oneness pentecostalism
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

25
(FIVE YEARS 1)

H-INDEX

1
(FIVE YEARS 0)

2021 ◽  
Author(s):  
Restia Nata Bura

Dalam kekristenan, Alkitab mengajarkan bahwa Bapa adalah Allah, Yesus adalah Allah dan Roh Kudus adalah Allah. Hal ini dikenal dalam kekristenan sebagai Allah Tritunggal yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dalam Alkitab juga mengajarkan bahwa hanya ada satu Allah. Istilah yang digunakan dalam Alkitab untuk menjelaskan ketritunggalan Allah yaitu Allah yang terdiri dari tiga oknum tetapi satu Pribadi yang berada bersama dalam kekekalan. Akan tetapi, dalam hal ini bukan berarti bahwa orang Kristen percaya ada tiga Allah. Tritunggal berarti satu Allah yang terdiri dari tiga oknum dan satu Pribadi yaitu Bapa, Anak dan Roh Kudus. Akan tetapi, setiap Pribadi dalam Trinitas memiliki peranan yang berbeda-beda. Karya keselamatan dalam pengertian tertentu merupakan pekerjaan dari ketiga Pribadi Allah Tritunggal. Namun, dalam pelaksanaannya ada peranan yang berbeda yang dikerjakan oleh Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bapa berperan untuk memprakarsai penciptaan dan penebusan, Anak yang menebus ciptaan-Nya dan sebagai Juruselamat umat manusia, dan Roh Kudus berperan untuk melahirkan kembali dan menguduskan dalam rangka mengaplikasikan karya penebusan itu kepada orang-orang yang percaya. Akan tetapi, berdasarkan pandangan dari Oneness berlawanan dengan doktrin Tritunggal. Secara garis besar doktrin ini merumuskan bahwa Allah hanya terdiri dari satu oknum saja yang kemudian bermanifestasi dalam tiga periode karyanya yaitu sebagai Bapa, sebagai Anak, dan sebagai Roh Kudus. Doktrin ini muncul dari sebagian doktrin yang dinamakan Oneness Pentecostalism. Ajaran Oneness menegaskan bahwa sebutan Bapa, Anak dan Roh Kudus itu merupakan sebutan bagi Allah Yang Maha Esa dalam oknum yang berbeda-beda. Ketika Oneness berbicara mengenai Bapa, Anak dan Roh Kudus mereka melihatnya sebagai suatu perwujudan dari Allah Yang Esa. Bapa merupakan sebutan yang berkaitan dengan hubungan sebagai atau dalam hal ini berperan selaku orangtua, Anak sebagai ingkarnasi dari Allah dalam bentuk daging melalui Yesus Kristus sedangkan Roh Kudus merupakan sebutan terhadap aktivitas Allah dalam Roh. Pada umumnya, pandangan Oneness yaitu tentang Keesaan Allah.


2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 13-26
Author(s):  
Hanny Setiawan ◽  
Joseph Christ Santo

Oneness Pentecostalism's theological position in the orthodoxy faith is arguable. Even though the general position has put the stream of pentecostal movement into heretical teaching, but their presence among mainstream denominations are common. Meaning, the oneness of people is mixed into the other denominations, and among local churches, they have treated just like the other denomination traditions. This article argues that Oneness is indeed a heretical sect. To support this thesis, the historical background for both the origin of the movement and the review of the current case of Joshua B. Tewuh and Bethel Church of Indonesia will be provided. This article's findings in the possible misinterpretation of  W.H. Offiler position in Oneness will be described as important evidence between GBI and Bethel Temple traditions.  The theological position of the Oneness, in addition, will be surveyed in detail to provide a framework of thought of its core doctrines. The survey will be focused on Christology position includes the similarity with other heretic teachings of modalism and Sebelius. In conclusion, this article will present the influence of historical and theological understanding of Oneness in pentecostal-affiliated Indonesian Churches.AbstrakPosisi teologis Oneness Pentecostalism dalam iman ortodoks menjadi perdebatan. Meskipun posisi umum ada yang menyatakan bahwa salah satu aliran pergerakan Pentakosta ini termasuk heretik (bidat), tapi kehadiran mereka di antara denominasi-denominasi arus utama tidak asing. Artinya, pengikut Oneness bercampur dengan denominasi lain, dan di antara gereja-gereja lokal mereka diperlakukan sebagai tradisi denominasi yang lain, seperti tidak ada bedanya. Artikel ini berargumen bahwa Oneness adalah sekte heretik. Untuk mendukung tesis ini, latar belakang sejarah dari asal pergerakan, dan kajian dari kasus terkini Joshua B. Tewuh dan Sinode Gereja Bethel Indonesia (GBI) mengenai isu ini akan dibicarakan. Penemuan-penemuan tentang ke-mungkinan misinterpretasi dari posisi W. H. Offiler akan ditunjukkan sebagai bukti-bukti yang menghubung-kan tradisi-tradisi antara GBI dan Bethel Temple. Posisi teologis dari Oneness akan diselidiki secara menyeluruh untuk memperlihatkan kerangka pemikiran dari doktrin-doktrin inti yang dipercaya. Penelitian juga melingkupi kesamaan Oneness dengan pemikiran heretik yang lain: modalisme dan sabelianisme. Sebagai kesimpulan, artikel ini menunjukkan pengaruh dari sejarah dan pengertian teologis tentang Oneness kepada gereja-gereja di Indonesia yang ber-afiliasi dengan aliran Pentakosta.


2019 ◽  
Vol 26 (1-2) ◽  
pp. 147-167
Author(s):  
David K. Bernard

Abstract There is a substantial consensus for the emergence of a high or divine Christology very early and from a Jewish context. Based on insights from Oneness Pentecostalism, the New Testament evidence for early high Christology is best explained within the context of exclusive monotheism by a robust concept of incarnation and a duality of divine transcendence and immanence rather than incipient binitarianism or trinitarianism.


Author(s):  
Skylar D. McManus

Even thirty years after Thomas Morris wrote The Logic of God Incarnate, there are some claims that Morris makes that require examination in analytic Christology. One of those claims is a concession that Morris gives to modalists near the end of the book, where he says that the two–minds view he has defended can be used to provide a consistent modalistic understanding of Jesus’s prayer life. This view, he says, blocks the inference from the fact that Jesus prays to the Father to the additional claim that Jesus and the Father are numerically distinct. I argue that Oneness Pentecostals can appropriate central concepts from The Logic of God Incarnate as Morris suggests, and further that this means Oneness Pentecostals should abandon the claim that Jesus believes he just is the Father. Once Oneness Pentecostals abandon this claim, they can give a possible explanation of how it is that Jesus relates to the Father in prayer even though he just is the Father.


2018 ◽  
Vol 12 (11) ◽  
pp. e12288
Author(s):  
Lloyd Barba ◽  
Andrea Shan Johnson

Pneuma ◽  
2015 ◽  
Vol 37 (2) ◽  
pp. 224-243
Author(s):  
Christopher J. Richmann

Scholars recognize William H. Durham as responsible for introducing a non-Wesleyan theology of sanctification into the early pentecostal movement. Because the controversy over Durham’s “finished work of Calvary” theology precipitated a rift in early Pentecostalism that had lasting institutional ramifications, Durham occupies a crucial place in pentecostal historiography. Yet, scholarly treatment of Durham has been hindered by misjudgments in three areas of inquiry. First, a series of unsupported historical details has led to a dubious timeline for the unveiling of the finished-work teaching. Second, the chronological errors have obscured the role of A.S. Copley in the early stages of pentecostal anti-Wesleyan theology. Third, a Durham-centered interpretation of the origins of Oneness Pentecostalism has distorted Durham’s basic soteriological insights.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document