Tens : Trends of Nursing Science
Latest Publications


TOTAL DOCUMENTS

9
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

0
(FIVE YEARS 0)

Published By STIKES Al-Irsyad Al-Islamiyyah Cilacap

2746-2617, 2745-939x

2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 46-50
Author(s):  
Sarwa Sarwa ◽  
Agus Prasetyo

Prevalensi anak obesitas  di  Indonesia cenderung mengalami peningkatan. Berdasarkan data RISKESDAS Provinsi Jawa Tengah Tahun 2010 menunjukan prevalensi obesitas pada anak usia sekolah (10-12 tahun) mencapai 10,9%. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui determinan obesitas pada anak usia sekolah. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain case control. Sampel penelitian adalah anak SD usia 10-12 tahun sebanyak 60 sampel yang  terdiri dari 30 orang kasus, yaitu anak dengan obesitas dan 30 orang kontrol, yaitu anak dengan berat badan normal. Variabel penelitian meliputi obesitas sebagai variabel dependen dan jenis kelamin, ayah obesitas, ibu  obesitas, ayah dan ibu obesitas, pendidikan orang tua, dan asupan energi harian sebagai variabel independen. Pengambilan sampel secara purposive sampling. Analisa data multivariat dengan uji statistik regressi logistic. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang mempunyai hubungan bermakna secara statistik dengan kejadian obesitas pada anak usia sekolah adalah asupan energi harian melebihi AKG (pv = 0,001), ibu obesitas ( pv = 0,013 pada α = 0,05 ), dan ayah obesitas ( pv = 0,024 pada α = 0,05 ). Determinan obesitas pada anak usia sekolah adalah asupan energi harian yang melebihi AKG (> 2.000 kkal/hari).


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 1-10
Author(s):  
Ahmad Kusnaeni ◽  
Widyoningsih Wied ◽  
Yuni Sapto Edhy Rahayu

Masa remaja merupakan periode terjadinya pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis, intelektual. Pada masa remaja seorang anak juga mengalami kematangan biologis, dan sifat khas remaja yaitu mempunyai rasa keingintahuan yang begitu besar, menyukai petualangan dan tantangan serta cenderung berani menanggung resiko tanpa didahului pemikiran yang matang . Salah satu perubahan biologis yang terjadi adalah adanya hasrat seksual. Hasrat seksual ini membutuhkan penyaluran yang tepat. Banyak faktor yang dapat memicu munculnya hasrat seksual remaja yang membutuhkan penyaluran dalam bentuk perilaku seksual, yaitu seks bebas yang dapat mengarah pada penyebab tingginya HIV/AIDS. Beberapa karakteristik remaja adalah  perilaku seks bebas terdiri dari kondisi perkawinan orangtua , memiliki pacar atau tidak , lama pacaran, film yang sering ditonton. Penelitian ini merupakan penelitian korelasional yang bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik remaja dengan prediktor perilaku seks bebas, Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah purposive sampling dan metode  pengambilan sampel clauster sampling, Data diambil dengan memberikan kuesioner kepada 107 siswa SMK, dengan analisis menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menyatakan bahwa ada hubungan antara kondisi perkawinan orang tua dengan risiko perilaku seksual (pv = 0,044), tidak ada hubungan antara status pacaran dengan risiko perilaku seksual (pv = 0,404), tidak ada hubungan antara lama pacaran dengan risiko perilaku seksual ( pv = 0,710), tidak ada hubungan antara film blue  dengan risiko perilaku seksual (pv = 0,154)  


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 51-62
Author(s):  
Yuni Sapto Edhy Rahayu

Diabetes melitus (DM) merupakan kondisi hiperglikemia kronik disertai berbagai kelainan metabolik yang  seringkali menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah.  Kejadian DM tipe 2 dalam beberapa dekade terakhir, cenderung  mengalami peningkatan, bahkan dipekirakan bisa mencapai 552 juta penderita pada tahun 2030. Peningkatan jumlah penderita DM berkaitan dengan beberapa faktor antara lain kurangnya aktifitas fisik, hipertensi, dislipidemi,  diet tidak sehat, umur ≥ 45 tahun, etnik, riwayat melahirkan bayi dengan berat badan lahir > 4000  gr, riwayat DM gestasional, riwayat lahir dengan berat badan rendah (<2,5 kg) dan riwayat keluarga dengan DM (first degree relative). Kasus Diabetes Melitus di Kabupaten Cilacap cukup tinggi dengan penyebaran kasus DM tipe II di wilayah Puskesmas Cilacap Tengah I. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik faktor risiko yang dimiliki oleh pralansia di wilayah Puskesmas Cilacap Tengah 1 yang meliputi faktor aktivitas fisik, indeks masa tubuh, riwayat hipertensi, riwayat keluarga DM, dan pola makan. Penelitian ini menggunakan rancangan cross sectional. Teknik sampling yang digunakan adalah clautser random sampling, dengan besar sampel 90 orang. Analisis data menggunakan tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42% pralansia kurang aktivitas olahraga, 20 % memiliki riwayat keluaga DM, 37% memiliki riwayat hipertensi, 49% mengalami overweight, dan 100 % pola makan kurang sehat. Secara keseluruhan jumlah pralansia yang memiliki 3 atau lebih faktor risiko mencapai 91 % bahkan yang memiliki 5 atau lebih faktor risiko ada 23.3%.


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 19-28
Author(s):  
Bejo danang Saputra ◽  
Sodikin Sodikin ◽  
Siti Mukhalifatun Annisa

  Gagal ginjal kronik (GGK) atau Chronic Kidney Disease (CKD) adalah keadaan kerusakan ginjal dimana ginjal mengalami kehilangan fungsi yang progresif dan irreversibel. Berdasarkan data hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2018, Indonesia mengalami peningkatan penderita Chronic Kidney Disease (CKD) sebanyak 1,8% sejak 2013. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang menjalani program hemodialisis rutin di RSI Fatimah Cilacap. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien CKD yang menjalani hemodialisis rutin di RSI Fatimah Cilacap yang berjumlah 138 orang dan jumlah sampel sebanyak 65 orang dengan teknik pengambilan sampel Purposive Sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan jumlah pasien CKD yang menjalani program hemodialisis di RSI Fatimah terbanyak berusia lansia akhir (56-65 tahun) sebanyak 18 pasien (27,7%) dan paling sedikit berusia remaja akhir (17-25 tahun) sebanyak 4 orang (6,2%). Jumlah pasien laki-laki lebih banyak dari pasien perempuan yaitu sebanyak 37 orang (56,9%). Tingkat pendidikan paling banyak berpendidikan lulus SD/sederajat sebanyak 25 orang (38,5%), pengetahuan tentang hemodialisis dengan kategori tinggi sebanyak 46 orang (70,6%), lama sakit dengan kategori baru sebanyak 55 orang (84,6%) dan lama sebanyak 10 orang (15,4%), pelayanan perawat dengan kategori kompeten sebanyak 62 orang (95,4%) dan kepatuhan dengan kategori patuh sebanyak 57 orang (87,7%). Berdasarkan penelitian ini, maka perlu ditingkatkan pengetahuan dan kepatuhan pasien yang menjalani hemodialisis rutin.  


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 29-35
Author(s):  
Dewi Prasetyani ◽  
Evy Apriani ◽  
Rizkia Halimatusyadiyah

Anemia pada kehamilan dapat menyebabkan gangguan kelangsungan kehamilan, gangguan proses persalinan, gangguan pada masa nifas, dan gangguan pada janin. Beberapa penyebab anemia pada ibu hamil adalah asupan protein, zat besi dan pola makan yang kurang baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara asupan protein,zat besi dan pola makan dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Cilacap Utara 2 tahun 2019. Penelitian ini menggunakan desain survey analytic, rancangan pengambilan data case control dan pendekatan waktu retrospektif. Tehnik sampling menggunakan teknik purposive sampling, dengan besar sampel 66 orang ibu hamil trimester III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara asupan protein dan asupan zat besi dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Cilacap Utara 2 (pv= 0,819; pv= 0,120). Ada hubungan signifikan antara pola makan dengan kejadian anemia pada ibu hamil trimester III di wilayah kerja Puskesmas Cilacap Utara 2 (pv= 0,003; Odds Ratio= 5,290). Ibu hamil dengan pola makan kurang baik beresiko 5,29 kali mengalami anemia dibandingkan ibu hamil dengan pola makan yang baik.  


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 74-84
Author(s):  
Ika Kusuma Wardani ◽  
Anis Prabowo ◽  
Grahita bara Brilianti

Perilaku kekerasan adalah suatu penyakit yang mempengaruhi otak dan menyebabkan timbulnya pikiran, persepsi, emosi, gerakan, perilaku yang aneh dan terganggu. Dalam penanganan pasien dengan masalah risiko perilaku kekerasan dapat dilakukan dengan kombinasi psikofarmakologi dan intervensi psikososial seperti okupasi, terapi keluarga, dan terapi psikoterapi yang menampakkan hasil yang lebih baik. Diketahui terapi spiritual wudhu memiliki efek relaksasi bagi tubuh, sehingga mampu merangsang pengeluaran hormon endorphin dalam tubuh dan menekan hormon adrenalin. Karena wudhu merupakan obat dari Allah berupa dzikrullah sebagaimana disebutkan dalam hadist “sesungguhnya amarah itu dari setan dan setan terbuat dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu” (HR. Abu Daud). Metode Penelitian : metode dalam studi kasus ini menggunakan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang meliputi data primer data sekunder serta ditambah menggunakan instrumen studi kasus yang meliputi : pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi yang dilakukan pada 2 klien yang mengalami resiko perilaku kekerasan, beragama islam dilakukan selama 6 kali pertemuan. Hasil penelitian ini adalah setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 6 hari klien mampu mengontrol perilaku kekerasan dan pasien menjadi lebih tenang.


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 63-73
Author(s):  
Yektiningtyastuti Yektiningtyastuti

Keterampilan profesional dan kompetensi dosen dapat dilihat dari performa mengajar. Performa mengajar mengacu pada pengetahuan, keterampilan, dan bahkan kemampuan yang harus dimiliki dan dapat ditunjukkan oleh para dosen dalam kegiatan mengajar mereka. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui performa mengajar dosen keperawatan di ruang kelas dan di wahana klinik, baik di Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif non-eksperimental dengan metode deskriptif komparatif. Responden terdiri dari 134 dosen keperawatan. Data penelitian berasal dari jawaban responden terhadap satu paket kuesioner performa mengajar, yang terdiri dari 33 item pertanyaan. Studi pendahuluan dilakukan dengan mendistribusikan kuesioner kepada 37 dosen keperawatan di dua program studi keperawatan dan memperoleh skor Alpha Cronbach 0,920. Data penelitian dikumpulkan secara pribadi oleh peneliti dari dua program studi keperawatan di perguruan tinggi negeri dan lima program studi keperawatan di perguruan tinggi swasta. Analisa data yang digunakan adalah uji-t independent. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan dalam performa mengajar di ruang kelas antara dosen keperawatan pada perguruan tinggi negeri dan swasta (t hitung  = 1,25844 < t tabel = 1,96). Dalam hal pembelajaran di wahana klinik, didapatkan ada perbedaan yang signifikan dalam performa mengajar antara dosen keperawatan pada perguruan tinggi negeri dan swasta (t  hitung = 2,72417 > t tabel = 1,96)


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 11-18
Author(s):  
Ahmad Subandi ◽  
Ida Ariani

Anak merupakan tunas, potensi, serta generasi muda sebagai penerus bangsa yang mempunyai peran strategis dan ciri atau sifat khusus yang menjamin kelangsungan sebuah bangsa dan Negara. Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018, peneumonia merupakan penyebab tertinggi kematian pada bayi dibawah lima tahun maupun bayi baru lahir, menunjukkan; prevalensi nasional pneumonia naik dari 1,6% pada tahun 2013 menjadi 2% populasi balita di Indonesia.WHO merekomendasikan untuk melaksanakan program MTBS yang diadaptasikan sesuai dengan permasalahan kesehatan bayi dan balita di Indonesia. Pendidikan kesehatan merupakan serangkaian upaya yang ditujukan untuk mempengaruhi orang lain, mulai dari individu, kelompok, keluarga dan masyarakat agar tatalaksanya perilaku hidup sehat. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan sebelum dilakukan pendidikan kesehatan sebanyak 10 (33,3%) sedangkan tingkat pengetahuan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan sebanyak 20 (66,7%) dengan nilai Pv= 0,01<0,05.


2020 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 36-45
Author(s):  
Kasron Kasron ◽  
Susilawati Susilawati

Foot oedema (FO) merupakan salah satu manisfestasi klinis pasien Congestive Heart Failure (CHF) yang sangat menggangu penderitanya seperti susah untuk berjalan dan beraktifitas. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh foot elevation terhadap penurunan FO. Metode penelitian menggunakan quasi-eksperiment dengan pendekatan pre-posttest with control group design. Responden adalah pasien CHF yang mengalami FO yang dibagi menjadi kelompok kontrol dan kelompok intervensi. Intervensi dilakukan dengan FE satu kali sehari selama 3 hari. Responden diukur lingkar FO pada lingkar Angkle, Instep dan Metatarsal. Analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon dan Mann-Whitney. Sejumlah 48 responden memenuhi kriteria penelitian. Hasil pada kelompok intervensi menunjukan lingkar angkle, instep, metatarsal pada kaki kanan sebelum perlakuan dan hari ketiga dalam cm (27,8±1,8 vs 27,2±1,7), (27,7±1,7 vs 27,0±1,7), (27,2±1,6 vs 26,5±1,7) dan pada kaki kiri (27,8±1,7 vs 27,2±1,6), (27,7±1,6 vs 26,9±1,6), (27,1±1,5 vs 26,3±1,6) dan selisih lingkar angkle, instep, metatarsal hari ketiga kaki kanan (0,52±0,31, 0,65±0,17, 0,77±0,17) kaki kiri (0,59±0,18, 0,72±0,13, 0,74±0,41). Hasil analisis menunjukan bahwa ada perbedaan lingkar FO pada kelompok intervensi pada hari pertama, kedua dan ketiga, dan menunjukan ada perbedaan yang bermakna antara selisih lingkar FO (ΔP0-P3) pada pengukuran lingkar FO sebelum intervensi dengan hari ketiga antara kelompok kontrol dan intervensi. Kesimpulan penelitian adalah proses FE kaki efektif menurunkan lingkar foot oedema pada pasien CHF.  Perlu tindakan untuk penatalaksanaan FO dengan FE pada pasien yang mengalami FO.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document