An-Nida'
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

12
(FIVE YEARS 6)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

2407-1706, 0853-1161

An-Nida' ◽  
2021 ◽  
Vol 43 (1) ◽  
pp. 78
Author(s):  
Muhsin Muhsin ◽  
Muhammad Arif

Artikel ini membahas tentang bagaimana perspektif hadis Nabi saw. mengenai menjaga lisan dan tangan? Lalu dijabarkan dalam sub-sub masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana kualitas hadis tentang menjaga lisan dan tangan? 2. Bagaimana kandungan hadis tentang menjaga lisan dan tangan? 3. Bagaimana bentuk pengaplikasian hadis tentang menjaga lisan dan tangan dalam media sosial?. Menyelesaikan permasalahan ini, penulis menggunakan pendekatan hermeneutika dalam memahami hadis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kualitas hadis, kandungan hadis dan bentuk pengaplikasian hadis tentang menjaga lisan dan tangan di dunia medsos. Adapun perkiraan hasil temuan dari penelitian ini adalah persolan menjaga lisan ini tidak hanya didudukkan dalam konteks hukum dan normative. Melainkan melibatkan budaya dan norma-norma kehidupan. Dalam konteks masyarakat timur yang mengacu pada nilai-nilai dan tatanan ketimuran menggangap bahwa manusia adalah bagian dari manusia yang lain yang tidak terpisahkan sehingga membentuk sebuah masyarakat yang sejahtera terhindar dari pembodohan akibat tidak menjaga lisan.


An-Nida' ◽  
2021 ◽  
Vol 43 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Mustafa Mustafa

Advertising is the main element of a company's promotion tool. Most companies spend a lot of money on advertising around 25% of the total budget. Advertising is very important to increase an organization's revenue. But recently, some advertisements made false promises to attract new customers to buy products that are strictly prohibited in Islam. In this paper, we try to establish several dimensions of advertising supported by Islam. There should be no practice of fraud, fraud, misrepresentation, coercion, and injustice in measurement; and there shouldn't be anything unfair. In this article the author tries to find out the Islamic point of view of advertising where the public will find advertisements working as they should


An-Nida' ◽  
2021 ◽  
Vol 43 (1) ◽  
pp. 55
Author(s):  
Harel Bayu Faizin

Artikel ini membahas salah satu topik yang selalu hangat untuk diperbincangkan yaitu Poligami. Poligami merupakan suatu masalah yang masih diperdebatkan oleh banyak pihak sehingga menyebabkan timbulnya pro dan kontra terhadap tema tersebut. Tidak ketinggalan dengan Ali Mustofa Ya’qub yang merupakan salah satu pakar hadis di Indonesia yang pemikirannya banyak di jadikan rujukan dalam mengambil istinbath (penetapan) hukum. Dalam tulisan ini akan dijelaskan bagaimana metode yang dipakai oleh Ali Mustofa Ya’qub terhadap dalil hadis yang berkaitan dengan tema poligami ini. Artikel ini menyimpulkan bahwa poligami pada dasarnya memang ada nash yang menyatakannya, tetapi bukan berati memerintahkannya dan tidak juga melarang. Poligami pernah di lakukan oleh Rasulullah Saw dengan tujuan syiar Islam bukan karena hasrat seksual, ataupun menunjukkan kekuasaan laki-laki atas perempuan. Akan tetapi perkembangan pada masa-masa berikutnya malah menjadi sebalik nya. Apabila pada praktek berikutnya, poligami memunculkan berbagai kasus poligami bukan bergantung pada keadilan laki-laki, tetapi lebih kepada kemampuan laki-laki (suami) untuk menjadikan perempuan (istri) tunduk dan pasrah atas nama otoritasnya sebagai suami dan kepala rumahtangga. Hal ini sangatlah berbeda dengan paraktek poligami yang dilakukan Nabi dengan motif dakwah dan melindungi serta memulikan wanita.


An-Nida' ◽  
2021 ◽  
Vol 43 (1) ◽  
pp. 101
Author(s):  
Nurfajriyani Nurfajriyani

Artikel ini ini berjudul “Ingkar Hadis di Indonesia dan Malaysia: Studi Kritis Pemikiran Hadis Nazwar Syamsu dan Kassim Ahmad”. Pemahaman penolakan terhadap hadis Nabi sebagai sumber hukum Islam setelah Al-Qur’an turut mempengaruhi pemikiran para tokoh intelektual di Indonesia seperti Nazwar Syamsu dan Kassim Ahmad di Malaysia. Penelitian ini kemudian difokuskan pada tiga persoalan berikut: pertama, bagaimana sejarah asal-usul berkembangnya Ingkar Sunnah di Indonesia dan Malaysia?; kedua, bagaimana pemikiran hadis dari tokoh-tokoh ingkar Sunnah yakni Nazwar Syamsu dan Kassim Ahmad?; ketiga, bagaimana persamaan dan perbedaan serta implikasi dari pemikiran keduanya?. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang didasarkan pada studi kepustakaan (library reseach). Dalam menganalisis data yang telah terkumpul peneliti menggunakan metode deskriptif, analisis, dan metode komparatif. Hasil penelitian ini adalah, pertama, Ingkar Sunnah di Indonesia telah muncul secara diam-diam pada tahun 1978. Sedangkan di Malaysia gerakan anti hadis baru muncul pada tahun 1985 yang dipelopori oleh Kassim Ahmad; Kedua pemikiran dari Nazwar dan Kassim sama-sama menolak hadis karena hadis merupakan suatu kebohongan semata bukan berasal dari Nabi SAW dan merupakan faktor kemundurannya umat Islam; Ketiga perbandingan dari pemikiran Nazwar dan Kassim terletak pada faktor keterpengaruhan mereka terhadap orientalis serta bacaan-bacaan buku dari para pengingkar hadis sebelumnya.


An-Nida' ◽  
2021 ◽  
Vol 43 (1) ◽  
pp. 35
Author(s):  
Afriadi Putra ◽  
Khairunnas Jamal ◽  
Nasrul Fatah
Keyword(s):  

Kesetaraan gender menjadi kajian yang menarik terutama seiring dengan kehidupan modern. Pengarusutamaan kajian tentang gender yang digagas para pemerhatinya pada akhirnya bermuara pada kesetaraan tanpa batas (liberation of gender equality). Untuk membentengi hal itu perlu kiranya kajian yang berangkat dari sudut pandang Al-Qur’an sebagai pedoman utama dan menjadi pijakan kritis terhadap liberasi kesetaraan tersebut. Hasil dari penelitian ini menyimpulkan; Pertama, Al-Qur’an menegaskan bahwa perempuan ditempatkan pada posisi yang mulia, terhormat dan setara dengan laki-laki. Al-Qur’an sangat menentang keras adanya perlakuan buruk dan dikriminatif terhadap perempuan. Kedua, Al-Qur’an memandang bahwa kesetaraan perempuan dengan laki-laki terletak pada hal-hal yang berkaitan dengan hak-hak kemanusiaan dan ibadah. Namun pada fungsi-fungsi tertentu perempuan tidak dapat disamakan dengan laki-laki, seperti mengurus rumah tangga dan fungsi biologisnya. Dengan demikian kesetaraan yang diangkat oleh Al-Qur’an didasarkan pada aspek-aspek keadilan dan keseuaian dengan fitrah perempuan dan laki-laki.


An-Nida' ◽  
2021 ◽  
Vol 43 (1) ◽  
pp. 15
Author(s):  
Edison Edison ◽  
Reski Pulpi Tambes

AbstactMass communication must be adjacent to gatekeeper, referred to as gatekeeper in an assignment i.e. the person in charge of selecting, choosing, changing, responsible later on to a will be broadcast to audiences. At CeriaTV Pekanbaru Video Editor is the role holder of gatekeeper, because the video editor in CeriaTV Pekanbaru that will answer the results of the editing later and the creativity of an editor can add the selling value of a program that is edited and presented later to the audience. CeriaTv Pekanbaru still has a shortage of human resources, then the production Director, the documentation division can concurrently become an editor. The research aims to find out how the video Editor role in the production of Sembang Malam program at CeriaTV Pekanbaru. The subject of this study is CeriaTv Pekanbaru and the object of this research is the role of editors in the production of a Sembang Malam program at CeriaTV Pekanbaru. This research uses qualitative descriptive research methods. The results of the editor's role through the first three stages, the first offline editing stage, at this stage an editor can play a role in shooting with a cameraman whose goal is to know the picture during the editing process later, and data checking. Further more the online editing stage, at this stage an editor checks equipment on the editing equipment, has its own notes for editing (according to the script), content and video visuals, editors must have the creativity issued When content editing and video visuals take place. The last stage is mixing (merging between sound and video), at this stage the sound and video must be balanced and at this stage also there are additional sounds such as sound effect, and backsound if needed. From these three stages, an editor can produce programs, both and interestingly the program is in the editor and creativity of the editors package the program, hence the editor is very important to manage the program that will be aired on audiences. Talk show-based Sembang Malam programmes that cover the hottest things, as well as inviting guest stars that inspire, from communities and individuals.


An-Nida' ◽  
2020 ◽  
Vol 43 (2) ◽  
pp. 116
Author(s):  
Yusuf Pandam Bawono

Penafsiran Djohan Effendi tidak lepas dari keyakinan yang selama ini ia perjuangkan dan konteks lingkungan di mana ia hidup. Penafsirannya berpihak kepada minoritas, khususnya Ahmadiyah. Pluralisme Djohan Effendi sesungguhnya dapat dibagi kepada beberapa poin penting, di antaranya; (1) Keragaman merupakan hal niscaya; (2) Berlomba dalam amal kebaikan; (3) Prioritaskan perdamaian. (4) Pembelaan terhadap kaum minoritas. (5) Kecaman ekslusivisme dan kebebasan beragama. (6) Dialog dengan antar umat beragama. Khusus dalam poin keempat terlihat indikasi kecenderungan penafsiran Djohan dalam Pesan-Pesan Al-Qur’an yang berpihak terhadap kaum minoritas, khususnya Ahmadiyah. Ungkapan tidak tertipu dengan keyakinan yang dianut mayoritas. Tidak mudah menuding sesat. Tidak merusak tempat ibadah. Berbuat adil kepada makhluk. Bahkan Djohan tak segan mengkritik pemerintah yang dianggapnya kerap tidak melindungi hak minoritas.


An-Nida' ◽  
2019 ◽  
Vol 43 (2) ◽  
pp. 45
Author(s):  
Masyhuri Masyhuri ◽  
Ali Akbar

Kelompok minoritas di Indonesia sering kali kehilangan hak-haknya sebagai warga negara bukan diakibatkan oleh perlakuan mayoritas semata, melainkan juga kerap dilakukan oleh negara. Hak kaum minoritas yang acap kali tidak bisa dipenuhi di negeri ini adalah hak untuk bebas beragama dan berkeyakinan serta kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan keyakinan tersebut. Dalam konteks pendidikan Islam upaya untuk memahami realitas perbedaan dalam beragama, lembaga-lembaga pendidikan Islam diharapkan bisa menanamkan kepedulian komunitas agama lain dengan saling bekerjasama dan membangun dialog melalui pendidikan multi kultural. Kesadaran multikulturalisme bukan sekadar memahami keberbedaan, namun juga harus ditunjukkan dengan sikap konkrit bahwa sekalipun berbeda keyakinan, namun sama-sama sebagai manusia yang mesti diperlakukan secara manusiawi. Pendekatan dialogis yang mengarah pada budaya saling toleransi,  membuang kebencian dan permusuhan, kemampuan untuk   saling  mendengar, sikap akomodatif, dan saling tukar informasi untuk mencapai kesepahaman bersama. Pendekatan yang ditawarkan oleh Waleed el-Ansary dan Mashood Baderin cukup memberikan solusi bagi konflik antar umat beragama yang diakibatkan oleh kedangkalan dan kesenjanagan pemahaman dalam memahami ajaran agama masing-masing.


An-Nida' ◽  
2019 ◽  
Vol 43 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Ferki Ahmad Marlion ◽  
Tri Yuliana Wijayanti

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang sempurna yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. Kitab ini dipenuhi dengan kemu’jizatan dan salah satu kemukjizatan Al-Qur’an terletak pada susunan ayat-ayat perumpamaan yang merupakan salah satu kerangka yang menampilkan kalimat dalam bentuk perumpamaan yang indah, sehingga menancap kuat pada jiwa dan memudahkan manusia dalam memahami, menerima, sehingga mudah dalam mengaplikasikan maksud ayat dalam hidup keseharian. Salah satu surat yang terkandung didalamnya ayat-ayat perumpamaan ialah surat Ali Imran. Dengan menggunakan metode telah pustaka dari berbagai sumber referensi peneliti mencoba untuk meneliti makna ayat-ayat perumpamaan di dalam Surat Ali Imran. Berdasarkan hasil analisis deduktif yang dilakukan peneliti, dapat dideskripsikan bahwa terdapat tiga ayat perumpamaan dalam surat Ali Imran, yakni ayat 59, 117, dan 103. Dari ketiga ayat tersebut, dua ayat diungkapkan dengan perumpamaan yang jelas (ayat 59 dan ayat 117) dan satu ayat lagi diungkapkan dengan perumpamaan yang tersembunyi (ayat 103). Ketiga ayat tersebut mengungkapkan fakta tentang penciptaan Nabi Adam as (diciptakan tanpa ayah dan ibu) yang sebenarnya lebih menakjubkan dari penciptaan Nabi Isa as (diciptakan tanpa ibu). Melalui ketiga ayat tersebut dapat diambil hikmah tentang pentingnya berpegang teguh kepada tali Allah dan ketidakbermanfaatan harta yang dinfakkan untuk memerangi Allah dan RasulNya.


An-Nida' ◽  
2019 ◽  
Vol 43 (2) ◽  
pp. 70
Author(s):  
Miftahul Janah ◽  
Muhammad Yasir

Tulisan ini mengkaji paradigma, prinsip, metode dan hasil penafsiran Amina Wadud, khususnya tentang nusyuz. Paradigma penafsiran merujuk pada hermeneutika tauhid yang memahami bahwa Al-Qur’an mempunyai satu-kesatuan makna dari seluruh bagian-bagian ayatnya. Sehingga ada integrasi antara hal yang universal dan partikular dalam Al-Qur’an. Secara geneologi, prinsip penafsiran Wadud merujuk pada hermeneutika filosofis atau aliran obyektivies-cum-subyektivies, yakni Gadamer. Kelompok ini lebih mengedepankan pada wilayah “bagaiman memahami”, tidak pada wilayah bagaimana memahami teks dengan benar dan objektif. Terdapat tiga metode yang dilalui Wadud dalam menafsirkan Al-Qur’an; dalam konteks apa suatu teks ditulis atau diwahyukan, bagaimana komposisi tata bahasa teks tersebut, terakhir bagaimana keseluruhan teks (ayat), Weltanschauung-nya atau pandangan hidupnya. Sementara terkait nusyuz, Wadud memahami sebagai disruption of marital harmony. Salah satu kritik terhadap penafiran Wadud terletak pada pemahamannya bahwa lafad qānitāt hanya berlaku pada ketaatan manusia kepada Allah, tidak pada keta’atan sesama mahluk hidup, namun dalam Q.S. Al-Ahzab (33):31 tidak demikian.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document