Muhammadiyah Journal of Nutrition and Food Science (MJNF)
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

15
(FIVE YEARS 10)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Muhammadiyah Jakarta

2722-2942

Author(s):  
Claudia Coritama ◽  
Franciscus Sinung Pranata ◽  
Yuliana Reni Swasti
Keyword(s):  

Latar belakang: Penambahan bahan pada suatu produk pangan seringkali dilakukan untuk meningkatkan kualitas produk tersebut. Ringkasan ini dibuat dengan analisa berbagai sumber penelitian yang telah ada berdasarkan kriteria yang ditetapkan, dan bertujuan untuk mengkaji potensi bekatul beras putih dan angkak untuk meningkatkan kualitas cookies dan roti. Bekatul beras putih merupakan produk samping penggilingan beras yang saat ini banyak diteliti dan dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai gizi suatu produk makanan. Angkak merupakan hasil fermentasi beras oleh kapang Monascus purpureus yang selama ini banyak dimanfaatkan sebagai pewarna makanan alami dan obat herbal. Hasil: Penelitian telah membuktikan bahwa bekatul beras putih dapat meningkatkan kadar serat dan antioksidan pada produk bakery, sementara angkak memiliki kemampuan menurunkan kolesterol dan memiliki pigmen warna yang dapat mempengaruhi penampilan cookies dan roti. Potensi tersebut diikuti dengan kekhawatiran yang muncul mengenai isu keamanan pangan pada angkak. Kesimpulan: Bekatul beras putih dan angkak dapat ditambahkan dalam pembuatan cookies dan roti untuk memberikan peningkatan pada parameter fisik dan kimia. Angkak dapat ditambahkan pada produk pangan tanpa diikuti efek samping apabila ditambahkan pada dosis yang normal, serta dapat dilakukan upaya pemanasan untuk mendetoksifikasi citrinin.


Author(s):  
Richa Fitriani Handriyanti ◽  
Anna Fitriani
Keyword(s):  

Latar belakang: Stunting masih menimbulkan kekhawatiran, dimana prevalensinya di Indonesia masih menggambarkan adanya masalah kesehatan masyarakat pada tingkat berat. Kekhawatiran timbul karena dampak yang akan dihasilkan dari stunting sangatlah merugikan karena dampaknya akan terasa hingga dewasa.  Asupan zat gizi yang lengkap dan beragam seharusnya diberikan pada balita untuk mendukung masa pertumbuhan dan perkembangan. Namun, seringkali ditemui rendahnya konsumsi beberapa kelompok pangan pada balita. Literature review ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keragaman konsumsi pangan dan stunting pada balita. Telaah dilakukan secara naratif dengan menelusuri beberapa artikel penelitian yang terbit dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (dari tahun 2013-2019) melalui Pubmed, Elsevier dan Medline. Hasil: Hasil yang didapat dari literature review ini menunjukkan bahwa balita dengan keragaman pangan memiliki kecenderungan untuk mengalami stunting. Literature review ini diharapkan dapat membantu menggambarkan informasi teraktual mengenai situasi keragaman pangan dan stunting pada balita di Indonesia. 


Author(s):  
Rosyanne Kushargina ◽  
Alidina Nur Afifah
Keyword(s):  

Latar Belakang: Populasi orang lanjut usia (lansia) terus meningkat. Peningkatan ini merupakan hasil yang baik dari berbagai upaya dari setiap negara dalam meningkatkan angka harapan hidup penduduk baik, terutama dalam bidang kesehatan. Asupan gizi dan gaya hidup memberikan pengaruh pada kesehatan fisik lansia. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran kecukupan gizi lansia dengan depresi di Kecamatan Pondok Jagung. Metode: penelitian ini menggunakan desain cross sectional. Sebanyak 100 orang lansia dengan depresi menjadi responden yang dipilih secara purposive dari Kecamatan Pondok Jagung. Data dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data dilakukan secara deskriptif melalui uji univariate. Hasil: Rata-rata tingkat kecukupan energi (laki-laki= 48,77%; Perempuan= 51,06%) termasuk pada kategori kurang. Rata-rata tingkat kecukupan zat gizi makro kecuali lemak termasuk pada kategori kurang yaitu protein (laki-laki= 77,5%; Perempuan= 79,74%), karbohidrat (laki-laki= 50,15%; Perempuan= 50,25%), dan serat (laki-laki= 17,16%; Perempuan= 17,02%). Rata-rata tingkat kecukupan lemak sudah baik yaitu termasuk pada kategori cukup (laki-laki= 56,89%; Perempuan= 56,47%). Tingkat kecukupan zat gizi mikro yaitu natrium (laki-laki= 53,68%; Perempuan= 54,06%) dan kalsium (laki-laki= 30,69%; Perempuan= 31%), berada pada kategori kurang. Kesimpulan: Rata-rata tingkat kecukupan energi, zat gizi makro (protein, karbohidrat, serat) dan zat gizi mikro (Na dan Ca) termasuk pada kategori kurang. Rata-rata tingkat kecukupan lemak sudah baik karena tergolong cukup.


Author(s):  
Bella Puspita ◽  
Anna Fitriani

Latar belakang: Di era sekarang ini, banyaknya kedai kopi meningkatkan minat masyarakat Indonesia dalam mengkonsumsi kopi. Kopi banyak digemari dari berbagai kalangan usia baik remaja, dewasa muda atau orang tua baik laki-laki maupun perempuan dan konsumen kopi di Indonesia pun meningkat pesat dalam 10 tahun terakhir. Selain itu, kopi disebut sebagai faktor risiko dari Hipertensi. Karena di dalam kopi ada kandungan terbesar yang bernama kafein. Metode: Artikel ini hanya berupa review artikel. Hasil: Hasil dari beberapa artikel terpilih sebanyak 16 artikel menyatakan bahwa ada hubungan sebanyak 5 artikel dan tidak ada hubungan sebanyak 11 artikel antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia produktif 18-65 tahun. Kesimpulan: Mayoritas artikel terpilih menyatakan bahwa tidak ada hubungan antara konsumsi kopi dengan kejadian hipertensi pada laki-laki usia produktif.


Author(s):  
Hasnabila Esti Ardiani ◽  
Tria Astika Endah Permatasari ◽  
Sugiatmi Sugiatmi
Keyword(s):  

Latar belakang: Penyakit diabetes melitus (DM) dapat meningkatkan risiko kematian pada pasien Covid-19. Diabetes melitus merupakan merupakan penyakit atau gangguan metabolisme kronis yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai gangguan metabolisme karbohidrat, lipid, dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. Penyakit dengan multi etiologi ini disebabkan oleh beberapa determinan utama mencakup obesitas, pola diet, dan aktifitas fisik. Insiden kasus diabetes melitus secara global terus meningkat secara signifikan di berbagai negara. Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi diabetes melitus menurut hasil pemeriksaan gula darah meningkat dari 6,9% pada 2013 menjadi 8,5% di Indonesia. Prevalensi penyakit ini tidak hanya meningkat pada kelompok usia dewasa namun juga pada kelompok usia remaja yaitu usia 15 tahun. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk menelaah secara ilmiah penanganan DM dari faktor obesitas, pola diet, dan aktifitas fisik. Hasil: Penderita diabetes melitus mengalami insufisiensi fungsi insulin akibat terjadinya gangguan atau produksi insulin dalam pankreas, sehingga insulin mengalami kesulitan dalam mengubah glukosa menjadi energi. Kadar glukosa dalam darah memiliki hubungan signifikan dengan jumlah lemak dalam tubuh yang terkait dengan obesitas, pola makan, serta pengambilan energi dari aktifitas fisik.  Keberhasilan penanganan diabetes melitus dengan mengontrol berbagai determinan juga ditentukan oleh kondisi psikososial serta dukungan dari keluarga. Kesimpulan: Penanganan diabetes melitus dapat dilakukan secara optimal melalui pengaturan pola hidup sehat yaitu dengan mempertahankan status gizi normal dan mencegah obesitas, pengaturan pola makan yang sehat melalui asupan gizi seimbang, serta melakukan aktifitas fisik terutama dengan berolahraga secara rutin.


Author(s):  
Rahmini Shabariah ◽  
Thera Cahya Pradini

Latar Belakang: balita merupakan kelompok umur yang paling sering menderita kekurangan gizi. Status gizi pada berat badan menurut tinggi badan dikategorikan menjadi gizi buruk, gizi kurang, gizi baik, overweight dan obesitas. Masalah yang dapat muncul dari kondisi tersebut menjadikan perlunya diketahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian gizi kurang dan gizi lebih, salah satu contohnya adalah faktor asupan gizi. Tujuan: untuk Mengetahui hubungan antara asupan zat gizi dengan status gizi pada balita di TK Pelita Pertiwi Kecamatan Cicurug Kabupaten Sukabumi. Metode: penelitian yang digunakan adalah bersifat deskriptif analitik dengan desain yang digunakan pada penelitian ini adalah cross sectional dengan metode total sampling. Jumlah sampel sebanyak 56 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner, lembar food recall, microtoise dan timbangan berat badan. Hasil: hasil penelitian ini, sebanyak 56 responden balita di TK Pelita Pertiwi diperoleh status gizi kurang 28,6%, gizi baik 55,4%, overweight 10,7% dan obesitas 5,4%. Hubungan antara asupan zat gizi makronutrien energi dan mikronutrien kalsium, mg dan fe dengan status gizi pada balita didapatkan hubungan yang signifikan (P<0,05 chi square) sedangkan hubungan antara asupan zat gizi makronutrien karbohidrat, protein dan lemak dan mikronutrien vit A, Vit D, sodium, fosfor, iodine dan zink serta ASI Exclusive dengan status gizi pada balita tidak ditemukan hubungan yang signifikan (P>0,05 chi square). Kesimpulan: kesimpulan dari penelitian ini, terdapat adanya hubungan yang signifikan antara asupan zat gizi makronutrien energi dan asupan zat gizi mikronutrien kalsium, mg dan fe dengan status gizi pada balita di TK Pelita Pertiwi.


Author(s):  
Rayhana Rayhana ◽  
Chairun Nisaa Amalia
Keyword(s):  

Latar Belakang: kekurangan asupan gizi sejak lahir sampai balita dapat menyebabkan permasalahan kesehatan pada balita yaitu pertumbuhan tinggi badan yang tidak optimal (stunting). Pertumbuhan tinggi badan yang terhambat pada saat balita akan berakibat pada tingkat kecerdasan otak setelah dewasa. Tujuan: mengetahui faktor dominan yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita di Puskesmas Cimuning Bekasi. Metode: penelitian menggunakan desain cross-sectional dilakukan di Puskesmas Cimuning Bekasi pada bulan Oktober-November 2019. Sampel diambil dengan teknik total sampling sebanyak 100 ibu-anak. Stunting diukur dengan antropometri menggunakan indikator tinggi badan menurut umur (TB/U). Variabel independen (pemberian ASI, imunisasi, MP-ASI, penyakit ibu dan anak) diukur menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan regresi logistik ganda. Hasil: kejadian stunting dialami oleh sebanyak 30,0% balita. Faktor dominan yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah pemberian ASI eksklusif. Kesimpulan: promosi pemberian ASI eksklusif harus diterapkan disetiap fasilitas kesehatan dan media sosial agar informasi tersebut sampai ke masyarakat luas sehingga dapat menurunkan angka kejadian stunting pada balita.


Author(s):  
Muhammad Alip Meruza Salim ◽  
Muhammad Edy Syahputra Nasution
Keyword(s):  

Latar belakang: Hiperkolesterolemia merupakan peningkatan kadar kolesterol dalam plasma dan faktor resiko berbagai penyakit kardiovaskular. Hiperkolesterolemia dapat menyebabkan komplikasi, salah satunya ialah gangguan pendengaran. Namun hubungan kejadian antara kadar kolesterol total dengan timbulnya gangguan pendengaran, saat ini masih menjadi perdebatan, karena belum adanya konsensus yang pasti. Tujuan: Untuk mengetahui adanya hubungan antara kadar kolesterol total dengan gangguan pendengaran. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari pemeriksaan kadar kolesterol total, pemeriksaan fisik telinga, hidung, dan tenggorokan dan pemeriksaan audiometri nada murni yang dilakukan terhadap 38 subjek di rumah sakit tipe B. Kemudian data dianalisis dengan menggunakan uji chi square. Hasil: Didapatkan adanya hubungan antara kadar kolesterol total dengan gangguan pendengaran pada pasien dengan kadar kolesterol total ≥ 200 mg/dL (p = 0,001), dijumpai gangguan pendengaran yaitu sebanyak 52,6% dengan jenis gangguan pendengaran terbanyak adalah gangguan pendengaran sensorineural yaitu sebanyak 52,6%, dan derajat gangguan pendengaran terbanyak adalah derajat sedang yaitu sebanyak 45,4%. Kesimpulan: Dijumpai adanya hubungan yang bermakna antara kadar kolesterol total dengan gangguan pendengaran sensorineural.


Author(s):  
Tri Wahyuni ◽  
Jihanita Diansabila
Keyword(s):  

Latar Belakang: obesitas atau kegemukan mengandung arti jaringan lemak yang berlebih. Setiap peningkatan indeks massa tubuh (IMT) berhubungan dengan kolesterol total plasma. Angka kejadian hiperkolesterolemia di Indonesia pada wanita sebesar 13,4% dan 11,4% pada pria. Hiperkolesterolemia yang tidak terkontrol dapat menyebabkan banyak komplikasi dan yang paling sering ditemukan adalah aterosklerosis. Tujuan: mengetahui hubungan antara IMT dengan kadar kolesterol pada mahasiswa Program Studi Kedokteran Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta Angkatan 2018. Metode: menggunakan pendekatan deskriptif-analitik dengan rancangan penelitian cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Kedokteran angkatan 2018 Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Sampel berjumlah 68 orang dengan pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Analisis data menggunakan uji Gamma (CI=95%, α=0.05). Hasil: dari 68 responden, persentase terbesar pada IMT yaitu normal sebanyak 38,2%, obesitas 1 sebanyak 23,5% dan overweight sebanyak 20,6%. 54 orang dengan kategori kolesterol optimal, 13 orang dengan kategori diinginkan, 1 orang dengan kadar kolesterol tinggi. Tes Gamma antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kadar kolesterol pada mahasiswa Program Studi Kedokteran diperoleh hasil statistik 0.576 (p > 0.05). Kesimpulan: tidak terdapat hubungan antara Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan kadar kolesterol responden pada mahasiswa Program Studi Kedokteran angkatan 2018 Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.


Author(s):  
Zia Mu'tazzah Shabah ◽  
Devieka Rhama Dhanny

Latar belakang: Persepsi negatif pada remaja perempuan dapat menyebabkan meningkatnya kecenderungan terjadinya gangguan makan, salah satunya bulimia nervosa. Artikel ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat hubungan antara persepsi tubuh terhadap kejadian bulimia nervosa sebagai salah satu bentuk gangguan makan. Artikel yang diambil merupakan studi literatur tahun 2010 hingga 2020. Data diambil dari database google scholar dengan kata kunci bulimia nervosa, persepsi tubuh, gangguan makan, perempuan. Hasil: berdasarkan studi literatur didapatkan 4 dari 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi yaitu artikel dengan full pdf, sampel perempuan, memiliki judul dan isi yang sesuai dengan tujuan  dan dipublikasikan pada tahun 2010-2020. Sedangkan, kriteria eksklusi yaitu artikel yang strukturnya tidak lengkap, membahas selain gangguan makan bulimia nervosa dan persepsi tubuh. Dari artikel yang memenuhi kriteria inklusi, dapat diketahui bahwa terdapat hubungan antara persepsi tubuh dengan kejadian bulimia nervosa. Kesimpulan: Aspek perilaku yang mempengaruhi kejadian gangguan makan bulimia nervosa yaitu penampilan fisik, orientasi pada penampilan, kepuasan terhadap bagian tubuh, keinginan mewujudkan tubuh ideal, pengkategorian ukuran tubuh,  kecemasan menjadi gemuk,perilaku gangguan makan.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document