Synergisitic effect of chitinases and Bacillus thuringiensis israelensis spore-toxin complex against Aedes aegypti larvae

2011 ◽  
Vol 143 (2) ◽  
pp. 157-164 ◽  
Author(s):  
Montserrat Ramírez-Suero ◽  
Gerardo Valerio-Alfaro ◽  
Julio S. Bernal ◽  
Mario Ramírez-Lepe

AbstractSix subspecies of Bacillus thuringiensis Berliner (Bt) were grown in minimal medium with chitin as the sole carbon source for 6 days to obtain Bt cell-free fermented broths, which were then evaluated for chitinolytic activity and tested against third-instar Aedes aegypti (L.) (Diptera: Culicidae) larvae. Bt pakistani showed the highest chitinolytic activity (approximately >2700 mU/mL), Bt kurstaki showed the lowest activity (approximately <2000 mU/mL), and Bt thompsoni, Bt aizawai, Bt israelensis, and Bt alesti showed intermediate activities (approximately 2100–2400 mU/mL). Bt aizawai and Bt thompsoni broths showed the highest toxicity (LC50) against third-instar A. aegypti larvae (approximately <290 mU/mL). Bt kurstaki broth showed the lowest toxicity (approximately 420 mU/mL), while Bt pakistani, Bt israelensis, and Bt alesti broths showed intermediate toxicities (approximately 360–460 mU/mL). A purified and biochemically characterized Bt aizawai chitinase and commercial chitinases (from Serratia marcescens Bizio and Streptomyces griseus Waksman and Henrici) were evaluated and compared for synergistic effects on Bt israelensis spore-toxin complex against third-instar A. aegypti larvae. The synergism factor value of Streptomyces griseus and Bt aizawai chitinases were >2 and approximately 1.4; synergism was not evident for the Serratia marcescens chitinase (synergism factor value approximately 0.9).

2005 ◽  
Vol 38 (4) ◽  
pp. 316-321 ◽  
Author(s):  
Ricardo José Soares Pontes ◽  
Ana Cláudia Ferreira Regazzi ◽  
José Wellington Oliveira Lima ◽  
Lígia Regina Sansígolo Kerr-Pontes

Avaliou-se o efeito residual do temefos (apresentações comerciais A, B, C) e Bacillus thuringiensis israelensis (D e E) sobre larvas de Aedes aegypti, em recipientes com renovação de água. Utilizaram-se 44 béqueres de 1.000ml (8 para cada apresentação e 4 controles). Em cada béquer introduziram-se diariamente 25 larvas. Após 24 horas, contavam-se as larvas mortas, esvaziavam-se os béqueres até 200ml, repunha-se o volume original e acrescentavam-se novas larvas. A duração do efeito residual máximo (100% de mortalidade) foi: A-19; B-39; C-40; D-8; E-19 dias. A razão de mortalidade permaneceu equivalente entre todos os larvicidas durante 25 dias; B e C mostraram RM 2,40 vezes maior do que E entre 46-95 dias; B, comparado com A, mostrou RM 1,90-7,51 vezes maior entre 26-95 dias. Conclui-se pela maior eficácia de duas apresentações do temefos, mesmo em uma situação epidemiológica de longa exposição ao produto e com renovação de água dos recipientes.


Toxicon ◽  
2015 ◽  
Vol 104 ◽  
pp. 83-90 ◽  
Author(s):  
Jihen Elleuch ◽  
Samir Jaoua ◽  
Frédéric Darriet ◽  
Fabrice Chandre ◽  
Slim Tounsi ◽  
...  

Author(s):  
Jeany Audina Suryaningkunti ◽  
Endah Setyaningrum ◽  
G. Nugroho Susanto

ABSTRAKPenyakit endemis yang menyebabkan angka kematian tertinggi hampir di seluruh provinsi di Indonesia adalah demam berdarah dengue (DBD). Vektor utama dalam penyebaran penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegypti. Usaha pembibitan udang banyak dikembangkan di Lampung namun usahanya tidak diikuti dengan penyelamatan lingkungan, sehingga muncul wabah DBD dari usaha pembibitan tersebut. Salah satu pengendalian vektor penyakit DBD dengan menggunakan larvasida Bti. Selain harus efektif membunuh larva nyamuk, Bti juga harus aman bagi organisme non target seperti udang vaname (Litopenaeus vannamei).Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh Bti sebagai larvasida vektor DBD terhadap mortalitas benur udang vaname (L. vannamei). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai Desember 2018 di Laboratorium Zoologi II, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan yang diberikan yaitu kontrol (tidak diberi Bti), dan penambahan Bti 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm, serta 100 ppm. Parameter yang diamati adalah mortalitas benur udang vaname (L. vannamei), pertumbuhan berupa berat dan panjang, kelulushidupan serta kualitas air selama pemeliharaan. Data pertumbuhan yang diperoleh dianalisis dengan ANOVA, sedangkan data persentase mortalitas, kelulushidupan dan kualitas air yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bti dengan berbagai konsentrasi tidak memberikan  pengaruh secara nyata terhadap pertumbuhan (p>0,05), persentase mortalitas dan kelulushidupan benur udang vaname (L. vannamei) sehingga larvasida tersebut dapat digunakan untuk pemberantasan vektor DBD pada hatchery dan tambak udang vaname.Kata kunci : Bacillus thuringiensis israelensis, benur udang vaname (L. vannamei), pertumbuhan, mortalitas, kelulushidupan


Author(s):  
Nita Apriyani ◽  
Endah Setyaningrum ◽  
G. Nugroho Susanto

ABSTRAK Penyakit tular vektor merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang utama di Indonesia, diantaranya penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditularkan oleh Aedes aegypti. Untuk mengurangi efek negatif insektisida, dewasa ini pemberantasan vektor diupayakan dengan penggunaan agen biologi yaitu menggunakan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) yang lebih ramah lingkungan dan tidak menyebabkan resisten vektor. Selain harus efektif membunuh larva nyamuk, Bti juga harus tidak membahayakan biota perairan lainnya yang sehabitat seperti ikan Guppy (Poecilia reticulata). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Bti terhadap mortalitas ikan Guppy sebagai organisme non target vektor DBD. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Zoologi, Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu pengetahuan Alam, Universitas Lampung. Dilaksanakan pada Desember – Februari 2019. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental skala laboratoris berupa Rancangan Acak Lengkap (RAL) yaitu konsentrasi Bti sebagai perlakuan dengan empat kali ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu kontrol ( tidak diberi Bti), dan pemberian Bti dengan konsentrasi 20 ppm, 40 ppm, 60 ppm, 80 pmm, dan 100 ppm. Hasil penelitian menunjukkan pemberian Bti pada konsentrasi berbeda tidak berpengaruh terhadap kematian ikan Guppy dan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan berat total ikan Guppy.Kata kunci : Demam Berdarah Dengue (DBD), Bacillus thuringiensis israelensis, ikan Guppy.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document