scholarly journals Skin tears and risk factors assessment: a systematic review on evidence-based medicine

2017 ◽  
Vol 15 (1) ◽  
pp. 38-42 ◽  
Author(s):  
Raffaele Serra ◽  
Nicola Ielapi ◽  
Andrea Barbetta ◽  
Stefano de Franciscis
2014 ◽  
Vol 122 (10) ◽  
pp. 1028-1039 ◽  
Author(s):  
Paula I. Johnson ◽  
Patrice Sutton ◽  
Dylan S. Atchley ◽  
Erica Koustas ◽  
Juleen Lam ◽  
...  

2015 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 1-11 ◽  
Author(s):  
Morteza Ghojazadeh ◽  
Saber Azami-Aghdash ◽  
Fatemeh Pournaghi Azar ◽  
Mozhgan Fardid ◽  
Mohammad Mohseni ◽  
...  

2021 ◽  
Vol 16 (1) ◽  
pp. 58
Author(s):  
Muhammad Sobri Maulana ◽  
Nurfadhilah Al Adabiyah

Latar Belakang: Tuberculosis merupakan penyakit infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Tuberculosis merupakan  salah satu  diantara sepuluh  penyebab  utama kematian di  dunia. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa suplementasi vitamin D dapat meningkatkan aktivitas anti-mikrobial, mempercepat konversi sputum dan kultur, mengurangi inflamasi, meningkatkan clinical outcome, serta meningkatkan mediator untuk aktivitas anti-mikrobial. Meskipun demikian, masih terdapat perbedaan pendapat akan manfaat suplementasi vitamin D pada pasien tuberculosis paru.Tujuan: Mengevaluasi bukti yang ada sampai saat ini terkait manfaat suplementasi vitamin D terutama dalam mempercepat konversi sputum. Metode: Pencarian literatur dilakukan pada tiga databases terkemuka yakni PubMed, SCOPUS, dan Cochrane dengan kata kunci berupa “Tuberculosis”, “Vitamin D”, “Suplementation”, dan “Sputum Conversion” dengan seluruh kata yang berhubungan. Dari seleksi artikel berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusif didapatkan 1 systematic review oleh Jollifee D et al (2019) dan 1 clinical trial oleh Afzal A et al (2018), yang kemudian ditelaah berdasarkan aspek validity, importance, dan applicability menggunakan form telaah dari Oxford Center for Evidence Based Medicine. Hasil: Kedua artikel memenuhi kriteria validity, importance, dan applicability masing-masing. Dari segi efikasi, penelitian Jollifee D et al membuktikan bahwa pemberian suplementasi vitamin D tidak mempercepat konversi kultur sputum pada populasi umum (aHR 1.06, 95% CI 0.91-1.23; P=0.44; P for heterogeneity=0.84), namun mempercepat konversi kultur sputum pada populasi MDR-TB(aHR 13.44, 95% CI 2.96-60.90). Kedua studi membuktikan bahwa pemberian suplementasi vitamin D mampu mempercepat konversi apusan sputum namun konversi apusan sputum memiliki validitas yang lebih rendah sebagai marker prognosis untuk outcome suatu tatalaksana dibandingkan konversi kultur sputum. Kesimpulan: Pemberian suplementasi vitamin D tidak mempercepat konversi kultur sputum namun mempercepat konversi apusan sputum. Diperlukan penelitian lebih lanjut terkait manfaat suplementasi vitamin D pada percepatan konversi kultur sputum populasi MDR-TB.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document