Jurnal Studi Agama
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

25
(FIVE YEARS 2)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By State Islamic University Of Raden Fatah Palembang

2655-9439

2021 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 38-55
Author(s):  
Sartika Ade Sari ◽  
Nur Fitriyana

Death is something that everyone experiences. Man does not know when he died. Every society has a different tradition in commemorating the day of the dead. The people of Karang Tanding Village always serve seven umbut on the seven days of death. So this research is important to find out the symbolic meaning and people's views about the seven umbut cuisine in the tradition of nujuh days after death. The type of research used is field research). Types of qualitative data The data sources in this study consist of primary data and secondary data. Primary data were obtained directly from religious leaders, traditional leaders and the community of Karang Tanding Village by interview and documentation. Secondary data is taken from books and journals related to the problem being studied. Data collection techniques in this thesis are observation, interviews, and documentation. The data analysis techniques in this thesis are data reduction, data presentation, and verification. This study resulted in the finding that the symbolic meaning of the seven umbuts is to pray for the dead in the hope that good deeds and deeds performed during life can continue to provide benefits not only to the deceased, but also to children, families and communities. This tradition is a form of respect for the ancestral spirits of the ancestors of the Karang Tanding village. The people of Karang Tanding village view the tradition of seven umbut cuisine in the implementation of the tradition of seven days after death as a legacy of tradition and does not violate religious teachings. This tradition is seen as a prayer, homage to ancestral spirits and as consolation for bereaved families. The tradition is still carried out because it does not burden residents and seven umbut are used as the main menu.


2021 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 73-84
Author(s):  
Nailal - Muna

Tulisan ini dalam bingkai agama dan kepercayaan masyarakat local. Kepercayaan atau agama adalah hak prinsipil dalam diri manusia. Di Indonesia, banyak agama dan kepercayaan tumbuh, berkembang serta mendapat perlindungan dari udang-undang. Paguyuban Ngesti Tunggal adalah salah satu kepercayaan yang hidup di Indonesia. Paguyuban Ngesti Tunggal sampai saat ini mampu beradaptasi dengan masyarakat. Penelitian ini menjabarkan pemikiran Paguyuban Ngesti Tunggal dengan teori oksidentalis Hasan Hanafi. Hasil penelitian menghasilkan bahwa ada beberapa ajaran Paguyuban Ngesti Tunggal yang mampu menjadikan dirinya sebagai al ana atau ego dan tidak terpengaruh dengan budaya lain, yang menyebabkannya menjadi other atau akhor


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 1-14
Author(s):  
Ramadhanita Mustika Sari

Tulisan ini mengkaji tentang urgensi keharmonisan kehidupan umat beragama. Kemudian mendeskripsikan pendapat pendeta mengenai kehidupan umat beragama yang harmonis. Untuk kemudian dijabarkan dampak pandangan pendeta sebagai elit agama terhadap kehidupan umat beragama yang harmonis. Data dikumpulkan dengan mengkombinasi dua teknik pengumpulan data, yakni wawancara dan observasi. Teknik wawancara tak terstruktur digunakan untuk mengumpulkan data terkait makna keharmonisan, serta minset pendeta tentang makna pentingya kehidupan keagamaan yang harmonis. Kemudian digunakan juga teknik observasi partisipan untuk mendukung data yang telah didapat dari hasil wawancara. Observasi dilakukan dengan mengamati kegiatan sehari-hari yang dilakukan oleh pendeta. Sehingga mereka selalu berupaya untuk tidak melakukan hal-hal ataupun perkataan yang dapat menimbulkan konflik. Kesimpulan dari tulisan ini, yaitu bagi pendeta keharmonisan adalah sebuah keharusan dalam interaksi sosial umat beragama. Sehingga selalu diupayakan agar kehidupan yang rukun dan harmonis selalu terjalin. Pendeta juga memiliki minset tentang makna pentingnya kehidupan keagamaan yang harmonis. Hal tersebut berpengaruh dalam pelayanan umat. Mereka selalu berupaya untuk tidak melakukan hal-hal ataupun perkataan yang dapat menimbulkan konflik umat beragama. Sebab, seorang pendeta adalah pemimpin agama yang perkataannya akan selalu diikuti oleh umatnya. Sehingga apabila pendeta berfikiran bahwa penting untuk menjalani hubungan yang baik kepada semua orang, dengan tidak membedakan latar belakang agama. Maka, sangat membantu terwujudnya kerukunan umat beragama. Kata Kunci: harmonis, pendeta, kerukunan


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 15-34
Author(s):  
M Thoriqul Huda ◽  
Rikhla Sinta Ilva Sari

Saling menghargai dan saling menghormati adalah suatu sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk terwujudnya suatu toleransi. Toleransi merupakan aspek terpenting dalam hidup bermasyarakat. Dimana dalam hidup bermasyarakat tentu semua orang menginginkan hidup yang aman, tentram, dan damai. Namun, tidak dapat dipungkiri juga bahwasanya dalam bermasyarakat akan banyak di jumpai perbedaan, mulai dari sifat, perilaku, budaya, etnis, bahkan agama orang lain yang berbeda. Perbedaan dapat membawa kita pada dua hal yang berlawanan yakni permusuhan dan perdamaian. Perbedaan dapat menjadi permusuhan jika diri kita tidak mampu untuk menyikapi perbedaan itu sendiri, dan justru dapat menjadi perdamaian jika kita dapat menerima dan menghormati perbedaan tersebut. Perbedaan agama banyak menimbulkan konflik, namun dewasa ini banyak orang beragama yang sadar akan perbedaan dan mulai menanamkan sikap toleransi didalam dirinya. Seperti halnya didalam agama Khonghucu, agama etnis Tionghoa ini juga menjunjung tinggi rasa toleransi. Hal tersebut dilakukan dengan alasan bahwa perbedaan merupakan hal yang pasti adanya dan perbedaan seharusnya tidak untuk memecah belah melainkan untuk saling melengkapi. Seperti halnya pemeluk agama Khonghucu yang ada di Indonesia, mereka sangat menghargai perbedaan. Etnis Tionghoa itu sadar bahwa Indonesia adalah suatu Negara yang beragam, dan Indonesia lahir dari adanya perbedaan tersebut. Hal itu membuktikan bahwa perbedaan membawa persatuan, bukan malah membawa kehancuran. Dalam agama Khonghucu juga diajarkan mengenai toleransi, yang mana hal tersebut kemudian diimplikasikan dalam kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan keberagaman. Misalkan saja di dalam kawasan klenteng Boen Bio di Surabaya, mereka menghargai, menghormati, dan saling memahami dengan masyarakat sekitar yang berbeda keyakinan dengan mereka. Kata kunci: Toleransi, Agama Khonghucu, Klenteng Boen Bio


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 35-49
Author(s):  
Rahmat Hidayat
Keyword(s):  

Globalisasi sebagai sebuah proses atau keharusan sejarahmampu mempengaruhi segala lini kehidupan manusia. Perkembangannya yang begitu pesat mesti disikapi secara proporsional, terlebih bagi umat Islam yang memiliki tatanan ajaran global, yang tetap relevan seiring dengan berkembangnya zaman. Globalisasi yang berlangsung dewasa ini cenderung kapada urusan duniawi yang sarat dengan unsur-unsur modernitas, yang dampaknya dapat dirasakan tidak hanya dilihatdari aspek ekonomi, sains dan teknologi sajamelainkan aspek-aspek lainnya seperti budaya, fun, fashion, sosial, gaya hidup (life style), pendidikan, politik, pemikiran dan Agama.Tulisan ini bertujuan untuk memetakan di mana wilayah globalisasi, apakah ke ranah dunia atau Agama dan bagaimana dampak globalisasi Agama?   Kata Kunci: globalisasi, dunia, agama


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 50-78
Author(s):  
Hijrian Angga Prihantoro ◽  
Beko Hendro

Studi keagamaan merupakan diskursus pengetahuan yang berkaitan dengan cara manusia membaca dan mengkaji ajaran agama atau laku keagamaan manusia beragama. Agama tentu tidak melulu tentang ritual peribadatan semata, melainkan juga tentang peradaban manusia. Keberadaan manusia yang terikat dalam ruang dan waktu mengindikasikan bahwa pengalaman dan pengetahuan manusia itu berbatas. Kesadaraan keagamaan dalam diri dan/atau masyarakat beragama meniscayakan perbedaan pemikiran dan tingkah laku dalam frame intelektual dan interaksi sosialnya. Maka problem filsafati yang muncul adalah dapatkah manusia, berdasarkan pengalamannya, benar-benar mampu memahami pengalaman manusia beragama lain yang sepenuhnya berbeda? Serta bagaimana agar kajian keagamaan tetap menjaga objektivitas dari subjektivitas pengkajinya? Berdasaran standpoint ini, perspektif Insider/Outsider memainkan peran penting, namun dalam konteks kehidupan beragama yang heterogen, plural dan multikultural tidak berhenti pada pola baca kuadrik dimensional sehingga membutuhkan pendekatan yang jauh lebih komprhensif. Pada titik ini, multidimensional approaches sebagai pola baca studi keagamaan yang ideal memiliki pijakan paradigmatiknya di mana ia berupaya untuk mengentitaskan agama yang sakral agar dapat dipahami oleh manusia secara netral. Kata Kunci: studi agama, perspektif orang dalam / orang luar, pendekatan multidimensi


2020 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 79-91
Author(s):  
Sulaiman Mohammad Nur

Al Quran merupakan petunjuk dan pedoman umat Islam, Revolusi Mental adalah perubahan singkat pada tatanan masyarakat tertentu dalam melakukan pembaharuan-pembaharuan, terutama pembaruan Mental yang ada di Indonesia saat ini. Untuk itu mewujudkan Revolusi Mental yang sesuai dengan pandangan Al Quran besar kaitannya dengan Iman, Hijrah dan Jihad. Indonesia harus meng-implemetasikan Al Quran sebagai pedoman umat islam, demi kemajuan bangsa dalam menghadapi tantangan modernisasi abad ke 21 ini dan seterusnya. Sehingga dapat menggambarkan secara umum tentang Revolusi Mental, maka dengan adanya Revolusi Mental dalam perspektif Al Quran tidak adanya hal segala cara bangsa dalam melaksanakan pembaruan-pembaruan terutama yang berkaitan dengan perubahan Iman, Hijrah dan Jihad, adanya nilai spiritual dalam jiwa sebagai penopang bangsa dalam mewujudkan revolusi mental yang sesuai dengan ajaran Al Quran. Dalam mewujudkan masyarakat yang memiliki politik yang religius karena pada sebuah bangsa kekuatan mental saja belum cukup, tapi harus didasari dengan pengetahuan islam dan semangat yang religius. Jika hal itu di gabungkan maka akan menghasilkan keseimbangan yang sangat ideal dalam kehidupan beragama dan bernegara. Dan produk yang dihasilkan mempunyai nilai dunia dan akhirat.  Kata Kunci: revolusi mental, al quran


2020 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
Author(s):  
Anggi Wahyu Wahyu Ari

Perkembangan tafsir Al-Qur’an  Indonesia sangat berbeda dengan di dunia Arab di mana ilmu tersebut lahir, perbedaan ini terjadi karena Indonesia memiliki budaya dan bahasa yang berbeda dengan Arab. Penelitian mendalam menunjukkan bahwa perkembangan sejarah tafsir di Indonesia dapat dilacak melalui sejarah masuknya Islam ke Nusantara. Masyarakat Nusantara yang terkenal ramah, suka menolong, dan memuliakan setiap tamu yang datang membuat penyebaran ajaran Islam di Nusantara berkembang pesat, demikian juga dengan ilmu Tafsir sebagai salah satu ilmu inti dari ajaran Islam. Kata Kunci: tafsir, nusantara, penyebaran Islam


2020 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
Author(s):  
Zul Helmi Zul Helmi

Secara teoritis Teologi Islam yang bersifat dialektis menurut Hasan Hanafi lebih mengarah pada mempertahankan doktrin dan memelihara kemurniannya. Teologi tidah hanya merupakan ide-ide kosong, tetapi memiliki ide kongkrit yang mampu membangkitkan dan menuntun umat  dalam mengharungi kehidupan nyata. Namun teologi tidak bisa dibuktikan secara filosofis, sebagaimana yang pernah dikemukakan Al-Farabi, metodologi teologi tidak bisa mengantarkan pada keyakinan atau pengetahuan yang meyakinkan tentang Tuhan, tetapi baru pada tahap pengetahuan tentang Tuhan dan wujud-wujud spritual lainya.        Dari sisi metodologis, Hasan Hanafi memiliki kesamaan dengan cara berfikir Barat, terutama pemikiran Marxis dan Husserl. Ketika Hasan Hanafi meletakan persoalan Islam dalam konteksnya sendiri. Menurutnya, kemajuan Islam tidak dapat dilakukan dengan mengadopsi pemikiran Barat, tetapi lahir dari khazanah pemikiran Islam itu sendiri. Adapun kesamaannya dengan pemikiran Marxis terlihat ketika Hasan Hanafi menempatkan persoalan sosial praktis, sebagai dasar dari pemikiran teologinya. Penggunaan dialektika Marxis terlihat ketika Hasan Hanafi menjelaskan perkembangan pemikiran Islam dan usaha yang dilakukannya merekonstruksi pemikiran teologinya, dengan menggunakan metode filsafat Barat, kemudian mensitetiskannya. Bedanya, Marxis didasarkan kepada materi keduniaan, sedangkan Hasan Hanafi bersifat kerohanian atau religiusitas.        Rekonstruksi kalam Hasan Hanafi dalam mendiskripsikan dzat dan sifat Tuhan, merupakan pendiskripsian tentang manusia ideal, hal ini sebenarnya bukanlah hal baru,  karena telah disampaikan oleh mu’tazilah dan kaum sufis sebelumnya. Konsepnya tentang tauhid telah disampaikan juga oleh tokoh Murtadha Muthahari. Kelebihan Hasan Hanafi ia mampu mengemas konsep-konsepnya tersebut secara lebih utuh, sehingga merasa lebih baru. Gagasan rekonstruksi teologis Hasan Hanafi lebih berorientasi pada rasionalitas Mu’tazilah. Dan Hasan Hanafi mengkritik kalam Asy’ari, menurutnya penyabab kemunduran umat Islam. Kata Kunci: rekonstruksi, pemikiran, hasan hanafi, teologi, islam


2020 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
Author(s):  
Lukman Nul Hakim ◽  
Endah Dwi Untari

ABSTRAK Kata “uswatun hasanah” pada Q.S. Al-Ahzab ayat 21, ditujukan pada pribadi Nabi Muhammad Saw., dan kata “uswatun hasanah” pada Q.S. Al-Mumtahanah ayat 4 dan 6, ditujukan pada pribadi Nabi Ibrahim As. dan keluarganya. Secara teks, makna “uswatun hasanah” yang terdapat pada 3 ayat tersebut artinya bisa saja sama yakni, teladan yang baik. Namun, bila dilihat dari konteksnya, yakni situasi yang menyertai munculnya sebuah teks ayat maka makna kata “uswatun hasanah” tersebut bisa saja berbeda. Makna “uswatun hasanah” pada diri Nabi Muhammad Saw pada peristiwa perang khandaq (parit) bisa dilihat secara utuh pada kemampuannya merubah kesulitan menjadi kesuksesan. Dan makna “uswatun hasanah” pada diri Nabi Ibrahim dan keluarganya pada persoalan komitmen beragama. Penggunaan konteks dalam menafsirkan ayat adalah sangat penting karena akan mendukung tafsir teks dan mengantarkan kepada pemahaman yang tepat terhadap Al Quran. Kata Kunci: Tafsir, Teks, Konteks


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document