scholarly journals PENGARUH INTERVENSI HEALTH BELIEF MODEL DAN SEFT TERAPI TERHADAP PERILAKU MEROKOK PADA KELOMPOK UPAYA KESEHATAN BERBASIS MASYARAKAT ROTUSU (ROKOK UNTUK SUSU DAN PROTEIN LAINNYA) DI KECAMATAN RANCAH 2020

2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 76-92
Author(s):  
Eni Desi Kaniawati ◽  
Dewi Laelatul Badriah ◽  
Lely Wahyuniar ◽  
Susianto Susianto ◽  
Ahmad Ropii

Dalam beberapa kajian penyakit tidak menular seperti hipertensi, jantung, stroke, diabetes mellitus, Penyakit Paru Obtruksif  Kronis (PPOK) dan lain-lain berhubungan erat dengan gaya hidup seperti diet tidak seimbang, kurang aktifitas fisik atau olah raga dan perilaku merokok.      Profil Puskesmas Rancah (2018) menunjukkan capaian rumah tangga berPHBS di Kecamatan Rancah pada 2017 yaitu 35,88%. Pada  2018 mengalami kenaikan yaitu 38,0%. Dari 10 indikator PHBS rumah tangga capaian terendah adalah indikator tidak merokok di dalam rumah. UPTD  Puskesmas Rancah melakukan tindak lanjut intervensi masalah rokok pada Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga dan pembinaan PHBS rumah tangga melalui kegiatan pembentukan UKBM (Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat) ROTUSU (Rokok Untuk Susu  dan Protein Lainnya) sejak tahun 2019. UKBM ROTUSU adalah salah satu upaya inovatif yang dilatarbelakangi oleh tingginya perokok di Kecamatan Rancah juga karena masih rendahnya konsumsi protein hewani di keluarga. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh penerapan HBM dan SEFT Terapi terhadap perubahan perilaku merokok pada kelompok UKBM ROTUSU di Kec. Rancah 2020. Jenis penelitian adalah quasi eksperimen dengan rancangan penelitian one group pre test and post test. Populasi adalah  anggota kelompok UKBM ROTUSU 2020 sebanyak 130 orang.Pengambilan sampel dengan total sampling yaitu 130 orang. Sampel diberikan perlakuan baru yaitu pendekatan interpersonal dengan HBM dan SEFT Terapi. Sebelum dan sesudah perlakuan diukur perilaku merokok terkait jumlah yang dikonsumsi.  analisis bivariat menghasilkan pvalue 0,000 pada penerapan intervensi HBM dan pvalue 0,000 pada penerapan intervensi SEFT Terapi tehadap perilaku merokok anggota kelompok UKBM ROTUSU di Kec. Rancah 2020. Ada pengaruh intervensi HBM dan intervensi SEFT Terapi terhadap perilaku merokok pada kelompok UKBM ROTUSU di Kec. Rancah 2020. Intervensi SEFT Terapi terbukti lebih efektif dibandingkan dengan intervensi HBM.

2018 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
Author(s):  
Muhlisa Muhlisa ◽  
Amira BSA

Background: Riskesdas in 2013, North Maluku Province is one of the areas in Indonesia with the prevalence of Diabetes Mellitus (DM) of 1.1%. Data obtained from Diabetes Centre registers, from January to June 2017, the average patient DM visiting are 126 each month. Efforts have been made by the government in tackling the DM problem, but cases in Indonesia are still high. The study used the Health Belief Model (HBM) approach developed by Rosentock and Becker in 1974. HBM is a conceptual framework for understanding individual health behaviors. The purpose of this study is the identification of the perceptual factors of susceptibility, seriousness, benefits, obstacles and family support factors to compliance medication DM patients in the work area of Diabetes Center Ternate City in 2017. Method: using cross sectional approach with Sample amounted to 98 respondents. Instruments using Knowledge and Perception Questionnaire were analyzed using Chi Square test. Results: obtained are almost all respondents have perceptions of vulnerability, seriousness, benefits and obstacles are positive, as well as medication compliance, while for more family support is lacking. Conslusions: Statistical test result there is no correlation between perception of susceptibility, seriousness and benefit with medication compliance whereas perception of obstacles showed significant relationship.


2020 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
Author(s):  
Venti Agustina ◽  
Rosiana Eva Rayanti ◽  
Nur Hidayah

AbstrakPrediabetes adalah kondisi di mana kadar gula darah seseorang melebihi batas normalnamun belum terlalu tinggi untuk masuk dalam kategori penyakit diabetes mellitus, untukmencegah terjadinya diabetes mellitus bagi pasien pre-DM adalah dengan menerapkanperilaku pengendalian untuk mencegah penyakit diabetes mellitus. Tujuan penelitian iniuntuk mendeskripsikan perilaku pencegahan pasien pre-DM terhadap diabetes mellitusberdasarkan teori Health Belief Model di Puskesmas Sidorejo Lor Salatiga. Desain penelitianadalah kualitatif dengan pendekatan observasi dan wawancara menggunakan panduanwawancara terkait Health Belief Model dengan menghubungkan faktor persepsi kerentanan,keseriusan, manfaat, hambatan dan isyarat untuk bertindak. Populasi dalam penelitian iniyakni pasien pre-DM teregistrasi 1 tahun terakhir di Puskesmas Sidorejo Lor. Jumlahpartisipan sebanyak lima orang dengan kriteria GDP 100-125 mg/dl dan atau keluargamemiliki riwayat penyakit DM. Hasil perilaku pencegahan diabetes mellitus dari persepsikerentanan (keturunan penyakit kelurga), persepsi keseriusan (respon psikis), persepsihambatan (kesibukan pekerjaan), persepsi cues to action (diet gula, olahraga, konsumsi obatherbal dan medis), persepsi manfaat (perilaku yang dilakukan dalam pencegahan diabetesmellitus). Kesimpulan terdapat hambatan perilaku pencegahan terutama pada aktivitas fisikolahraga hal ini disebabkan kesibukan pekerjaan sehingga partisipan belum teratur dalammelakukan olahraga.Kata kunci: Diabetes Mellitus, Health Belief Model, Pre-DMAbstractPrediabetes is a condition in which a person's blood sugar level exceeds the normallimit but is not yet too high to be categorized as diabetes mellitus. To prevent diabetesmellitus for pre-DM patients is to apply control behavior to prevent diabetes mellitus. Thepurpose of this study was to describe the prevention behavior of pre-DM patients againstdiabetes mellitus based on the theory of the Health Belief Model at Puskesmas Sidorejo LorSalatiga. The research design was qualitative with an observation and interview approachusing an interview guide related to the Health Belief Model by linking perceived factors ofvulnerability, seriousness, benefits, barriers and cues to action. The population in this studywere pre-DM patients registered in the last 1 year at Sidorejo Lor Health Center. Thenumber of participants as many as five people with the criteria for GDP 100-125 mg / dl and/ or their families have a history of DM disease. The results of diabetes mellitus preventionbehavior from perceptions of vulnerability (family disease), perceptions of seriousness(psychological response), perceptions of barriers (busy work), perceptions of cues to action(sugar diet, exercise, consumption of herbal and medical drugs), perceived benefits(behaviors that are carried out in the prevention of diabetes mellitus). The conclusion is thatthere are barriers to preventive behavior, especially in physical activity, this is due to busywork so that the participants are not regular in exercising.Keywords: Diabetes Mellitus, Health Belief Model, Pre-DM


2019 ◽  
Author(s):  
Maryam Mallekmahmoodi ◽  
Mohsen Shamsi ◽  
Nasrin Roozbahani ◽  
Rahmatalah Moradzadeh

Abstract Background Diabetes is the most prevalent disease resulted from metabolic disorders. This study aimed to investigate the effect of training based on health belief model on oral hygiene-related behaviors in patients with type 2 diabetes mellitus. Methods This study was conducted as a quasi-experimental research on 120 patients with type 2 diabetes referring to a diabetes clinic selected through systematic sampling, who were assigned to two groups of control (N=60) and intervention (N=60). The data collection tool was a valid and reliable questionnaire based on health belief model which was completed for both groups before the intervention. Then, the intervention group received 4 sessions of training based on health belief model in one month and the same questionnaire was completed again after 3 months and the obtained data were analyzed. Results Three months after the intervention, awareness of the patients and perceived susceptibility, benefits, self-efficacy, internal cue to action and performance in oral hygiene-related behaviors had a significant increase in the intervention group (p<0.05) so that the performance of the intervention group was 2.16±0.71 before the training and significantly increased to 3.25±0.49 after the training (p<0.001). Conclusion Training the patients with diabetes based on health belief model and performing active follow-ups can enhance their skills in the field of oral hygiene-related behaviors. Also, control, monitoring and training follow-up is recommended during these programs.


Author(s):  
Elvina Indah Syafriani ◽  
Desi Hariani

Untuk menurunkan angka kematian dan angka kesakitan balita karena diare diperlukan strategi efektif yang dapat merubah perilaku ibu dalam merawat balita sakit diare, yaitu melalui keterampilan konseling oleh tenaga kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh keterampilan konseling bidan berdasar Health Belief Model (HBM) pada ibu terhadap perubahan perilaku penanganan balita diare tanpa dehidrasi. Penelitian ini quasi eksperimental dengan Pre-Post test control Group Design. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu balita diare tanpa dehidrasi yang memenuhi kriteria inklusi dengan 65 responden kelompok perlakuan dan 65 responden kelompok kontrol. Analisis data dengan menggunakan uji komparatif numerik dan kategorik. Perbedaan rerata dianalisis dengan uji Mann-Whitney tidak berpasangan dan uji Wilcoxon berpasangan, dengan kemaknaan hasil uji ditentukan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil penelitian didapatkan bahwa peningkatan keterampilan konseling bidan pada kelompok perlakuan lebih tinggi bila dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Peningkatan nilai perubahan perilaku penanganan pada kelompok perlakuan lebih tinggi bila dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Keterampilan bidan konseling berdasar Health Belief Model (HBM) berpengaruh terhadap perubahan perilaku penanganan balita diare tanpa dehidrasi.


2014 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 15-20
Author(s):  
Ari Damayanti Wahyuningrum

Gangguan jiwa merupakan penyakit multi kausal bervariasi. Klien gangguan jiwa banyak mengalami distorsi kognitif yang akhirnya mengarah ke gangguan perilaku. Hal tersebut disebabkan oleh kesalahan logika, kekeliruan penggunaan alasan atau pandangan individu yang tidak sesuai dengan kenyataan, tidak merasa memiliki perilaku menyimpang, tidak bisa membina hubungan relasi dengan orang lain. Gangguan halusinasi mengarah pada perilaku membahayakan orang lain, klien sendiri dan lingkungan sekitar. Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang lain yang sebenarnya tidak terjadi. Terapi perilaku bersifat reedukasi yang memodifikasi perilaku klien dengan perilaku lain yang lebih menguntungkan didasarkan pada sistematik reinforcement positif pada target perilaku. Token-token dapat ditukar untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan dan dinikmati. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis penerapan terapi perilaku: token ekonomi pada klien dengan gangguan sensori persepsi: halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Dr.Radjiman Wediodiningrat Lawang. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Pre dan Post Test tanpa Control Group yang melibatkan 40 responden dengan metode pengambilan consecutive sampling. Variabel penelitian meliputi terapi perilaku: token ekonomi dan kemampuan mengendalikan halusinasi. Sedangkan alat ukur yang digunakan adalah lembar observasi dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan uji Wilcoxon Sign Rank Test dengan hasil ρ=0,000 < 0,05 yang artinya ada perbedaan kategori halusinasi yang signifikan sebelum dan sesudah perlakuan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pemberian perlakuan terapi perilaku: token ekonomi dengan pendekatan teori Health Belief Model dapat mengubah perilaku klien ke arah adaptif sehingga klien dapat mengontrol halusinasi. Berdasarkan hasil penelitian, disaran kepada para perawat utuk dapat mengaplikasikan terapi perilaku : token ekonomi pada kasus selain halusinasi.


2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 193-197
Author(s):  
Diah Wahyuni ◽  
Riska Hediya Putri

Diabetes mellitus is one of the chronic diseases with a prevalence of cases that continues to increase both globally and nationally. It is necessary to prevent diabetes mellitus behavior in individuals at risk based on the health belief model theory. This study aims to determine the description of individual perceptions in families who have a profile of Type 2 Diabetes Mellitus. This research is a quantitative descriptive study with cross sectional design with 120 respondents. Data was taken using demographic data and DHBM (The Diabetes Health Belief Measure) questionnaire. The results showed that the majority of respondents had negative perceptions about diabetes mellitus, which was 66.67%. This shows that more efforts need to be made by health workers to improve the perception of these individuals, by often providing information to the public about the behavior of preventing a disease in order to maximize health prevention efforts.AbstrakDiabetes melitus termasuk salah satu penyakit kronik dengan prevalensi kasus yang terus meningkat baik secara global maupun nasional. Diperlukan perilaku pencegahan penyakit diabetes melitus pada individu yang beresiko berdasarkan model keyakinan kesehatan (teori Health Belief Model). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran persepsi individu/health belief pada keluarga yang memiliki riwayat Diabetes Mellitus Tipe 2. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan rancangan cross sectional dengan jumlah responden sebanyak 120 orang. Data diambil menggunakan kuesioner data demografi dan kuesioner DHBM (The Diabetes Health Belief Measure). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki persepsi yang negatif tentang penyakit diabetes mellitus, yaitu sebanyak 66,67%. Hal ini menunjukkan bahwa perlu dilakukan upaya lebih oleh tenaga kesehatan untuk meningkatkan persepsi individu tersebut, dengan sering melakukan penyuluhan kepada masyarakat mengenai perilaku pencegahan suatu penyakit guna memaksimalkan upaya preventif kesehatan.


2018 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 88-105
Author(s):  
Priyo Priyo ◽  
Sigit Priyanto

The degree of human health can be influenced by behavior. This behavior factor still becomes a health problem in Indonesia. Unhealthy behavior causes various kinds of infectious diseases and non-infectious diseases. Various efforts to change the behavior of people who do not know, do not want to, and cannot afford it, have been carried out t by the government. However, Clean and Healthy Behavior is still a concern and not optimal yet. Health Belief Model (HBM) is applied as a model in efforts to overcome PHBS. The purpose of this study was to identify the effectiveness of the application of Health Belief Model to PHBS. This research is a quasy experiment with the design of one group pre-post test design. The population in this study was 40 respondents. The method of sampling used was purposive sampling method. The treatment was carried out once per week for 3 weeks. The results showed a difference in the effect of Health Belief Model (HBM) on Clean and Healthy Life Behavior (PHBS). The results of the Wilcoxon test analysis for 3 interventions in 3 weeks showed: the knowledge of PHBS (p ^ 0.00), the attitude of PHBS (0.01) and PHBS Behavior (p ^ 0.00), which means there are differences in the effect of changes in knowledge, attitudes and behavior of PHBS after HBM intervention. Health workers, especially nurses, are expected to make HBM as an effort to promote health and change hygienic and healthy living behavior in families or communities.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document