hyposidra talaca
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

24
(FIVE YEARS 6)

H-INDEX

4
(FIVE YEARS 0)

2021 ◽  
Author(s):  
Debashis Roy ◽  
Anirban Samanta ◽  
Abhisek Biswas ◽  
Gautam Chakraborty ◽  
Pijush Kanti Sarkar

Agrologia ◽  
2020 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
Author(s):  
Fransina S. Latumahina ◽  
Mohamad Lihawa
Keyword(s):  

ABSTRAKEkaliptus (Eucaliptus alba) dalam Hutan Lindung Gunung Nona berperan sebagai tanaman pelindung dari erosi dan banjir yang sering terjadi dalam kawasan, namun dalam dasawarsa terakhir keberaadaan tegakan Ekaliptus mengalami tekanan akibat serangan hama dengan tingkat kerusakan yang tinggi akibatnya tutupan kawasan dengan tanaman ini menjadi berkurang. Penelitian dilaksanakan untuk mengetahui jenis hama, intensitas kerusakan dan luas serangan hama pada tegakan Eucalyptus alba di kawasan Hutan Lindung Gunung Nona Kota Ambon dengan menggunakan metode survey dengan intensitas sampling sebebesar 10% pada 20 pohon sampel. Pengamatan dilakukan pada tegakan Ekaliptus tingkat pohon dari akar hingga daun dengan melihat gejala dan tanda – tanda serangan hama. Hasil Penelitian menemukan tiga jenis hama yakni Ulat Grayak (Spodoptera sp). Intensitas kerusakan tertinggi akibat serangan hama pada tanaman Ekaliptus dalam  Hutan Lindung Gunung Nona Kota Ambon akibat serangan Ulat Grayak (Spodoptera sp) sebesar 72,37% tergolong kriteria berat, Ulat Jengkal (Hyposidra talaca) sebesar 19,22% dan tergolong kriteria sedang dan Rayap Tanah (Macrotermes Gilvus Hagen) sebesar 7,09% tergolong kriteria ringan.  Luas serangan yang ditimbulkan akibat serangan ketiga jenis hama ini yakni Ulat Grayak (Spodoptera Sp) sebesar 67,7% tergolong kriteria berat, Ulat Jengkal (Hyposidra talaca) sebesar 40,9% tergolong kreiteria sedang dan Rayap Tanah (Macrotermes Gilvus Hagen) sebesar 15,9% tergolong kriteria ringan.Kata Kunci : Eucapliptus alba, , Intensitas serangan, luas serangan


2019 ◽  
Vol 87 (1) ◽  
Author(s):  
Happy WIDIASTUTI ◽  
TRI - PANJI ◽  
Ciptadi Achmad YUSUP ◽  
Iman RUSMANA ◽  
Tri Eko WAHYONO

A study has been conducted to develop indigenousBacillusthuringiensisbioinsecticide. Preliminary study has been conducted to explore B. thuringiensisfrom sample of soil, leaf, and infected larvae from selected tea area as well as another area such as cocoa, and acasia. The result showed that based on the colony morphology, it was found 10 isolateswith the characteristics of B. thuringiensis colony.  Assessed of the ability to formed crystal using phase contrast microscope and staining revealed that 4 isolates as crystal protein forming isolates. The four isolates used as active coumpound of bioinsecticide. The best formula based on the viability of bacteria was the one withwhite clay as a carrier. While the best liquid formula based on the similar characteristic was using maltosa as osmoprotectant. Theassessment ofthetoxisity B. thuringiensistowards Hyposidra talacalarvae showed that B. thuringiensiscould control H. talacalarvaeup to 37.5%. However, the toxicity need longer periode compared to that commercial B. thuringiensisbioinsecticide. [Keywords:Bt insecticide, cypermethrine, integrated pest management, Tea looper].AbstrakPenelitian telah dilakukan untuk mengembangkan bioinsektisida berbahan aktif B. thuringiensisdari isolat asli Indonesia. Eksplorasi B. thuringiensisdari contoh berupa tanah, daun, dan ulat dari kebun teh telah dilakukan demikian pula dari habitat lain seperti kebun kakao dan akasia.  Berdasarkan morfologi koloni diperoleh 10 isolat yang menunjukkan ciri-ciri koloni B. thuringiensis. Selanjutnyaisolat yang diperoleh diuji kemampuan pembentukan kristal protein dengan pewarnaan dan pengamatan mikroskop phase kontras dan menghasilkan 4 isolat yang mampu membentuk kristal protein. Selanjutnya keempat isolat yang diperoleh digunakan sebagai bahan aktif dalam formulasi bioinsektisida. Formula terbaik berdasarkan kriteria viabilitas bakteri adalah formula yang menggunakan bahan pembawa berupa white clay. Formula terbaik untuk bioinsektida cair berdasarkan kriteria viabilitas B. thuringiensisdan kejernihan bioinsektisida adalah menggunakan maltosesebagai osmoprotektan.Pada pengujian toksisitas isolat B. thuringiensisterhadap larvaulat jengkal(Hyposidra talaca)menunjukkan bahwa B. thuringiensishasil percobaan dapat mengen-dalikan larva ulat jengkalhingga 37,5%. Namun demikian toksisitasnya memerlukan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan bioinsektisida berbahan aktif B. thuringiensiskomersial. [Kata kuci: Bioinsektisida Bt, pengendalian hama terpadu, sipermetrin, ulat jengkal teh].


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document