Forecasting Reserves Replacement Ratio RRR: A Method for Benchmarking the Ability of the Company to Mature Projects and Reduce Uncertainty

2021 ◽  
Author(s):  
Dominique Salacz ◽  
Farid Allam ◽  
Wadha Mubarak Al Araimi ◽  
Yousof Al Mansoori

Abstract Reserves Replacement Ratio (RRR) has been used as a Key Performance Indicator(KPI) for monitoring the ability of IOCs toreplace their reserves through time.It provides valuable information about the expected long-term viability of the company and its ability to move forward with new projects.If this remains an important metric for investors and operators alike, it isworth understanding the key parameters behind this KPI. Howshould we realistically expect the RRR to behave in the futureWhat does it tell about the reserves and resources of the operator The objective of this document is to investigate how a widely underused KPI can be analyzed and forecasted based on previous reserves and business plan submissions. We suggest a methodto provide teams with relevant and realistic RRR, that canbe expected based on the company portfolio. This method was developed by reviewing the Reserves &Resources in hundreds of reservoirs for all projects,including No Further Activity (NFA) cases and all future developmentprojects. Based on the future profiles,the evaluation of the RRRwas forecasted for 10 years. The forecasts are being reviewed year on year to ensure that teams are provided with realistic KPIs based on hard data rather than biased expectations. TheRRR is computed using (i) the amount of reserves added during the year, divided by (ii) the production of the company during the same year. This paper will focus on the reserves changes from one year to another, considering that reserves addition (orreduction), comes from two main sources:

Jurnal Teknik ◽  
2016 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
Author(s):  
Muhamad Imron

Dalam perjalanannya teknologi telekomunikasi berbasis Code Division Multiple Acces (CDMA) adalah teknologi telepon seluler yang sudah ada di dunia hampir 20 tahun lebih. Setiap kali ada penantangnya dari teknologi Global System fo Mobile Communication (GSM), teknologi CDMA selalu berhasil menandinginya.  Teknologi CDMA  yang berawal  di Amerika  Serikat  ini telah dicermati selalu  mengimbangi perkembangan teknologi GSM . Pada saat itu GSM pertama muncul dan mengancam, teknologi CDMA dikembangkan menjadi CDMA 1X sebagai jawaban terhadap ancaman GSM. Kemudian ketika operator GSM meluncurkan GSM/EDGE, sekali lagi CDMA dikembangkan menjadi teknologi CDMA Evolution-Data Optimized (CDMA/EV-DO).  Tetapi  dengan  munculnya  3G-UMTS  dan  HSDPA,  kemudian dengan adanya rencana LTE (Long Term Evolution dari kamp GSM) dan WiMax dari dunia wireless broadband, kebanyakan operator dan carrier di Amerika Serikat enggan mendukung perkembangan teknologi CDMA lebih lanjut. Melihat perkembangan teknologi CDMA di dunia yang demikian tentu saja sedikit banyak mempengaruhi perkembangan CDMA di Indonesia tidak terkecuali PT. Indosat Tbk. dengan brand Starone yang sudah berlangsung hampir 10 tahun sejak kemunculannya pada tahun2004. Melihat bisnis CDMA ke depan khususnya Starone perlu dilakukan penelitian yang  dapat  menggambarkan  kelanjutan  bisnis  ini  bisa  dikembangkan  atau  tidak.Dengan pendekatan teori Balanced Scorecard dan Gap Analysis serta melihat profil keuangan yang mempunyai kecenderungan revenue yang menurun secara drastis,  darisisi pelanggan jumlah pelanggan aktif semakin hari semakin menurun, bisnis proses internal yang tidak memasukkan Key Performance Indicator (KPI)  sebagai tolok ukurutama dalam kinerja operasional serta pertumbuhan dan pembelajaran dari Starone ini dapat disimpulkan bahwa bisnis ini secara kontinuitas tidak dapat dilanjutkan lagi. Selanjutnya dicarikan jalan keluar bagi pelanggan yang masih berada pada layananStarone untuk menggunakan teknologi lain sehingga layanan komunikasi masih bisa dirasakan oleh pelanggan.Kata  Kunci:  Code  Division  Multiple  Access,  Strategy,  Balanced  Scorecard,  Key Performance Indicato,Gap Analysis


2018 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 116
Author(s):  
S.G.Y.P. Putra ◽  
P.K. Sudiarta ◽  
G. Sukadarmika

Pengimplementasian Long Term Evolution (LTE) di Bali mengalami kendala terutama dalam menjaga performansi jaringan yang diakibatkan oleh lonjakan data yang semakin meningkat dan kualitas coverage yang kurang maksimal. Maka perlu dilakukan pemeliharaan jaringan untuk mengetahui kualitas dari suatu jaringan yang dapat dilakukan melalui pengamatan secara real di lapangan dengan pengukuran parameter 4G LTE pada suatu wilayah yang belum optimal. Metode yang digunakan adalah dengan melakukan Drive Test menggunakan software GENEX Probe dan analisa hasil drive test menggunakan software GENEX Assistant. Adapun parameter yang diukur antara lain RSRP, SINR, RSSI, RSRQ, CQI, PCI dan PDCP Throughput yang kemudian dibandingkan dengan standar KPI XL. Hasil dan analisa diperoleh nilai RSRP sebesar 93,36% > -105 dBm, SINR sebesar 91,14% > 3 dB, PDCP DL Throughput sebesar 92,18% > 5 Mbps dan PDCP UL Throughput sebesar 88,73% > 3 Mbps yang belum memenuhi standar KPI XL sebesar 95% diakibatkan oleh faktor variasi obstacle sehingga terjadi area bad spot pada beberapa titik wilayah. Optimalisasi yang dilakukan menggunakan metode mekanikal tilt dengan mengubah tilt antena dari 20 menjadi 30 pada area bad spot menyebabkan peningkatan performansi RSRP sebesar 3,49%, SINR sebesar 5,91%, PDCP Download Throughput sebesar 4,7% dan PDCP Upload Throughput sebesar 10,73% dari standar Key Performance Indicator (KPI) XL.


Ekonomika ◽  
2011 ◽  
Vol 90 (2) ◽  
pp. 62-77
Author(s):  
Agnė Laužadytė

In this paper, I estimate different time hazard models of the exit from different labour market states – unemployment, employment and inactivity – in Denmark. I find that women and individuals over fifty are more likely to experience long-term unemployment and inactivity. The less educated and unskilled workers are found to be another risk group to face marginalisation. Being previously employed reduces the risk of inactivity and increases the probability of re-entry to employment, while long-term unemployment or inactivity makes workers more likely to return to these labour market states in the future. Living in biggest Danish cities where job competition is high is a disadvantage, but it has a positive effect on labour market performance of persons over fifty. And finally, I find that those who have stayed in job for one year tend to remain employed, while persons inactive for longer than one year face a much higher risk of marginalisation.


2020 ◽  
Vol 7 (11) ◽  
Author(s):  
Fitriadi Fitriadi ◽  
Mahendro Sumardjo ◽  
Jubaedah Jubaedah

Fenomena yang diteliti pada UIN Syarif Hidayatullah Jakarta adalah sulitnya melihat capaian kinerja dan pengukuran kinerja. Oleh karena itu, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kesulitan mengambil keputusan dalam manajemen kinerja, sebelum menggunakan IKU, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggunakan manajemen anggaran dalam penilaian dan pengukuran kinerja. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif studi lapangan dengan pendekatan fenomenologi. Yang diteliti adalah pengalaman pola penggunaan Balanced Scorecard (BSC) IKU atau Key Performance Indicator (KPI)  UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2018. Setelah adanya IKU di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan menggunakan Balanced Scorecard (BSC). penilaian kinerja dan ukuran kinerja ini bisa sebagai acuan capaiaan kinerja untuk Perangkingan Perguruan Tinggi di tingkat nasional maupun internasional, Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP), Rencana Strategis (Renstra) dan Rencana Induk Pengembangan Kampus (RIBKA) atau Milestones dengan melihat indikator, target dan ukuran pada lapran tersebut.


2020 ◽  
Vol 4 (3) ◽  
pp. 29-39
Author(s):  
Sulkhiya Gazieva ◽  

The future of labor market depends upon several factors, long-term innovation and the demographic developments. However, one of the main drivers of technological change in the future is digitalization and central to this development is the production and use of digital logic circuits and its derived technologies, including the computer,the smart phone and the Internet. Especially, smart automation will perhaps not cause e.g.regarding industries, occupations, skills, tasks and duties


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document