master schedule
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

58
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

7
(FIVE YEARS 0)

2020 ◽  
pp. 92-109
Author(s):  
Carol Elise Canady ◽  
Robert Lynn Canady
Keyword(s):  

2019 ◽  
Vol 13 (1) ◽  
pp. 43
Author(s):  
Sitti Safiatus Riskijah

Pekerjaan struktur beton bertulang pada Proyek Gedung Terminal Utama Bandara Internasional X yang dilaksanakan dengan sistem zona bersifat pengulangan pekerjaan dan membutuhkan banyak material yang perlu dikelola. Untuk itu diperlukan metode yang tepat agar jumlah persediaan material ekonomis. Penelitian ini bertujuan menentukan biaya persediaan material termurah pada pekerjaan kolom dan balok beton zona 1. Data yang diperlukan yaitu master schedule proyek, bill of quantity, dan harga satuan pekerjaan. Analisis persediaan material menggunakan metode MRP (Material Requirement Planning dengan teknik LFL, EOQ, POQ, dan FPR. Hasil penelitian: 1) Metode LFL (Lot For Lot) menghasilkan biaya persediaan termurah, dengan jumlah persediaan besi tulangan D32, D25, D22, D19, D16, D13, D10 masing-masing sejumlah 802,  5589, 30, 1363, 808, 185, dan 12528 lonjor; multipleks 12 mm 2579 lembar; kayu meranti 5/7 1157 batang, kayu meranti 6/12 570 batang, kayu meranti 8/12 424 batang; paku 358 kg; beton readymix FC’35 2362 m3;  bekisting bulat kolom D1,9, D1,8, D1,3, D1,25, dan D1,2 masing-masing 17; 20; 10; 17; dan 68 unit; tiang penyangga 306 batang; mur baut 914 unit;2) Total biaya persediaan material struktur yang ekonomis Rp 8.357.029.000; dan 3) Jadwal pemesanan material dilakukan 2 minggu sebelum penggunaan material, dan jadwal kedatangan material sesuai dengan jadwal kebutuhan material.Kata-kata Kunci: balok, bandara, kolom, material requirement planning, persediaan material


2018 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 4-7
Author(s):  
Julistyana Tistogondo ◽  
Fidelis Rizky Setiawan
Keyword(s):  

Pada pelaksanaan proyek pembangunan MNC Tower Surabaya, mengalami keterlambatan waktu. Dari keterlambatan itu maka di lakukanlah review faktor dari keterlambatan yang terjadi dalam pembangunan proyek tersebut dengan hasil analisis biaya percepatan sebagai bahan pertimbangan untuk mengantisipasi terjadinya keterlambatan pembangunan proyek yang akan datang. Pada penelilian ini, dilakukan perencanaan langkah yang harus diambil untuk mengatasi keterlambatan tersebut dengan melakukan penyusun urutan kegiatan, menentukan durasi aktivitas dan menentukan besar biaya yang dikeluarkan sebagai konsekuensi percepatan pada proyek apartemen MNC TOWER 39 lantai. Data untuk penelitian didapat dari kontraktor yang bersangkutan. Didalam evaluasi ini ditekankan pada pembahasan pekerjaan basement sebagai item yang mengalami keterlambatan. Dari data schedule yang ada dan analisa dapat dibuat master schedule yang baru yang dapat digunakan untuk analisa percepatan dengan menggunakan metode PERT. Percepatan dilakukan pada pekerjaan yang berada pada lintasan kritis. Sehingga yang semula durasi pekerjaan struktur Basement adalah 450 hari dengan biaya sebesar Rp 45,035,612,198 menjadi 390 hari dengan biaya sebesar Rp 45,781,908,198. Percepatan dilakukan dengan menggunakan metode penambahan jam kerja atau lembur.


2018 ◽  
Vol 195 ◽  
pp. 06012
Author(s):  
Jati Utomo Dwi Hatmoko ◽  
Human Adi Darmawan ◽  
Zuldi Sabrian ◽  
Mochamad Agung Wibowo

Last Planner System (LPS) is one of Lean Construction’s tools for scheduling to enhance project’s reliability, productivity, and performance. It has already been widely adopted in many developed countries and shown benefits, such as shorter duration, less rework, and better communication. Despite its benefits, the use of LPS is almost unheard of in Indonesian. The aim of this exploratory research is to investigate the readiness of LPS implementation for Indonesia’s projects. The assessment is based on five principles of LPS, i.e. Master Schedule, Pull Planning, Making Work Ready, Weekly Work Plan, and Learning, using four categories of assessment, i.e. not aware, aware, willing, and implemented. The levels of readiness are categorised into none, poor, moderate, high and excellent. Data was collected by interviews and questionnaire surveys with project managers and observations of four construction projects. The results show that on average the readiness level is moderate, particularly for Pull Planning and Look-ahead Plan. The main challenges identified include lack of confidence and resistance to change. These research findings provide an initial understanding of LPS as perceived by contractors, and later can be used as inputs to build a strategic framework to enable wider LPS adoption to improve Indonesia’s project performance.


2017 ◽  
Vol 1 ◽  
pp. 11
Author(s):  
Akhmad Sutoni ◽  
Muhammad Nasir Siddiq

P.T. Arwina Triguna Sejahtera is a company engaged in the production of molding. Common issues in each company include P.T. Arwina Triguna Sejahtera, is experiencing constraints in planning the production amount according to production capacity. So planned to be created master production schedule so that the cost is not too high. Steps that are done is to start by doing data processing of the past by using demand aggregation, then do the forecasting in accordance with the characteristics of demand. Aggregate procurement planning is carried out for the next 1 (years) period using a permanent employment strategy. Then proceed at the disaggregation stage by using the proportion method, calculating the Master Production Schedule to find out how much quantity of product to produce, and when to start the production. Finally perform the calculation of Rought Cut Capacity Planning to know the balance between the available capacity and the required capacity. Production master schedule obtained, production will be smooth and able to meet the actual demand of 20,000 pcs by adding overtime hours and produce end items as much as 2.368 pcs for deabetamil scoop products, while for featherlock brown plastic products actual demand can be fulfilled. The feasibility of the master production schedule is calculated based on the suitability between Regular Man Hour on production plans, with the amount of time available in the calculated capacity capacity of 17,1360 hours to meet the demand for this year. Keywords—  Production Controlling and Planning; Master Production Schedule; Agregate Production Planning; Rought Cut Capacity Planning;  Production System.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document