scholarly journals Doa Peperangan Rohani Tingkat Strategis dan Biblical Warfare Worldview : Kawan atau Lawan? 

2008 ◽  
Vol 9 (1) ◽  
pp. 17-36
Author(s):  
Soerono .
Keyword(s):  

Dalam salah satu ceramahnya tentang “The Second Apostolic Age,” Peter Wagner menegaskan bahwa kekristenan sedang berada dalam proses perubahan besar yang dikerjakan oleh Roh Kudus. “Kantong anggur lama” sedang diganti dengan yang “baru.” Perubahan itu menyangkut banyak hal. Salah satunya berhubungan dengan suatu “theological innovation” yang dilakukan oleh para sarjana seperti: Clark Pinnock, Gregory Boyd, John Sanders, dan sebagainya, dengan proposal “open theology” mereka. Menurutnya, Open Theology atau Open Theism ini yang sesuai dengan karakteristik kantong anggur baru. Pertanyaan yang menggoda untuk diajukan adalah apakah Wagner telah menimbang semua landasan teori yang dibangun Boyd sehingga ia dapat memastikan bahwa Open Theology dapat menjadi kerangka teologis yang tepat bagi gerakan Apostolik Baru atau Kedua? Secara khusus, apakah biblical warfare worldview (selanjutnya disingkat BWW) yang dikembangkan Boyd itu mendukung praktik yang umum dilakukan oleh para pelopor gerakan Apostolik Kedua atau Baru, yaitu, Doa Peperangan Rohani Tingkat Strategis (selanjutnya disingkat DPRTS)? Pertanyaan yang kedua ini yang akan digumuli dalam makalah ini sehingga tujuan dari makalah ini adalah untuk menemukan sejauh mana, secara konseptual, BWW a la Boyd mendukung praktik DPRTS. Makalah ini akan diakhiri dengan sebuah refleksi dan evaluasi dari sudut pandang injili yang alkitabiah dan sehat.

2014 ◽  
Vol 38 (1) ◽  
pp. 169-187
Author(s):  
Don Levi
Keyword(s):  

2019 ◽  
Vol 61 (2) ◽  
pp. 253-266
Author(s):  
Ferhat Yöney
Keyword(s):  

2019 ◽  
Vol 21 (2) ◽  
pp. 391-406
Author(s):  
Elijah Hess ◽  

In a previous issue of Philosophia Christi, Kirk MacGregor responded to an essay of mine in which I argued for a neo-Molinist account of open theism. The argument demonstrated how, given standard counterfactual semantics, one could derive an “open future square of opposition,” that is, a depiction of the logical relations that hold between future-tense statements from an open theistic standpoint. Conceding the validity of the argument, MacGregor nevertheless sought to deny its soundness by criticizing both its conclusion and the Stalnaker-Lewis semantics on which the argument was based. In this paper, I argue that MacGregor’s reasons for rejecting the open future square, as well as his Molinist alternative to the Stalnaker-Lewis semantics, are uncompelling.


2006 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 213-223 ◽  
Author(s):  
GORDON KNIGHT

In this paper I argue that the denial of middle knowledge and emphasis on human freedom characteristic of open theism makes the traditional concept of hell even more morally problematic than it would otherwise be. But these same features of open theism present serious difficulties for the view that all will necessarily be saved. I conclude by arguing that the most promising approach for open theists is to adopt a version of contingent, as opposed to necessary, universalism.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document