THE USE OF THE SERUM GLUTAMIC PYRUVIC TRANSAMINASE TEST FOR THE EVALUATION OF HEPATIC NECROTROPIC COMPOUNDS IN RATS

1962 ◽  
Vol 40 (1) ◽  
pp. 1-6 ◽  
Author(s):  
T. Balazs ◽  
J. M. Airth ◽  
H. C. Grice

A positive correlation was established between the extent of liver necrosis, measured planimetrically, and the serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) level in toxic hepatitis. Intoxicated rats treated with necrotropic drugs showed significantly lower SGPT values than the control animals. The measurement of SGPT level in toxic hepatitis in rats is suggested as a method for evaluation of hepatic necrotropic compounds.

1962 ◽  
Vol 40 (1) ◽  
pp. 1-6 ◽  
Author(s):  
T. Balazs ◽  
J. M. Airth ◽  
H. C. Grice

A positive correlation was established between the extent of liver necrosis, measured planimetrically, and the serum glutamic pyruvic transaminase (SGPT) level in toxic hepatitis. Intoxicated rats treated with necrotropic drugs showed significantly lower SGPT values than the control animals. The measurement of SGPT level in toxic hepatitis in rats is suggested as a method for evaluation of hepatic necrotropic compounds.


1982 ◽  
Vol 243 (3) ◽  
pp. G226-G230 ◽  
Author(s):  
L. C. Su ◽  
S. Ravanshad ◽  
C. A. Owen ◽  
J. T. McCall ◽  
P. E. Zollman ◽  
...  

Eleven Bedlington terriers were found to have a mean hepatic copper concentration of 6,321 micrograms/g dry wt (normal, 200 micrograms/g dry wt) and renal copper concentration that was three or four times normal. Brain copper levels were normal in younger dogs, were elevated in two older dogs, and were 100 times normal in one dog that died of the disease. Increased concentrations of copper in the liver, kidney, and brain also characterize Wilson's disease. Erythrocyte survival was normal in three affected dogs, but serum glutamic-pyruvic transaminase levels were usually elevated. Unlike the hypoceruloplasminemia of patients with Wilson's disease, plasma ceruloplasmin activity was not only normal but was also slightly elevated in the terriers. Despite their normal or excessive ceruloplasmin, the Bedlington terriers could convert ionic 64Cu to radioceruloplasmin but did so only very slowly. These dogs accumulated significantly more 64Cu in their livers than normal, much like patients with Wilson's disease do before symptoms develop.


2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 240-247
Author(s):  
Kresna Latafodes Wicaksana ◽  
Riky Riky ◽  
Nur Aini Hidayah Khasanah

Data WHO (World Health Organization) Indonesia menduduki peringkat ketiga sebagai negara perokok terbanyak. Rokok adalah hasil olahan tembakau dan dalam sebatang rokok mengandung 4000 bahan kimia yang sangat berbahaya dan tiga kandungan rokok yang paling berbahaya adalah tar, nikotin, dan karbon monoksida. Paparan asap rokok terus menerus menimbulkan berbagai penyakit seperti kerusakan fungsi hati. Hati merupakan organ penting yang berfungsi untuk melakukan proses metabolisme dan detoksifikasi. Kerusakan hati dapat diketahui dengan meningkatnya kadar SGPT dalam aliran darah. SGPT merupakan enzim yang banyak ditemukan pada sel hati serta efektif untuk mendiagnosis destruksi hepatoseluler. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar SGPT perokok aktif pada usia 17 - 25 tahun dengan lama merokok <10 tahun. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian Croos Sectional. Tekhnik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukan 11 sampel memiliki kadar SGPT yang normal termasuk perokok ringan – sedang dan 4 sampel yang mengalami peningkatan kadar SGPT yang termasuk kedalam kategori perokok berat. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan gambaran kadar SGPT perokok aktif pada usia 17 – 25 tahun dengan lama merokok <10 tahun bahwa perokok aktif dalam kategori ringan hingga sedang berada dalam batas normal, sedangkan perokok aktif kategori berat mengalami peningkatan kadar SGPT.Kata Kunci : kadar SGPT, perokok aktif, usia 17 – 25 tahun, lama merokok < 10 tahun 


2017 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
pp. 6
Author(s):  
Dian Shiyamita ◽  
Abi Noer W ◽  
Anisa Hanifwati

Pengaruh Akar Pasak Bumi (Eurycoma longifolia) terhadap Penurunan Kadar Serum Glutamic Oxsaloasetic Transaminase (SGOT) dan Serum Glutamic Pyruvic Transaminase (SGPT) pada Tikus Putih (Rattus novergicus) yang Diinduksi Karbon Tetraklorida. Latar Belakang: Kerusakan hati dapat disebabkan oleh hepatoksin yaitu CCl4. Hepatoksin ini dapat menyebabkan peningkatan kadar SGOT dan SGPT. Akar pasak bumi (Eurycoma Longifolia) mengandung senyawa golongan alkaloid dan quassinoid. Senyawa ini dapat berperan dalam memperbaiki peroksidasi lipid sehingga mencegah nekrosis dari sel. Tujuan: Untuk membuktikan adanya pengaruh ekstrak akar pasak bumi terhadap penurunan kadar SGOT dan SGPT pada tikus putih yang diinduksi CCl4. Metode :Jenis penelitian eksperimental,populasi tikus putihjantan dengan sampel 25 ekor yang terbagi menjadi5 kelompok perlakuan.CCl4 diberikan dengan injeksi sub kutan dengan dosis 1,3 mg/kg BB. Ekstrak akar pasak bumidiberikan dengan 750 mg/Kg, 1000 mg/kg, dan 1250 mg/kg. Hasil: Hasil uji One Way Anova menunjukan penurunan kadar SGOT dan SGPT tikus putih secara sangat bermakna (p< 0,01) dengan pemberian ekstrak akar pasak bumi. Dari hasil uji regresi menunjukkan koefisien determinan SGOT = 0, 919 dan SGPT = 0,860. Penurunan kadar SGOT dan SGPT telah mencapai kadar normal dengan dosis 1250 mg/kg BB. Kesimpulan : Pemberian ekstrak akar pasak bumi dapat menurunkan kadar SGOT dan SGPT tikus putih yang diinduksi CCl4.


2019 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 12
Author(s):  
Novita Sari Harahap ◽  
Riski Pranata

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aktifitas fisik continuous running dan interval running terhadap SGOT dan SGPT pada mahasiswa Ikor Unimed Tahun 2017. Penelitian dilakukan di Stadion Universitas Negeri Medan, Laboratorium Fisik FIK, dan Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen. Sampel penelitian menggunakan mahasiswa Ikor Unimed  sebanyak 14 orang. Desain penelitian menggunakan Pretest-Posttest Group Design. Aktifitas fisik continuous Running dan interval running dilakukan dengan menggunakan Treadmill selama 12 menit dengan intensitas 60-70 %. Pemeriksaan kadar SGOT dan SGPT dilakukan di awal dan di akhir perlakuan. Teknik analisis data pada penelitian ini menggunakan uji t.  Hasil penelitian menunjukkan  bahwa peningkatan rerata kadar SGOT setelah aktifitas fisik continuous running sebesar 88,00 U/L yang sebelumnya sebesar 60,89 U/L dan setelah aktifitas fisik interval running sebesar 81,61 U/L yang sebelumnya 60,41 U/L. Hasil uji analisis diperoleh nilai p=0,662, yang menunnjukkan bahwa ada peningkatan namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna p>0,05. Begitu juga dengan rerata kadar SGPT setelah aktifitas fisik continuous running sebesar 82,21 U/L yang sebelumnya sebesar 57,16 U/L dan setelah aktifitas fisik interval running sebesar 81,80 U/L yang sebelumnya 59,59 U/L. Hasil uji analisis diperoleh nilai p=0,655, yang menunnjukkan bahwa ada peningkatan namun tidak terdapat perbedaan yang bermakna p>0,05. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara aktifitas fisik continuous running dan aktifitas fisik interval running terhadap peningkatan SGOT dan SGPT pada mahasiswa IKOR UNIMED tahun 2017.Kata kunci: Continuous Running, Interval Running, SGOT dan SGPT


1965 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 29-36
Author(s):  
W B Elliott ◽  
Harold Rosamilia

Abstract A modification of the serum glutamic-pyruvic transaminase colorimetric assay is described which reduces the error due to preformed keto acids, and thus permits evaluation of "corrected" transaminase levels in serum specimens that have stood on the clot up to three weeks at 4°. Evidence is presented that even in bacterially contaminated specimens the major cause of elevation in levels during storage is a rise in preformed keto acids.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document