scholarly journals Pesan dari Managing Editor

2019 ◽  
Vol 17 (2) ◽  
pp. 57-58
Author(s):  
Joevarian Hudiyana

Salam sejahtera, Untuk volume 17 edisi 2 tahun 2019, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) menerbitkan tujuh naskah dengan topik yang menyentuh berbagai fenomena di masyarakat Indonesia. Tiga naskah mendemon-strasikan perspektif dan temuan baru yang sangat relevan untuk memahami masalah sosial Indonesia seperti kemiskinan (Andayani, Hardjono, & Anggarani, 2019), kebersihan lingkungan (Afifah & Djuwita, 2019), dan sikap terhadap pajak (Susilawati & Hidayat, 2019). Dua naskah lainnya memeriksa determinan dibalik penggunaan teknologi baru yang maladaptif seperti cyberbullying (Safaria & Rizal, 2019) dan phubbing (Vetsera & Sekarasih, 2019). Terdapat pula naskah yang secara kualitatif men-jawab inkonsistensi temuan sebelumnya terkait bagaimana individu melalui keretakan keluarga (Savitri, Takwin, Ariyanto, & Noviyanti, 2019). Terakhir namun tidak kalah pentingnya, naskah oleh Rachmanputra dan Milla (2019) menemukan pola menarik terkait pemberian donasi dalam konteks relasi keagamaan di Indonesia. Pada kesempatan ini, saya akan mendeskripsikan sekilas mengenai temuan dari naskah-naskah pada volume 17 edisi 2 tahun 2019. Namun sebelumnya, izinkan saya untuk mem-berikan catatan tentang perkembangan JPS sampai pertengahan tahun 2019. Pada pertengahan tahun 2019 ini, Jurnal Psikologi Sosial (JPS) mengalami dua perkembangan yang substansial. Pertama, JPS dengan bangga mengumumkan bahwa empat akademisi bereputasi di bidang Psikologi Sosial telah bergabung dalam jajaran dewan editor. Dari Universitas Brawijaya Malang, JPS kedatangan Bapak Ali Mashuri, Ph.D yang banyak berkecimpung di riset-riset relasi inter-grup. Kita juga kedatangan Bapak Indra Yohanes Kiling dari Universitas Nusa Cendana, Nusa Tenggara Timur dengan kepakaran di bidang psikologi komunitas dan perkembangan anak dalam konteks sosial. Ada juga Bapak Mohammad Abdul Hakim, Ph.D (cand) dari Universitas Sebelas Maret, Solo yang banyak me-lakukan penelitian di bidang psikologi ulayat dan kebudayaan. Dari Universitas Airlangga, JPS keda-tangan Bapak Dr. Rahkman Ardi yang melakukan banyak penelitian di bidang perilaku online dan pengukuran psikologi. Riset-riset keempat editor JPS ini telah dipublikasikan di jurnal bereputasi seperti British Journal of Social Psychology, Group Processes & Intergroup Relations, Social Psychological and Personality Science, Disability and Rehabilitation, International Journal of Psychology, Asian Journal of Social Psychology, Journal of Happiness Studies, Journal of Information, Communication and Ethics in Society, dan masih banyak lagi. Kedua, meski baru kembali aktif dalam dua tahun, JPS telah berhasil memperoleh akreditasi dari Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (RISTEKDIKTI). Tidak tanggung-tanggung, JPS berhasil memegang peringkat SINTA 2 sehingga sudah bisa dianggap setara dengan beberapa jurnal-jurnal psi-kologi bereputasi di tingkat nasional lainnya. Tentu ini adalah capaian yang sangat monumental bagi JPS dan tidak bisa dipisahkan dari kerja keras yang dilakukan oleh seluruh tim manajemen JPS selama dua tahun terakhir. Meski demikian, JPS masih harus berkembang lebih jauh agar mampu meraih status sebagai jurnal bereputasi yang diakui dalam indeksasi internasional. Dalam keluaran kedua di tahun 2019 ini, terdapat naskah-naskah di JPS yang memeriksa bagaimana konsep kemiskinan dan pajak direp-resentasikan dalam bahasa masyarakat Indonesia sehari-hari. Dalam risetnya, Andayani, Hardjono dan Anggarani berusaha memberikan perspektif baru tentang kemiskinan khususnya dalam benak mas-yarakat di Indonesia. Sebelumnya, kemiskinan seringkali hanya dipandang dalam kerangka materi. Namun dalam benak masyarakat Indonesia, kemiskinan tidak hanya direpresentasikan dalam bentuk material, melainkan juga dalam bentuk spiritual. Sementara itu Susilawati dan Hidayat berusaha menunjukkan bukti empiris tentang bagaimana Pegawai Negeri Sipil (PNS) merepre-sentasikan konsep pajak, lewat pendekatan teori representasi sosial. Usaha tersebut dilakukan karena ditemukan adanya konsistensi pada temuan-temuan sebelumnya. Dua naskah lainnya mencoba untuk melihat determinan dibalik perilaku harmful dalam penggunaan teknologi baru seperti cyberbullying (perundungan di dunia maya) dan phubbing (mengacuhkan orang lain atau lingkungan dengan memainkan ponsel). Riset Safaria dan Rizal menemukan bahwa rendahnya skor perilaku cyberbullying diprediksi oleh tingginya skor extraversion dan tingginya skor secure attachment. Ini kontradiktif dengan temuan-temuan sebelumnya. Sementara itu riset Vetsera dan Sekarasih meng-eksplorasi kenapa phubbing dilakukan dan riset ini menghasilkan temuan yang menarik. Ada tiga tema yang muncul sebagai alasan individu melakukan phubbing yaitu obsesi terhadap ponsel, rasa takut tertinggal atau fear of missing out, dan candu terhadap permainan video dalam ponsel. Tiga naskah berikutnya mencoba memahami proses mendasar di psikologi, yaitu persepsi. Dari riset-riset ini, persepsi masih bisa dikatakan berperan penting dalam menjelaskan perilaku pemilahan sam-pah, refleksi dalam krisis, serta bias kelompok. Riset Afifah dan Djuwita mengeksplorasi tema apa yang muncul sebagai alasan penjual kantin dalam memilah sampah. Ditemukan bahwa persepsi akan kontrol perilaku memprediksi perilaku pemilahan sampah. Sementara itu Savitri, Takwin, Ariyanto, dan Noviyanti berusaha menjawab inkonsistensi dari temuan sebelumnya terkait perspektif (orang pertama vs. orang ketiga) dalam refleksi pengalaman negatif, khususnya pengalaman retaknya rumah tangga. Dite-mukan bahwa refleksi dengan penggunaan kata ganti pelaku dan kata ganti pengamat sama-sama adaptif, namun tidak bekerja dengan mekanisme yang sama. Terakhir, eksperimen Rachmanputra dan Milla meli-hat apakah ada perbedaan skor bias kelompok saat aktivasi sudut pandang Tuhan (vs. diri sendiri) dimani-pulasi. Tidak ditemukan adanya perbedaan skor pada variabel bias kelompok. Sehingga, riset ini mem-falsifikasi temuan sebelumnya yang justru menemukan pola sebaliknya. Naskah-naskah yang kami publikasikan dalam edisi ini merefleksikan semangat untuk mengem-bangkan ilmu psikologi sosial di Indonesia. JPS mema-hami bahwa seringkali kita tidak bisa mengaplikasikan begitu saja teori-teori yang dikembangkan di negara-negara maju. Maka dari itu, dua naskah kami mengeksplorasi konsep kemiskinan dan pajak dari bahasa yang direpresentasikan dalam kebudayaan Indonesia. Kami juga tidak lupa bahwa perkembangan zaman berdampak pada fenomena-fenomena baru yang perlu pemahaman lebih lanjut. JPS dengan bangga mempublikasikan dua naskah yang mencoba mema-hami fenomena perilaku penggunaan teknologi baru (cyberbullying dan phubbing). Akan tetapi, JPS juga terus senantiasa mempublikasikan temuan-temuan baru terkait proses mendasar di bidang pikologi sosial, seperti persepsi.   Agustus 2019 Managing Editor Jurnal Psikologi Sosial Joevarian Hudiyana*

1990 ◽  
Vol 19 (1) ◽  
pp. 147 ◽  
Author(s):  
Barry Markovsky ◽  
Michael A. Hogg ◽  
Dominic Abrams

2019 ◽  
Vol 22 (6) ◽  
pp. 769-784 ◽  
Author(s):  
Kristof Dhont ◽  
Gordon Hodson ◽  
Steve Loughnan ◽  
Catherine E. Amiot

People deeply value their social bonds with companion animals, yet routinely devalue other animals, considering them mere commodities to satisfy human interests and desires. Despite the inherently social and intergroup nature of these complexities, social psychology is long overdue in integrating human-animal relations in its theoretical frameworks. The present body of work brings together social psychological research advancing our understanding of: 1) the factors shaping our perceptions and thinking about animals as social groups, 2) the complexities involved in valuing (caring) and devaluing (exploiting) animals, and 3) the implications and importance of human-animal relations for human intergroup relations. In this article, we survey the diversity of research paradigms and theoretical frameworks developed within the intergroup relations literature that are relevant, perchance critical, to the study of human-animal relations. Furthermore, we highlight how understanding and rethinking human-animal relations will eventually lead to a more comprehensive understanding of many human intergroup phenomena.


2010 ◽  
Vol 39 (4) ◽  
pp. 573-588 ◽  
Author(s):  
Amarnath Amarasingam

The term ‘‘new atheism’’ has been given to the recent barrage of anti-religion and anti-God books written by Richard Dawkins (2006), Sam Harris (2004, 2008), Christopher Hitchens (2007), Daniel Dennett (2006), and others. This paper contends that one of the fundamental arguments put forth by the new atheists — that religion poisons everything or that religion is responsible for much of the evil in the world — falls victim to one of the best established theories of interpersonal and intergroup relations in social psychology: the fundamental attribution error. Insights gleaned from social psychology are especially useful for critiquing the new atheism. Instead of simply arguing that the new atheists ‘‘over-generalize,’’ social psychological studies on the nature of individual and group attribution provide the tools needed to launch a more substantive critique.


2021 ◽  
Vol 24 (2) ◽  
pp. 195-200
Author(s):  
Victoria C. Krings ◽  
Ben Steeden ◽  
Dominic Abrams ◽  
Michael A. Hogg

The impact of COVID-19 on our way of life is yet to be fully understood. However, social psychology theory and research offer insights into its effect on social attitudes and behaviors, and here we gather the views of a unique group of experts in group processes and intergroup relations. Group processes and intergroup relations are major factors in social resilience and change arising from the COVID-19 pandemic. This special issue was developed to foreground the crucial role of group processes and intergroup relations in the COVID-19 pandemic. This article provides an overview of the areas explored in the special issue. First, we focus on the impact on societies, covering the evolution of intergroup processes during the pandemic, leadership, social connectedness, cultural differences in responses, and social development. Second, we turn to intergroup inequality and focus on gender inequality, ageism, xenophobia, and racial bias during COVID-19. Third, we explore worldviews during the pandemic, specifically conspiracy theories, science skepticism, and existential threat. Finally, we focus on the pandemic’s impact on behaviors, covering virtual working, social activism, virtual ostracism, and conformity and deviance. We finish with a discussion of the value of social psychology in helping us understand the impact of COVID-19 on social attitudes and behavior. As this special issue shows, group processes and intergroup relations are central to the ways that individuals and society is dealing with the challenges of this pandemic.


2011 ◽  
Vol 14 (5) ◽  
pp. 599-603 ◽  
Author(s):  
Joanne R. Smith ◽  
Winnifred R. Louis ◽  
P.Wesley Schultz

The study of social influence is central to social psychology and to understanding group processes and intergroup relations. Social influence research covers a broad range of topics, from persuasion and attitude change, to compliance and conformity, to collective action and social change. This Special Issue presents eleven empirical articles that represent the diversity of current basic and applied research on social influence.


2017 ◽  
Vol 20 (3) ◽  
pp. 277-284 ◽  
Author(s):  
Martijn van Zomeren ◽  
Winnifred R. Louis

In this introduction to the special issue of Group Processes & Intergroup Relations on “Culture and Collective Action” we emphasize the importance of the special issue topic for the development of the field. Specifically, we highlight the globalization of collective action and the internationalization of the social-psychological study of collective action, both of which point to culture as a missing link for this field. We thus propose that the next step is to move toward a proper cultural psychology of collective action—a social psychology in which culture is an integral part. This special issue provides a first step toward such a broad and integrative psychological understanding of collective action, but comes with promises as well as problems. We discuss both the exciting synergies and some lessons to learn for the future, and conclude that a focus on culture will facilitate the development of the rich and fascinating field of the social psychology of collective action.


Author(s):  
Katharine H. Greenaway ◽  
Cindy Gallois ◽  
S. Alexander Haslam

Communication and social psychology have much in common. Both fields seek to answer basic questions about human behavior: how do we persuade and influence others? How do we develop and maintain social connections? When and why do relationships break down? But despite overlap in the questions they ask, social psychology and communication have remained remarkably separate disciplines, with vastly different research philosophies, methods, and audiences. It is important to interrogate the theoretical threads connecting communication and social psychology in the arena of intergroup communication, in order to bring the lenses of both fields to this arena. In particular, the construct of identity is woven through communication and social psychology research, and connects both fields to intergroup relations and communication. Paradoxically, issues of identity—how it is created, shaped, and signaled by the social contexts we inhabit—are frequently overlooked in both fields; in the future, there should and will be much more emphasis on the impact of identity in intergroup communication.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document