scholarly journals Pengaruh Intervensi Senam Hamil dalam Menurunkan Stres dan Meningkatkan Kualitas Tidur Ibu Hamil Trimester III

2020 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 174-182
Author(s):  
Ni Nyoman Deni Witari

Senam hamil merupakan salah satu olahraga untuk menyiapkan mental dan jasmani ibu hamil dalam menghadapi kehamilnnya. Selama kehamilan ibu hamil sering mengalami ketidaknyamanan seperti sering berkemih, kram tungkai, sulit tidur dan cemas. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh invervensi senam hamil terhadap tingkat stress dan kualitas tidur ibu hamil. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan one group pretest -posttest design. Sampel pada penelitian ini sebanyak 50 orang dimana tehnik sampling yang digunakan dengan purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Instrument pengumpulan data primer dengan pengisian kuesioner Depression Anxiety and Stress Scale (DASS) dan The Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Uji analisis perbedaan sebelum dan sesudah intervensi dengan uji Wilcoxon dan untuk analisis hubungan dengan uji Spearman. Hasil penelitian ada perbedaan bermakna (p=0.000) tingkat stress dan ada perbedaan kualitas tidur (p=0.000) sebelum dan sesudah intervensi senam hamil. Tidak ada hubungan (p=0.088) tingkat stress dengan kualitas tidur.

2018 ◽  
pp. 35
Author(s):  
Erlene Roberta Ribeiro dos Santos

A catastrofização é definida como um conjunto de pensamentos negativos com tendência ao exagero mental, mediante uma situação real ou antecipada de experiência dolorosa, associada à sensação de incapacidade para busca do alívio da dor. Objetivo: avaliar a catastrofização da cefaleia associada a condições clínicas como incapacidade funcional, depressão, ansiedade, estresse e qualidade do sono, em universitários. Material e Método: estudo observacional transversal com uma amostra de 340 universitários (179 mulheres), com idade de 25 ± 5 anos. Foi utilizado um formulário de cadastro para coletar informações pessoais e antropométricas. Os critérios da International Classification of Headache Disorders 3rd edition Beta version foram utilizados para classificar a cefaleia. A escala de pensamentos catastróficos sobre dor (EPCD) foi utilizada para rastrear a catastrofização. Para avaliar a incapacidade funcional gerada pela cefaleia foi utilizado o questionário Headache Disability Test – HIT-6. Sintomatologias de depressão e de ansiedade foram rastreadas pelo Beck Depression Inventory (BDI), e Beck Anxiety Inventory – BAI, respectivamente. O estresse percebido foi avaliado pela escala Perceived Stress Scale (PSS) e a qualidade do sono pelo questionário Pittsburgh Sleep Quality Index. A estatística descritiva foi aplicada para caracterização da amostra, analisadas as diferenças de médias por meio dos testes t de Student e χ2. Para a aplicação da estatística analítica foram utilizadas regressão linear simples e regressão linear logística multivariada generalizada. Resultados: 288/340 (84,7%) dos universitários referiram cefaleia; desses, 133/288 (46,1%) eram migranosos [96/133 (72,2%) mulheres e 37/133 (27,8%) homens; OR= 1,92] e 155/288 (53,9%) não migranosos. Dentre os migranosos, 44/133 (33,08) apresentaram catastrofização (OR 37.44). A regressão linear revelou um potencial maior de contribuição (β) das seguintes condições clínicas: estresse, qualidade do sono ruim e ansiedade para o grupo dos migranosos. A regressão logística multivariada também mostrou a catastrofização, fornecendo estimativa com maior impacto na mudança dos valores da probabilidade da ocorrência da migrânea, com acréscimo de 5,78 pontos percentuais, quando se mantém constante das outras variáveis preditoras. A regressão linear multivariada para a avaliação do impacto da cefaleia indica que a catastrofização é a variável que apresenta maior contribuição na incapacidade gerada pela dor de cabeça, com um valor de β de 5,564 e p<0,001, apresentando forte significância. Conclusão: a catastrofização na migrânea, associada a outras condições clínicas avaliadas neste estudo, como a depressão, ansiedade, estresse e qualidade do sono, exerce influência significativa para a incapacidade gerada pela dor.


2020 ◽  
Vol 8 (2) ◽  
pp. 286
Author(s):  
Nina Setiawati ◽  
Lutfatul Latifah ◽  
Aprilia Kartikasari

Lebih dari separuh wanita hamil yang merasa tidak nyaman karena mual dan muntah dilaporkan telah mengalami gangguan tidur selama kehamilan. Durasi tidur yang tidak memadai dan kualitas tidur yang buruk selama kehamilan dapat meningkatkan kehamilan dengan risiko, termasuk gangguan pertumbuhan janin, dan depresi pascapersalinan. Yoga umumnya digunakan untuk relaksasi dan terbukti efektif untuk mengurangi stres dan kecemasan pada wanita hamil sehingga dimungkinkan untuk meningkatkan kualitas tidur bagi wanita hamil. Salah satu bentuk latihan yoga pada ibu hamil adalah pranayama dan postur yoga restoratif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pranayama dan postur yoga restoratif efektif untuk meningkatkan kualitas tidur pada wanita hamil. Studi quasy eksperimental dengan kelompok kontrol ini dilakukan pada 58 wanita hamil dengan mual muntah yang didapatkan dengan metode purposive sampling. Responden dibagi menjadi dua kelompok, 29 responden di setiap kelompok. Pranayama dan postur yoga restoratif diberikan pada kelompok intervensi dalam 30 menit selama 7 hari terus menerus. Kualitas tidur diukur oleh Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil analisis data menggunakan uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan dalam skor kualitas tidur ibu hamil sebelum dan sesudah diberi pranayama dan postur yoga restoratif (p>0.05). Wanita hamil trimester kedua dan ketiga yang mengalami mual dan muntah dalam penelitian ini tampaknya tidak mengalami peningkatan kualitas tidur setelah melakukan pranayama dan postur yoga restoratif. Frekuensi dan keteraturan dalam melakukan yoga menjadi poin penting yang perlu diperhatikan untuk hasil yang lebih ba


2020 ◽  
Vol 26 (2) ◽  
Author(s):  
Mohamad Naim Bin Hasan ◽  
William William ◽  
Flora Rumiati

Kelebihan berat badan merupakan faktor independen yang berkontribusi terhadap kualitas tidur yang buruk. Sleep apnea merupakan timbulnya episode abnormal pada frekuensi napas yang berhubungan dengan penyempitan saluran napas atas pada saat tidur. Sleep apnea dapat berupa henti napas (apnea) atau menurunnya ventilasi yang akan menyebabkan gangguan bernapas saat tidur. Semakin besar nilai Indeks Massa Tubuh (IMT) atau bertambahnya berat badan, kemungkinan untuk mengalami Obstructive Sleep Apnea (OSA) semakin tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kualitas tidur pada mahasiswa kedokteran angkatan 2016 FKIK Ukrida. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian cross sectional dengan menggunakan studi komparatif, yaitu untuk mengetahui hubungan antara IMT dengan kualitas tidur pada mahasiswa golongan berat badan lebih dan berat badan normal. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Sebanyak  88 responden berpartisipasi dalam penelitian ini, terdiri dari 44 mahasiswa yang mempunyai berat badan normal dan 44 mahasiswa yang mempunyai berat badan lebih. Responden mengisi kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI).   Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 64 responden (72,7%) mempunyai kualitas tidur buruk, dan 24 responden (27,3%) memiliki kualitas tidur yang baik, serta durasi tidur terbanyak adalah < 6 jam.  Berdasarkan uji Chi-Square, disimpulkan adanya hubungan antara berat badan dengan kualitas tidur (p = 0,000, p < 0,05) pada mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan 2016 FKIK Ukrida.


2021 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 345-351
Author(s):  
Jessica Priscillia Gunawan ◽  
Herry Christian Palit ◽  
Debora Anne Yang Aysia

Pandemi COVID-19 tengah merebak di penjuru dunia, termasuk juga di Indonesia. Pemerintah terus berupaya untuk meminimalisir penyebaran dari virus ini, salah satunya dengan kebijakan pembelajaran daring untuk pelajar. Kebijakan ini menjadi kebiasaan baru di kalangan pelajar dan menuntut pelajar untuk mampu beradaptasi. Kebiasaan baru pelajar untuk melakukan pembelajaran secara daring merubah kebiasaan tidur dan mempengaruhi kualitas tidur pelajar. Kualitas tidur akan berdampak terhadap performansi pelajar pada bidang akademik. Kualitas tidur yang buruk menyebabkan sulit untuk berkonsentrasi, menjadi lebih emosional, dan menurunkan tingkat produktivitas. Sampel penelitian terdiri atas 200 pelajar siswa Sekolah Menengah Atas dan Mahasiswa Strata 1 yang melakukan pembelajaran daring yang berdomisili di beberapa daerah di Jawa Timur. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling. Pengukuran kualitas tidur menggunakan kuesioner Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dalam Bahasa Indonesia, dan disebarkan secara daring dalam bentuk Google form. Pengolahan data menggunakan statistik deskriptif dengan tabulasi silang dan statistik non-parametrik dengan uji beda Mann-Whitney Test. Hasil penelitian menunjukkan 72,5% responden memiliki kualitas tidur buruk. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kualitas tidur tidak dipengaruhi oleh jenjang pendidikan dan durasi penggunaan gadget, namun dipengaruhi oleh jenis kelamin dan durasi tidur pada malam hari.


Author(s):  
Shona L. Halson ◽  
Renee N. Appaneal ◽  
Marijke Welvaert ◽  
Nirav Maniar ◽  
Michael K. Drew

Purpose: Psychological stress is reported to be an important contributor to reduced sleep quality and quantity observed in elite athletes. The purpose of this study was to explore the association between psychological stress and sleep and to identify if specific aspects of sleep are disturbed. Methods: One hundred thirty-one elite athletes (mean [SD], male: n = 46, age 25.8 [4.1] y; female: n = 85, age 24.3 [3.9] y) from a range of sports completed a series of questionnaires in a 1-month period approximately 4 months before the 2016 Rio Olympic Games. Questionnaires included the Pittsburgh Sleep Quality Index; Recovery-Stress Questionnaire; Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS 21); and Perceived Stress Scale (PSS). Results: Regression analysis identified the PSS and DASS stress as the main variables associated with sleep. A PSS score of 6.5 or higher was associated with poor sleep. In addition, a PSS score lower than 6.5 combined with a DASS stress score higher than 4.5 was also associated with poor sleep. Univariate analyses on subcomponents of the Pittsburgh Sleep Quality Index confirmed that PSS is associated with lower sleep quality (t99 = 2.40, P = .018), increased sleep disturbances (t99 = 3.37, P = .001), and increased daytime dysfunction (t99 = 2.93, P = .004). DASS stress was associated with increased sleep latency (t94 = 2.73, P = .008), increased sleep disturbances (t94 = 2.25, P = .027), and increased daytime dysfunction (t94 = 3.58, P = .001). Conclusions: A higher stress state and higher perceived stress were associated with poorer sleep, in particular increased sleep disturbances and increased daytime dysfunction. Data suggest that relatively low levels of psychological stress are associated with poor sleep in elite athletes.


2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 47
Author(s):  
Fathaillah - Liestanto ◽  
Dina Fithriana

Peningkatan jumlah lansia akibat meningkatnya iusia harapan hidup tentunya akan menimbulkan beberapa masalah di bidang kesehatan, salah satunya adalah gangguan tidur. Tahun 2014 tercatat ada 19,2 juta jiwa lansia. Sedangkan tahun 2020 diperkirakan ledakan penduduk lansia menjadi 28,8 juta jiwa atau sebesar 11,34%. Peningkatan gangguan tidur sejalan dengan peningkatan jumlah lansia tersebut, sehingga dibutuhkan intervensi non fakmakologis yang aman untuk mengatasinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Senam Tai Chi terhadap pemenuhan kebutuhan tidur lansia di Balai Sosial Lanjut Usia Mandalika Mataram. Penelitian ini merupakan penelian pre experimental  dengan rancangan one grup pretest-posttest. Populasi dalam penelitian berjumlah 87 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah Purposive Sampling. Sampel dalam penelitian ini sejumlah 19 orang. Alat ukur yang digunakan kuesioner instrumen baku PSQI (Pittsburgh Sleep Quality Index). Data dianalisis dengan statistik non parametrik dengan uji Wilcoxon. Hasil uji dengan ρ sebesar 0,000, menunjukkan ada pengaruh peningkatan kualitas tidur setelah dilakukan senam Tai Chi (α = 0,05). Dapat disimpulkan bahwa senam Tai Chi yang dilakukan oleh responden dapat meningkatkan kualitas tidur lansia


2021 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 77-84
Author(s):  
Nungki Marlian Yuliadarwati ◽  
Tantia Dewi Harianto ◽  
Atika Yulianti Yulianti

Latar belakang: Di Indonesia angka kejadian diabetes melitus mencapai peringkat 5 dunia berdasarkan Federasi Diabetes Internasional. Diabetes melitus adalah kondisi kadar gula darah tinggi (hiperglikemi). Kadar gula darah tinggi menimbulkan gejala yang dapat mempengaruhi kualitas tidur pada malam hari. Lansia sering mengalami kualitas tidur buruk karena proses penuaan. Kualitas tidur buruk berdampak pada kemampuan aktivitas sehari-hari. Tujuan: untuk mengetahui hubungan kadar gula sewaktu dengan kualitas tidur pada lansia beresiko diabetes melitus di Posyandu Desa Kincang Wetan Kota Madiun.  Metode penelitian: penelitian bersifat desktriptif analitik menggunakan pendekatan observasional dengan disain penelitian cross sectional jumlah sampel 61 orang diambil dengan teknik Purposive Sampling dengan mengukur kadar gula darah sewaktu menggunakan glucotest dan memberikan kuisioner kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) dalam pengambilan data.  Hasil: hasil penelitian menggunakan Spearman rho didapatkan nilai signifikansi 0,001 atau p 0,05 sehingga H1 diterima dan H0 ditolak.  Kesimpulan: terdapat hubungan antara kadar gula darah sewaktu dengan kualitas tidur pada lansia beresiko diabetes melitus di Posyandu Desa Kincang Wetan Kota Madiun. Kata kunci: Kadar gula sewaktu, Kualitas tidur, Lansia, Diabetes Melitus


2021 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 69-75
Author(s):  
Liyana Nurul Azmi ◽  
Nungki Marlian Yuliadarwati ◽  
Kurnia Putri Utami

Kualitas tidur merupakan respon tubuh yang menandakan status kesehatan pada lansia, kualitas tidur yang buruk dapat menimbulkan permasalah baik secara fisiologis maupun psikologis. Rendam kaki air hangat dan massage adalah salah satu intervensi untuk menangani kualitas tidur pada lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui terapi rendam kaki air hangat dan massage terhadap kualitas tidur komunitas lansia di Kelurahan Tunjungsekar. Desain penelitian in adalah pre experiment one group pretest-posttest design. Responden dalam penelitian ini berjumlah 15 orang yang berada di Kelurahan Tunjungsekar. Dengan teknik purposive sampling menggunakan skala pengukuran kualitas tidur Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil penelitian membuktikan adanya pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah diberikan intervensi terapi sendam kaki air hangat dan massage terhadap kualitas tidur lansia dengan menggunakan uji paired t-test didapatkan hasil nilai signifikasi 0,000 (P<0,05) yang berarti H0 ditolak dan H1 diterima. Terdapat pengaruh terapi rendam kaki air hangat dan massage terhadap kualitas tidur komunitas lansia di Kelurahan Tunjungsekar.


2019 ◽  
Vol 32 (10) ◽  
pp. 641
Author(s):  
Francisco Valente ◽  
Catarina Batista ◽  
Vânia Simões ◽  
Inês Tomé ◽  
Alexandre Carrilho

Introduction: Sleeping is essential to maintain proper relationships with others, keep alertness, and execute responsibilities, among many other functions. In the medical profession, there are several studies linking sleep deprivation with a decrease in responsiveness, cognition and attention. With this study we intended to characterize the sleep pattern of Portuguese anaesthesiologists and identify independent factors associated with sleep quality in this population.Material and Methods: An observational, cross-sectional study of senior and resident anesthesiologists working in Portugal was carried out through an online questionnaire. Individuals working exclusively in intensive care units, emergency departments or with previously diagnosed sleep disorders were excluded. Socio-demographic data, Pittsburgh Sleep Quality Index, Epworth Sleepiness Scale and Perceived Stress Scale were applied. Statistical significance was assessed using the Mann-Whitney test and the chi-square test. A multivariable analysis was performed to examine the association between the Pittsburgh Sleep Quality Index and certain variables.Results: Among 256 respondents, 46.1% reported “poor” quality of sleep (Pittsburgh Sleep Quality Index > 5). Within these individuals, 77.1% slept less than 7 hours per night (p < 0.001). Excessive daytime sleepiness (Epworth Sleepiness Scale > 10) was present in 41.0% of the sample, and the median Perceived Stress Scale score was 17.0. The independent factors associated with worse quality ofsleep were the number of working hours/week (OR 1.03, 95% CI 1,01 to 1,06), perceived stress (OR 1.18, 95% CI 1.11 to 1.26), taking sleep medication (OR 14.72, 95% CI 5.55 to 39.08), and sleep hours/night (OR 0.25, 95% CI 0.15 to 0.42).Discussion: This fraction of Portuguese anaesthesiologists presented a poorer quality of sleep, with excessive daytime somnolence, perceived stress and higher sedative use compared to previously studied populations.Conclusion: Our study characterizes sleep patterns and identifies potential risk factors linked to sleep disturbances in a sample of Portuguese anaesthesiologists. Government and institutional policies can endorse sleep hygiene practices and habits, promoting healthier working environments.


2021 ◽  
Vol 9 (3) ◽  
Author(s):  
Ni Kadek Ayu Satya Dewanti ◽  
Putu Ayu Sita Saraswati ◽  
Luh Made Indah Sri Handari Adiputra ◽  
Ni Made Linawati

Lansia merupakan seseorang yang memasuki tahap usia 60 tahun ke atas. Saat memasuki tahap lansia, akan terjadinya proses degeneratif dari perubahan fisik maupun neurologis yang berkaitan dengan masalah kesehatan. Penyebab masalah kesehatan pada lansia salah satunya adalah kualitas tidur yang buruk. Kualitas tidur yang buruk dapat mempengaruhi fungsi sensorimotor pada tubuh lansia sehingga akan berdampak pada stabilitas posturalnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas tidur dengan stabilitas postural pada lansia di Desa Kukuh, Kerambitan, Tabanan. Desain penelitian adalah observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan pada bulan Februari-April 2021. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Purposive Sampling. Total sampel penelitian ini sebanyak 66 orang. Variabel independen yang diukur adalah kualitas tidur yang diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index. Variabel dependen yang diukur adalah stabilitas postural yang diukur menggunakan Time Up Go Test. Uji hipotesis yang digunakan adalah chi-square untuk menganalisis hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen. Hasil analisis data diperoleh nilai p=0,000 sehingga p<0,05. Berdasarkan hasil penelitian dan uji hipotesis tersebut dapat disimpulkan bahwa adanya hubungan antara kualitas tidur dengan stabilitas postural pada lansia di Desa Kukuh, Kerambitan, Tabanan. Sampel dengan kualitas tidur yang buruk (Global PSQI >=5) lebih dominan memiliki stabilitas postural berisiko jatuh (<=20 detik) dan sangat berisiko jatuh (<=30 detik), sedangkan sampel yang memiliki kualitas tidur yang baik (Global PSQI<5) memiliki stabilitas yang normal (<=10 detik). Kata kunci: Lansia, Stabilitas Postural, Tidur


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document