scholarly journals Meningkatkan Hasil Belajar Tema Organ Gerak Hewan dan Manusia Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Siswa Kelas V SD Inpres Ampiri Kabupaten Barru

2021 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 60-68
Author(s):  
Ihade Ihade
Keyword(s):  

Tes diagnosis pada pembelajaran tema satu organ gerak hewan semester satu tahun pelajaran 2019-2020, menunjukkan hanya 67,64% kategori rendah, dengan tuntas belajar 6 orang dengan persentase 54,5% dari jumlah peserta didik 11 orang, tidak mencapai kualitas rerata minimal 70 atau minimal cukup dengan tuntas belajar klasikal minimal 80% yang mencapai nilai KKM 70. Kemampuan guru hanya mencapai 58,33% dan aktivitas belajar peserta didik hanya mencapai 54,55%, tidak mencapai standar keberhasilan tindakan lebih besar 62,5% atau minimal baik. Solusi penyelesaian masalah, melaksanakan model pembelajaran Discovery Learning pada pembelajaran tema organ gerak hewan dan manusia. Penelitian tindakan kelas ini menggunakan model dari Kemmis & Taggart (dalam Sugiarti, 1997: 6), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan), dan reflection (refleksi). Subyek penelitian ini adalah 12, lima orang laki-laki, tujuh orang berjenis perempuan. Data kualitatif dikumpul melalui lembar observasi aktivitas peserta didik dan kemampuan guru, sedang data kuantitatif dikumpul melalui tes hasil tindakan tiap akhir siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Hasil belajar peserta didik meningkat skor rata-rata siklus tiga adalah 80,45 kategori baik dengan tuntas belajar 9 orang dengan 81,8% dari total 11 orang peserta didik, dibandingkan rerata skor siklus dua 68,73 kategori kurang, meningkat secara positif selisih 11,72% dan kategori baik siklus tiga dari kurang siklus dua. (2) Kemampuan guru meningkat skor persentase selisih 19,44% dan kategori baik siklus tiga dari cukup siklus dua. (3) Aktivitas peserta didik meningkat skor persentase selisih 20,45% dan kategori baik siklus tiga dari cukup siklus dua.

2019 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
Author(s):  
Anidar Rahman Anidar Rahman
Keyword(s):  

<p>Abstrak<br />Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Peudada selama tiga bulan sejak bulan Februari sampai April 2018 bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA-1 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi perilaku jujur dan perintah berbakti kepada orang tua dan guru melalui penerapan model discovery learning pada SMA Negeri 1 Peudada. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang terdiri atas 2 siklus. Subyek penelitian adalah siswa-siswi Kelas XII IPA-1 SMA Negeri 1 Peudada tahun pelajaran 2017/2018 sebanyak 22 siswa. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif komparatif dengan membandingkan kondisi awal dengan hasil-hasil yang dicapai pada setiap siklus, dan analisis deskriptif kualitatif hasil observasi dengan membandingkan hasil observasi dan refleksi pada siklus I dan siklus 2. Melalui penerapan model discovery learning dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi Perilaku jujur dan perintah berbakti kepada orang tua dan guru bagi siswa kelas XII IPA-1 pada SMA Negeri 1 Peudada diperoleh hasil tes pada siklus I dengan persentase ketuntasan sebesar 68,2% nilai rata-rata kelas sebesar 73 dan meningkat pada hasil tes siklus II sebesar 90,9% dengan nilai rata-rata kelas 83,2. Pada kedua siklus ini terjadi perubahan aktifitas dan perolehan nilai yang signifikan bila dibandingkan dengan pra siklus dengan ketuntasan belajar yang hanya mencapai 40,9% dan nilai rata-rata adalah 63,2. Dengan demikian melalui penerapan model discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XII IPA-1 mata pelajaran Pendidikan Agama Islam materi Perilaku jujur dan perintah berbakti kepada orang tua dan guru pada SMA Negeri 1 Peudada. Selain itu, hasil pengamatan pada proses belajar mengajar memperlihatkan perubahan siswa lebih aktif pada siklus I dan siklus II. <br />Kata Kunci : Model, Discovery learning, Hasil Belajar, Perilaku</p>


Author(s):  
Ni Putu Dian Permata Prasetyaningrum

Surabaya Shipping Polytechnic emphasizes on certain areas of expertise that Taruna must possess. This is the basis after graduating from shipping polytechnics, cadets must have expertise and skills. The purpose of this study was to study the effect of inquiry, discovery learning, and creativity levels on the ability to write descriptive essays on nautical and technical cadets at Surabaya Shipping Polytechnic. This type of research is research. This research uses quantitative methods using experiments. The location used in this research is Surabaya Shipping Polytechnic. The subjects in this study were the cadets of the Nautika A, Nautika B, Teknika A, and Teknika B. classes. Based on the results of the research and discussion, the following conclusions are obtained: There are those that can be solved looking for description essays in the cadets. learning discovery method. The test results show better investigation methods than the discovery of learning, There is a difference in the ability to write a description essay about cadets who have a high level of creativity with cadets who have a low level of creativity, the test results show better who have a high level of creativity, there are related with learning methods and descriptions of the ability to write essay descriptions, the test results show learning methods and creativity descriptions of the ability to write essay descriptions.


Jurnal Elemen ◽  
2018 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 145
Author(s):  
Dwi Nur Fitriyah ◽  
Handoko Santoso ◽  
Nurain Suryadinata
Keyword(s):  

Edupedia ◽  
2019 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
pp. 13-21
Author(s):  
Subyanto ◽  
Kurniyatul Faizah

In Natural Sciences (IPA) there are three aspects of learning, they arenatural sciences as product, process, and strengthening attitudes. This natural sciences learning classification found relevance with Islamic education learning in the aspect of fiqh, theseare fiqh as a product and fiqh as a process. The types of humanistlearning arelearning other than as a product, because this learning is not just transfer of knowledge without rationality, so that the lesson is not able to take part in the real life of humanity. In the implementation, humanist learning can be carried out using several scientific approaches such as problem based learning, discovery learning, social interaction, role playing, team research, and other forms that are oriented to students involvementdirectly.


Edupedia ◽  
2019 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 17-27
Author(s):  
Dian Noer Asyari

Discovery learning is a learning situation on wich the principle content of what is tobe learned is not give but must be independly discovered by student. The effectiveness of guided discovery learning model to improve students’ critical thinking skills uses 6 indicators, are: formulating problems, formulating hypotheses, analyzing date, providing alternatives, summing up, communicating and applying principle. The guided discovery learning model was included in the effective category in terms of: (a) Improvement (N-gain) of students’ critical thinking skills by 0.65 with moderate criteria and (b) Students respond positively to learning using guided discovery learning model and its learning tools on implementation.


2020 ◽  
Vol 5 (3) ◽  
pp. 206
Author(s):  
Nurjana Nurjana ◽  
Muhamad Yuris ◽  
Luh Sukariasih ◽  
Nilawati Ute

Penelitian ini dilatarbelakangi karena masih rendahnya hasil belajar kognitif yang diperoleh peserta didik kelas VIII SMPN 2 Kulisusu.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif peserta didik materi usaha dan pesawat sederhana kelas VIII SMPN 2 Kulisusu melalui model pembelajaran inkuiri terbimbing dan model pembelajaran discovery learning. Populasi penelitian ini adalah peserta didik kelas VIII SMPN 2 Kulisusu semester ganjil tahun pelajaran 2018/2019 yang berjumlah 112 peserta didik. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan teknik simple random sampling sehingga diperoleh dua kelas  yaitu kelas eksperimen (VIIIA) dengan model pembelajaran inkuiri terbimbing dan kelas  kontrol (VIIIB) dengan model pembelajaran discovery learning. Teknik pengumpulan data hasil belajar kognitif menggunakan tes objektif pilihan ganda.  Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial. Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan diperoleh kesimpulan: 1) Gambaran pretest hasil belajar kognitif peserta didik kelas eksperimen pada materi Usaha dan Pesawat Sederhana adalah rata-rata 34,23 dan standar deviasi 8,79, sedangkan pada kelas kontrol adalah rata-rata 34,26 dan standar deviasi14,12. Gambaran posttest hasil belajar kognitif peserta didik kelas eksperimen pada materi Usaha dan Pesawat Sederhana adalah rata-rata 80,76 dan standar deviasi 6,59, sedangkan pada kelas kontrol adalah rata-rata 70,56 dan standar deviasi 9,64; 2) Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai rata-rata pretest hasil belajar kognitif peserta didik antara kelas eksperimen dan kelas kontrol; 3) Nilai rata-rata posttest hasil belajar kognitif peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi secara signifikan daripada nilai rata-rata posttest hasil belajar kognitif peserta didik kelas kontrol; 4) Nilai rata-rata N-gain hasil belajar kognitif peserta didik kelas eksperimen lebih tinggi secara signifikan daripada nilai rata-rata N-gain hasil belajar kognitif peserta didik kelas kontrol.


2019 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
ZAENOL FAJRI
Keyword(s):  

Pendidikan menciptakan SDM yang berkualitas dipengaruhi oleh siswa, sarana dan prasarana, bahan ajar, dan guru. Guru harus memiliki keterampilan dalam menge lola proses belajar mengaja yang baik dan benar sesuai dengan karakteristik peserta didik, bahan ajar, sarana dan prasarana serta lingkungan belajar siswa. Salah satu keterampilan guru dalam mengajar adalah pemilihan model pembelajaran. Penerapan model pembelajaran yang baik dan benar apabila peserta didik dapat berinteraksi secara maksimal untuk menggali dan mengidentifikasi informasi, sehingga dapat menemukan pengetahuannya sendiri. Pembelajaran yang baik dan seperti ini disebut pembelajaran penemuan (Discovery Learning). Discovery learning merupakan model pembelajaran yang cenderung meminta siswa untuk melakukan observasi, eksperimen, atau tindakan ilmiah hingga mendapatkan kesimpulan dari hasil tindakan ilmiah tersebut. Maka dengan adanya discovery learning, peserta didik dapat belajar dengan baik dan lancar, sehingga dapat meningkatkan prestasi/ hasil belajar siswa.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document