Jurnal Seni Nasional Cikini
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

48
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Jakarta Institute Of The Arts

2715-7482, 2580-2860

2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 22-26
Author(s):  
Marselli Sumarno

Plato adalah filsuf termasyur dari zaman keemasan Yunani kuno. Ia merupakan murid dari Socrates dan mewarisi kehebatan gurunya itu di dalam proses berdialog. Sumbangsih Plato yang terpenting adalah pemikirannya mengenai ide. Tentu saja, bukan berarti pemikirannya yang lain tidak penting. Namun, gagasan ide tersebut selalu kait-mengait dengan gagasan-gagasan Plato lainnya. Gagasan tentang ide inilah yang ingin dicoba dan dihubungkan dengan sebuah novel fabel atau yang bercerita tentang dunia hewan dengan judul Camar Jonathan Livingston.


2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 36-51
Author(s):  
Esther Siagian ◽  
Liston Simaremare

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan: 1) aspek struktural pada lirik lagu“Sayur Kol” karya Nanu Mulyono yang terdiri dari a) aspek bunyi, b) aspek sintaksis, c) aspek semantik 2) aspek semiotik yang meliputi a) ikon, b) indeks, c) simbol pada lirik lagu Sayur Kol karya Nanu Mulyono. Subyek penelitian ini adalah lirik lagu yang berjudul Sayur Kol. Teknik analisis dalam penelitian adalah tehnik analisis konten yang bersifat kualitatif. Pengadaan data dilakukan dengan penentuan unit analisis, pengumpulan data, serta pencatatan data. Validitas ditentukan berdasarkan validitas semantik. Realibilitas dilakukan dengan membaca secara heuristik dan hermeneutik pada lirik lagu Sayur Kol karya Nanu Mulyono.


2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 27-35
Author(s):  
Danu Murti ◽  
Adelina Angraini
Keyword(s):  

Film Sarvani bhutani bercerita tentang keserakahan manusia terhadap alam yang dikemas melalui budaya dan kepercayaan yang diwujudkan melalui dunia nyata dan dunia roh. Mengambil setting di Bali tahun 1940, pendekatan visual yang digunakan pada film ini adalah gaya magical realism, sinematografi bisa mewujudkannya melalui tata cahaya dan komposisi yang sesuai melalui pesan yang ada di dalam skenario.


2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 59-74
Author(s):  
Hafid Alibasyah

Komik Medan tak berbeda dengan banyak komik lain yang diminati oleh banyak orang. Komik Medan mempunyai perjalanannya sendiri, berupa spirit yang datang dari kehendak perlawanan terhadap hegemoni era penjajahan, meninggalkan pengaruh imperialisme dalam banyak lini kehidupan. Latar belakang ini menjadi inspirasi bagi sebuah perlawanan dengan menghidupkan kembali riwayat dongeng, hikayat, cerita kerakyatan sebagai tema-tema yang telah lama dikenali turun-temurun Dan hal ini memberikan spirit kelahiran sebuah identitas yang menjadikan komik Medan mempunyai kekhususan. Tema-tema semacam inilah yang kemudian mencari bentuk ungkap serta tampilannya. Antara susastera dengan ungkapan visual, telah menjadikan komik Medan menemukan semacam pakem dari suasana kelokalan, figur serta latar belakang visualnya. Kostum figur- figur pelakunya diupayakan menjelaskan apa dan bagaimana sikap hidup dalam budaya setempat. Komik Medan dengan semangat kelokalannya, melibatkan potensi kearifan ajaran benar, serta bermoral baik melalui susastera. Penelitian Bersifat non benda (intangible) sebuah cara pandang terhadap Sastra Visual, pemaknaan suatu karya komunikasi sebagai sesuatu yang terlihat, terbaca dan terasa mengungkap hubungan susastra dengan visual/gambar-gambar yang terdapat dalam komik Medan, dan berupaya pengembangan model-cara melihat dengan mengejar tahu ragam ungkap tertentu dari sesuatu hal yang mempengaruhi dari seorang seniman komikus yaitu Taguan Harjo. Pemilihan Taguan Harjo sebagai sampling mengingat prestasi jumlah produk komiknya serta anggapan kedekatan aspek gambar dengan susastera pada karyanya. Salah satu karya komik Taguan yang berjudul “Setangkai Daun Sorga”, adalah merupakan intepretasi dari sastra Perancis, memperlihatkan pengungkapan kata menjadi visualisasi telah membentuk identitas yang berbeda. Sebagai contoh, muatan kata sebagai pengikat cerita dituliskan bergabung dengan halaman gambar tanpa bingkai kata-kata atau bidang balon, seperti lazimnya banyak tampilan komik yang lain. Penelitian ini mengetengahkan telusuran sebuah komik ciptaan dengan mengupas posisi naskah susastera dalam bandingan sastra terjemahan ke dalam gejala bahasa lokalnya kepada bentukan komik-intergrasi kata dan pengadeganan dalam gambar. Komik kemudian dapat dilihat bukan saja sebagai permainan gambar dan runtutan peristiwa, bahkan sebagai kebudayaan, komik dinikmati sebagai ruang baru dalam berekspresi dalam atmosfir susastera.


2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 7-21
Author(s):  
Ajeng Fitria ◽  
Thera widyastuti

Film pada umumnya mempersembahkan visual dan cerita yang mewakili penggambaran dunia nyata. Penelitian ini membahas mobilitas sosial kaum perempuan Soviet yang terpotret dalam film Москва Слезам Не Верит (Moskow Tidak Mengenal Sedih) karya Vladimir Menshov. Permasalahannya adalah bagaimana kaum perempuan Soviet mengalami mobilitas sosial dan apa saja faktor di dibaliknya. Penelitian ini menggunakan dua teori: mobilitas sosial dan feminisme Marxist dan sosialis dan sebuah diskursus tentang fotografi. Untuk metode penelitiannya Penulis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aspek sosial, politik dan budaya yang muncul di tengah masyarakat Soviet berdampak dan mendorong pergeseran posisi sosial kaum perempuan Soviet.


2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 52-58
Author(s):  
Ezra Purba

“Rayuan Pulau Kelapa” karya Ismail Marzuki, di dalam proses dan hasil perjalanan kreatif beliau sebagai pemusik-pejuang (bangsa) Indonesia. Ismail Marzuki adalah seorang seniman Indonesia berasal dari betawi  yang sudah menciptakan karya-karya dan proses kreatifnya untuk kepentingan bangsa Indonesia. Dalam pengertian estetika yang berarti persepsi, pengalaman, perasaan, ataupun pemandangan yang ada di dalam karya tersebut. Sehingga dalam tulisan ini rumusan masalahnya ialah bagaimana latar belakang kehidupan Ismail Marzuki dan bagaimana hasil kajian estetika didalam karya Ismail Marzuki tersebut. Metode yang digunakan ialah kualitatif yang bertujuan mengungkapkan singkat cerita kehidupan Ismail Marzuki dan terlebih fokus pada makna-makna yang terkandung dalam karyanya, yang akan dikaji lebih dalam, utamanya untuk menemukan bentuk dan makna. Data ditemukan dengan studi pustaka, dokumentasi audio, wawancara. Hasil kajian data ini dianalisis dengan metode deskriptif yang menjelaskan latar belakang historisnya dan karaktersitik karya lagu tersebut. Metode pendekatan yang digunakan yakni dengan pendekatan estetika untuk mengkaji bentuk dan makna. Di dalam pengalaman estetis ini juga terdapat unsur-unsur tanda dan struktur musik yang mendukung sehingga mendapatkan efek-efek bagi pendengar juga mendapatkan makna-makna yang mendalam dari karya tersebut. Hal ini, seperti semangat nasionalisme dalam lagu, bukan hanya dari kuantitas syair dengan kata-kata eksplisit, akan tetapi juga dari unsur-unsur musik itu sendiri. Lagu Rayuan Pulau Kelapa ini mengandung unsur nilai estetis sebagai nilai-nilai keindahan yang terkandung dalam sebuah lagu tidak dapat dilihat tapi didengar, dijiwai, dan dihayati sehingga dalam lagu tersebut dapat dinilai indah dan makna yang sebenarnya. 


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 51-58
Author(s):  
Saraswati Dewi

Manusia tidak siap saat wabah datang menyuruk memasuki kehidupan. Ia menyergap lalu menguasai rumah, jalanan, perkantoran, pusat perbelanjaan, sekolah, kampus. Mencengkram seluruh tatanan yang ada, mengosongkan keramaian, melambankan gerak tubuh. Segala yang kita anggap sebagai kebiasaan yang terberi, seluruh sistem politik, ekonomi, hingga sosial, layuh tak berdaya, tunduk pada pembatasan. Tidak terkecuali untuk Dies Natalis IKJ tahun 2020 ini, pidato seni ini saya sampaikan di podium yang menghadap ke kursi-kursi kosong. Hari jadi yang semestinya menjadi perayaan jubilasi, suatu titik penting dalam hidup, saat ini menyisakan kita dengan pertanyaan yang menggantung, hingga kapan pandemi ini berlangsung? Dalam bayang-bayang pandemi ini, detik demi detik dilalui dengan rasa gundah, takut dan tidak menentu. Menatap pemberitaan di media dengan mata yang sayu, kurva tidak kunjung landai, kita belum bisa melepas kewaspadaan.


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 26-37
Author(s):  
Imam Firmansyah

Keberadaan lagu dalem gambang kromong pada masa kini dirasakan memprihatinkan. Lagu-lagu yang termasuk dalam repertoar klasik ini sudah sangat jarang terdengar karena dianggap sudah tidak menarik lagi bagi masyarakat pendukungnya. Kini lagu dalem yang tersisa hanya lagu “Pobin Kong Ji Lok”. Lagu ini dimainkan oleh tiga alat musik pembawa melodi utama, yaitu kongahyan, gambang, dan kromong. Ketiganya mempunyai gaya khas yang disebut dengan liao, yaitu gaya melodi yang sifatnya bebas dan menyerupai improvisasi. Penelitian ini akan menjelaskan gaya liao pada salah satu alat musik pembawa melodi yang utama, yaitu kongahyan. Gaya melodi Liao kongahyan didokumentasikan dalam bentuk audio visual, dan kemudian mentranskripsikannya dalam bentuk notasi, kemudian menganalisa gaya musiknya melalui elemen musik yang paling menonjol, diantaranya adalah tangga nada, harmoni, sistem penalaan, ritem, dan warna suara alat musik.


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 38-44
Author(s):  
Jimmy Philip Paät

Mungkin ini tulisan yang terlalu berani dari seorang yang sesungguhnya tidak mengajar kesenian baik musik maupun kesenian lain. Saya, sebagai penulis, adalah seorang guru, yang pekerjaannya berurusan dengan pendidikan calon guru Bahasa Perancis, bisa dikatakan sejak kecil tidak pernah lepas dari dunia kesenian, musik terutama. Walaupun bukan sebagai pemusik, tetapi lebih sebagai amatir3 musik. Dengan kata lain bunyi-bunyi yang terstruktur dengan indah, mungkin bisa dikatakan seperti itu sebutan lain untuk musik secara sederhana, selalu menemani saya baik dengan diniatkan atau tidak. Pengalaman bergaul dengan musik ini yang mengantar saya “masuk” ke dunia pedagogik musik. Mungkin bisa dikatakan keterkaitan saya dengan pedagogik musik lebih karena pergaulan saya dengan pedagogik sejak saya masih pelajar pedagogik di lembaga penyiap calon guru di tengah kedua dekade 70 hingga sekarang. Berangkat dari bidang pedagogik yang telah saya tekuni lebih dari empat dekade inilah saya memberanikan diri untuk berbicara pedagogik musik atau lebih luas pedagogik seni.


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 7-14
Author(s):  
Bambang Bujono

Sanento Yuliman remaja menulis puisi, gemar melukis. Ia ingin berhenti sekolah sewaktu masih di SMA, di Majenang, Cilacap, Jawa Tengah agar bisa segera belajar melukis di ASRI, Yogyakarta. Entah sebab apa, selulus SMA, 1960, ia masuk Studio Seni Lukis di Departemen Perencanaan dan Seni Rupa Institut Teknologi Bandung --institut yang baru diresmikan setahun sebelumnya yang dulunya bagian dari Universitas Indonesia di Jakarta.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document