A two-surface model describing ratchetting behaviors and transient hardening under nonproportional loading

1996 ◽  
Vol 12 (4) ◽  
pp. 368-376 ◽  
Author(s):  
Chen Xu ◽  
A. Abel
1999 ◽  
Vol 122 (1) ◽  
pp. 1-9 ◽  
Author(s):  
Takamoto Itoh ◽  
Xu Chen ◽  
Toshimitsu Nakagawa ◽  
Masao Sakane

This paper proposes a simple two-surface model for cyclic incremental plasticity based on combined Mroz and Ziegler kinematic hardening rules under nonproportional loading. The model has only seven material constants and a nonproportional factor which describes the degree of additional hardening. Cyclic loading experiments with fourteen strain paths were conducted using Type 304 stainless steel. The simulation has shown that the model was precise enough to calculate the stable cyclic stress-strain relationship under nonproportional loadings. [S0094-4289(00)00101-8]


1996 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 91-93 ◽  
Author(s):  
D. Roux ◽  
F. Nallet ◽  
C. Coulon ◽  
M. E. Cates

2018 ◽  
Vol 2 ◽  
pp. 535
Author(s):  
Maundri Prihanggo

<p>Saat ini, citra satelit resolusi sangat tinggi digunakan dalam berbagai macam aplikasi, terutama pemetaan skala besar. Sebelum dapat digunakan, citra satelit tersebut harus diorthorektifikasi terlebih dahulu. Data <em>Digital Surface Model </em>(DSM) dan <em>Ground Control Point</em> (GCP) adalah dua data utama yang diperlukan saat melakukan orthorektifikasi. Perbedaan data DSM yang digunakan akan menghasilkan perbedaan nilai ketelitian horizontal pada kedua citra tegak hasil orthorektifikasi. Pada penelitian ini digunakan dua jenis DSM yaitu SRTM dan Terrasar-X. Ketelitian vertikal dari SRTM adalah 90 m sedangkan ketelitian vertikal dari Terrasar-X adalah 12,5 m. Penelitian ini berlokasi di Wilayah Buli, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku. Terdapat tiga sensor citra satelit yang digunakan yaitu Pleiades, Quickbird dan Worldview-2 yang digunakan pada lokasi penelitian. Total GCP yang digunakan adalah 33 titik, tiap titiknya diukur dengan melakukan pengamatan geodetik dan memiliki ketelitian horizontal ≤15 cm dan ketelitian vertikal ≤30 cm. Ketelitian horizontal dari citra tegak satelit resolusi sangat tinggi diperoleh dengan melakukan uji terhadap Independent Check Point (ICP). Total ICP yang digunakan adalah 12 titik, tiap titik ICP diukur dengan metode dan standar yang sama dengan titik GCP. Ketelitian horizontal dengan Circular Error (CE 90) dari citra tegak satelit menggunakan data SRTM adalah 18,856 m sedangkan ketelitian horizontal dengan Circular Error (CE 90) dari citra tegak satelit menggunakan data Terrasar-X adalah 2.168 m . Hasil dari penelitian ini membuktikan bahwa ketelitian vertikal data DSM yang digunakan memberikan pengaruh pada citra tegak satelit hasil orthorektifikasi tersebut. Mengacu pada Peraturan Kepala BIG nomor 15 tahun 2014, citra tegak satelit hasil orthorektifikasi menggunakan data Terrasar-X sebagai DSM memenuhi ketelitian horizontal peta dasar kelas 3 skala 1:5.000 sedangkan citra tegak satelit hasil orthorektifikasi menggunakan data SRTM sebagai DSM tidak dapat memenuhi ketelitian horizontal peta dasar skala besar.</p><p><strong>Kata kunci:</strong> orthorektifikasi, DSM, ketelitian horizontal</p>


2021 ◽  
Author(s):  
Shaka Chu ◽  
Daniel Linton ◽  
Dries Verstraete ◽  
Ben Thornber

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document