Al-I’jaz : Jurnal Studi Al-Qur’an, Falsafah dan Keislaman
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

32
(FIVE YEARS 7)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Sekolah Tinggi Ilmu Al-Quran Dan Sains Al-Ishlah

2721-1347, 2722-1652

2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 19-30
Author(s):  
Faiqotul Himmah Zahroh

Maqa>s}id Al-Shari>‘ah  yang dikembangkan oleh Al-Syatibi merupakan penggabungan dari ide-ide maqa>s}id dengan teori usul fikih lama. Hal ini terdapat pada karyanya al-muawafaqat yang mana menjelaskan mengenai pembagian maqa>s}id menjadi dua bagian yakni maksud sha>ri‘ dan maksud mukalaf. Maqa>s}id klasik lebih mengarah pada individual, kaku, sempit, dan hierarkis. Berbeda halnya dengan Jasser Auda yang mengembangkan Maqa>s}id dengan pendekatan sistem dan membagi hukum Islam menjadi fitur cognition, wholeness, opennes, interrelated -hierarchy, multidimensionality, dan porposefulness. Kedua pandangan di atas dari segi klasik dan kontemporer memiliki perbedaan yang mana maqa>s}id klasik berpola perlindungan dan penjagaan, sedangkan maqa>s}id kontemporer yang digagas oleh Jasser Auda berpola pembangunan dan hak-hak manusia.  


2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 1-18
Author(s):  
Azzam Musoffa

Islamofobia menjadi perbincangan di dunia barat di mana karena gencarnya pengusung paham tersebut dalam penyebarannya menimbulkan ketakutan bagi warga mereka sendiri terhadap umat Islam sebagai minoritas di sana dan akhirnya menimbulkan diskriminasi bagi umat Islam. Anggapan bahwa jihad sebagai salah satu sumber permasalahan sering diperbincangkan dan diyakini sebagai awal dari segala teror menjadi titik awal penelitian ini. Penulis setelah mencari lebih dalam tentang syariat jihad dan wujud terorisme dalam Islam kemudian mendapati ada perbedaan besar antara pengertian jihad yang diyakini oleh pengusung islamofobia dan jihad yang sudah disyariatkan dalam Islam yang mengacu pada sumber aslinya. Kesimpulan tersebut didasari pada penemuan bahwa jihad dalam islam memiliki wajah yang humanis dan mengutamakan prinsip kehidupan secara umum yaitu turut menjaga keberlangsungan hidup manusia dengan prinsip keadilannya dan bahkan menjaga kelestarian alam meskipun dalam keadaan berperang


2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 98-112
Author(s):  
Zainal Arif ◽  
Adi Abdurrahman ◽  
Zulfitria Zulfitria
Keyword(s):  

Kata-kata yang memiliki makna sinonimi dalam bahasa Arab banyak ditemukan dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari. Seperti kata ‘baik’ atau ‘kebaikan’ yang dalam bahasa Arab bisa digunakan dengan kata????? /al-khair/,  ??????/at-tayyib/, dan  ??????/al-h}asanah/. Tetapi dalam Al-Qur’an penggunaan ketiga kata tersebut selalu dimaksudkan untuk kondisi dan keadaan yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen makna dan relasi makna kata ????? /al-khair/,  ??????/at-tayyib/, dan  ?????? /al-h}asanah/ dalam Al-Qur’an. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Al-Qur’an Al-Furqan dan tafsirnya edisi bahasa indonesia mutakhir karya A. Hassan, cetakan maret 2010. Hasil penelitian dari analisis data menunjukkan bahwa tiga kata tersebut memiliki relasi makna sinonimi dalam kehidupan sehari-hari yaitu bermakna baik, namun dalam Al-Qur’an Karim fungsinya tidak dapat saling menggantikan satu sama lain. Dari data yang terkumpul kata ????? /al-khair/ dan derivasinya terdapat 192 kata, kata ?????? /at-tayyibdan derivasinya sebanyak 46 kata, dan kata ?????? /al-h}asanah/ dan derivasinya sebanyak 194 dengan masing-masing memiliki komponen makna yang khas dalam setiap penggunaannya.


2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 59-81
Author(s):  
Umar Faruq Tohir
Keyword(s):  

Pemikiran etik-sufistik al Ghazali bisa ditafsirkan dalam kerangka moderasi akhlak berbasis agama di Indonesia yang majmuk. Untuk membangun atau men-set up moderasi yang tepat dan lugas di bumi Indonesia atau di tubuh muslim Indonesia. Pendekatan etika sufistik al Ghazali bsa menjadi opsi yang adekuat. Untuk melihat atau memantau lanskap pemikiran etis al Ghazali ini bisa disusur dari biografinya, dari corak pemikirannya yang kontradiktif dengan pemikiran-pemikiran ilmiahnya sendiri. Menurut al-Ghazali, akhlak bukanlah pengetahuan (marifah) semata tentang baik dan jahat maupun qudrat untuk baik dan buruk. Akhlak bukan pula pengalaman (fi’l) yang baik dan jelek, melainkan suatu keadaan jiwa yang mantap (hay’ah râsikhah fî  al-nafs). Ia mendefinisikan akhlak sebagai suatu kemantapan jiwa yang menghasilkan perbuatan atau pengamalan dengan mudah, tanpa harus direnungkan dan disengaja. Ini artinya aklak bersifat spontan. Lalu arah pemikirannya menerobos menjadi evolusi pemikiran al Ghzali. Ada empat kelompok aliran Islam yang menjadi sasaran kritik al-Ghazali pada saat itu, yaitu: kelompok teolog Islam,  filosof, aliran Syi'ah Bathiniyah, dan kelompok sufisme. Perlu juga dipahami secara mendalam konsep etika al Ghzali. Poros etika al Ghazali di antarannya terletak pada konsep keseimbangan dan langkah-langkah peningktan akhlak. Sesuai dengan inti persoalan, al-Ghazali menamakan etikanya ilmu menuju akhirat (‘ilm tharîq al-akhîrah) atau jalan yang dilalui para nabi dan leluhur saleh (al-salaf al-shâlih). Ia juga menamakannya ilmu pengamalan agama (‘ilm al-mu’âmalah), Sebagai tambahan pemahaman adalah pengertian tentang induk ahlak buruk manusia, metode mendapatkan akhlak baik bagi manusia. Di dalamnya upaya atau strategi peningkatan akhlak manusia. Etika al-Ghazali bersifat religius-sufi. Dengan demikian simpulan pendapatnya, etika ialah pengkajian tentang keyakinan religius tertentu (i’tiqâdât), dan tentang kebenaran atau kesalahan dalam amal untuk diamalkan, dan bukan demi pengetahuan belaka.


2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 82-97
Author(s):  
Anis Ulfiyatin
Keyword(s):  

Kajian ini memfokuskan pembahasan tentang dampak dari wabah pandemi Covid-19 dan pengaruhnya terhadap sektor agama serta perilaku keberagamaan seseorang di masa pandemi. Bahwa dengan adanya kedaruratan kondisi sosial, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan budaya secara global, hal ini memunculkan pola-pola adaptasi dan perilaku keberagamaan yang baru di tengah-tengah masyarakat. Permasalahannya kemudian, akankah pola adaptasi yang baru ini mampu merombak tatanan nilai dan norma dalam agama Islam yang sudah ada. Selanjutnya, ketika pada akhirnya muncul tatanan nilai dan norma baru, akankah struktur sosial keagamaan yang telah ada selama ini menjadi disfungsi dan menggiring pada mati dan hilangnya institusi agama di masyarakat kita hari ini. Terakhir, bagaimana dan sejauh mana peran ajaran agama Islam dengan nilai-nilai Al-Qur’an-nya terus mampu menjadi “jaminan” keselamatan bagi masa depan umat manusia?.Tujuan: Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi penerapan kebijakan penanggulangan Covid-19 di Indonesia di bidang keagamaan, juga untuk melihat sejauh mana konsep ajaran Islam yang bersandar pada nilai-nilai Al-Qur’an mampu menjadi solusi atas permasalahan dalam menghadapi wabah pandemi Covid-19 di Indonesia, serta, bagaimana perspektif sosiologi agama menjelaskan masa depan agama Islam dan nilai-nilai Al-Qur’an ini di masa depan. Hasil dan Simpulan: (1) Kajian ini menyimpulkan bahwa betapa wabah Covid-19 ini dengan dahsyatnya mampu meluluhlantakkan tatanan nilai dan norma keberagamaan masyarakat di Indonesia. (2) Bahwa dengan adanya pola adaptasi yang baru dan perilaku keberagamaan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini, menggiring kita pada suatu proses redefinisi atas konsep agama itu sendiri. Selanjutnya, pandemi Covid-19 ini nyatanya juga membawa kita untuk kembali pada suatu upaya untuk proses pemurnian kembali ajaran agama Islam, yakni perilaku keberagamaan yang murni dan bersumber pada nilai-nilai dasar Al-Qur’an. (3) selanjutnya, kajian ini membawa kita bersama pada sebuah simpulan tentang masa depan manusia yang mengarah pada terbentuknya pola tatanan nilai dan norma baru yang justru bersumber dari Al-Qur’an, kitab suci umat agama Islam. Sebuah analisa sosiologis yang ditopang dan diperkuat dengan pemikiran-pemikiran tokoh sosiologi awal sebagaimana dalam kajian Suicide oleh seorang Emile Durkheim dan kajian tentang Protestant Ethics oleh seorang Max Weber dalam lingkup kajian sosiologi agama.    


2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 46-58
Author(s):  
Hidayatul Munawaroh

Lafaz-lafaz dalam Al Quran ada yang bermakna umum general. Ada yang bermakna khusus spesifik. Kompetensi dasar  menentukan mana yang general dan mana yang spesifik sungguh dibutuhkan dalam tafsir Al Quran. Mengingat Al Quran adalah rujukan yuresprudensi Islam, maka kompetensi dasar ini menjadi mutlak. Perbedaan menentukan mutlaq dan muqoyyag kadang pula terjadi yang lalu menimbulkan perbedaan tafsir. Berbagai pola bentuk mutlaq dan muqayyad ada dalam gramatika Al Quran.Tentu saja mutlaq dan muqayyad adalah salah satu aspek saja dalam kaidah atau gramatika kompetensi dasar  penafsiran Al Quran. Hanya dengan memahami aspek ini jelas tidak cukup. Namun tanpa memahami kompetensi ini juga berakibat pada misinterpretasi yang fatal.Dalam kajian mutlaq dan muqayyad, ada  bentuk-bentuk relasi untuk menarik kesimpulan dari nash-nash yang berbentuk mutlaq dan muqayyad. Pertama, sebab dan hukumnya sama. Kedua, sebab dan hukumnya berbeda. Ketiga, sebab berbeda, tetapi hukum sama. Keempat, sebab sama tapi hukum berbeda.    


2021 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 31-45
Author(s):  
Masrul Anam

Penelitian ini memaparkan tentang satu pendekatan dalam menafsirkan Al-Qur’an, seorang mufasir akan memiliki pendekatan yang berbeda karena dipengaruhi oleh dasar keilmuan, kebudayaan, dan madzhab. Pendekatan fikih dalam kajian tafsir merupakan salah satu usaha untuk menafsirkan ayat-ayat hukum yang dipengaruhi oleh mufasir yang latar belakang keilmuannya dibidang fikih. Dan untuk ayat-ayat lain yang tidak mengandung hukum-hukum fikih maka tidak dijadikan sebagai target dalam penafsirannya bahkan cenderung tidak dimuat sama sekali. Pendekatan ini sudah ada sejak masa zaman Rasulullah SAW, sebab ketika para sahabat kesulitan dalam memahami hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut, maka sahabat langsung menanyakan hal itu kepada Nabi dan beliau pun langsung menjawab. Akan tetapi ketika Nabi  telah wafat maka mereka dalam memahami Al-Qur’an salah satu caranya adalah dengan menggunakan pendekatan fikih dari berbagai madzhab.


2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 1-27
Author(s):  
Muhammad Arwani Rofi'i Rofi'i
Keyword(s):  

Bahagia merupakan suatu hal yang diinginkan oleh semua makhluq yang berakal. Akan tetapi kebahagiaan antara manusia yang satu dengan lainnya berbeda-beda, karena kebahagian relatif sesuai pada tujuan hidup seseorang. Orang yang menginginkan kehidupan dunia yang berkecukupan akan merasa bahagia apabila hal tersebut tercapai. Berbeda dengan orang yang di dunia hanya mencari iman dan takwa. Oleh karena kebahagian tersebut berubah-ubah penulis menginginkan suatu pedoman dari al-Qur’an sebagai sumber utama umat Islam sehingga dapat diketahui hakikat kebahagian. Tujuan penulis adalah menghadirkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan kebahagiaan sehingga dapat memahami maksud yang terkandung dalam ayat tersebut. Penelitian ini merupkan jenis penelitian pustaka (library research) dengan menggunakan metode tafsir mawdu‘i (tafsir tematik) dengan cara mengumpulkan ayat-ayat yang terkandung di dalamnya arti kebahagiaan. Penulis menggunakan metode content analyst dalam mengolah informasi yang telah diperoleh dari al-Qur’an, kitab-kitab tafsir dan kitab lainnya yang berkaitan. Hasil penelitian menunjukkan terdapat banyak lafal dalam al-Qur’an yang bermakna kebahagiaan. Akan tetapi, penulis hanya berfokus pada kata fariha-yafrahu-farihan dan bentuk-bentuk lainnya yang diambil dari kata tersebut kemudian dikaitkan dengan kata-kata lain yang menunjukkan arti kebahagian. Secara umum al-farih mempunyai arti kebahagiaan namun dalam kesempatan lain juga dapat diartikan kesombongan dan ridha. Mayoritas ayat yang mencantumkan lafal al-farih terdapat dalam surat Makkiyah, hal ini karena kebahagiaan merupakan pondasi utama penguatan iman penduduk Makkah. Bahagia tidak hanya menjadi sifat manusia namun juga termasuk sifat fi‘liyyah Allah. Bahagia dibagi menjadi dua bagian. Pertama, bahagia terpuji seperti bahagianya umat Islam setelah mendapat berita diterimanya taubat mereka setelah terjadinya peristiwa perang Tabuk. Kedua, bahagia tercela seperti pada kasus Karun yang merasa bahagia atas kekuasaan dan hartanya namun jauh dari Allah subhanahu wa ta‘ala.


2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 77-98
Author(s):  
Nailul Izzati ◽  
Silmi Kaaffah
Keyword(s):  

Platform digital dan media sosial kini menjadi salah satu alat komunikasi dan sumber informasi. Perkembangan teknologi memberikan dampak positif sekaligus negatif bagi penggunanya. Derasnya arus informasi mengharuskan masyarakat memiliki filter yang kuat dan sikap yang bijak dalam menanggapi sebuah berita, terutama yang masih belum jelas kebenarannya. Suatu rumor dapat menjadi viral berkat komunikasi melalui jejaring sosial daring. Penelitian ini membahas model matematika untuk mengilustrasikan dinamika yang terjadi dalam jejaring sosial daring saat suatu rumor berhembus. Model matematika yang dimaksudkan mempertimbangkan sikap ideal kaum Mukminin berdasarkan Al- Qur’an dan Hadits, termasuk di antaranya adalah anjuran tabayyun serta larangan berprasangka, tajassus, dan ghibah. Model matematika yang diperoleh kemudian dianalisis titik kesetimbangannya dan disimulasikan menggunakan Metode Runge- Kutta. Hasil simulasi numerik menunjukkan bahwa penerapan sikap tabayyun dalam menanggapi suatu berita serta menahan diri untuk tidak berprasangka, tajassus, dan ghibah dalam model, dapat menekan laju penyebaran rumor dalam jejaring sosial daring.


2020 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 150-160
Author(s):  
Amiruddin Hadi Wibowo

Pendidikan di Indonesia pada abad ke-21 dihadapkan pada sejumlah peluang dan tantangan yang berbeda dengan zaman-zaman sebelumnya. Oleh sebab itu, diperlukan langkah antisipasi untuk menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan dan dinamika perubahan yang sedang dan akan terus berlangsung. Bangsa Indonesia selayaknya senantiasa mengasah kemampuan yang dibutuhkan dalam menghadapi berbagai perubahan, salah satunya pada bidang pendidikan yang mungkin akan terjadi dengan sangat revolusioner. Pendidikan karakter penting diimplementasikan karena lebih menitikberatkan pada kualitas tindakan, perbuatan, atau perilaku manusia. Pada implementasi pendidikan karakter, terdapat relevansi erat dengan konsep pendidikan akhlak (karakter) dalam filsafat Al-Ghazali. Konsep pendidikan karakter dalam kajian pemikiran Al-Ghazali dalam kitab Ayyuhal Walad sangat relevan dengan tujuan pendidikan karakter itu sendiri, yaitu tumbuhnya nilai-nilai moral dalam pribadi anak. Tulisan ini akan menganalisis pandangan filsafat akhlak Al-Ghazali dan relevansinya dengan urgensi pendidikan karakter pada abad ke-21.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document