Nun : Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

22
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Asosiasi Ilmu Alquran Dan Tafsir Se Indonesia

2581-2254, 2502-3896

2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 105
Author(s):  
Muhammad Irfan Helmy

Human personality depicts an individual’s behavior and it is a formal object of psychology. Understanding human behavior is a vital and fundamental subject to understand human’s essence. The typology of behavioral concept is multifaceted and varied. In fact, various definitions of personality arrive at a single substance. This paper analyses Sigmund Freud’s concept on personality through the eye of Qur’an. The Qur’an made a personality concept as part of its focus. Through a comparative method, this study concludes that both Freud and the Qur’an argue that human personality consists of three components or potentials with different characteristics, yet integrated, to create human behavior and its personality. Freud calls them consecutively as Id, Ego and Superego; while the Quran calls them as Nafs, Akal and Kalbu. The difference between Freud and Quran on personality concept lies on the source where these three potentials came from. In Freud’s view, they came from the human being themselves internally or being influenced by their surroundings. Freud did not count God’s influence in his theory. According to Quran, however, the third potentials (Kalbu)depicts God’s values embedded in human being. Kalbu is called as a God’s disposition (tendency). Thus, Quranic concept on personality is theocentric while Freud’s is anthropocentric which is much dependent on rationality and morality of human being.  


2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 27
Author(s):  
Fuji Nur Iman
Keyword(s):  

Tulisan ini mencoba mengurai polemik tentang naskh dalam Alquran atau naskh intra Quranic. Dengan mengikuti cara baca yang ditawarkan Roland Barthes yakni melalui pembacaan atas sistem linguistik dan mitologi dapat dikatakan bahwa pada tataran sistem linguistik penanda atas term naskh adalah pembatalan dengan menandai adanya mansukh dan menjadi tanda akan adanya sesuatu yang baru yang lebih baik. Sementara pada tataran sistem mitologi dengan tanda pada sistem linguistik sebabgai penanda menandai tidak adanya ayat yang bertentang antara satu dengan yang lain dalam Alquran. Dalam pada itu term naskh pada tataran sistem mitologi menjadi tanda bahwa Alquran adalah kitab shalih li kulli zaman wa makan. Adapun sebagai tipe wicaranya dengan meniscayakan bahwa terdapat relasi antara wahyu konteks sosio-historis masyarakat arab pada saat itu.


2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 121
Author(s):  
Lia Mega Sari

Khusyuk merupakan hal dasar yang harus diterapkan dalam menjalankan berbagai hal,terutama dalam salat, begitu juga dalam berbaga iaktifitas sehari-hari. Melihat pentingnya pengetahuan tentang konsep khusyuk,maka tulisan ini akan membahas khusyuk dalam alquran dan para mufasir, serta berbagai cara untuk dapat mencapai kekhusyukan tersebut. Hasil dari pembahasan ini adalah bahwa kata khusyuk dalam Alquran ditemukan sebanyak 17 kali dalam bentuk kata yang berbeda-beda, mayoritas lafal khusyuk ditujukan kepada manusia namun ada juga sebagian ayat yang ditujukan kepada benda-benda yang lain seperti gunung dan bumi. Dari berbagai pengertian dari kata khusyuk secara global arti khusyukmerujuk kepada merendahkan diri,dalam artian bahwa khusyuk adalah merasa bahwa dirinya tunduk dan merendahkan diri ketika berada dihadapan Tuhannya.Khusyuk tempatnya di dalam hati,apabila hati khusyuk maka seluruh anggota tubuh akan khusyuk karena kekhusyukan hatinya. Kekhusyukan seseorang tidak dapat dinilai dari gerakan ataupun prilakunya, karena tempatkhusyuk di hati bukan di gerakan. 


2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 138
Author(s):  
Neny Muthi’atul Awwaliyah ◽  
Idham Hamid

Kitab tafsir (Tafsere Akorang Ma’basa Ugi) merupakan kitab tafsir generasi kedua yang sebelumnya telah dipelopori oleh AG. Daud Ismail dengan kitab tafsirnya al-Munir. Karya ini merupakan kitab tafsir edisi kedua yang mampu melengkapi 30 juz  dengan jumlah 11 jilid. Sedangkan bahasa yang digunakan ketika menafsirkan ayat al-Qur’an adalah huruf aksara Lontara’ Bugis yang merupakan bahasa Ibu dari suku Bugis-Makassar yang terdapat di wilayah Sulawesi Selatan. Umumnya metode yang digunakan dalam tafsir ini menggunakan metode tahlili. Kendati demikian, rasa ijmali juga menghiasi dalam sistematika pembahasan ayat. Pada awalnya, tafsir ini lahir dari proyek Muin Yusuf yang ketika itu menjabat sebagai ketua MUI Selawesi Selatan. Tafsir ini kemudian hadir di tengah-tengah masyarakat Bugis, sebagai alat komunikasi masyarakat awam sehingga mampu memahami kandungan al-Qur’an melalui penafsiran ayat al-Qur’an dengan aksara lontara Bugis sekaligus sebagai cerminan upaya vernakularisasi al-Qur’an dan bahasa Ibu.  


2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 79
Author(s):  
Nirwana Dewi ◽  
Afrizal Nur

Tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an (yakhruju min bain ash-Sulbi wa at-Tharā’ib), Al-Qur’an Surat. Ath-Thariq [86]:7, dan hadits Nabi Muhammad SAW 1400 tahun silam, serta penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut. Dilihat dari sisi anatomi tubuh manusia, ash-Shulbi wa at-Tarā’ib (tulang punggung dan tulang dada) ini mencakup tulang belakang yang terdiri dari 7 tulang belakang leher, 12 tulang dada, 5 tulang lumbar, 5 tulang ekor, dan 5 tulang pinggul. As-Solb (tulang sulbi) dimulai dari pundak.Tulang sulbi adalah: tulang belakang dada + tulang lumbar + pangkal punggung, setara: 12+5+5= 22 tulang belakang. Adapun at-Tarā’ib bukan merupakan tulang rusuk dada sebagaimana diketahui pada umumnya, melainkan pengkhususan, 4 tulang rusuk dari bagian kanan dada, 4 tulang rusuk dari bagian kiri dada yang mengikuti tulang selangka ditempat pemakaian kalung. Kemudian yang paling menarik adalah, tulang sulbi mempunyai keistimewaan dan keajaiban, yaitu tentang kebenaran tulang sulbi yang telah disebutkan dalam Al-Qur’an dan yang telah disabdakan Nabi Muhammad SAW di dalam hadits, serta penelitian-penelitian yang telah dilakukan oleh para ilmuwan tentang fakta tulang sulbi tersebut.


2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Abdul Jalil

يعتبر مصحف الصحابي عبد الله بن مسعود من أهم المصاحف القديمة التي ذكرتها المراجع الإسلامية، حيث يظهر وجود اختلافات متعددة بينه وبين المصاحف العثمانية، من أهمها اختلاف ترتيب السور وعدم وجود الفاتحة والمعوذتين، واختلاف في جملة من القراءات. اختلفت آراء العلماء حول هذه القضية، حتى إن  تيودور نولدكه شكك في أن ابن مسعود يعتبر بصحة تلك السور الثلاث الغير موجودة في مصحفه. يحاول هذا البحث باستخدام المنهج التحليلي-المقارن تحليل هذه الآراء حول قضية مصحف ابن مسعود، ويقسمها إلى: المثبتين ما نسب إلى ابن مسعود، والنافين لها، والمأولين. ويرجح البحث بأن ابن مسعود كان يرى بقرآنية السور الثلاث، الفاتحة والمعوذتين.  


2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 51
Author(s):  
Anis Tilawati

Sejak al-Qur’an diturunkan hingga dewasa ini, kajian tentang susunan bahasa al-Qur’an masih terus menjadi bahan diskusi yang menarik. Salah satu hasil diskusi tersebut adalah dari kalangan ilmuwan modern yang belakangan menemukan sebuah struktur al-Qur’an dengan sebutan ring structure. Struktur ini dipopulerkan oleh Raymond Farrin dan Michel Cuypers melalui karya mereka yang kemudian direview oleh seorang orientalis bernama Nicolai Sinai. Ring Structure atau struktur cincin di sini merupakan sebuah struktur al-Qur’an yang dibangun atas susunan koherensi ayat dan surah yang membentuk lingkaran dengan inti di tengahnya sebagaimana bentuk cincin. Sinai melakukan kritik atas teori struktur cincin al-Qur’an yang ditawarkan Farrin dan Cuypers melalui sebuah artikel review. Penulis dalam hal ini mencoba menganalisa pemikiran Sinai dalam kritiknya tersebut, dengan kata lain penulis menggunakan metode explanatory analysis dalam tulisan ini. Hasil temuannya adalah bahwa Nicolai Sinai menganggap struktur cincin al-Qur’an yang mereka tawarkan terlalu berlebihan karena ia menemukan beberapakali Cuypers ataupun Farrin kehilangan dalam analisanya. Tidak hanya sebatas mengkritik, tetapi kemudian Sinai menawarkan sebuah struktur al-Qur’an yang menurutnya lebih sesuai dibandingkan dengan ring structure. Sinai juga mencoba mengaplikasikan struktur al-Qur’an tersebut pada beberapa ayat dan surah dalam al-Qur’an, salah satunya pada surah An-Najm.


2019 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 81
Author(s):  
Fatikhatul Faizah

Keberagaman karya tafsir tidak akan pernah lepas dari metode dan pendekatan yang digunakan sang mufasir. Metode dan pendekatan yang digunakan, menjadikan masing-masing karya penafsiran maupun terjemahan memiliki ciri khas. Salah satunya adalah Alquran berwajah puisi karya H. B. Jassin yang merupakan literatur terjemahan karya umat Muslim Indonesia yang terbit pada tahun 1977. Terjemahan Alquranpuitis yang dikarang oleh H.B. Jassin ini menuai berbagai kontroversi. Sebagian pembaca menilai bahwa terjemaha AlquranH.B. Jassin lebih tepat dari pada terjemah yang disusun oleh Kemenag, adapun sebagian lainnya menilai bahwa Jassin tidak sepantasnya menerjemahkan Alqurandengan melangkahi terjemahan AlquranKemenag, yang dinilai sebagai standar terjemahan di Indonesia, sebab dari sisi intelektual H.B. Jassin tidak memiliki perangkat-perangkat keilmuan yang memadai untuk menerjemahkan Alquran. Tulisan ini akan mencoba mendiskusikan lebih dalam mengenai polemik-polemik yang terjadi seputar terbitnya karya “AlquranKarim Bacaan Mulia” karangan H. B. Jassin.


2019 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 101
Author(s):  
Nilna Fadlillah

Pembacaan Alquran yang dilakukan oleh umat Islam tidak hanya bertujuan untuk beribadah atau kepentingan akhirat semata, akan tetapi juga memiliki kepentingan lain. Di satu sisi terdapat pembacaan yang bersifat formal-subtantif yaitu pembacaan yang dilakukan dalam konteks ibadah yang lebih berorientasi pada keuntungan atau pahala akhirat. Di sisi lain, pembacaan Alquran juga dilakukan secara fungsional yang orientasi keuntungannya lebih bersifat duniawi. Fenomena pembacaan Alquran dalam berbagai bentuknya ini masuk dalam salah satu bidang kajian living Qur’an atau resepsi Alquran. Dalam tulisan ini, peneliti akan berusaha melihat beragam resepsi dalam Alquran dengan menjadikan hadis sebagai objek formal penelitian. Dengan memetakan riwayat-riwayat tentang resepsi Alquran yang dilakukan oleh generasi awal Islam yang terekam dalam riwayat hadis, selanjutnya tulisan ini juga akan melihat proses transmisi dan tranformasi riwayat hadis sehingga sampai saat ini resepsi Alqurantetap eksis dan variatif.


2019 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 129
Author(s):  
Alif Jabal Kurdi

Permasalahan radikalisme masih menjadi trending topic yang menghiasi wajah keberagaman umat Islam. Kesalahpahaman dalam memaknai ayat-ayat Alquran masih menjadi permasalahan utama yang melahirkan pemahaman yang radikal (radikalisme) dan tindakan yang destruktif (terorisme). Maka penting untuk menggali lebih dalam nilai-nilai perdamaian dalam Alqurandengan mengeksplor ayat-ayat yang mencerminkan jati diri ajaran Islam sebagai din al-salam. Q.S al-Hujurat[49]: 9 merupakan salah satu representasi ayat Alquran yang menegaskan bahwa Islam adalah agama yang solutif bukan provokatif. Melaui penafsiran salah satu cendekiawan muslim kontemporer yang masyhur dengan teori maqashidnya, Ibn ‘Asyur, penulis akan berusaha menemukan cara pandang baru dalam membaca ishlah dari kacamata tafsir maqashidi. Selain itu, tulisan ini juga diproyeksikan untuk melihat konsistensi teori maqashid Ibn ‘Asyur dalam tafsirnya serta mengambil intisari metodologis dan konten penafsirannya sebagai perwujudan bagi upaya menghadirkan penjelasan Islam yang rahmah dan menanggulangi radikalisme.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document