japan foundation
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

47
(FIVE YEARS 4)

H-INDEX

2
(FIVE YEARS 0)

Slovo ◽  
2021 ◽  
Vol The Distant Voyages of Polish... (The distant journeys of...) ◽  
Author(s):  
Marzena Karwowska

International audience Joanna Bator is a contemporary writer, who has in recent years become increasingly popular not only among readers but also with critics. As an expert of culture and a scholarship winner of the Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) and the Japan Foundation, she visited Tokyo three times. Published in 2004 (reprint 2011), Japoński wachlarz [The Japanese Fan] is the result of Bator’s Asian travels. The Japanese Fan is a personal and subjective recording of the experience of cultural otherness that feels an European, Polish, writer while working as a lecturer at the University of Tokyo. In this book, Joanna Bator use an original creative technique she calls: zuihitsu, “as the brush guides.” The book constituted a sort of collection or set of travel pictures from which emerges an image of Japan. Joanna Bator est une écrivaine contemporaine, qui jouit ces dernières années d’une popularité grandissante non seulement auprès des lecteurs, mais également auprès de la critique. En tant qu’anthropologue et lauréate des bourses de la Japan Society for the Promotion of Science ( JSPS) ainsi que de la Japan Foundation, elle s’est rendue à Tokyo à trois reprises. Publié en 2004 (réédition en 2011), Japoński wachlarz [L’Éventail japonais] est le fruit de ces voyages asiatiques. L’Éventail japonais constitue la trace personnelle et subjective de l’expérience de l’altérité culturelle vécue par une Européenne, une écrivaine polonaise, pendant la durée de son lectorat à l’Université de Tokyo. Dans ce livre, Joanna Bator recourt à une technique de création originale qu’elle appelle zuihitsu, autrement dit « en suivant le pinceau ». Le livre constitue dès lors une sorte de collection ou ensemble d’images de voyage dont émerge une image du Japon.


2020 ◽  
Author(s):  
Rachmidian Rahayu ◽  
Keyword(s):  

Lokakarya dan webinar ini merupakan kerjasama Jurusan Sastra Jepang Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Padang dengan Asosiasi Studi Pendidikan Bahasa Jepang Indonesia (ASPBJI) Korwil Sumatera Barat dan didukung oleh The Japan Foundation Jakarta pada tanggal 4 November 2020. Di masa pandemi ini para pembelajar dituntut untuk dapat menemukan strategi pembelajaran mandiri yang sesuai. Oleh sebab itu, lokakarya dan webinar ini ditujukan bagi peneliti, praktisi, dosen, dan guru-guru yang memiliki strategi pembelajaran mandiri dengan harapan dapat berbagi pengalaman dan informasi sehingga pandemi bukan lagi menjadi halangan para pembelajar untuk terus mengembangkan ilmu khususnya bahasa, sastra, dan budaya Jepang. Pemakalah utama pada seminar ini adalah tenaga ahli dari The Japan Foundation yang diwakili oleh Sugishima Natsuko. Selain pemakalah utama, terdapat juga pemakalah-pemakalah lainnya yang berasal dari Riau, Sumatera Barat, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Tengah.


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 124
Author(s):  
Yeni Yeni ◽  
Ni Nengah Suartini ◽  
I Wayan Sadyana ◽  
Gede Satya Hermawan

Keterampilan berbicara merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yang harus dikuasai oleh pembelajar bahasa Jepang. Berbicara adalah sarana untuk menyampaikan ide kepada lawan bicara sehingga maksud dari pembicara dapat tersampaikan. Keterampilan berbicara berkaitan dengan aspek penggunaan bahasa untuk berkomunikasi secara lisan sehingga untuk mengajarkan keterampilan berbicara dilaksanakan pembelajaran kaiwa. Pada tahun 2010 The Japan Foundation memperkenalkan standar baru bagi pendidikan bahasa Jepang yang disebut dengan JF Standard for Japanese-Language Education. JF Standard mempunyai konsep bahasa Jepang untuk pemahaman lintas budaya dengan dua kemampuan yang diperlukan, yaitu kemampuan penyelesaian tugas dan kemampuan pemahaman lintas budaya. JF Standard digunakan untuk mengetahui tingkat kematangan bahasa Jepang dan Can-Do merupakan indikator yang menunjukkan tingkat kematangan bahasa atau pemahaman bahasa yang dimiliki. Berdasarkan latar belakang tersebut, pembelajaran kaiwa dilakukan berbasis JFS Can-Do.                                                                                                    


2020 ◽  
Vol 8 (1) ◽  
pp. 97-116
Author(s):  
Bakhrul Huda

Islam, according to the meaning of its name, is certainly synonymous with peace, but some Moslem direct it as a promoter of violence, chaos, and terror. Many teachings that are brought by the Prophet, perfected morality is an important point of his teachings that are escaped by his followers who like to spread violence, chaos, and terror. The concept of moderate Islam is not a new idea. It has been around since the Prophet taught it to his Companions. This can be explored from various historical literature and hadith texts. Especially in Indonesia, Moderate Islamic Education can always be found in Pesantren, not only ideas and concepts but also practices. This paper will try to explore how Moderate Islamic Education is taught and practised in Pesantren, especially in Pesantren Progressive Bumi Shalawat Sidoarjo. Pesantren which since its establishment in 2010 has been cooperating with ITCC (Indonesia Tionghoa Culture Center), AIESEC (Association Internationale des Etudiants en Sciences Economiques ET. Commerciales) and Japan Foundation to get a native speaker as a foreign language teacher and culture sharer. More than 15 people from various countries have been actively involved in becoming teachers in this Pesantren with various religious backgrounds. A tolerant and respectful attitude that is grown and developed from the school-age to become a moderate Muslim appears with the presence of the foreign teacher. With the case study method, the writer will analyze the existing situation in Pesantren Progresif Bumi Shalawat Sidoarjo related to moderate Islam which is taught and practised there.


2020 ◽  
Vol 8 (1) ◽  
pp. 43-56
Author(s):  
Dwi Puji Asrini
Keyword(s):  

Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif kualitatif untuk mengetahui perilaku aisatsu yang dilakukan mahasiswa Jepang serta variasi yang digunakan oleh mahasiswa Jepang saat melekukan aisatsu. Objek dari penelitian ini adalah mahasiswa dari beberapa wilayah di Jepang yang mengikuti program koryukai yang diselenggarakan oleh The Japan Foundation di Osaka. Pengambilan data penelitian dilakukan dengan metode wawancara, untuk mendapatkan gambaran perilaku aisatsu di kalangan mahasiswa Jepang. Hasil wawancara dianalisis guna mendapatkan gambaran perilaku aisatsu di kalangan mahasiswa Jepang. Dari hasil penelitian diketahui bahwa aisatsu dilakukan oleh mahasiswa Jepang terhadap orang yang mereka temui seperti teman, dosen, keluarga dosen, rekan kerja, bahkan terhadap orang yang tidak mereka kenal. Ragam aisatsu yang mereka lakukan terdiri dari:  aisatsu yang menunjukkan waktu, aisasu sebagai ucapan terimakasih, aisatsu sebagai wujud permintaan maaf, aisatsu saat berkenalan, aisatsu setelah melakukan pekerjaan sulit, aisatsu untuk pelanggan, salam saat berangkat atau mengantarkan seseorang pergi, aisatsu saat bertemu kembali, salam saat meminta waktu kepada seseorang, dan salam kepada seseorang yang sedang berbahagia. Dalam melakukan tindakan aisatsu, mahasiswa menggunakan variasi aisatsu yaitu terdiri dari, 1) kata-kata(言葉), 2) kata-kata+ ojigi(言葉 + お辞儀), 3) ojigi(お辞儀), 4) berjabat tangan(握手), 5) Berpelukan(ハグ(抱く)), 6)gesture+ kata-kata ( ジェスチャー + 言葉), 7) gesture(ジェスチャー), 8) kontak mata(アイコンタックス), 9) ojigi+kata-kata(お辞儀 + 言葉).


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document