TE DEUM (Jurnal Teologi dan Pengembangan Pelayanan)
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

23
(FIVE YEARS 7)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Sekolah Tinggi Teologi Studi Alkitab Untuk Pengembangan Pedesaan Indonesia

2746-7619, 2252-3871

2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 139-160
Author(s):  
Carmia Margaret

Artikel ini membahas sebuah pertanyaan: apa sumbangsih pemikiran poskolonial, jika ada, bagi pengayaan wawasan misi Injili? Prasuposisi yang dimiliki adalah bahwa sejatinya kaum Injili sudah memiliki wawasan misi yang utuh dan komprehensif tetapi dalam praktiknya seringkali tidak holistik. Gagasan poskolonial dapat memberi sumbangsih bagi wawasan misi Injili dalam hal penajaman kesadaran misional,  perluasan cakupan misi dan keterlibatan misional, pengembangan hermeneutika orang lokal dan penyetaraan antara yang menginjili dan yang diinjili. Sumbangsih ini dapat dielaborasi dari keprihatinan utama gagasan poskolonial yang ingin menghapuskan dominasi, menghapuskan biner, dan mengupayakan peleburan identitas. Akan tetapi, gagasan poskolonial itu sendiri tetap perlu dicermati, agar tidak serta-merta menjadi kolonialisme baru sebagaimana yang dikritisinya sendiri.


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 255-278
Author(s):  
Julita Anastasya Rieuwpassa

Persoalan pokok dalam tulisan ini yaitu bagaimana upaya mengembangkan dan mengaktualisasikan spiritualitas misioner dalam pelaksanaan pelayanan di jemaat GKI Paulus Jayapura, sehingga hal-hal yang menjadi penghambat dalam pelaksanaan pelayanan dapat diatasi dengan semestinya. Hasilnya menunjukkan bahwa jemaat perlu untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan spiritualitas misioner dalam melaksanakan pelayanannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menyadari perlunya setiap anggota jemaat untuk memiliki dan mengembangkan spiritualitas misioner dalam pelayanan, maka perlu diusahakan suatu upaya alternatif berupa pembinaan dan pengajaran agar dapat meningkatkan pemahaman setiap anggota jemaat akan spiritualitas misioner sehingga bisa tercipta pelayanan yang ideal. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Dengan menggunakan metode ini, maka dapat diperoleh gambaran secara sistematis tentang keadaan jemaat GKI Paulus Jayapura dalam hal pemahaman serta proses-proses yang berlangsung, sesuai dengan pengamatan dan penelitian yang telah dilakukan dan dapat menguraikan masalah yang dihadapi.


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 227-253
Author(s):  
Andrias Pujiono

Pandemi Covid-19 berdampak pada banyak aspek kehidupan manusia, terutama aspek sosial ekonomi. Banyak tempat usaha tutup dan orang-orang kehilangan mata pencaharian atau pekerjaan, hal itu menyebabkan banyak orang kehilangan sumber penghasilan. Hal tersebut membuat masyarakat miskin semakin terpuruk dan muncullah kelompok miskin baru. Selama pandemi ini, umat Kristen dipanggil melakukan diakonia ke dalam dan keluar gereja. Penelitian bertujuan untuk mengetahui bagaimana diakonia (karitatif, reformatif, transformatif) gereja di masa pandemi dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Selanjutnya, hasil penelitian menunjukkan bahwa saat ini gereja dituntut untuk melakukan diakonia ke dalam dan keluar komunitas imannya dengan memperhatikan kebutuhan yang paling urgen. Di masa pandemi ini dengan banyaknya persoalan ekonomi, gereja dituntut lebih peka dalam pelayanan diakonia kepada mereka yang membutuhkan sebagai wujud kasih kepada sesama dan ketaatan pada perintah Allah.


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 205-226
Author(s):  
Robi Prianto ◽  
Kezia Lawira ◽  
Novianto Novianto

Injil adalah Kabar Baik dari Allah tentang Kristus. Berita mengenai keselamatan yang bukan dari Allah tidak bisa disebut sebagai Injil. Paulus dalam Galatia 1:6-7 menegur jemaat Galatia karena telah beralih dari Injil kepada suatu ajaran keselamatan yang lain yang Paulus sebut sebagai “injil yang lain”. Artikel ini meneliti apa yang dimaksud mengenai “Injil yang lain” dalam Galatia 1:6-7. Melalui metode penelitian historis-gramatikal, penulis menemukan bahwa “Injil yang lain” yang dimaksud oleh Paulus adalah suatu ajaran yang menambahkan budaya sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan orang Kristen untuk memperoleh keselamatan yang sempurna.


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 161-179
Author(s):  
Aseng Yulias Samongilailai

Amsal 17:17 merekam dengan baik tentang seorang sahabat yang sangat mengagumkan dan tulisan ini bertujuan untuk menemukan makna dibalik teks tersebut. Dalam kerangka itu tulisan ini juga memuat upaya reinterpretasi terhadap kata צרה yang oleh Lembaga Alkitab Indonesia  diterjemahkan sebagai “kesukaran”. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah historical background dan grammatical analysis. Melalui kedua pendekatan tersebut penulis menemukan makna dari figur seorang sahabat menurut Amsal 17:17 yakni sahabat adalah ia yang ikut terjun merasakan kemalangan atau situasi yang sangat sulit dari sahabatnya namun pada saat yang sama ia juga mengalami kesulitan dalam dirinya karena cintanya kepada sang sahabatnya, ia bergumul tentang bagaimana ia sendiri akan menempatkan dirinya (melahirkan dirinya) bak seorang saudara bagi sahabatnya. Temuan berikutnya, dari hasil penelusuran terhadap kata “kesukaran” yang berangkat dari kata צרה penulis mengusulkan agar sebaiknya diterjemahkan dengan kata “kemalangan” atau “kesengsaraan” atau tetap pada arti “kesukaran” namun dengan sense “kemalangan” atau “kesengsaraan”.


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 181-203
Author(s):  
Sunarto Sunarto

Masalah utama dalam penulisan artikel ini adalah bolehkah gereja menyelenggarakan ibadah secara online? Pada awalnya ada yang tidak setuju, tetapi juga ada yang setuju. Jadi tujuan dari penulisan artikel ini ingin menguraikan dasar Alkitab yang menjadi acuan bagi penyelenggara ibadah secara online. Menjelaskan keunggulan dan kelemahan dari ibadah secara offline. Menjelaskan keunggulan dan kelemahan dari ibadah secara online. Menjelaskan relevansinya ibadah online pada masa dan pasca pandemi Covid-19. Di samping menguraikan hal-hal tersebut artikel ini sekaligus sebagai upaya pencerahan terhadap hakikat ibadah Kristen yang benar dalam memasuki era baru di masa pandemi dan perkembangan yang pesat dalam teknologi digital. Metode penelitian dalam penulisan artikel ini adalah analisis kepustakaan dengan metode deskriptif. Kesimpulannya adalah ibadah online di masa dan paska pandemi Covid-19 masih tetap relevan untuk tetap diselenggarakan.


2020 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 65-82
Author(s):  
Grace Son Nassa
Keyword(s):  

Artikel ini bersifat pengantar ke dalam pemahaman seorang teolog tentang Trinitas yakni Karl Barth. Barth menitikberatkan penjelasannya pada kesatuan Trinitas. Meskipun hal itu terlihat mirip dengan pandangan para teolog sebelumnya, Barth tetap memiliki cara tersendiri dalam mengungkapkan kesatuan Trinitas. Kita akan melihat bahwa Barth seolah-olah menegaskan perbedaan pribadi Trinitas melalui penguatan pada kesatuan Trinitas. Melalui tinjauan kepustakaan, artikel ini mencoba melihat literatur yang berkaitan langsung dengan Barth serta tulisan lain yang dianggap kredibel dan mendukung fokus penelitian. Trinitas dalam pandangan Barth adalah Allah yang mewahyu, satu yakni Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus yang tidak dapat ditukar satu dengan yang lainnya. Dia adalah Allah yang bebas dan berbelas kasih sehingga melalui wahyu dan karya-Nya, Ia berkenan untuk diri-Nya sedikit diketahui oleh ciptaan khususnya manusia. Hal ini dapat menjadi sebuah sumbangsih pemikiran bagi para teolog ketika ingin memperluas pengetahuan mengenai Trinitas, maupun dalam upaya melihat lebih jauh cara Barth berpikir.


2020 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 107-119
Author(s):  
Fredik Melkias Boiliu

Artikel ini mengulas tentang pembelajaran pendidikan agama Kristen dalam keluarga di era digital untuk meningkatan spiritualitas dan moralitas anak. Orangtua merupakan sosok utama yang mewariskan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas pada anak sejak dini melalui pengajaran pendidikan agama Kristen. Spiritualitas dan moralitas merupakan hal yang sangat mendasar dalam kehidupan anak. Di samping itu, era digital membawa dampak positif dan negatif bagi kehidupan anak. Dalam hal ini, dampak negatifnya sangat memengaruhi pertumbuhan spiritualitas dan moralitas anak. Oleh sebab itu, orangtua harus bertanggung untuk meningkat spiritualitas dan moralitas anak melalui pengajaran pendidikan agama Kristen dalam keluarga. Orangtua harus mengajarkan nilai-nilai spiritualitas dan moralitas pada anak berulang-ulang dimana saja dan kapanpun. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah kajian literatur dan riset pustaka.


2020 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 83-105
Author(s):  
Markus Dominggus Lere Dawa

Konteks kehidupan gereja yang mengalami perubahan pesat di Barat dan Amerika Utara melahirkan sejumlah persoalan pada pelayanan gembala jemaat di dalam gereja. Sekularisasi, privatisasi iman dan ideologi keagamaan yang bercorak pragmatis-terapeutis menyebabkan munculnya kebingungan tentang hakikat peran dan tugas gembala jemaat. Situasi itu direspons dengan menghidupkan kembali visi lama gembala jemaat sebagai cendekiawan gereja. Berakar dalam pemahaman gembala sebagai teolog, gambaran tersebut hendak menaruh kembali peran dan tugas gembala jemaat sebagaimana selama ini dikenal dalam sejarah panjang kekristenan. Dalam konteks pergumulan Kristen di Indonesia, gambaran itu dapat dipergunakan untuk melengkapi gambaran-gambaran gembala jemaat yang selama ini sudah ada sejauh muatannya disesuaikan dengan konteks pergumulan orang Kristen di Indonesia, yang menuntut kecendekiawanan yang berbeda. Artikel ini menggunakan metode penelitian kepustakaan.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document