scholarly journals The Near-Term Forward Yield Spread as a Leading Indicator: A Less Distorted Mirror

2018 ◽  
Vol 2018 (055) ◽  
Author(s):  
Eric Engstrom ◽  
◽  
Steve Sharpe ◽  
2019 ◽  
Vol 2018 (055r1) ◽  
Author(s):  
Eric C. Engstrom ◽  
◽  
Steven A. Sharpe ◽  

2003 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 93-126
Author(s):  
Gantiah Wuryandani ◽  
Reza Anglingkusumo

Persepsi pelaku ekonomi terhadap perkembangan perekonomian termasuk inflasi cenderung berubah sepanjang krisis moneter. Sehingga proses pembentukan ekpektasi inflasi pelaku ekonomi juga berbeda antara sebelum dan sepanjang krisis . Oleh karena itu, penelitian mengenai perubahan perilaku  kspektasi inflasi masyarakat di masa krisis, perlu menjadi agenda taktis dalam rangka mengupayakan efektifitas dan efisiensi pengendalian moneter. Berdasarkan hasil penelitian ini diharapkan dapat diperoleh suatu benchmark untuk mengukur ekspektasi inflasi dimasa mendatang sebagai arahan bagi pelaksanaan kebijakan moneter.Hasil penelitian membuktikan adanya “expectation loop” dalam pembentukan laju inflasi dan adanya proses backward maupun forward looking oleh pelaku ekonomi dalam membentuk ekspektasi inflasi dimasa krisis. Metodologi yang digunakan adalah estimasi liniear sederhana untuk memperoleh taksiran ekspektasi dari masing-masing variabel pembentuk ekspektasi inflasi. Variabel-variabel tersebut adalah: (1) pengaruh laju inflasi historis terhadap tekanan inflasi yang sedang  berlangsung (inertia), (2) kredibilitas kebijakan disinflasi pemerintah, dan (3) ekspektasi kurs nilai tukar Rp/ USD secara historis, sebagai komponen-komponen pembentuk ekspektasi inflasi backward looking. Sedangkan ekspektasi inflasi forward looking ditentukan oleh variabel yield spread dan forward rate Rp/USD. Taksiran yang diperoleh dengan estimasi linear tersebut selanjutnya di estimasi ulang de gan menggunakan neural network, untuk menangkap dampak bounded rationality para pelaku pasar dalam pembentukan ekspektasi inflasi di masa krisis.Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa dimasa sebelum krisis terdapat ekspektasi inflasi yang mendekati inflasi aktual. Variabel kredibilitas kebijakan disinflasi pemerintah merupakan determinan utama dalam pembentukan ekspektasi inflasi, disusul kemudian oleh ekspektasi kurs nilai tukar Rp/USD dan laju inflasi secara historis. Dari hasil simulasi ekspektasi inflasi dimasa krisis terlihat bahwa dalam bulan-bulan tertentu terdapat indikasi deviasi yang cukup signifikan yang menunjukkan adanya ketidakpastian yang sangat tinggi. Ketidakpastian tersebut terutama bersumber dari noise, seperti fenomena panic buying di bulan Januari 1998 dan gejolak yang tidak terduga pada harga Sembako di bulan Juli 1998. Hal ini selanjutnya menunjukkan bahwa tekanan inflasi karena meningkatnya gejolak sosial politik di bulan April dan Mei 1998 telah sepenuhnya diantisipasi oleh pelaku ekonomi. Demikian pula dengan gejolak harga Sembako di bulan Agustus dan September 1998.Dari berbagai pengujian dalam paper ini disarankan otoritas moneter perlu memilah-milah faktor-faktor pembentuk inflasi dari sisi moneter maupun non-moneter.  Disamping itu perlu pula ditetapkan target band inflasi moneter berikut leading indicator pemantaunya, sebagai suatu langkah untuk mengendalikan inflasi secara preemptive oleh otoritas moneter. Dalam rangka pengendalian laju inflasi yang lebih disebabkan oleh tekanan struktural dan noise, otoritas moneter perlu melakukan koordinasi dengan departemen terkait.


2015 ◽  
Vol 2015 ◽  
pp. 1-12 ◽  
Author(s):  
Arif Billah Dar ◽  
Firdous Ahmad Shah

The leading indicator ability of yield spread for future output growth and inflation is tested for India. Using the yields on securities with maturities ten years and three months to construct yield spread, we study the predictive power of yield spread for output growth and inflation. Our results based on regression of future inflation and output on yield spreads indicate that there is no information in the yield spread about future economic activity and inflation in India. Further, the predictive power of yield spread is analyzed over different quantiles of inflation and output growth using quantile regression; we find that there is again no evidence of predictive information in the yield spreads. Using multiscale wavelet based regression, predictive power is however unveiled at higher time scales for output growth only.


Author(s):  
Jana Hvozdenska

The steepness of the bond yield curve is an excellent indicator of a possible future economic activity. A rise in the short rate tends to flatten the yield curve and slows down real growth in the near-term. This paper analyses the dependence between slope of the yield curve and an economic activity of selected countries between 2000 and 2016. The slope of the yield curve can be measured as the yield spread between sovereign 10-year and 3-month bonds. The results showed that the best predictive lags are the lag of four and five quarters. The results also confirm that 10-year and 3-month yield spread has a significant predictive power for real GDP growth after a financial crisis. These findings can benefit investors and provide evidence of the potential usefulness of the yield curve spreads as indicators of the future economic activity. Keywords: GDP prediction, yield curve, slope, spread.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document