scholarly journals Peran Agama dalam Pembentukan Perilaku Anti-Korupsi

2021 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 143-154
Author(s):  
Wildan Solihin ◽  
Ade Irvi Nurul Husna ◽  
Nurul Fauziah ◽  
Saepul Mukti
Keyword(s):  

Adanya potensi fitrah beragama yang terdapat pada manusia tersebut dapat pula dianalisis dari istilah insan yang digunakan AlQuran untuk menunjukan manusia. Mengacu kepada informasi yang diberikan AlQuran. Maka dengan demikian manusia memerlukan agama dalam setiap sendi kehidupanya. Dalam hal apapun itu manusia sangat membutuhkan peran agama karena dalam wujudnya agama muncul dan lahir sebagai jalan dan pengayom umat mausia dalam menjalani kehidupanya sebagai insan. Dengan adanya agama inilah manusia akan menjadi pribadi yang berbudi pekerti yang baik karena manusia akan sadar bahwa agama menjadikanya lebih dekat dengan Tuhanya. Dewasa ini sering kita temui sebuah permasalahan pada individu masyarakat di lembaga kenegaraan ataupun lainya praktik korupsi yang telah mengakar dan turun temurun dan sudah menjadi hal yang biasa baik bagi si pelaku praktik korupsi maupun orang orang sekitar. Maka dari itu penulis mencoba member pembahasan mengenai peran agama dalam pembentukan perilaku anti-korupsi. Dalam artikel ini akan dimuat pembahasan seputar peran agama dalam pembentukan perilaku anti-korupsi dengan menggunakan metode kualitatif berdasarkan beberapa fakta dari beberapa sumber yang saya gunakan. Tujuan dari penulisan ini adalah upaya penyadaran masyarakat tentang bagaimana mengartikan agama sebagai peran dalam pembentukan perilaku anti-korupsi juga memahami nilai nilai anti-korupsi dalam agama. Dalam penulisan artikel ini saya mengambil beberapa teori diantaranya, teori solidaritas oleh Emile Durkheim Teori ini memandang bahwa watak manusia sebenarnya bersifat pasif dan dikendalikan oleh masyarakatnya. Emile Durkheim berpandangan bahwa individu secara moral adalah netral dan masyarakatlah yang menciptakan kepribadiannya. Dalam masyarakat yang sistem budaya dan lembaganya korup akan membentuk individu yang korup seberapa besar pun kesalehan individu.

Mil neuf cent ◽  
1993 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 27-30 ◽  
Author(s):  
Jean-Claude Filloux
Keyword(s):  

Author(s):  
Celia Regina Do Nascimento De Paula
Keyword(s):  

Tem sido nosso objeto de estudo a questão do acesso à justiça; centrada, porém, no exame dosaspectos psicológicos que o bloqueiam. Por isso, no propósito de avaliar em que medida tais representações sociais inibem ou estimulam este acesso, elegemos as representações sociais nossa categoria analítica; reportando-nos, então, às teorias de Serge Moscovici e Emile Durkheim que conjugamos com a tese da construção social da realidade de Berger e Luckmann. De quem, aliás,tomamos de empréstimo toda a metodologia empregada para experimentar nossas duas hipóteses: aprimeira, de que a despeito da ordem legal, os operadores do direito projetam suas própriasrepresentações do mundo social sobre os pedidos, opiniões e decisões que formulam nos litígios emque atuam; e, a segunda, de que os resultados destas causas se refletem nas expectativas de sucessodos jurisdicionados. 


Author(s):  
Eviatar Zerubavel

Following in the rich intellectual footsteps of Emile Durkheim, Karl Mannheim, Alfred Schutz, and Ludwik Fleck, this chapter lays out the foundations for the sociology of thinking, or “cognitive sociology.” Focusing on the impersonal, normative, and conventional dimensions of the way we think (and, as such, on its distinctness from both cognitive individualism and universalism), it highlights the distinctly sociological concern with intersubjectivity as well as epistemic commitment to the study of thought communities, cognitive traditions, cognitive norms, cognitive socialization, cognitive conventions, and the politics of cognition.


1973 ◽  
Vol 45 (4) ◽  
pp. 678-680
Author(s):  
John M. Johnson
Keyword(s):  

2021 ◽  
pp. 1468795X2199162
Author(s):  
Georges Gurvitch ◽  
Shaun Murdock

This is a translation from French of a speech given by Georges Gurvitch (1894–1965) originally published in Cahiers Internationaux de Sociologie in 1966 under the title ‘Proudhon et Marx’. Gurvitch, who succeeded Émile Durkheim as chair of sociology at the Sorbonne, discusses the significance of the revolutionary socialists Pierre-Joseph Proudhon (1809–1865) and Karl Marx (1818–1883) for the field of sociology. In particular, Gurvitch highlights similarities in their thought such as Proudhon’s collective force and Marx’s surplus value and their shared concern for worker self-management. He argues that their mutual antipathy towards each other was rooted in personal feelings rather than in the incompatibility of their ideas, and calls for a synthesis of their ideas which would correct their errors and inspire ‘a new collectivism, neither Marxist nor Proudhonian, but surpassing both’. Lastly, Gurvitch emphasises the recurrent threat of fascism and stresses ‘decentralised collectivism’ as the only viable alternative going forward.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document