A new approach to design supply chain key performance indicator for actors and regulator: a case study in innovative product in Indonesia

Author(s):  
Elisa Kusrini ◽  
N.A. Subagyo ◽  
Nur Aini Masruroh
2018 ◽  
Vol 11 (3) ◽  
pp. 445 ◽  
Author(s):  
Carola Pinto Taborga ◽  
Amaia Lusa ◽  
Anna Maria Coves

Purpose: The purpose of this paper is to establish a set of steps for helping companies to create a Green Supply Chain Strategy based on the reduction of their carbon footprint. The aim is to put forward a simple guideline that companies can follow and guide them in achieving their carbon emission targets, as well as obtaining attractive supply chain savings.Design/methodology/approach: Based on a literature review and benchmarking this paper proposes a methodology based on three pillars: 1) Corporate Carbon Strategy; 2) Carbon emission roadmap; and 3) Implementation and tracking. Analytic Hierarchy Process (AHP) techniques were used in order to create a green strategy and support the decision-making processes to select the most interesting alternatives for carbon emission reduction and supply chain savings. The supply chain of a metallurgical company is used to illustrate the case study where the proposed methodology is used. The criteria used for the carbon alternatives selection was based on three factors: 1) the supply chain cost of the alternative; 2) carbon emission impact in terms of CO2 tonnes; and 3) marketing effect.Findings: The paper identifies some specific steps for developing a Green Supply Chain Strategy. The case study developed, demonstrates the importance of following a proper methodology based on a set of steps, it also demonstrates that some alternatives focus on improving the supply chain, such as the facilities location, can also improve the key performance indicator related with carbon emission. Originality/value: The study provides guidance for manufacturing companies in implementing their Green Supply Chain Strategy.


JUMINTEN ◽  
2020 ◽  
Vol 1 (5) ◽  
pp. 109-120
Author(s):  
Muhammad Trisyadi Waluya Jati ◽  
Dira Ernawati ◽  
Nur Rahmawati

Kinerja adalah suatu aspek yang bisa diukur sebagai acuan dan harapan bagi instansi, organisasi dan perusahaan. DI PT. XYZ merupakan perusahaan manufaktur dan beberapa tahun ini perusahaan mengalami beberapa permasalahan pada proses rantai pasok, mulai dari keterlambatan pengiriman ke beberapa toko material, produk cacat, dan menumpuknya stok yang ada di gudang. Itu bisa terjadi karena beberapa faktor yaitu, proses pegiriman produk, proses produksi, SDM (sumber daya manusia) dan proses yang ada kaitannya dengan supply chain mulai dari proses awal sampai akhir pengiriman. Oleh karena itu perlunya analisis kinerja perusahaan di bagian beberapa departemen yang berhubungan dengan rantai pasok dan dianalisa untuk mengetahui kinerja pada proses supply chain. Metode penelitian yang digunakan ialah SCOR model (Supply chain Operation Reference) dan AHP (Analitical hierarchy process) dan penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja rantai pasok dan diperlukan key performance indicator (KPI) yang spesifik agar jadi acuan yang jelas dalam mengukur rantai pasok. Berdasarkan perhitungan dari SCOR model diperoleh nilai masing–masing attribut yaitu: Reliability dengan nilai 17,39, Responsiveness 22.98, Agility 11,76, Cost 7,15 dan Asset Management dengan nilai 7,16. Total nilai Performansi SCOR yang didapatkan perusahaan berada pada kategori Average dengan nilai 66,44.


2020 ◽  
Vol 12 (20) ◽  
pp. 8629 ◽  
Author(s):  
Paula Morella ◽  
María Pilar Lambán ◽  
Jesús Royo ◽  
Juan Carlos Sánchez ◽  
Lisbeth del Carmen Ng Corrales

This work investigates Industry 4.0 technologies by developing a new key performance indicator that can determine the energy consumption of machine tools for a more sustainable supply chain. To achieve this, we integrated the machine tool indicator into a cyber–physical system for easy and real-time capturing of data. We also developed software that can turn these data into relevant information (using Python): Using this software, we were able to view machine tool activities and energy consumption in real time, which allowed us to determine the activities with greater energy burdens. As such, we were able to improve the application of Industry 4.0 in machine tools by allowing informed real-time decisions that can reduce energy consumption. In this research, a new Key Performance Indicator (KPI) was been developed and calculated in real time. This KPI can be monitored, can measure the sustainability of machining processes in a green supply chain (GSC) using Nakajima’s six big losses from the perspective of energy consumption, and is able to detect what the biggest energy loss is. This research was implemented in a cyber–physical system typical of Industry 4.0 to demonstrate its applicability in real processes. Other productivity KPIs were implemented in order to compare efficiency and sustainability, highlighting the importance of paying attention to both terms at the same time, given that the improvement of one does not imply the improvement of the other, as our results show.


Jurnal PASTI ◽  
2021 ◽  
Vol 15 (1) ◽  
pp. 80
Author(s):  
Danang Samadi Prasetyo ◽  
Andrean Emaputra ◽  
Cyrilla Indri Parwati

Perkembangan sektor industri dari waktu ke waktu semakin berkembang hal ini bisa dilihat dengan semakin banyak industri-industri yang tumbuh baik itu industri kecil, menengah maupun besar. Peran Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kerupuk Subur yang bergerak di bidang industri makanan dan distribusi hampir seluruh wilayah Yogyakarta. Industri Kecil dan Menengah (IKM) memiliki banyak stakeholder sehingga memegang peranan penting bagi terciptanya efektifitas dan efesiensi rantai pasok. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kinerja supply chain pada IKM Kerupuk Subur dengan nilai performansi supply chain, kemudian dapat memberikan usulan perbaikan pada IKM Kerupuk Subur dalam meningkatkan performansi kinerja supply chain. Model hierarki Key Performance Indicator awal pengukuran kinerja tersebut disesuaikan dengan kondisi yang ada di IKM Kerupuk Subur untuk mengukur kinerja rantai pasoknya, Tingkat kepentingan atribut kinerja diukur menggunakan metode Analytical Hierarchy Proses berdasar pembobotan dengan kuesoner subjektif dan Snorm De Boer berfungsi untuk menyamakan nilai matriks yang digunakan sebagai indikator yang diukur menggunakan model Supply Chain Operation References (SCOR). Sehingga dari hasil pengukuran tersebut dapat dianalisis proses bisnis dan metrik kinerja yang harus segera dilakukan perbaikan, dari hasil perhitungan diperoleh nilai kinerja IKM Kerupuk Subur sebesar 48.638, yang angka tersebut menunjukan bahwa secara keseluruhan IKM Kerupuk Subur berada dalam kategori marginal, dari 21 Key Porfermance Indicator terdapat 13 Key Performance Indicator yang termasuk didalam kategori merah.


2018 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
Author(s):  
Joko Hardono

Pengukuran kinerja Supply Chain PT. XYZ hanya melihat dari produktivitas perusahaan. Produktivitas hanya mampu mengukur kinerja proses internal, pada proses internal dalam satu hubungan rantai pasok. Perusahaan perlu merancang model pengukuran kinerja supply chain secara keseluruhan dan terintegrasi dalam suatu hubungan kausal, mulai dari pemasok, proses internal kepada pelanggan, untuk mengetahui efektivitas perusahaan rantai pasokan. balanced scorecard memenuhi perspektif yang diperlukan. Model balanced scorecard digunakan sebagai kerangka kerja untuk merancang Key Performance Indicator (KPI) dari kinerja supply chain PT. XYZ. KPI adalah desain berdasarkan 4 perspektif, yaitu: proses internal, pelanggan, pembelajaran dan pertumbuhan dan perspektif keuangan. Pembobotan untuk menentukan prioritas antara perspektif dan KPI dilakukan dengan menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil dari analisis dihasilkan 20 KPI. perspektif proses internal yang berisi 9 KPI dengan berat total 21,0%, perspektif pelanggan berisi 6 KPI dengan berat total 42,6%, Belajar dan perspektif pertumbuhan berisi 4 KPI dengan berat total 17,5%, perspektif Pemegang Saham mengandung 1 KPI dengan total berat 19,0. Kata kunci: Key Performance Indicator, Supply Chain, Balanced Scorecard, Analytical Hierarchy proceses


Author(s):  
Misra Hartati Hartati

PT. Asia Forestama Raya (AFR) adalah perusahaan yang memproduksi plywood (kayu lapis). Permasalahan yang sering dihadapi perusahaan antara lain, keterlambatan bahan baku, jumlah bahan baku yang tidak sesuai dengan permintaan, dan keterlambatan pengiriman produk. Dengan permasalahan yang terjadi di sepanjang aliran supply chain perlu dilakukan pengukuran kinerja aliran supply chain menggunakan metode Supply chain Operation Reference (SCOR). Pengukuran dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu identifikasi matrik SCOR, verifikasi Key Performance Indicator (KPI) dengan menyebarkan kuesioner indikator, perhitungan nilai normalisasi (skor), pembobotan KPI menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan menyebarkan kuesioner AHP. Nilai kinerja aliran supply chain yang didapatkan adalah 73,33 dengan kategori Good, dimana kinerja terendah terdapat pada proses source yaitu 69,29 dengan kategori Average.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document