Evaluation of coal miners' safety behavior based on AHP-GRAP and MATLAB

2016 ◽  
Vol 16 (1) ◽  
pp. 49-55 ◽  
Author(s):  
Guo-Tong Qiao ◽  
Yan-Na Zhu ◽  
Gang He
2021 ◽  
Vol 13 (5) ◽  
pp. 2995
Author(s):  
Yonghui Li ◽  
Jiahui Yang ◽  
Meifen Wu ◽  
Jiaqi Wang ◽  
Ruyin Long

The psychological health and work commitment of miners are prerequisites to ensuring their sustainable safety behavior, and it is also significant to the sustainable development of coal mines in China. In this context, we conducted a questionnaire survey among coal miners of state-owned coal enterprises to explore the relationships between cultural emotion, unemployment risk perception, Big Five personality traits, and work commitment. The results reveal that (1) cultural emotion and its three dimensions played a significant positive role in promoting work commitment. (2) Unemployment risk perception, policy unemployment risk perception, and individual differential unemployment risk perception had a negative moderating effect. (3) Moreover, work commitment was associated with differences in personality characteristics except for agreeableness. This research is of important theoretical value and practical significance, as it can guide Chinese coal miners to increase their work commitment and thereby improve safety in production.


2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 40-50
Author(s):  
Dwi Yunita Haryanti

Latar Belakang dan Tujuan: Penambangan batu piring menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat jember dengan skala ekspor. Batu ini dikirim dalam bentuk batu piringan yang digunakan untuk dinding, pagar dan asesoris rumah lainnya. Aktivitas penambangan batu piring ini menyebabkan pekerja terpapar oleh bahaya dan risiko yang mungkin muncul sebagai akibat dari perilaku dan kondisi tidak aman. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis perilaku aman pada pekerja penambangan batu piring dengan  pendekatan Behavior Based Safety (BBC) menggunakan model Activator Behavior dan Consequences (ABC). Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan rancang bangun cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja yang berada di penambangan batu piring. Metode sampling yang dipakai adalah purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 32,2% pekerja memiliki safety behavior yang baik, 51,7% cukup baik dan 16,1% kurang baik. Terdapat 5 orang pekerja yang pernah mendapatkan positive reinforcement dan 2 orang pekerja yang pernah mendapatkan punishment. Simpulan dan Implikasi: Diperlukannya pembentukan program keselamatan dan kesehatan kerja oleh pihak manajemen, membuat jadwal pelatihan berkaitan dengan proses kegiatan penambangan, mensosialisasikan sumber bahaya dan penanggulangannnya serta meningkatkan kesadaran terkait pentingnya program K3 dalam kelangsungan aktivitas penambangan batu piring.


2014 ◽  
Vol 556-562 ◽  
pp. 6232-6235 ◽  
Author(s):  
Gang He ◽  
Hong Zhang ◽  
Guo Tong Qiao

Case study of 300 typical coal mine accident indicates that coal miners’ unsafe behavior is the major internal reason causing coal mine accidents. Factors affecting coal miners’ unsafe behavior were identified because of human’s complexity. We built the relatively entire system of coal miners’ safety behavior and quantitatively analyzed Coal miners’ unsafe behavior system, then explained the path and divergence of impact factors within the system in detail. Management decision can be formulated to advance management level in coal mine industry accordingly.


2020 ◽  
pp. 193-204
Author(s):  
J Julaikah ◽  
Sri Yuni Tursilowati

Peningkatan jumlah pengguna becak motor dan peningkatan eksistensi dimata penumpang Yogyakarta tidak lantas menjadikan dinas perhubungan DIY merekomendasikan becak motor sebagai salah satu angkutan yang berkeselamatan, hal ini dikarenakan beberapa kasus kecelakaan yang menimpa becak motor akibat konstruksi angkutan yang kurang baik dan perilaku pengemudi yang dinilai kurang selamat. Pada tahun 2016 sebuah media nasional mengabarkan bahwa selama kurun waktu 2015 di makasar telah terjadi 13 kasus kecelakaan becak motor yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia. Penelitian ini merupakan penelitian kombinasi (mix method) yang menggunakan desain deskriptif. Metode pengumpulan data kuantitatif dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner secara personal. Sedangkan data kualitatif didapatkan dengan wawancara terstruktur kepada reponden dan observasi untuk checklist kegiatan. Populasi dalam penelitian seluruh anggota Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PMBY) dengan sampel 94 orang. Variabel dalam penelitian ini adalah komponen Behavior Based Safety (BBS) dan perilaku keselamatan pengemudi becak motor. Analisa data kuantitatif menggunakan Software smart PLS 3.0.  hasil uji kuantitatif menunjukkan variabel yang saling berpengaruh yaitu pengetahuan dengan intensi yang memiliki P-value 0,042. Intensi dengan perilaku P-value 0,016. Persepsi dengan perilaku 0,019. Sedangkan variabel yang tidak saling berpengaruh adalah, persepsi dengan intensi 6,057. Pengetahuan dengan persepsi 1.035 dan pengetahuan dengan perilaku 0,374. Sedangkan data pendukung kualitatif menunjukkan hasil bahwa tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan perilaku keselamatan pengendara becak motor serta minimnya perlengkapan keselamatan yang dimiliki oleh pekerja sehingga perilaku selamat belum dapat diwujudkan. Pengendara bentor yang memiliki pengetahuan yang bagus dan niat yang bagus namun tidak didukung dengan sarana prasarana dan kebijakan keselamatan yang memadai maka tidak akan berperilaku keselamatan yang baik dalam berkendara.   There is an increasing number of the motorized pedicab and increasing existence among passengers in Yogyakarta do not necessarily make the Yogyakarta Special Territory (DIY) Transportation Agency recommends the motorized pedicab as one of the safe transports. This is the result of several cases of accidents that happen to the motorized pedicab due to the poor construction and the unsafe behavior among motorized pedicab drivers. The national media in 2006 reported that there were 13 motorized pedicab accidents in 2015 that resulted in 3 deaths. This was a mix method research that applied a descriptive design. Quantitative data collection methods were conducted using a personal questionnaire. Meanwhile, qualitative data was obtained by performing structured interviews with respondents and observations for the activity checklist. The population was all members of the Yogyakarta Motorized Pedicab Association (PMBY) with population 270 and the sample 94 people. The variables included the BBS components and the safety behavior of motorized pedicab drivers. Quantitative data analysis used SmartPLS 3.0 Software. Knowledge with perception showed a P value of 1.035 and knowledge with behavior showed a P value of 0.374. Quantitative test results showed interrelated variables, namely knowledge with the intention that had a P-value of 0.042. Intention variable with the behavior showed a P value of 0.016. Perception with behavior showed a P value of 0.019. Meanwhile, uncorrelated variable was perception with the intention of a P value of 6.057. Knowledge with perceptions showed a P value of a 1.035 and knowledge with behavior showed a P value of 0.374. Meanwhile, qualitative supporting data revealed that there was no correlation between knowledge and safety behavior among motorized pedicab drivers as well as the lack of safety equipment workers had so that safety behaviour cannot be practiced yet. Motorized pedicab drivers with good knowledge and good intentions but are not supported with adequate infrastructure and facilities as well as safety policies will not practice safe driving.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document