JURNAL PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

75
(FIVE YEARS 12)

H-INDEX

1
(FIVE YEARS 0)

Published By Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat

2655-8254, 2502-6798

2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 164-193
Author(s):  
Dian Mahendra

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola pikir suku Sasak yang tercermin dalam leksikon-leksikon pertanian tradisional yang mereka gunakan. Pendekatan yang digunakan untuk mencapai tujuan tersebut adalah pendekatan etnolinguistik. Data berupa leksikon-leksikon tradisional suku Sasak diperoleh melalui studi pustaka dan wawancara. Dengan metode distribusional teknik bagi unsur langsung, data yang diperoleh diklasifikasikan berdasarkan satuan-satuan kebahasaan yang membentuknya. Setelah itu, data dianalisis dengan teori semantik leksikal, gramatikal, dan kultural. Hasil analis data menunjukkan bahwa aktivitas pertanian bagi suku Sasak tradisional tidak hanya dipandang sebagai mata pencaharian. Akan tetapi, mereka memandang aktivitas bertanam padi sebagai sesuatu yang sakral yang berhubungan dengan keharmonisan hubungan antara manusia dengan seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Melalui leksikon-leksikonnya, suku Sasak mengajarkan kita tentang bagaimana manusia mengelola kebersamaan antar sesama makhluk ciptaan Tuhan untuk mencapai suatu tujuan. Selain itu, mereka juga mengajarkan kepada kita melalui mantra-mantra yang digunakan tentang bagaimana menjaga hubungan vertikal dengan Tuhan.


2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 194-226
Author(s):  
Irfal Mujaffar

Popularitas Garut sebagai tujuan utama pariwisata pada periode akhir kolonial menarik minat para pelaku usaha akomodasi untuk merintis usaha-usaha mereka di kawasan ini. Semenjak itu Garut berkembang menjadi salah satu episentrum persebaran hotel-hotel pegunungan (berghotel) yang menawarkan akomodasi bagi para wisatawan. Kondisi tersebut memicu terjadinya persaingan di antara mereka. Artikel ini berfokus pada strategi hotel-hotel pegunungan di Garut dalam menjaring lalu lintas wisatawan. Sumber yang digunakan adalah buku-buku, surat kabar, majalah, buku panduan wisata, dan catatan perjalanan sezaman. Dengan menggunakan metode sejarah, hasil dari kajian ini menunjukan bahwa dalam menyiasati tekanan persaingan untuk mendapatkan wisatawan, hotel-hotel pegunungan di Garut menempuh berbagai strategi melalui pengembangan inovasi dan bentuk-bentuk kolaborasi. 


2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 281-311
Author(s):  
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara
Keyword(s):  

Artikel ini bertujuan mengkaji upaya pencegahan dan pengendalian penyakit demam berdarah dengue (DBD) di Indonesia pada awal abad ke-21 (2004-2019) beserta dampaknya. Hal ini menjadi penting sebab DBD dinilai sebagai salah satu ancaman ketika Indonesia sedang melawan pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Selain itu, DBD menjadi salah satu penyakit yang telah berada dalam sejarah panjang Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian sejarah dengan pendekatan sejarah kesehatan masyarakat. Sumber-sumber yang digunakan adalah sumber primer berupa surat kabar dan publikasi resmi pemerintah serta sumber sekunder berupa literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status DBD yang telah ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) pada 2004 menyebabkan perhatian pemerintah atas DBD makin besar. Pemerintah menetapkan kebijakan kesehatan yang meliputi upaya pencegahan dan pengendalian dengan melibatkan kolaborasi lintas sektor. Meskipun demikian, dampak atas upaya ini adalah jumlah kasus DBD bergerak secara fluktuatif selama lima belas tahun, bahkan meningkat tajam pada 2019.


2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 251-280
Author(s):  
Ayu Wulandari

Pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada 1955 di Bandung memiliki dampak yang sangat luas. Bagi Indonesia, KAA memberikan warisan posisi yang terhormat dalam diplomasi pascakolonial, khususnya di Asia dan Afrika atau “Dunia Ketiga”. Namun demikian, dampak konferensi ini tidak hanya dirasakan oleh Indonesia secara umum. Konferensi ini juga mengubah citra Bandung yang merupakan kota penyelenggaraan konferensi. Oleh karena itu, kajian ini membahas kondisi Kota Bandung dan masyarakatnya pasca-KAA. Kajian ini disusun menggunakan metode sejarah yang memanfaatkan arsip, majalah, dan surat kabar sebagai sumber primer. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa pasca-KAA, Bandung bertransformasi menjadi “Kota Konferensi Internasional”, diikuti oleh pembangunan dan terbentuknya citra Bandung sebagai kota politik global sehingga kota ini juga menjadi ruang terkoneksinya aktor politik global. Ironisnya, prestasi dan modernitas ini justru diikuti oleh perubahan sosial yang menunjukkan sisi lain Kota Bandung. Berbagai masalah sosial dan ekonomi meluas di kota ini mulai dari kemiskinan hingga degradasi moral.


2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 143-163
Author(s):  
Khaerul Amri

Penelitian ini akan membahas tentang Perubahan politik di wilayah Ooster Districten pada masa kekuasaan kolonial. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yang menjelaskan persoalan penelitian berdasarkan perspektif sejarah. Prosedurnya meliputi empat tahapan, yaitu pencarian dan pengumpulan sumber (heuristik), kritik sumber (seleksi data), interpretasi (penafsiran), dan penyajian atau penulisan sejarah (historiografi). Hasil kajian ini menunjukkan bahwa kolonialisme telah merubah wajah Tellu Limpoe. Sistem kerajaan serta wilayahnya diubah menjadi lebih modern ala Belanda yang kemudian diikuti dengan hilangnya kedudukan kaum pribumi. Keadaan ini berlangsung hingga berakhirnya kekuasaan Belanda di Sinjai.


2021 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 227-250
Author(s):  
Andri Nurjaman ◽  
Dadan Rusmana ◽  
Doli Witro

Rumah adat merupakan peninggalan kebudayaan masyarakat tradisional yang harus dijaga keberadaannya sebagai cagar budaya oleh masyarakat yang hidup saat ini. Di Indonesia, terdapat banyak terdapat rumah yang ada hingga saat ini. Salah satunya adalah rumah adat yang berada di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Provinsi Jawa Barat yang dikenal Kampung Naga. Gaya arsitektur rumah adat di Kampung Naga tersebut adalah berupa rumah panggung seperti layaknya rumah tradisional masyarakat Sunda. Karena itu, gayanya yang unik, di sisi rumah adat di Kampung Naga ini juga memiliki filosofi dan nilai-nilai Islam di dalamnya. Tulisan ini bertujuan mengungkap filosofi dan nilai-nilai Islam dalam gaya bangunan rumah adat di Kampung Naga Tasikmalaya. Pengumpulan data dilakukan melalui pengamatan lapangan, wawancara, dan studi kepustakaan. Teknik analisis data yang digunakan adalah kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Hasil penelitian menunjukkan filosofi bangunan rumah adat Kampung Naga dengan bahan alami mencerminkan hubungan baik antara masyarakat adat Kampung Naga dengan alam. Tidak hanya itu, bangunan panggung yang mencerminkan kesederhanaan menunjukan kehidupan masyarakat Kampung Naga. Nilai-nilai Islam dalam bangunan rumah adat Kampung Naga dilihat dari struktur bangunan dan bentuk (model) rumah yang mengandung nilai-nilai hubungan yang harmonis antara manusia, alam dan Tuhan. Dalam Islam disebut dengan istilah habluminallah, habluminanas dan habluminalalam.


2021 ◽  
Vol 7 (1) ◽  
pp. 51-73
Author(s):  
Joshua Jolly Sucanta Cakranegara

Artikel ini bertujuan membahas citra ibu kota Palembang dalam historiografi Barat pada abad ke-19. Hal ini dilatarbelakangi oleh berbagai faktor, seperti kejayaan Sriwijaya di masa lampau serta kehidupan masyarakatnya di tepi Sungai Musi yang menjadi daya tarik orang Barat sejak meningkatnya hegemoni Barat di Nusantara pada abad ke-17 dan abad ke-18. Artikel ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan menganalisis berbagai historiografi oleh para penulis dan pengelana Barat sebagai sumber primer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah penaklukan Kesultanan Palembang, ibu kota Palembang mengalami proses konstruksi citra simbolik yang tidak terlepas dari romantisme Barat. Semboyan “Venesia dari Timur” pun menjadi representasi atas kompleksitas kehidupan masyarakat dan bentang alam ibu kota Palembang sekaligus identitas sosial-budaya ala Barat yang melekat atas ibu kota Palembang pada periode selanjutnya, yang tidak terlepas dari periode krusial pada abad ke-19.


2021 ◽  
Vol 7 (1) ◽  
pp. 190-142
Author(s):  
Khairul Nizam Bin Zainal Badri

Aceh is regarded as the strongest ally of the Ottomans in the east, in the 16th century and 17th century AD. At that time, the two governments exchanged gifts with each other, and benefited together; whether in the form of trade, or in the form of technology and the military. The historical record notes that Aceh started making official relations with the Ottomans during the reign of Sultan Salahuddin, which is the 2nd in the Sultanate of Aceh. Yet to be studied in this paper is that the establishment of diplomatic relations between Aceh and Turkey during the reign of Sultan Alauddin Mansur Shah. Remarkably, Sultan Alauddin Mansur Shah hailed from Perak, but was crowned the 8th Ruler of Aceh. This qualitative study uses the library approach entirely to highlight the role and contribution of Sultan Alauddin Mansur Shah in efforts to strengthen cooperation between Aceh and Turkey. With the help of the Ottomans, he launched an attack on the Portuguese in Melaka. Aceh’s strength even feared by the Portuguese authorities in Goa, India, forcing them to seek assistance from Lisbon. In conclusion, Sultan Alaudin Mansur Shah not only gained recognition from the Ottoman government but also succeeded in upholding the greatness of Islam; when reviving the trade routes of Muslims and looking after the welfare of Muslims in the archipelago.


2021 ◽  
Vol 7 (1) ◽  
pp. 1-30
Author(s):  
Adi Putra Surya Wardhana ◽  
Fiqih Aisyatul Farokhah

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dampak pageblug Covid-19 terhadap tradisi Suran pada masa Adaptasi kebiasaan baru. Suran berasal dari kata Sura, yaitu bulan pertama dalam sistem penanggalan yang dibuat oleh Sultan Agung. Suran adalah tradisi perayaan pergantian tahun Jawa. Namun, perayaan ini terganggu dengan datangnya pageblug Covid-19. Ada beberapa permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini. Pertama, penelitian membahas mengenai asal usul Sura dalam sistem penanggalan Jawa yang dikeramatkan oleh orang Jawa. Kedua, penelitian membahas bentuk tradisi Suran di lingkungan pusat kekuasaan Jawa dan beberapa daerah pedalaman. Ketiga, penelitian membahas tentang dampak Covid-19 terhadap perubahan tradisi Suran di Jawa khususnya pusat kebudayaan Jawa, yaitu istana. Penelitian ini menggunakan metode analisis data kualitatif. Studi kepustakaan digunakan untuk mengumpulkan data tentang pelaksanaan Suran pada masa adaptasi kebiasaan baru. Tradisi Suran di pusat kebudayaan Jawa mengalami perubahan karena harus mematuhi kebijakan pemerintah dan protokol kesehatan. Tradisi Suran di beberapa daerah juga dilaksanakan sesuai protokol kesehatan. Namun demikian, makna tradisi Suran tidak mengalami perubahan, yaitu laku prihatin dan mawas diri demi memperoleh keselamatan.


2021 ◽  
Vol 7 (1) ◽  
pp. 31-50
Author(s):  
Syaifullah Syaifullah ◽  
Eqlima Dwiana Safitri

Wali limbung merupakan tokoh agama yang populer di Jawa Tengah, khususnya di daerah Temanggung. Meskipun beliau lahir beberapa abad yang silam, jejaknya masih terasa bahkan di era digital sekarang. Tulisan ini memaparkan historisitas jejak langkah wali limbung dan tradisi Jum’at pahing. Kajian ini menerapkan teori fungsionalisme Bronislow Malinowski. Teori ini menyatakan bahwa setiap unsur kebudayaan memiliki fungsi bagi masyarakat setempat. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Hasil penelitian ini berisi paparan tentang sejarah Wali Limbung, latar belakang dan tujuan tradisi Jum’at pahing. Latar belakang sejarahnya adalah peresmian penggunaan Masjid Jami’ yang didirikan oleh Wali Limbung bertepatan dengan hari Jum’at pahing. Tujuan tradisi Jum’at pahing adalah memperoleh barokah dan keteguhan hidup.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document