Jurnal Keperawatan Wiyata
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

12
(FIVE YEARS 11)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Stikes Wiyata Husada Samarinda

2774-9789, 2774-4558

2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 71
Author(s):  
Nurun Nimah ◽  
Anik Puji Rahayu ◽  
Aries Abiyoga

ABSTRACTBackground: Dysmenorrhea is a painful sensation, cramping in the lower abdomen which is often accompanied by other symptoms, such as sweating, headache, nausea, diarrhea, and tremors, all of which occur before or during menstruation. Teenage girls who experience dysmenorrhea can interfere with social or physical activities because when they are in pain, sufferers tend to be silent and even don't want to interact with other people, they tend to be more emotional. Emotional embodiment part of what a woman feels, a reaction to a certain event or situation. Emotional status and dysmenorrhea in women is a conscious experience that influences bodily activities and is psychologically able to influence a woman's emotions. Objective: To identify emotional status and to analyze the relationship between emotional status and the degree of dysmenorrhea in young girls. Methods: Quantitative research, descriptive analytic research design with cross sectional research design with proportionate stratified random sampling technique, the sample of this study was 54 students of class X SMKN 12 Loa Buah Samarinda who experienced dysmenorrheaResults: Variable emotional status obtained positive emotional classification 33 (61, 1%) and negative emotions 21 (38.9%) respondents. Variable The degree of dysmenorrhea was classified as mild 35 (64.8%), moderate 12 (22.2%), severe 5 (9.3%) and unbearable 2 (3.7%). The test used Pearson Chi-square results obtained P value = 0.402, the significant level (α) is 0.05, then p> from α. This result means that Ho is accepted, there is no relationship between emotional status and the degree of dysmenorrhea in young girls at SMKN 12 loa buah samarinda. Conclusion: There is no relationship between emotional status and the degree of dysmenorrhea in adolescents at SMKN 12 Loa Buah Samarinda


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 51
Author(s):  
Aisyah Nurlany ◽  
Chrisyen Damanik ◽  
Hamka Hamka

Latar belakang: Ulkus kaki diabetik merupakan salah satu komplikasi kronik dari diabetes yang sering ditemui. Kehadiran biofilm bakteri dianggap sebagai penghalang bagi perkembangan alami luka menuju penyembuhan dan memfasilitasi bioburden transisi dari kolonisasi sederhana ke kolonisasi kritis dan infeksi. Tujuan: Diketahuinya efektivitas penggunaan cairan pembersih luka polyhexamethylene biguanide dengan nano silvosept spray terhadap kemampuan mengurangi biofilm pada ulkus kaki diabetik. Metode: Kualitatif dengan pendekatan studi kasus, menggunakan teknik sampling, dengan jumlah partisipan 2. Pengukuran observasi dengan menggunakan Leg Ulcer Measurement Tool, dokumentasi dari rekaman arsip, dan triangulasi berupa wawancara dengan terapis yang mengetahui perkembangan luka dari awal hingga penelitian dilaksanakan. Hasil: Didapatkan keefektivan tindakan proses pencucian luka kaki diabetik dengan biofilm menggunakan pengkajian leg ulcers measurement tools pada setiap kasus terdapat penurunan skor baik dengan cairan pembersih luka polyhexamethylene biguanide maupun pembersih luka nano silvosept spray. Penurunan pada setiap skor terjadi baik secara keseluruhan maupun yang berfokus terhadap kondisi biofilm yang salah satunya ditandai dengan penurunan eksudat pada luka. Kedua cairan ini cukup baik untuk membersihkan luka dalam mengurangi biofilm yang mengganggu dalam proses penyembuhan luka. Kesimpulan: Keduanya efektif digunakan dalam perawatan luka kaki diabetik dengan biofilm baik polyhexamethylene biguanide maupun nano silvosept spray karena mempunyai cara tersendiri dalam menghilangkan bakteri selama proses pencucian luka.


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 81
Author(s):  
Ayu Lestari Manullang ◽  
Sumiati Sinaga ◽  
Anik Puji Rahayu

Latar Belakang : Pemutusan pemberian ASI secara dini sangat mempengaruhi tumbuh kembang dan status kesehatan anak di masa depan. Ada kemungkinan proses penyapihan dini akan berpengaruh terhadap sistem cerna bayi yang belum siap, penyerapan nutrisi yang lebih sedikit, peningkatan berat badan berlebih dan resiko infeksi. Belum ada yang tahu kapan waktu yang tepat untuk mulai berhenti menyusui, namun ada baiknya dalam menekan turunnya angka kesakitan dan kematian bayi pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan dan dilanjutkan hingga usia 2 tahun dilakukan. Ibu yang berhenti memberikan ASI sebelum waktunya, dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti kesehatan fisik ibu dan bayi, psikologis, sosial dan spiritual. Hal ini membuat peneliti tertarik untuk mengetahui aspek psikososial dan spiritual ibu yang melakukan penyapihan dini pada anak usia baduta Tujuan : untuk mengetahui korelasi antara aspek psikososial dan spiritual dengan penyapihan dini pada anak usia baduta. Metode : penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan deskriptif analitik dan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel penelitian ini sebanyak 122 responden yang didapatkan menggunakan Simple Random Sampling dan pemberian kuesioner yang datanya di analisis dengan menggunakan uji Korelasi Pearson. Hasil : penelitian ini menunjukkan Ada korelasi yang bermakna (pvalue ­=0.000) dan sangat kuat (r=0.912) antara aspek psikososial dengan penyapihan dini pada anak usia baduta, sedangkan korelasi antara aspek spiritual dengan penyapihan dini ada korelasi bermakna (pvalue ­=0.009) namun berkekuatan lemah (r=0.236). Kesimpulan : semakin baik nilai aspek psikososial dan spiritual seorang ibu saat menyusui maka akan semakin menurunkan tingkat penyapihan dini pada anak usia baduta.


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Santo Sius ◽  
Rusdi Rusdi ◽  
Siti Kholifah

Latar Belakang Stres adalah perasaan tertekan,cemas, tegang, perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan, baik fisik maupun psikis sebagai respon atau reaksi individu terhadap stresor yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahtraan hidupnya. Stres yang terjadi pada keluarga pasien gangguan jiwa di karena keluarga merasa terbebani dan kurangnya rasa penerimaan juga kesadaran terhadap keadaan pasien. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran tingkat stress keluarga penderita gangguan jiwa Di Wilayah Kerja Puskesmas Tering Seberang Kutai Barat. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Sampel dalam penelitian ini adalah keluarga penderita gangguan jiwa Di Wilayah Kerja Puskesmas Tering Seberang Kutai Barat dengan jumlah sampel 42 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling. Hasil penelitian menunjukanbahwa mayoritas responden mengalami stress sedang sebanyak 23 orang (54,8%), tingkat stress ringan 9 orang (21,4%), stress berat 6 orang (14,3%), stress normal sebanyak 4 orang (9,5%). Mayoritas berusia dewasa (26-45 tahun) sebanyak 24 responden (57,1), mayoritas berjenis kelamin laki-laki sebanyak 27 responden (64,3%), mayoritas pendidikan SD sebanyak 19 responden (45,2), mayoritas pekerjaan bekerja 35 responden (83,3%). Kesimpulan Sebagian besar tingkat stress keluarga penderita gangguan jiwa di Wilayah Kerja Puskesmas Tering Sebrang Kabupaten Kutai Barat mengalami stress sedang


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 31
Author(s):  
Merlinda - Sampe ◽  
Suwanto Suwanto ◽  
Abdurrahman Abdurrahman
Keyword(s):  

  Latar Belakang : Akreditasi merupakan pengakuan yang diberikan kepada Rumah Sakit karena telah berupaya meningkatkan mutu pelayanan secara berkesinambungan. Data akreditasi tahap II di RSUD Kudungga diperoleh kinerja perawat dalam kesiapan akreditasi hanya mencapai 40%, hal ini dapat dikarenakan perawat dalam menghadapi akreditasi Rumah Sakit kurang memiliki motivasi. Tujuan : Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi perawat untuk terlibat dalam akreditasi di RSUD Kudungga. Metode : Jenis penelitian yang dilakukan adalah kuantitatif dengan  rancangan survei analitik dan desain cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah semua perawat PNS di RSUD Kudungga sebanyak 62 orang, berdasarkan rumus slovin diperoleh sampel sebanyak 51 orang. Analisis data menggunakan chi square. Hasil Penelitian : Hasil analisis didapatkan bahwa terdapat hubungan antara pengakuan atas prestasi, pengembangan potensial individu, kebijakan institusi dan pengawasan dengan motivasi perawat untuk terlibat dalam akreditasi dengan nilai p < alpha 0,05. Kesimpulan : pengakuan atas prestasi, pengembangan potensial individu, kebijakan institusi dan pengawasan merupakan faktor yang berhubungan dengan motivasi. Disarankan Pihak RSUD Kudungga hendaknya megupayakan penerapan dan pengawasan kebijakan terkait dengan motivasi perawat untuk terlibat dalam akreditasi di RSUD Kudungga.


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 91
Author(s):  
Christiyanty Christiyanty ◽  
Wahyu Dewi Sulistyarini ◽  
Yusnita Sirait

Latar belakang : Kanker serviks merupakan penyakit kanker yang terjadi pada leher rahim. Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang terjadi di sel-sel serviks. Penderita kanker serviks yang sudah melakukan kemoterapi akan mengalami efek dari kemoterapi seperti mual, muntah, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, dan alopesia. Hal ini mengakibatkan penderita kanker serviks mengalami perubahan dan menimbulkan berbagai keluhan secara fisik yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya.Tujuan: Mengeksplorasi pengalaman kualitas hidup perempuan dengan kanker serviks dalam aspek kesehatan fisik. Metode Penelitian : Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan jumlah partisipan sebanyak 4 orang dengan kriteria yaitu : (1) perempuan dengan kanker serviks; (2) perempuan yang mampu berkomunikasi dengan baik, dibuktikan dengan menggunakan Mini-Mental State Exam (MMSE); (3) perempuan yang telah menyetujui sebagai partisipan dibuktikan dengan pengisian informed consent, sehingga partisipan tidak merasa terpaksa selama mengikuti proses kegiatan penelitian dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil : Terdapat 2 tema dari penelitian ini yaitu; (1) Penurunan fungsi fisiologis pada perempuan kanker serviks; (2) Nyeri kronik yang dialami perempuan kanker serviks. Kesimpulan : Perempuan kanker serviks mengalami penurunan fungsi fisiologis dan mengalami nyeri kronik selama menjalani pengobatan.   PENDAHULUAN Kanker serviks merupakan penyakit kanker yang terjadi pada leher rahim. Kanker serviks adalah kanker yang disebabkan oleh infeksi Human Papilloma Virus (HPV) yang terjadi di sel-sel serviks. Sel-sel ini sendiri berkembang secara bertahap karena pengaruh zat-zat yang bersifat karsinogen (zat pemicu kanker) dan memakan waktu bertahun-tahun hingga menjadi sel prakanker[17]. Jumlah penderita kanker serviks tahun 2013 sebanyak 0,3%, Provinsi Kepulauan Riau, Provinsi Maluku Utara dan Provinsi D.I Yogyakarta memiliki prevalensi kanker serviks tertinggi sebanyak 1,5% untuk di Kalimantan Timur berada diurutan 23 dari 34 Provinsi di Indonesia dengan angka kanker serviks sebesar 0,4% dengan jumlah 752 jiwa[10]. Gejala fisik kanker serviks pada umumnya dirasakan oleh penderita kanker serviks stadium lanjut, yaitu munculnya rasa sakit dan pendarahan saat berhubungan intim (contact bleeding), keputihan yang berlebihan dan tidak normal, perdarahan diluar siklus menstruasi, serta penurunan berat badan secara drastis[23]. Penderita kanker serviks dengan stadium IB dan IIA dapat dilakukan terapi pembedahan, radiasi, dan kemoterapi. Penderita kanker serviks stadium IIB dan stadium lanjut dapat dilakukan terapi radiasi dan kemoterapi[19]. Penderita kanker serviks yang sudah melakukan kemoterapi akan mengalami efek dari kemoterapi seperti mual, muntah, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, dan alopesia[19]. Hal ini mengakibatkan penderita kanker serviks mengalami perubahan dan menimbulkan berbagai keluhan secara fisik, psikologis, sosial, spiritual yang dapat mempengaruhi kualitas hidupnya[23]. Kualitas hidup merupakan suatu persepsi individu terhadap kehidupannya di masyarakat dalam konteks budaya dan sistem nilai yang berhubungan dengan tujuan hidup dan target individu[6]. WHOQoL group pada tahun 2004 menyebutkan dimensi kualitas hidup terdiri dari 4 dimensi yaitu dimensi kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial dan lingkungan. Maka peneliti tertarik untuk mengeksplorasi kualitas hidup perempuan dengan kanker serviks dalam aspek kesehatan fisik[23]. METODE Penelitian ini menggunakan purposive sampling. Purposive sampling adalah teknik penetapan sampling yang dapat sesuai dengan kriteria yang peneliti harapkan, sehingga sampel tersebut dapat mewakili karakteristik populasi dari yang dikenal sebelumnya[13]. Pemilihan partisipan menggunakan metode criterion sampling[15]. Adapun kriteria informan dalam penelitian ini sebagai berikut: (1) perempuan dengan kanker serviks; (2) perempuan yang mampu berkomunikasi dengan baik, dibuktikan dengan menggunakan Mini-Mental State Exam (MMSE) digunakan sebagai alat untuk mendeteksi adanya gangguan kognitif pada seseorang/individu, mengevaluasi perjalanan suatu penyakit yang berhubungan dengan proses penurunan kognitif dan memonitor respon (Turana, 2004); (3) perempuan yang telah menyetujui sebagai partisipan dibuktikan dengan pengisian informed consent, sehingga partisipan tidak merasa terpaksa selama mengikuti proses kegiatan penelitian. HASIL Ada dua tema yang di peroleh dari beberapa kategori yang ditemukan melalui proses koding. Tema yang diperoleh menggambarkan pengalaman kualitas hidup partisipan kanker serviks  dalam aspek kesehatan fisik. Tema diperoleh melalui proses analisis pada unit analisis, juga didengarkan berulang dan secara rinci agar peneliti mendapatkan makna yang menjadi dasar pembentukan kategori, kemudian kategori yang ada di kelompokkan pada tema, tema yang di peroleh peneliti yaitu: (1) penurunan fungsi fisiologis pada perempuan kanker serviks; (2) nyeri kronik yang dialami perempuan kanker serviks. PEMBAHASAN Penurunan fungsi fisiologis pada perempuan kanker serviks Penurunan fungsi fisiologis pada perempuan kanker serviks terjadi pada beberapa aspek diantaranya perubahan integumen, disfungsi motilitas gastrointestinal, intoleransi aktivitas dan  gangguan kebutuhan istirahat. Hal ini dimungkinkan karena perempuan kanker serviks mengalami penurunan cara kerja dari fungsi fisiologis pada tubuhnya dan mengakibatkan sistem integumen seperti rambut ataupun kulit mengalami perubahan karena pengaruh dari kemoterapi yang dijalani. Pasien kanker yang menjalani kemoterapi dan kemoterapi radioterapi mengalami perubahan pada kulit seperti pigmentasi kulit, pruritus, eritema acral/palmar-plantar eritrodisestesi (PPE), xerosis dan perubahan pada rambut seperti alopecia. Sehingga efek kemoterapi mengakibatkan penurunan fungsi fisiologis perempuan kanker serviks terutama pada perubahan sistem integumennya[12]. Perubahan integumen pada perempuan kanker serviks terdiri dari perubahan rambut rontok dan kulit menghitam. Hal ini dimungkinkan rambut rontok dan kulit menghitam merupakan efek dari kemoterapi. Kerontokan rambut yang disebabkan kemoterapi diduga sebagai akibat dari penghentian aktivitas mitosis pada matriks rambut yang mengakibatkan bagian batang rambut menjadi sempit dan melemah. Obat yang digunakan untuk kemoterapi dan efeknya rambut menjadi rontok seperti kombinasi siklofosfamid dan doksorubisin, paclitaxel dan carboplatin, cyclophosphamide, doxorubicin dan vincristine, vincristine dan daunorubicin, cisplatin, carboplatin, dan kombinasi cisplatin dan 5 FU. Perempuan kanker serviks bisa mengalami rambut rontok dikarenakan obat kemoterapi yang masuk ke dalam tubuh[18]. Efek samping merupakan hal yang pasti didapati pasien kanker pada saat kemoterapi. Kemoterapi akan mengakibatkan perubahan fisik seperti kulit menghitam dan kelelahan. Selain kerontokan rambut efek dari kemoterapi bisa menyebabkan kulit menghitam[20]. Sehingga kemoterapi yang terjadi pada perempuan kanker serviks mengakibatkan perubahan integumen yang terdiri dari rambut rontok dan kulit menghitam. Selain terjadi perubahan pada integumen perempuan dengan kanker serviks juga akan mengalami perubahan disfungsi motilitas gastrointestinal. Disfungsi motilitas gastrointestinal merupakan peningkatan, penurunan, tidak efektif atau kurangnya aktivitas peristaltik gastrointestinal[16]. Disfungsi yang terjadi pada sistem gastrointestinal antara lain penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, mual dan muntah, muntah. Penurunan berat badan terjadi pada saat perempuan menjalani kemoterapi kemudian mengalami mual dan muntah. Hal itu yang mengakibatkan perempuan akan mengalami penurunan nafsu makan dan tidak berminat pada makanan. Penurunan berat badan yang mulai terjadi saat pasien mendapatkan terapi kemoterapi dan penurunan berat badan terjadi secara bertahap. Salah satu faktor penyebab penurunan berat badan adalah intake nutrisi yang kurang. Penurunan berat badan bisa terjadi karena beberapa faktor di antaranya adalah penurunan nafsu makan yang disebabkan oleh mual, muntah, dan mukositis yang dialami oleh penderita kanker serviks dengan kemoterapi. Respons fisik berupa mual dan muntah munculnya bervariasi yaitu pada saat selama pemberian kemoterapi, setiap lima menit, setengah sampai 2 jam setelah pemberian kemoterapi dan bahkan mual dan muntah dapat terjadi sehari, dua dan tiga hari setelah pemberian kemoterapi. Sensasi yang dirasakan ada mual atau mual dan muntah. Munculnya gejala mual dan muntah ada yang hilang timbul dan terus menerus. Respons mual dan muntah diklasifikasikan menjadi akut, terlambat, dan antisipatif. Akut terjadi kurang dari 24 jam setelah kemoterapi, terlambat terjadi 24 jam atau lebih setelah kemoterapi. Muntah dapat diinduksi oleh berbagai zat kimia, obat sitostatik dan yang diperantai melalui Chemoreceptors Trigger Zone (CTZ). CTZ berlokasi di medulla yang berperan sebagai chemosensor. Area ini kaya akan berbagai reseptor neurotransmitter. Contoh dari reseptor-reseptor tersebut antara lain reseptor kolinergik dan histamin, dopaminergik, opiate, serotonin, neurokinin dan benzodiazepine. Terjadinya mual dan muntah akan mengakibatkan penurunan nafsu makan. Respons fisik berupa penurunan nafsu makan setelah menjalani kemoterapi dan bahkan tidak mau makan sama sekali selama pemberian kemoterapi serta frekuensi makan yang menjadi tidak teratur[1].Sehingga perempuan kanker serviks yang menjalani kemoterapi akan mengalami disfungsi motilitas gastrointestinal seperti penurunan berat badan, penurunan nafsu makan, mual dan muntah. Efek lain yang dirasakan perempuan kanker serviks akan mengalami intoleransi aktivitas. Intoleransi aktivitas merupakan ketidakcukupan energi psikologis atau fisiologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin dilakukan[5]. Intoleransi aktivitas yang terjadi perempuan kanker serviks akan mengalami seperti kelelahan baik secara operatif, pasca kemoterapi, keletihan, dan merasa lemah. Respon fisik berupa kelelahan (fatigue) dapat terjadi 1 sampai 2 minggu setelah pemberian kemoterapi. Kelelahan (fatigue) muncul saat berjalan dan melakukan kegiatan rumah tangga seperti menyapu, mencuci dan memasak. Gejala fisik yang dirasakan meliputi perasaan lelah, capek, rasa tidak kuat, sesak napas. Kelelahan dapat terjadi karena kebutuhan nutrisi yang kurang sehingga kebutuhan energi dalam tubuh tidak tercukupi. Kelelahan dapat muncul beberapa hari setelah pengobatan kemoterapi dan akan terus akan semakin memburuk. Pengobatan kemoterapi akan mengakibatkan kelelahan yang akan dialami perempuan kanker serviks[1]. Kelelahan pasca operasi muncul sebagai perasaan tidak enak dan distress yang dipengaruhi oleh gejala subjektif dan perilaku. Perasaan ini mungkin membuat pasien enggan untuk bergerak pada periode pasca operasi[14]. Kelelahan perempuan kanker serviks dirasakan setelah dilakukan tindakan operasi. Efek samping penyakit kanker dan kemoterapi dirasakan pasien dimana pasien mengeluh keletihan sebagai perasaan lemah, mudah lelah dan kehilangan tenaga atau kemampuan berkonsentrasi. Keletihan ini akan terus dirasakan perempuan kanker serviks sebagai efek dari kemoterapi[7]. Sehingga efek dari kemoterapi akan mengakibatkan intoleransi aktivitas seperti kelelahan operatif , kelelahan pasca kemoterapi, keletihan dan merasa lemah. Perempuan kanker serviks juga akan mengalami gangguan kebutuhan istirahat. Gangguan kebutuhan istirahat seperti nocturia, insomnia dan deprivasi tidur. Deprivasi tidur merupakan periode waktu panjang tanpa berhentinya kesadaran relatif periodik dan berlangsung alami untuk istirahat[5]. Efek samping dari kemoterapi mengakibatkan pasien kanker stadium lanjut merasakan kelemahan yang lebih besar, kelelahan, dan keterbatasan fisik dibandingkan pasien lain, mereka lebih banyak mengeluh gejala nokturia. Pada pasien NCI-CTC grade II / III, kandung kemih menjadi kaku atau berkontraksi sehingga mengarah pada perkembangan gejala seperti nokturia dan mengejan saat buang air kecil[2]. Pasien kanker serviks akan merasakan kelahan dan mengalami nocturia akibat efek dari kemoterapi. Insomnia dan gangguan tidur yang lain merupakan salah satu masalah yang paling banyak terjadi pada pasien kanker selain nyeri, anoreksia, kelelahan, dan merasa lemas. Gangguan tidur seperti insomnia dan kurang tidur merupakan efek dari pengobatan yang dijalani pasien kanker[9]. Sehingga gangguan kebutuhan istirahat seperti nocturia, insomnia dan deprivasi tidur menjadi masalah yang dirasakan perempuan kanker serviks akibat efek dari pengobatan. Nyeri kronik yang dialami perempuan kanker serviks Nyeri kronik yang dialami perempuan kanker serviks menggambarkan tiga hal utama dalam pengkajian nyeri yang terdiri dari provocative of pain, quality of pain dan  region of pain. Provocative of pain merupakan penyebab timbulnya nyeri yang bisa dikarenakan terkena ruda paksa, benturan, penyayatan dan hal lainnya. Pada perempuan kanker serviks biasanya akan menjalani tindakan invasif. Tindakan invasif merupakan tindakan medis yang dapat mempengaruhi keutuhan jaringan tubuh pasien dimana tindakan invasif ini akan memicu munculnya nyeri akibat dari radiasi dan post operatif. Quality of pain merupakan ukuran dalam menentukan berat keluhan nyeri dan lamanya nyeri yang dirasakan. Perempuan kanker serviks yang merasakan nyeri akan memberikan penjelasan gambaran nyeri mereka seperti nyeri teriris dan tertusuk. Region of pain merupakan lokasi keluhan nyeri yang dirasakan dimana region of pain ini biasanya akan merasakan nyeri viseral. Nyeri viseral merupakan nyeri yang berasal dari orgam dalam sukar untuk dilokalisasi dan bisa menyebar ke tempat lain seperti nyeri di bagian vagina, pelvic, suprapubik dan tulang. Nyeri kronik merupakan pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan kerusakan jaringan aktual atau fungsional dengan onset mendadak atau lambat dan berintensitas ringan hingga berat dan konstan yang berlangsung lebih dari 3 bulan[16]. Hal ini dimungkinkan nyeri kronik yang dirasakan perempuan kanker serviks disebabkan oleh efek pengobatan kemoterapi. Tingkat nyeri pasien yang sedang menjalani kemoterapi lebih cenderung pada tingkat sedang dan berat, hanya sebagian kecil pasien yang mengalami nyeri ringan. Hal ini dikarenakan pasien dengan kanker akan mengalami nyeri kronik yang menetap dengan rangkaian program tindakan yang akan dilakukan[8]. Sehingga perempuan kanker serviks akan mengalami nyeri kronik yang disebabkan oleh efek dari kemoterapi. Provocative of pain perempuan kanker serviks diakibatkan karena tindakan invasif. Tindakan invasif yang dijalani antara lain nyeri radiasi dan nyeri post operatif. mengalami berbagai efek samping salah satunya nyeri yang disebabkan karena tindakan invasif. Penyebab nyeri setelah pengobatan kanker ada banyak dimana rasa sakit dapat berkembang setelah kemoterapi (diinduksi kemoterapi neuropati perifer), radioterapi, pembedahan (persisten nyeri pascaoperasi), terapi hormon, atau transplantasi sel induk[3]. Sehingga perempuan kanker serviks yang telah menjalani tindakan invasif berupa radioterapi dan pasca operasi akan merasakan nyeri. Selain provocative of pain pengkajian nyeri lainnya adalah quality of pain. Quality of pain perempuan kanker serviks biasanya mereka akan menjelaskan gambaran nyeri yang mereka merasakan. Gambaran nyeri yang terjadi setelah menjalani pengobatan seperti nyeri teriris dan nyeri tertusuk. Nyeri adalah masalah utama bagi kebanyakan pasien kanker serviks selama mereka menjalani prosedur pengobatan. Pasien kanker serviks mengalami nyeri secara fisik dan emosional dimana mereka mengatakan nyeri yang hebat dan menggambarkan nyeri seperti terpotong menggunakan pisau tajam. Nyeri yang pasien kanker serviks alami digambarkan seperti nyeri terpotong ataupun teriris[4]. Gejala nyeri neuropatik pada pasien kanker seperti nyeri spontan (terbakar, meremas, dan tekanan), nyeri paroksismal (sengatan listrik dan sensasi menusuk), nyeri yang ditimbulkan seperti dengan menyikat, menekan, atau menyentuh dan disesthesia /paresthesia (kesemutan)[24]. Sehingga quality of pain berupa gambaran nyeri yang dirasakan perempuan kanker serviks seperti nyeri teriris dan nyeri tertusuk merupakan efek dari pengobatan. Region of pain pada perempuan kanker serviks terjadi karena adanya kerusakan jaringan yang nyata di dalam tubuh yang akan dirasakan perempuan kanker serviks salah satunya nyeri viseral. Perempuan kanker serviks akan merasakan nyeri viseral antara lain nyeri vagina, nyeri pelvic, nyeri suprapubik dan nyeri tulang. Pasien kanker serviks mengatakan nyeri yang dirasakan terlokalisir di daerah sekitar rahim dan pelvis. Nyeri pasien kanker serviks dirasakan pada daerah panggul atau dimulai dari ekstremitas bagian bawah dari daerah lumbal dan pada stadium lanjut kemungkinan nyeri yang dirasakan dapat bervariasi.  Pasien kanker serviks juga mengatakan bahwa nyeri yang dirasakan menyebar ke daerah paha[11]. Keluhan yang sering di keluhkan pasien kanker adalah sulit buang air kecil dan nyeri tulang. Keluhan ini terjadi pada saat pasien kanker sudah berada pada tahap lanjut[21]. Sehingga region of pain perempuan kanker serviks akan merasakan nyeri viseral di bagian pelvic  dikarenakan kanker yang sudah bermetastase dan efek dari pengobatan. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian perempuan kanker serviks mengalami penurunan fungsi fisiologis dan mengalami nyeri kronik selama menjalani pengobatan.


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 21
Author(s):  
Yati Luaq Lung ◽  
Desy Ayu Wardani ◽  
Siti Kholifah

ABSRAK Latar Belakang : ibu hamil yang kehamilannya tidak direncanakan dan kurangannya dukungan suami menyebakan ibu hamil mengalami distress sebelum melahirkan sehingga kondisi fisik dan psikologis ibu  sehingga berdampak lansung pada perkembangan janin. Tujuan : untuk mengetahui hubungan perencanaan kehamilan dan dukungan suami dengan tingkat prenatal distress. Metode :  jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian kuantitatif dengan rancangan deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan pengambilan sampel Consecutive sampling jenis Non probality sampling.  sampel responden sebanyak 46 orang ibu hamil di puskesmas air putih samarinda . Hasil Penelitian : Hasil uji chi-square menunjukan bahwa tidak ada hubungan  perencanaan kehamilan dengan tingkat prenatal distress dengan nilai p. value =0,090 > 0,05.  Ada hubungan dukungan suami dengan tingkat prenatal distress dengan nilai p. value 0,013 < 0,05 . Kesimpulan : Ada hubungan Dukungan Suami dengan tingkat prenatal distress. Saran: Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dengan berdasarkan variabel yang berbeda, dengan jumlah sampel lebih banyak,tempat yang berbeda, desain yang tepat dan tepat.


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 11
Author(s):  
Heri Sapu Tra ◽  
Marina Kristi Layun ◽  
Rusdi Rusdi ◽  
Anisa Ain

Latar belakang : Tidur merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Kualitas tidur dapat menjadi salah satu indikator dalam menentukan kualitas hidup seseorang, terutama pada lansia. Tujuan : Dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas tidur yang terjadi pada lansia berdasarkan variabel usia, jenis kelamin, dan status perkawinan. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling dengan jumlah sampel 71 responden. Hasil penelitian : Data demografi berdasarkan umur dalam rentang dengan jumlah 75-89 tahun (71.4%) dan 60-74 tahun (28.6%), berdasarkan jenis kelamin ditemukan perempuan (52.4%) dan laki-laki (47.6%), berdasarkan status perkawinan dengan status janda/duda (81,0%) dan berstatus menikah (19.0%). Kesimpulan : Lansia di panti menunjukan ada gambaran yang bermakna antara karakteristik responden dengan kualitas tidur lansia dimana semakin tinggi skor kualitas tidur selama era pandemi covid-19 maka akan semakin buruk kualitas tidur


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 61
Author(s):  
Vivin Sumarni Bahdar ◽  
Siti Mukaromah ◽  
Abdurrahman Abdurrahman

  VERBAL ABUSE RELATIONSHIP WITH THE LEVEL OF EMOTIONAL INTELLIGENCE OF GRADE 5 & 6 CHILDREN Vivin Sumarni B1, Siti Mukarommah2, Abdurrahman3 Email : [email protected]   Background The school age as an intellectual period or school harmony. At this age, children acquire basic knowledge and skills for the successful adjustment of children to adult life. The purpose of this study was to analyze whether there is a relationship between verbal abuse and the level of emotional intelligence in grade 5 & 6 children at SDN 012 Balikpapan Kota. This research method is a quantitative study with a correlation analytic design, using a cross-sectional approach. This research technique uses Consecutive Sampling, and uses a questionnaire in the form of google form media with a number of respondents 94 children. The results of this study using the Product Moment Correlation test showed a relationship between verbal abuse and the level of emotional intelligence of children with a value of p = 0.002 <α 0.05. The conclusion is expected for the next researcher to look for the many factors other than verbal abuse that can cause a child's emotional intelligence to be disturbed.   Keywords: Verbal Abuse, Emotional Intelligence Level, Elementary School Children


2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 41
Author(s):  
Fitri Amelia ◽  
Kiki Hardiansyah Safitri ◽  
Suwanto Suwanto

Latar Belakang: End Stage Renal Disease (ESRD) merupakan penyakit ginjal kronik stadium akhir yang perlu dilakukan terapi dialysis. Saat terapi hemodialisis dampak yang paling dominan dirasakan adalah fatigue. Faktor-faktor yang berhubungan dengan fatigue adalah kadar hemoglobin, lamanya menjalani hemodialisis, perubahan tekanan darah, dan Inter Dialysis Weight Gain (IDWG). Tujuan: Menganalisis faktor-faktor yang berkorelasi dengan fatigue pada pasien ESRD yang menjalani hemodialysis. Metode: Penelitian ini menggunakan korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah responden sebanyak 30 dengan kriteria pasien telah menjalani hemodialisis kurang lebih 2 kali dan dalam keadaan sadar serta kooperatif. Pengukuran variabel dilakukan dengan pengukuran/observasi dan menggunkan kuesioner FACIT fatigue scale versi 4 secara online. Hasil: hasil penelitian ini didapatkan kadar hemoglobin nilai median 7,95 (min 5,00 max 13,50), lamanya menjalani hemodialisis median 14,00(min 2 max 96), tekanan darah sistol mean 155,76 (SD = 26,11), diastol mean 79,93 (SD = 12,39), IDWG mean 2,45 (SD = 1,169), fatigue median 44,0 (min 15 max 50). Uji korelasi fatigue dengan kadar hemoglobin (p value 0,379, r = -0,167), lamanya menjalani hemodialisis (p value 0,007, r = -0,479), tekanan darah sistol   (p value 0,565, r = -0,109), diastol (p value 0,195, r = 0,234), IDWG (p value 0,525, r = -0,121). Kesimpulan: Yang artinya adanya korelasi bermakna untuk lamanya menjalani hemodialisis dengan fatigue. Tidak ada korelasi bermakna antara kadar hemoglobin, tekanan darah, dan IDWG dengan fatigue.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document