halmahera eddy
Recently Published Documents


TOTAL DOCUMENTS

8
(FIVE YEARS 0)

H-INDEX

1
(FIVE YEARS 0)

Author(s):  
Linlin Zhang ◽  
Yuchao Hui ◽  
Tangdong Qu ◽  
Dunxin Hu

AbstractSeasonal modulation of subthermocline Eddy Kinetic Energy (EKE) east of the Philippines and its associated dynamics are studied, using mooring measurements and outputs from an eddy-resolving ocean general circulation model for the period from 2000 to 2017. Significantly high EKE appears below the thermocline in the latitude band between 5°N and 14°N east of the Philippines. Separated by 10°N, the EKE in the northern and southern parts of the region shows nearly opposite seasonal cycles, with its magnitude reaching maximum in early spring and minimum in summer in the northern part and reaching maximum in summer and minimum in winter in the southern part of the region. Further investigation indicates that both baroclinic and barotropic instabilities are essential in generating the subthermocline eddies, but the seasonal variation of subthermocline EKE is mainly caused by the seasonal modulation of barotropic instability. The seasonal modulation of barotropic instability in the northern and southern part of the region is associated with the seasonal evolution of North Equatorial Undercurrent and Halmahera Eddy, respectively.


DEPIK ◽  
2020 ◽  
Vol 9 (3) ◽  
pp. 421-427
Author(s):  
Gadza B.T. Suharyo ◽  
Noir P Purba ◽  
Lintang P.S. Yuliandi ◽  
Mega L. Syamsuddin

The purpose of this study was to determine the dynamics of the waters around Halmahera Eddy (HE) and Mindanao Eddy (ME) both horizontally and vertically. The location of the study is in the Pacific Equator Pacific Waters with embedded at 20 - 10oN and 125o-135o E. The data used were temperature and salinity downloaded from Argo Float data centre and combined with surface currents data from MyOcean. The results showed that the two eddies have different impacts on water conditions. In HE, the characteristics are shown by convergent moving mass of water, increasing surface temperature and decreasing salinity. The characteristics of eddy in these waters indicate the existence of downwelling. In ME the mass of water moves divergently, the condition of the sea surface temperature is lower and the salinity level increases. The characteristics of eddy in these waters indicate upwelling.Keywords:EddiesUpwellingIndonesia ThroughflowArgo floatABSTRAKTujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dinamika perairan di sekitar Halmahera Eddy (HE) dan Mindanao Eddy (ME) baik secara horizontal dan vertikal. Lokasi kajian berada di Perairan Pasifik Equator Barat dengan koordinat 2o LS – 10o LU dan 125o BT – 135o BT. Data yang digunakan adalah data suhu dan salinitas dari Argo Float dan data arus permukaan dari MyOcean. Hasil penelitian menunjukan bahwa kedua eddy ini memberikan dampak yang berbeda terhadap kondisi perairan. Di HE, karakteristiknya ditunjukkan dengan massa air yang bergerak secara konvergen, meningkatnya suhu di permukaan dan menurunnya kadar salinitas. Karakteristik eddy di perairan ini menunjukkan adanya downwelling. Di ME massa air bergerak secara divergen, kondisi suhu permukaan lautnya lebih rendah dan kadar salinitasnya meningkat. Karakteristik eddy di perairan ini ini menunjukkan adanya upwelling.Kata kunci:EddiesTaikan airArus Lintas IndonesiaArgo float


Author(s):  
Muhammad Firdaus Ramadhan ◽  
Denny Nugroho Sugianto ◽  
Anindya Wirasatriya ◽  
Heryoso Setiyono ◽  
Kunarso ◽  
...  

Jurnal Segara ◽  
2015 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
Author(s):  
Gentio Harsono ◽  
Djisman Manurung ◽  
Agus S. Atmadipoera ◽  
Mulyono S. Baskoro ◽  
Fadli Syamsudin
Keyword(s):  

2015 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 145-152
Author(s):  
Gentio Harsono ◽  
Supartono Supartono ◽  
D Manurung ◽  
Agus S Atmadipoera ◽  
Fadlt Syamsudin ◽  
...  
Keyword(s):  

Jurnal Segara ◽  
2015 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
Author(s):  
Eva Mustikasari ◽  
Lestari Cendikia Dewi ◽  
Aida Heriati ◽  
Widodo Setiyo Pranowo

Pemodelan arus barotropik musiman tiga dimensi dilakukan untuk mensimulasikan fenomena upwelling di Perairan Indonesia. Pemetaan upwelling berguna sebagai tahap awal dalam mengetahui  daerah potensial penangkapan ikan. Model hidrodinamika yang digunakan dalam studi ini adalah finite volume. Skenario model berupa domain dalam sepuluh lapisan kolom air (equidistant) dengan pembangkit arus berupa angin dan pasang surut. Gaya coriolis dimasukkan dalam perhitungan karena model memiliki domain yang luas. Simulasi dilakukan untuk Januari, April, Agustus dan Oktober 2007. Pola arus tiga dimensi (u, v, w) dan elevasi setiap jam didapat sebagai keluaran. Komponen positif arus vertikal, w, dirata-ratakan sepanjang bulan per elemen kolom air, kemudian di-plot menjadi peta upwelling. Pola arus hasil simulasi dapat menggambarkan eksistensi Halmahera Eddy, Mindanao Eddy, South Java Current, Coastal Kelvin Wave (diduga) dan Arus Lintas Indonesia. Validasi yang baik ditunjukkan dengan RMS error elevasi relatif rendah, pada dua stasiun buoy DART di wilayah studi, yaitu 5,8542x10-2m – 1,1735x10-1m. Upwelling pada Musim Barat terjadi di Indonesia Timur (perairan Busur Banda, Laut Maluku, Laut Seram, Selat Ujung Pandang, Teluk Tomini, Teluk Tolo, Teluk Bone). Upwelling mulai muncul di selatan Jawa, sedangkan di Indonesia Timur menjadi berkurang pada Musim Peralihan I. Pada Musim Timur, upwelling mulai muncul dari selatan Jawa sampai barat Sumatera Barat dan menguat di Indonesia Timur. Pada Musim Peralihan II, upwelling meluas ke arah barat sampai perairan Pulau Simeuleu, sedangkan di Indonesia Timur berkurang dibandingkan Musim Timur.


2014 ◽  
Vol 7 (4) ◽  
pp. 571-580 ◽  
Author(s):  
G. Harsono ◽  
A.S. Atmadipoer ◽  
F. Syamsudin ◽  
D. Manurung ◽  
S.B. Mulyono
Keyword(s):  

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document