scholarly journals Efficiency analysis of effluents treatment plants of different industries at Kalurghat – Port City of Bangladesh

2017 ◽  
Vol 12 (2) ◽  
pp. 322-337
Author(s):  
Sarkar Imran Wahid ◽  
Ohidul Alam ◽  
Mohammed Kamal Hossain ◽  
Milan Kumar Chakraborty ◽  
Mohammad Mohinuzzaman

The study was executed at Kalurghat industrial area to determine the efficiency of effluent treatment plants by testing different physicochemical parameters. Results revealed that only 3 out of 9 industries treated their effluents efficiently and discharged following the standards of Department of Environment. The remaining industries viz. Alfa Textile treated their effluent but the values of pH (10.2), dissolve oxygen (DO) (3.6 mg/L), biochemical oxygen demand (BOD) (89 mg/L), chemical oxygen demand (COD) (282 mg/L), total suspended solid (TSS) (221 mg/L), and electric conductivity (EC) (4,003 μS/cm) exceeded the standards, and released untreated effluents directly into the environment. Smart Jeans didn't maintain the standard of EC (1,927 μS/cm), DO (3.2 mg/L), BOD (96 mg/L) and COD (216 mg/L). Asian Apparels EC (1,973 μS/cm), DO (4 mg/L), BOD (79 mg/L), and COD (221 mg/L) weren't up to the standards. Similarly, Mans Fashion EC (1,243 μS/cm), DO (3.7 mg/L), TSS (180 mg/L), BOD (78 mg/L), and COD (255 mg/L) also exceeded the standards. In addition, Well Group TSS (160 mg/L), EC (3,201 μS/cm), DO (4.2 mg/L), and COD (235 mg/L) while Golden Height only EC (1,762 μS/cm) crossed the prescribed limits. Inversely, all the sampled industries volleyed effluents containing metals within the standards level except Alfa Textile (Cu, Zn, & Cr), Well Group (Cr) and Asian Apparels (Ni).

2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Kholis Normania Laily ◽  
Muhammad Amin ◽  
Dwi Sat Agus Yuwana

<p>Kawasan pesisir erat kaitannya dengan perubahan sifat perairan yang terjadi akibat kegiatan manusia, salah satunya yaitu berasal dari air limbah domestik. Berdasarkan hasil pengamatan pada pemukiman pesisir Pantai Blebak Kabupaten Jepara, menunjukkan bahwa masyarakat masih membuang air limbah langsung ke badan tanah tanpa melakukan pengolahan, sehingga mencemari kualitas air tanah. Oleh karena itu diperlukan metode dalam pengolahan air limbah.</p><p> </p><p>Penelitian ini menggunakan metode <em>Constructed Wetland Subsurface Flow Horizontal</em> dengan tanaman <em>Typha angustifolia,</em> <em>Cladium</em>, dan<em> Dracaena sanderiana</em>. Parameter senyawa yang ditinjau adalah BOD (<em>Biochemical Oxygen Demand</em>), COD (<em>Chemical Oxygen Demand</em>), dan TSS (<em>Total Suspended Solid</em>). Pengolahan dilakukan dengan waktu detensi 3,6, dan 9 hari. Sedangkan analisis<em> </em>data yang digunakan yaitu analisis uji Anova.</p><p> </p><p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai penyisihan tertinggi kadar BOD, COD, dan TSS terjadi pada waktu detensi ke -9 hari. Penyisihan kadar BOD tertinggi yaitu sebesar 90,24%, untuk parameter COD yaitu sebesar 90,46%, sedangkan penyisihan TSS tertinggi yaitu sebebesar 90,61%.</p>


2017 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 29
Author(s):  
Endang Supriyantini ◽  
Ria Azizah Tri Nuraini ◽  
Anindya Putri Fadmawati

Bahan organik adalah kumpulan senyawa - senyawa organik kompleks yang telah mengalami proses dekomposisi oleh organisme pengurai, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi. Bahan organik merupakan sumber nutrient yang penting, yang sangat dibutuhkan oleh organisme laut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis parameter kandungan bahan organik meliputi BOD5 (Biochemical Oxygen Demand), COD (Chemical Oxygen Demand), TSS (Total Suspended Solid), TDS (Total Suspended Solid) dan TOM (Total Organic Matter) dan menentukan tingkat pencemaran bahan organik berdasarkan baku mutu pada beberapa muara sungai di kawasan ekosistem mangrove, di wilayah pesisir pantai Utara Kota Semarang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif, sedangkan penentuan lokasi penelitian menggunakan metode purposive sampling method dan untuk pengambilan sampel air menggunakan metode sample survey method. Hasil penelitian menunjukan bahwa kandungan parameter bahan organik selama penelitian di semua lokasi adalah BOD (3,77 – 15,13 mg/L), COD (20,33 – 140,67 mg/L), TSS (1,33 – 13,67 mg/L), TDS (818,33 – > 2.000 mg/L) dan TOM (10,73 – 50 mg/L). Secara umum kandungan COD dan TSS di Maron dan Trimulyo sudah melewati ambang batas baku mutu menurut Keputusan Menteri Negara Kependudukan dan Lingkungan Hidup Nomor 2 Tahun 1988 tentang Baku Mutu Air Limbah, sedangkan untuk kandungan BOD, TSS dan TOM belum melampaui ambang batas baku mutu yang telah ditetapkan oleh Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004.


2018 ◽  
Vol 2 (6) ◽  
pp. 24-29
Author(s):  

Rivers as surface water in Malaysia are recipients of effluents and wastewater and yet it is important water source for daily uses of some villagers living along the river. Endocrine disruptors such as Bisphenol A (BPA) can be found in river due to continuous discharge into it. The objectives of this research is to find out the occurrence and concentration of BPA in Sungai Langat and also to see how water quality parameters such as temperature, pH, dissolved oxygen (DO ), turbidity, Total Suspended Solid (TSS), Biochemical Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) and ammonia nitrogen (AN) affecting the concentration of BPA. 12 stations in total including upstream to downstream of Sungai Langat and also tributary of Sungai Langat. The instrument used to find out concentration of BPA is Triple Quadrupole LC/MS. The source of BPA are mainly industrial effluents and also direct domestic discharges. The water quality parameters that will affect concentration of BPA are Ammonia Nitrogen (AN), turbidity, Biochemical Oxygen Demand (BOD), Total Suspended Solid (TSS), and Chemical Oxygen Demand (COD), Dissolved Oxygen (DO). While pH and water temperature are also factors that will affect concentration of BPA but the significance is not shown in the analysis. It can be concluded that u pstream of Sungai Langat has lower concentration of BPA than downstream.


2020 ◽  
Vol 15 (3) ◽  
pp. 70-77
Author(s):  
J.D Bala ◽  
F. A Kuta ◽  
N.U Adabara ◽  
O.P Abioye ◽  
H.S Auta ◽  
...  

Water used for washing carcasses of slaughtered animals and slaughter house is referred to as abattoir wastewater. This study was designed to investigate the microorganisms associated with abattoir wastewater and to establish the biodegradation potential of abattoir wastewater microbiota. Isolation of the microbes was carried out using pour plate technique. The total viable count for the microbes’ ranges from 2.5×104 - 4.6×105 cfu/mL. Results revealed that all the physicochemical parameters exceeded the permissible limits (total dissolved solid (TDS) 1748mg/L, total suspended solid (TSS) 176mg/L, biochemical oxygen demand (BOD5) 91 mg/L and chemical oxygen demand (COD) 227 mg/L). Microorganisms isolated include Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, Bacillus anthracis, Aspergillus niger, A. flavus, Mucor sp, Trichophyton quickeanum and Penicillium sp. Some of the microbes were observed to have biodegradation potential by their ability to grow on mineral salt media (MSM) incorporated with starch, cellulose, crude oil, kerosene and diesel as the sole source of carbon and energy. This study suggests that abattoir wastewater harbors microorganisms that could be hazardous to public health when discharged into the environment untreated hence the need for strict monitoring. These microbes isolated could be employed as agent of bioremediation of wastewaters. Key words: Abattoir; Biodegredation; Isolation; Microbiota; Wastewater


Jurnal Ecolab ◽  
2021 ◽  
Vol 15 (2) ◽  
pp. 101-109
Author(s):  
Dewi Ratnaningsih ◽  
◽  
Retno Puji Lestari ◽  
Ernawita Nazir

Kualitas air di suatu wilayah yang merupakan salah satu indikator lingkungan dapat dievaluasi menggunakan parameter fisika, kimia, dan biologi. Indeks Kualitas Air Indonesia (IKA-INA) dapat digunakan untuk menilai kondisi kualitas air secara menyeluruh pada lokasi dan waktu tertentu. IKA-INA dihitung dengan menggunakan sepuluh (10) parameter yaitu pH, Total Dissolved Solid (TDS), Total Suspended Solid (TSS), Dissolved Oxygen (DO), Biological Oxygen Demand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD), NO3, NH3, Total Phosphate (TP) dan fecal coliform. IKA-INA tersebut merupakan indeks kualitas air yang dapat memberikan informasi secara sederhana. Dalam pemanfaatannya, tidak semua data parameter dalam IKA-INA tersebut dapat terpenuhi karena adanya data tidak valid atau data yang hilang. Kajian ini bertujuan untuk memberi alternatif rumusan IKA-INA dengan parameter yang tidak lengkap atau jika tidak semua data dalam parameters tersebut tersedia. Metode yang digunakan dalam menyusun rumusan adalah dengan melakukan koreksi faktor bobot parameter IKA-INA terhadap parameter yang hilang dan nilai Q (nilai sub-indeks). Setelah itu dilakukan uji coba pada nilai baku mutu air dalam Peraturan Pemerintah No. 22/2021 Lampiran VI serta pada data kualitas air sungai yang mewakili kualitas baik dan buruk. Hasil uji coba menunjukkan bahwa bobot parameter terkoreksi dapat digunakan untuk penanganan parameter yang hilang dalam penilaian kualitas air dengan metode IKA-INA. Hasil IKA-INA dengan parameter hilang yang menggunakan bobot terkoreksi dan hasil IKA-INA dengan parameter lengkap mayoritas memberikan status IKA yang tidak berbeda, kecuali untuk parameter fecal coli dan parameter yang mempunyai kadar jauh berbeda terhadap kondisi air secara keseluruhan.


2020 ◽  
Vol 997 ◽  
pp. 139-149
Author(s):  
Yong Yin Sia ◽  
Ivy Ai Wei Tan ◽  
Mohammad Omar Abdullah

Palm oil processing is a multi-stage operation which generates large amount of palm oil mill effluent (POME). Due to its potential to cause environmental pollution, POME must be treated prior to discharge. Electrocoagulation (EC), adsorption (AD), combined EC and AD, and EC integrated with AD have demonstrated great potential to remove various organic and inorganic pollutants from wastewater. Up to date, no study has been found on POME treatment using EC-AD hybrid process. Therefore, this study aims to investigate the feasibility of applying EC-AD hybrid process as an alternative treatment for POME. The EC-AD hybrid process achieved higher removal of total suspended solid (TSS), chemical oxygen demand (COD) and colour as compared to EC and AD stand-alone processes. The EC-AD hybrid process reduced 79% of TSS, 44% of COD and 89% of colour from POME. The adsorption kinetics of TSS, COD and colour were best interpreted using pseudo-second-order model, which indicated that the adsorption rate was mainly controlled by chemisorption. Overall, the EC-AD hybrid process could be recommended as an alternative treatment for POME.


2014 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 62 ◽  
Author(s):  
M Wawan Kurniawan ◽  
P Purwanto ◽  
S Sudarno

ABSTRAKIndustri batik menimbulkan dampak air limbah organik dalam jumlah yang besar, warnayang pekat, berbau menyengat dan memiliki suhu, keasaman (pH), Biochemical OxygenDemand (BOD), Chemical Oxygen Demand (COD) serta Total Suspended Solid (TSS) yangtinggi. Desa Banaran Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo merupakan sentra industriusaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) batik yang potensial dalam mendukungperekonomian lokal namun belum memiliki sistem pengelolaan air limbah. Penelitian inibertujuan untuk menyusun strategi pengelolaan air limbah UMKM Batik di Desa Banarandalam perspektif good governance berdasarkan kajian aspek teknis, aspek ekonomi, aspekmanajemen dan aspek sosial dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness,Opportunity and Threats) dilanjutkan penentuan prioritas strategi dengan metode AHP(Analytical Hierarchy Process). Untuk mengkaji keempat aspek tersebut maka dilakukanobservasi, dokumentasi, pengukuran, uji laboratorium di lokasi penelitian dan wawancaraterhadap stakeholders dalam pengelolaan air limbah UMKM Batik di Desa Banaran yaitupemerintah daerah, UMKM Batik, tokoh masyarakat dan sektor swasta pelaku CorporateSocial Responsibility (CSR) di Kabupaten Sukoharjo. Berdasarkan hasil analisis SWOT danmetode AHP menghasilkan prioritas strategi untuk mewujudkan pengelolaan air limbahUMKM Batik yaitu : (1) Aspek Manajemen : penyusunan kebijakan dan programpengelolaan air limbah UMKM Batik, (2) Aspek Teknis : penentuan lahan untuk InstalasiPengolahan Air Limbah (IPAL) yang representatif, (3) Aspek Ekonomi : swadana UMKMBatik dalam operasional dan perawatan IPAL dan (4) Aspek Sosial : pembinaan tekniskepada UMKM Batik dalam pengelolaan air limbah. Untuk mewujudkan pengelolaan airlimbah UMKM Batik secara optimal dan berkelanjutan diperlukan kerjasama dankemitraan yang baik di antara stakeholders sebagai perwujudan dari paradigma goodgovernance didalam kerangka pembangunan yang berkelanjutan.Kata kunci : pengelolaan air limbah UMKM batik, good governance, prioritas strategi


REAKTOR ◽  
2014 ◽  
Vol 15 (2) ◽  
pp. 73 ◽  
Author(s):  
Lieke Riadi ◽  
Whenny Ferydhiwati ◽  
Liok Dimas Sanjaya Loeman

Limbah industri tekstil di area pinggir kota Surabaya mempunyai karakteristik perbandingan COD dan BOD = 5.57. Limbah jenis ini sulit untuk dibiodegradasi. Studi ini mempelajari tekonologi elektrokoagulasi untuk mengolah limbah tekstil dengan menurunkan intensitas warna, Total Suspended Solid (TSS) dan Chemical Oxygen Demand (COD). Percobaan batch pada suhu kamar dilakukan untuk mempelajari pengaruh pH, jarak elektroda terhadap penurunan warna,TSS dan COD dan membandingkan biaya operasinya jika menggunakan pengolahan kimia.Effisiensi penurunan tertinggi untuk warna (91.96%),  TSS (49.17%), dan COD (29.67%) terjadi pada pH awal 4.0 dan jarak elektroda 2 cm dengan  elektroda Al/Al. Waktu optimum penurunan intensitas warna dalah 10 menit. Laju penurunan COD adalah : -dC/dt = 0.0053 C +0.056 , dengan C adalah konsentrasi COD. Jumlah sludge yang dihasilkan daripengolahan elektrokoagulasi  3.4 % lebih kecil dibandingkan menggunakan bahan kimia. Biaya yang digunakan untuk pengolahan dengan elektrokoagulasi 52.35 % lebih murah dibandingkan jika menggunakan koagulasi dengan bahan kimia ( tawas). Kata kunci : elektrokoagulasi, penurunan warna, penurunan TSS, laju degradasi COD, imbah tekstil Abstract Waste water from textile industry which is located in one suburb of Surabaya city as characteristic which the ratio of COD to BOD was 5.57. This type of waste water is difficult to be biodegraded. This study investigated elektrokoagulasi technology to treat textile waste water by removing color, total suspended solid, and Chemical Oxygen Demand. Batch experiment at room temperature was carried out to study the effect of pH, electrode distance for color, TSS and COD removal. This study also tried to compare the operation cost between elektrokoagulasi and chemical processes. The best removal efficiencies by Al electrodes was 91.96 % for color, 49.17 % for TSS and 29.67 % for COD which were under initial pH 4.0 and electrodes distance 2 cm. The optimum operation time for color removal was  found 10 minutes.The COD degradation rate was - dC/dt = 0.0053 C +0.056, with C= COD concentration. Sludge result from elektrokoagulasi was 3.4 % less than that by chemical treatment.The operation cost for elektrokoagulasi is 52.35 % less than that for chemical coagulation. 


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document