scholarly journals L’ÉCRIN DE L’IMPÉRATRICE EUGÉNIE

2021 ◽  
pp. 323-335
Author(s):  
Christophe Vachaudez

Depuis quelque temps, Napoléon III cherchait à contracter un mariage afin de pérenniser la dynastie. Le 29 janvier 1853, il épouse Eugénie-Marie de Montijo, comtesse de Teba, une aristocrate espagnole parfaitement intégrée à la bonne société parisienne. Á cette occasion, l’empereur souhaite, comme son parent Napoléon Bonaparte, entourer la fonction impériale d’un certain lustre. Dans cette optique mais aussi parce qu’il s’agit d’un mariage d’amour, il se révèle particu-lièrement généreux.

2019 ◽  
Vol 74 (2) ◽  
pp. 199-223
Author(s):  
Matthew Heitzman

Matthew Heitzman, “‘He Resembled the Great Emperor’: Charlotte Brontë, Villette, and the Rise of Napoleon III” (pp. 199–223) This essay offers a local historical context for Charlotte Brontë’s Villette (1853), reading it in relation to the rise of Napoleon III as Emperor of France. Napoleon III completed his ascendancy just as Brontë was completing her novel. His rise prompted a mixture of anxiety and optimism in the English press, as English political commentators were uncertain if this new Napoleon’s reign would mark a return to the Anglo-French nationalist strife of the first Napoleonic period or if his rule would mark a détente and productive path forward for Anglo-French relations. I argue that this ambiguity is coded into Brontë’s characterization of Monsieur Paul Emanuel, and that we can read Monsieur Paul’s romance with Lucy Snowe as a political allegory—Brontë’s attempt to decipher what Napoleon III’s rapid rise meant for Anglo-French relations. I suggest in this essay that Brontë’s interest in the contemporary Anglo-French political context was a product of her fascination with Napoleon Bonaparte, specifically his rivalry with the Duke of Wellington, and that understanding her interest in the first Napoleonic period can help us to decipher why her depiction of Anglo-French nationalist interaction in Villette is totally at odds with her other novels, where French nationalism is typically a trait that needs to be effaced.


2020 ◽  
Author(s):  
Andryan Andryan

Lembaga Kepresidenan (Presidential institution) di Indonesia dapat disandingkan dengan lingkungan jabatan (ambt) dan pejabat (ambtsdrager). Sedangkan, dalam bahasa asing untuk lingkungan jabatan digunakan istilah Presidency, dan sebagai pejabat digunakan istilah President. Jabatan presiden dikenal di Eropa ketika Prancis pada era Republik Kedua Prancis (1848-1851) menunjuk Louis Napoleon Bonaparte sebagai Presiden. Namun, setahun kemudia diubah statusnya menjadi Kaisar Napoleon III (1852) hingga Prancis ditaklukkan Jerman (1879) dan kemudian kembali menjadi Lembaga Kepresidenan pada era Republik Ketiga Prancis (1875-1940). Lembaga Kepresidenan juga secara resmi dikenal oleh masyarakat Internasional ketika Amerika memilih George Washington sebagai Presiden AS 1789 sampai 1797.Di Indonesia, sejak awal kemerdekaan, Lembaga Kepresidenan menjadi satu-satunya lembaga Negara yang pembentukannya tidak diatur dengan undang-undang tertentu dan hanya dalam batang tubuh Undang-undang Dasar sebelum terjadinya Amandemen terhadap Undang-undang Dasar Tahun 1945. Oleh karena itu, Lembaga Kepresidenan lazim disebut sebagai masa “executive heavy”. Setelah amandemen atas Undang-undang Dasar Tahun 1945, mulai terjadi perubahan yang sangat mendasar terkait dengan lembaga kepresidenan, yang lazim disebut sebagai pergeseran kekuasaan eksekutif yang “executive heavy” menjadi “legislative heavy”.Kedudukan, tugas, dan wewenangnya, Lembaga Kepresidenan dipimpin oleh seorang Presiden dan seorang Wakil Presiden. Pada masa sesudah amandemen UUD 1945, terdapat pembedaan kedudukannya (dalam hal ini kedudukan Presiden), Presiden berkedudukan sebagai Kepala Negara dan sebagai Kepala Pemerintahan. Struktur UUD 1945 memberikan pengaturan yang dominan terhadap Lembaga Kepresidenan, tidak hanya jumlah pasal maupun kekuasaannya. UUD 1945 memberikan kedudukan yang kuat kepada Lembaga Kepresidenan, baik dalam kekuasaan eksekutif (kekuasaan menjalankan pemerintahan), legislatif (kekuasaan membentuk peraturan perundang- undangan), serta yustisial (kekuasaan yang berkaitan dengan penegakan hukum (grasi, amnesti, dan abolisi).


2014 ◽  
Vol 115 (1) ◽  
pp. 15-23
Author(s):  
Jean Balcou
Keyword(s):  

2014 ◽  
Author(s):  
Heiner Wittmann
Keyword(s):  

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document