (33.11> 2.056), maka H0 ditolak berarti percaya 95% bahwa hipnoterapi dapat secara efektif mengurangi kecemasan pasien hernia preoperatif di RS TNI AU dr. M Salamun Bandung pada 2019.Kata Kunci : Hypnotherapi, tingkat kecemasan


2019 ◽  
Vol 7 (4) ◽  
pp. 698-699
Author(s):  
Georgi Tchernev ◽  
Ivanka Temelkova

BACKGROUND: The cricothyroid area is an atypical localisation for placement of basal cell carcinomas. The main differential diagnosis for cutaneous tumours in this area is between BCC, spinocellular carcinoma and melanoma. The area is problematic about the choice of therapeutic approach, especially in the case of a vague clinical tumour type accompanied by enlarged lymph nodes in the immediate proximity. CASE REPORT: We present an 84- year- old woman with a tumour formation located next to the left cricothyroid area. The lymph node ultrasonography performed during the hospitalisation revealed the presence of an enlarged lymph node in the upper third of m. Sternocleidomastoideus. The initial ultrasound data of the lymph nodes were in the direction of an inflammatory rather than a metastatic process. Therefore 5 days of therapy with Ceftriaxone x 2 g/day was conducted. The nodular tumour formation was surgically removed by radical elliptic excision. The subsequent histological study found that it was Stage II basal cell carcinoma (T2N0M0). A surgeon's consultation was conducted due to a patient's complaint about abdominal pain, and clinical evidence of a hernia inguinalis incarcerata was established for which the patient was urgently transferred to a surgical ward. Two weeks after the antibiotic treatment, a control echography of the enlarged lymph node in the area of m. Sternocleidomastoideus was performed, which showed complete involution of the lymph node. CONCLUSION: Due to the specific anatomical features of the neck, such as a large number of lymph nodes and the resulting proximity between them and the primary tumours located in the area, it is often difficult to determine whether the lymph nodes are metastatically affected or inflammatory enlarged. In cases of missing ultrasound data for the metastatic process in the lymph nodes, surgical excision of the skin tumour with regular follow-up echographic control of the relevant lymph nodes represents an optimal therapeutic solution.


Author(s):  
I Dewa Gede Kariasa ◽  
Anida Anida ◽  
Suswatiningsih Suswatiningsih

Background: There has been hernia occurrence on November 15 th, 2016 in RSUD Wonosari.  The number of Hernia inguinalis patients from January until October 2016 was 145 people. This  figure consisted of  143 (98.60) male patients and 2 (1.30%) female patients. Objective: The study aimed at identifying the Relationship between the Patients’ Knowledge Level Regarding Hernia and the Hernia Occurrence in the Surgery Polyclinic of RSUD Wonosari. Method: The study was an analytic descriptive research by cross-sectional approach. For the sampling technique, the researchers selected the quota sampling technique. The population in this study was 300 people, while the sample that had been selected for this study was 75 respondents. The data were gathered through questionnaire distribution. The researchers also performed bivariate analysis by means of Chi Square test. Results: The results of this study showed that 24.00% of the respondents had good knowledge level regarding hernia, 32.00% of the respondents had moderate knowledge level regarding hernia, and 44.00% of the respondents had poor knowledge regarding hernia. The number of hernia patients from March 6 th March 25 th, 2016, was 9 people. From the results of signifi cance test, the researchers found the sig. value = 0.001.Conclusion: There has been signifi cant relationship between the knowledge level regarding hernia and the hernia occurrence in the Surgery Polyclinic of RSUD Wonosari.


2018 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 81-87
Author(s):  
Suryanti .
Keyword(s):  

Hernia merupakan prostusi atau penonjolan isi rongga melalui defek atau bagian lemah dari dinding rongga bersangkutan. Hernia disebabkan karena adanya tekanan intra abdomen seperti batuk dan mengejan. Hernia apabila tidak segera ditangani akan menyebabkan terjadinya perlengketan antara isi hernia dengan dinding kantong hernia sehingga isi hernia tidak dapat dikembalikan lagi. Penderita hernia memang kebanyakan laki-laki, kebanyakan penderitanya akan merasa nyeri, jika terjadi infeksi didalamnya. Hernia yang terjadi pada anak – anak lebih disebabkan karena kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar. Sementara pada orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya dinding otot perut.Teori adaptasi Calista Roy merupakan model keperawatan yang menguraikan bagaimana individu mampu meningkatkan kesehatan dengan cara mempertahankan perilaku adaptif serta mampu merubah perilaku yang inadaptif. Jenis studi kasus ini adalah studi kasus post op hernia inguinalis dengan aplikasi teori Calista Roy dengan menggunakan metode deskriptif yaitu suatu metode yang dilakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan secara obyektif dan memusatkan perhatian pada objek tertentu. Hasil penelitian didapatkan keefektifan dalam teori Calista Roy pada post op hernia inguinalis ini yaitu mengajarkan klien untuk beradaptasi baik adaptasi prilaku maupun fisiologi, dimana Tn. N dapat beradaptasi baik internal dan eksternal, dengan melaksanakan implementasi yang diberikan dengan mengacu pada adaptasi untuk mencapai derajat optimal yang telah disampaikan dapat dilakukan dengan Tn. N secara bertahap. Dimana pelaksanaan tindakan dilakukan selama 6 hari dan pada hari pertama pelaksanaan tindakan cara mengatasi nyeri pada daerah post op saat beraktifitas dan pada hari ke 6 semua implementasi dapat dipahami dan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas klien dan prilaku pola makan yang baik, lebih memfokuskan untuk mencoba mengubah prilaku klien dalam mengatasi masalah. Secara khusus, perawat harus mampu meningkatkan respon adaptif pasien pada situasi sehat atau sakit. Perawat mampu mengambil tindakan untuk memanipulasi stimuli fokal, kontektual, maupun residual stimuli dengan melakukan analisa sehingga stimuli berada pada daerah adaptasi. Perawat harus mampu bertindak untuk mempersiapkan pasien mengantisipasi perubahan melalui penguatan regulator, kongnator dan mekanisme koping yang lain.


2017 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 17
Author(s):  
Dian Vidiastuti

<div data-canvas-width="51.330449979748906">Hernia terjadi akibat kelemahan dinding abdomen sehingga memungkinkan bagian usus atau organ lain melewati celah abdomen mengakibatkan penonjolan. Dua ekor kucing jantan, berumur sekitar 3-4 bulan, menjalani pemeriksaan radiologi di Rumah Sakit Hewan Pendidikan Universitas Brawijaya. Gambaran radiografi kasus 1 gejala <em>dyspnea</em> dengan standar pandang <em>left lateral</em> menunjukkan usus terjepit masuk di dalam rongga <em>thorax</em> dengan diagnosa <em>peritoneo-pericardial diaphragmatic hernia</em> (PPDH). Pada kasus 2 dengan gejala perut kanan membesar, tampilan radiografi standar pandang <em>dorso ventral</em> menunjukkan hernia inguinalis akibat trauma.</div>


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document