septum nasi
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

38
(FIVE YEARS 1)

H-INDEX

2
(FIVE YEARS 0)

2021 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 59-62
Author(s):  
Renny Swasti Wijayanti ◽  
Andriana Tjitria Widi Wardani ◽  
Dina Fatmawati
Keyword(s):  
Ct Scan ◽  

Polip nasi adalah peradangan kronis pada mukosa hidung dan sinus paranasal, yang ditandai dengan adanya prolaps lesi jinak mukosa serta infiltrasi sel – sel inflamasi. Polip nasi yang berasal dari aspek medial dari septum nasi sangat jarang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah lebih lanjut kasus polip septochoana eosinofilik yang jarang sekali dijumpai. studi kasus polip nasi. Dilaporkan satu kasus seorang wanita berusia 54 tahun, yang mengalami keluhan hidung tersumbat serta penurunan penghidu, setelah dilakukan pemeriksaan naso endoskopi dan CT – scan sinusparanasal didapatkan adanya massa  yang berasal dari aspek medial septum nasi bilateral yang meluas hingga choana. Diagnosis polip septochoana eosinofilik ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan histopatologi setelah dilakukan tindakan eksisi massa. Pasien dilaporkan tidak mengalami kekambuhan setelah dilakukan evaluasi selama 6 bulan pasca operasi. Pada umumnya polip berasal dari dinding lateral rongga hidung, polip yang berasal dari aspek medial septum nasi, seperti pada kasus yang dilaporkan sangat jarang terjadi dan perlu ditelaah lebih lanjut


2018 ◽  
Vol 7 ◽  
pp. 104
Author(s):  
Suci Riskiah ◽  
Bestari Jaka Budiman
Keyword(s):  

Pendahuluan: Angiofibroma merupakan tumor yang bersifat jinak secara histopatologis tetapi secara klinis bersifat ganas. Kasus Angiofibroma di septum nasi merupakan kasus yang jarang. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi.  Sebagian besar dokter mempertimbangkan operasi sebagai pilihan penatalaksanaan. Laporan kasus: Dilaporkan pasien laki-laki    14 tahun dengan diagnosis angiofibroma septum nasi. Pada pasien dilakukan Rinoplasti eksterna untuk ekstirpasi tumor dalam bius umum. Ekstirpasi diawali dengan insisi traskolumela inverted V dan pasien dievaluasi selama 1 bulan. Kesimpulan: Angiofibroma septum salah satu tumor angiofibroma ekstranasofaring yang sangat jarang terjadi. Tumor ini memiliki histopatologi yang sama dengan angiofibroma nasofaring. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan histopatologi dan penatalaksanaan dengan cara ekstirpasi massa secara keseluruhan.


2016 ◽  
Vol 47 (2) ◽  
Author(s):  
Putu Vira Rikakaya ◽  
Luh Made Ratnawati ◽  
Sari Wulan
Keyword(s):  

2015 ◽  
Vol 228 (1) ◽  
pp. 113-124 ◽  
Author(s):  
Sebastian Klenner ◽  
Ulrich Witzel ◽  
Frank Paris ◽  
Claudia Distler

2015 ◽  
Vol 37 (2) ◽  
pp. 107
Author(s):  
Bestari J Budiman ◽  
Effy Huriati ◽  
Hafni Bachtiar ◽  
Ade Asyari

AbstrakGejala sumbatan hidung meskipun bukan suatu gejala penyakit yang berat, tetapi dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Salah satu penyebabnya adalah deviasi septum nasi. Pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi gejala sumbatan hidung, diantaranya adalah Nasal Inspiratory Peak Flowmeter (NIPF). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh septoplasti terhadap sumbatan hidung pada deviasi septum dengan pemeriksaan NIPF. Metode penelitian ini adalah eksperimental studi dengan teknik pre dan post-test design untuk mengetahui gambaran hasil NIPF pada penderita deviasi septum nasi dengan sumbatan hidung. Pengukuran NIPF dilakukan sebelum operasi, minggu ke-2, ke-4 dan ke-6 setelah operasi. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat 11 pasien (93%) dari 12 pasien secara subyektif mengalami perbaikan sumbatan hidung. Terdapat perubahan sumbatan hidung yang bermakna pada minggu ke-4 (p=0,01), dan ke-6 (p=0,01). Kesimpulan penelitian ini adalah septoplasti dapat memperbaiki sumbatan hidung pada deviasi septum nasi.AbstractEven though nasal congestion is not a severe symptom, it can reduce quality of life and patient’s activities. One of the causes of nasal congestion is septal deviation. Diagnostic test that could be used to evaluate nasal congestion is Nasal Inspiratory Peak Flowmeter (NIPF). The objective of this study was to measure the effect of septoplasty to nasal congestion caused by septal deviation with NIPF examination. This research was experimental study by pre and post-test design to evaluate NIPF of patients with nasal congestion due to septal deviation. NIPF was measured before operation surgery, second week, fourth week and sixth week after surgery. The result showed that there were 11 patients (93%) of 12 patients with decreased of nasal congestion subjectively. There were significant decrease of nasal congestion at fourth week (p=0.01) and sixth week (p=0.01). The conclusion of this study is septoplasty can reduce nasal congestion on septal deviation.


2014 ◽  
Vol 44 (1) ◽  
pp. 19
Author(s):  
Sony Yudianto ◽  
Luh Made Ratnawati ◽  
Eka Putra Setiawan ◽  
Sari Wulan Dwi Sutanegara

Latar belakang: Deviasi septum diduga sebagai salah satu predisposisi terjadinya disfungsi tuba Eustachius, terutama di telinga ipsilateral pada sisi hidung yang tersumbat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara derajat obstruksi hidung pada pasien deviasi septum nasi dengan disfungsi tuba Eustachius. Metode: Diskriptif dan analitik pada penelitian yang kami lakukan di poliklinik THT-KL RSUP Sanglah Denpasar, diikuti 58 orang yang terbagi dalam kelompok disfungsi tuba Eustachius sebanyak 29 responden dan kelompok fungsi tuba Eustachius normal sebesar 29 responden. Hasil: Analisis penelitian didapatkan hubungan yang bermakna yaitu derajat obstruksi hidung kanan pada pasien deviasi septum meningkatkan risiko kejadian 2,85 kali lebih tinggi dengan terjadinya disfungsi tuba Eustachius kanan. Pada sisi kiri juga didapatkan hubungan yang bermakna yaitu derajat obstruksi hidung kiri pada pasien deviasi septum meningkatkan risiko kejadian 2,17 kali lebih tinggi dengan dengan terjadinya disfungsi tuba Eustachius kiri. Pada derajat sumbatan hidung diketahui pada sisi kanan dan pada sisi kiri dengan hasil responden yang mengalami sumbatan hidung derajat berat secara bermakna meningkatkan risiko terjadinya disfungsi tuba Eustachius pada sisi yang sama dengan nilai (p< 0,05). Kesimpulan: Pada penelitian ini didapatkan hubungan yang bermakna antaraderajat obstruksi hidung pada pasien deviasi septum yang meningkatkan risiko terjadinya disfungsi tuba Eustachius pada sisi yang sama.Kata kunci: Disfungsi tuba Eustachius, obstruksi hidung, deviasi septum nasi. ABSTRACTBackground: Septal deviation is suspected as one of the predisposing factor in Eustachian tube dysfunction, especially in the ipsilateral ear on the side of the obstructed nose. Purpose: To find out the relationship between the degree of nasal obstruction in septal deviation patient with Eustachian tube dysfunction. Method: Descriptive analytic studies that we conducted in ENT clinic Sanglah Hospital that divided 58 people into 29 respondents as the Eustachian tube dysfunction group and 29 others as the normal Eustachian tube function group. Result: We found prevalence of right Eustachian tube dysfunction in 21 respondents and the prevalence on the left Eustachian tube dysfunction in 8 respondents, which was on the same side with the obstructed nose in the case group as measured byPNIF. Bivariate analysis found a significant relationship that increased the risk of occurence was 2,85 times higher in septal deviation patients with right obstructed nose with the right Eustachian tube dysfunction. The left side also showed a significant association 2,17 times. Degree of nasal obstruction performed analysis known on the right side and on the left side showed that respondents with severe degrees of nasal obstruction significantly increased the risk of Eustachian tube dysfunction on the ipsilateral side (p<0,05). Conclusion: In this study we have significant association between the degree of nasal obstruction in septal deviation patients which increased the risk of Eustachian tube dysfunction incidence on the ipsilateral side.Keywords: Eustachian tube dysfunction, nasal obstruction, nasal septal deviation.


2014 ◽  
Vol 43 (2) ◽  
pp. 120
Author(s):  
Tanty Tanagi Toluhula ◽  
Abdul Qadar Punagi ◽  
Muhammad Fadjar Perkasa

Latar belakang: Deviasi septum nasi yang mengubah aliran udara dalam rongga hidung dapat mempengaruhi fungsi drainase dan ventilasi sinus paranasal dan tuba Eustachius. Tujuan: Untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara tipe deviasi septum nasi menurut klasifikasi Mladina dengan kejadian rinosinusitis dan fungsi tuba Eustachius. Metode: Penelitian dengan desain cross sectional ini melibatkan 70 penderita deviasi septum nasi. Dilakukan pemeriksaan nasoendoskopik untuk menentukan tipe deviasi septum berdasarkan klasifikasi Mladina,pemeriksaan CT Scan sinus paranasal potongan koronal untuk menentukan adanya rinosinusitis dan timpanometri untuk menentukan fungsi tuba Eustachius. Data dianalisis menggunakan uji chi square likelihood ratio. Hasil:Hasil penelitian menunjukkan bahwa tipe deviasi septum nasi yang paling banyak ditemukan adalah tipe 5 yaitu dengan orientasi horisontal (38,6%). Kejadian rinosinusitis pada penderita deviasi septum nasi sebanyak 54 kasus (77,1%), tipe timpanogram pada penderita deviasi septum nasi yang terbanyak adalah tipe A (82,9%), sedangkan tipe B (1,4%), tipe C (4,3%) dan mayoritas mengalami gangguan fungsi tuba Eustachius (62,9%). Hasil uji statistik menunjukkan nilai p>0,05 yang berarti tidak didapatkan hubungan yang bermakna antara tipe deviasi septum nasi menurut klasifikasi Mladina dengan kejadian rinosinusitis dan fungsi tuba Eustachius. Kesimpulan: Walau tidakterdapat hubungan yang bermakna antara tipe deviasi septum nasi dengan klasifikasi Mladina namun dari segi jumlah lebih banyak ditemukan rinosinusitis dan gangguan fungsi tuba Eustachius pada penderita deviasi septum nasi. Kata kunci: Deviasi septum, klasifikasi Mladina, rinosinusitis, fungsi tuba Eustachius.


2014 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
Author(s):  
Bestari J Budiman ◽  
Ricki Octiza

AbstrakCapillary haemangioma is a benign, rapidly growing lesion of the skin and mucous membranes. It may rarely present as a mass of considerable size and thus entirely fill the nasal cavity. Its etiology remains obscure. Capillary haemangioma usually involves the gingiva, lips, tongue, and buccal mucosa. However, the nasal cavity is a rare location for this lesion. The most common symptoms are unilateral epistaxis and nasal obstruction. The treatment of choice is surgery to remove the tumour even for large lesion. A case of capillary haemangioma at anterior nasal septal in 6 years old girl had been treated with extirpation.Kata kunci: Capillary haemangioma, nasal septum, epistaxis, diagnosis, treatmentAbstractHaemangioma kapiler merupakan suatu lesi jinak pada kulit dan mukosa dengan pertumbuhan yang cepat. Meskipun jarang berukuran besar, namun dapat memenuhi seluruh kavum nasi. Etiologinya sampai sekarang masih belum jelas. Haemangioma kapiler sering terdapat pada ginggiva, bibir, lidah dan mukosa bukal. Kavum nasi merupakan lokasi yang jarang terdapatnya haemangioma kapiler. Gejala yang paling sering adalah unilateral epistaksis dan sumbatan hidung. Pembedahan untuk mengangkat tumor ini merupakan terapi pilihan meskipun berukuran besar. Suatu kasus haemangioma kapiler septum anterior pada anak perempuan berumur 6 tahun telah dilakukan ekstirpasi sebagai terapi.Keywords: Haemangioma kapiler, septum nasi, epistaksis, diagnosis, penatalaksanaan


2013 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 51
Author(s):  
Bestari J Budiman ◽  
Jon Prijadi

AbstrakAbses septum nasi adalah terkumpulnya pus di antara tulang rawan dengan mukoperikondrium atau tulang septum dengan mukoperiosteum yang melapisinya. Abses septum dapat menyebabkan hidung pelana bahkan komplikasi intrakranial, sehingga diperlukan diagnosis dan tindakan yang tepat dan cepat. Telah dilaporkan satu kasus abses septum pada wanita umur 34 tahun dan telah dilakukan insisi dan eksplorasi abses dalam narkose umum.Kata kunci: Arial 9 Kata Kunci: Abses septum nasi, hematoma septum, hidung pelana.AbstractNasal septal abscess is defined as pus accumulation between cartilage and mucopericondrium or septal bone and mucoperiosteum which is layer it. Septal abscess can cause saddle nose even intracranial complications, requiring additional diagnosis and appropriately and quickly management. Reported one case of septal abscess in woman 34 years old and has been done the abscess incision and exploration in general anaesthesia.Keywords:Nasal septal abscess, haematoma septum, saddle nose.


2012 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
Author(s):  
Bestari J Budiman ◽  
Ade Asyari

Abstrak Latar Belakang: Gejala sumbatan hidung meskipun bukan suatu gejala penyakit yang berat, tetapi dapat menurunkan kualitas hidup dan aktivitas penderita. Penyebab sumbatan hidung dapat bervariasi dari berbagai penyakit dan kelainan anatomis. Salah satu penyebab dari kelainan anatomi adalah deviasi septum nasi. Tujuan: Untuk menilai gejala dan derajat sumbatan hidung pada deviasi septum nasi. Tinjauan Pustaka: Diagnosis dari gejala sumbatan hidung sangat kompleks dan bervariasi, selain berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik juga diperlukan pemeriksaan penunjang untuk pengukuran sumbatan hidung. Skor sumbatan hidung merupakan salah satu parameter untuk menilai suatu sumbatan hidung pada deviasi septum nasi. Untuk itu diperlukan pemeriksaan penunjang yang dapat digunakan untuk mendiagnosis dan mengevaluasi gejala sumbatan hidung, diantaranya adalah nasal inspiratory flow meter, rhinomanometri dan rhinometri akustik. Kesimpulan: Gejala sumbatan hidung pada deviasi septum dapat dievaluasi dengan pemeriksaan tambahan meliputi pemeriksaan dengan spatula lidah, nasal inspiratory flow metry, nasal expiratory flow metry, rinomanometri, dan rinometri akustik. Kata kunci: sumbatan hidung, deviasi septum, nasal inspiratory flow metry, nasal expiratory flow metry, rinomanometri, rinometri akuistik. Abstract Background: Although nasal obstruction is not a severe symptom of the disease, it can decrease the quality of life and activity of the patient. The etiology of nasal obstruction could be varied from any diseases and anatomical abnormalities. One of anatomical abnormality cause is septal deviation. Purpose: To evaluate the symptom and the degree of nasal obstruction in septal deviation. Review: The diagnosis of nasal obstruction is more complex and varied, based on anamnesis and physical examination, and beside that need additional examination to measure the nasal patency. Nasal obstruction score is one of parameter to evaluate the obstruction of nose. Because of that, it needs additional examination to diagnose and evaluate the nasal obstruction, include nasal inspiratory flow meter, rhinomanometry, acoustic rhinometry. Conclusion: Nasal obstruction in septal deviation with additional examination, such as tongue spatula, nsal expiratory flow metry, nasal inspiratory flow meter, rhinomanometry, acoustic rhinometry. Keywords: Nasal obstruction, septal deviation, nasal inspiratory flow meter, nasal expiratory flow metry, rhinomanometry, acoustic rhinometry


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document