scholarly journals PENERAPAN METODE CERTAINTY FACTOR PADA SISTEM PAKAR DALAM MENDIAGNOSA PENYAKIT IKAN BAWAL

2019 ◽  
Vol 5 (02) ◽  
pp. 1-8
Author(s):  
Lilis Anggraini ◽  
Fitria ,

Penyakit merupakan salah satu faktor kendala dalam kegiatan budidaya yang disebabkan oleh ketidakseimbangan interaksi antara faktor lingkungan, inang, dan agen penyakit. Faktor lingkungan dapat berperan sebagai pemicu terjadinya stress bagi inang akibat perubahan fisik, kimia, dan biologis lingkungan tersebut sehingga daya tahan tubuh menurun dan menjadi rentan terhadap serangan penyakit. Kemudian minimnya pengetahuan tentang penyakit ikan bawal serta terbatasnya sumber informasi kepada para Pembudidaya ikan bawal terhadap beberapa penyakit yang terserang pada ikan bawal sehingga jika ada ikan yang terserang penyakit akan terlambat di obati dan terjadi kematian pada ikan bawal. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk merancang sistem pakar yang dapat membantu para pembudidaya dalam mendiagnosa penyakit Ikan Bawal menggunakan Metode Certainty Factor, dengan memperhatikan gejala – gejala yang dialami oleh ikan bawal. Penyakit yang akan dibahas terdiri dari 7 jenis, yaitu : Lernena sp., Aeromonas hydrophila, Trichodina sp., Flexibacter sp., Dactylogyrus sp., Ichthyophthirius multifihlis, Argulus sp. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Metode Certainty Factor merupakan metode yang digunakan dalam mendiagnosa penyakit ikan Bawal dengan gejala – gejala yang sudah diberikan nilai gejala, Dimana nilai gejala didapatkan dari pakar. Berdasarkan hasil uji pretest dan posttest hasil keakurasian adalah sebesar 100%..  Kata Kunci : Sistem Pakar, Certainty Factor, Ikan Bawal.

1981 ◽  
Vol 117 (4) ◽  
pp. 244-244 ◽  
Author(s):  
D. F. Young
Keyword(s):  

2018 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 422-429 ◽  
Author(s):  
Yuhandri Yuhandri
Keyword(s):  

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membangun aplikasi Sistem Pakar untuk diagnosis penyakit Osteoporosis. Penelitian ini menggunakan metode Certainty Factor karena dalam metode ini terdapat suatu nilai  berupa nilai kepercayaan (Measure Of Belief) dan nilai ketidakpercayaan (Measure Of Disabelief) pada suatu gejala, dimana nantinya nilai tersebut dapat menghasilkan nilai CF (Certainty Factor) sebagai tolak ukur, semakin besar nilai CF (Certainty Factor) yang diperoleh maka semakin besar peluang penyakit itu akan menyerang kita, dimana hasilnya ditampilkan dalam bentuk kondisi pengguna yang terkait dengan penyakit Osteoporosis. Hasil penelitian ini juga dilengkapi dengan solusi penyakit dan perawatan yang ditampilkan dalam bentuk website dengan menggunakan pemrograman PHP dan juga berguna untuk  melakukan diagnosa awal terhadap suatu penyakit yang dirasakan oleh user, sehingga membantu user dalam mengenali gejala-gejala penyakit Osteoporosis yang mereka rasakan, serta dengan adanya sistem pakar ini dapat dijadikan solusi alternatif bagi masyarakat untuk melakukan diagnosa dini terhadap gejala-gejala penyakit  Osteoporosis yang mereka rasakan sebelum  melakukan konsultasi langsung dengan pakar dalam hal ini dokter spesialis tulang. Sistem ini mampu menyimpan representasi pengetahuan pakar berdasarkan nilai kepercayaan (certainty factor) dengan keakuratan sebesar 80%.


Author(s):  
Alan Bittencourt da Silva ◽  
◽  
Rodrigo Schrage Lins ◽  
Pedro Fernandez Del Peloso ◽  
Guilherme Brenande Alves Faria
Keyword(s):  

2018 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 41-47
Author(s):  
Ricky Surya ◽  
Dennis Gunawan

Tuberculosis is an infectious disease caused by mycobacterium tuberculosis. It can affect some parts of the body: lungs, lymph nodes, intestines, kidneys, endometrium, bones, and brain. According to the survey of tuberculosis prevalence conducted by Republic of Indonesia Ministry of Health in 2013-2014, Indonesia was the second country in the world with the most case of tuberculosis. It makes Indonesia become a country with emergency in lungs tuberculosis. An expert system for lungs tuberculosis detection is built to help people detecting the possibility of suffering from lungs tuberculosis. Therefore, it is hoped that the lungs tuberculosis patient can have early treatment. Certainty factor is used to solve the uncertainty problem delivered by the doctor when examining the patient. Thus, certainty factor is an appropriate method to be used in the expert system for detecting certain disease. This method has been correctly implemented, proved by comparing system detection result to manual calculation result. The expert system has 81.25% accuracy, 83.49% success using DeLone and McLean model, and a cronbach alpha of 0.82 which indicates a good reliability based on the indicators used in the questionnaire. Index Terms— Certainty Factor, Disease Detection, Expert System, Pulmonary Tuberculosis, Situsparu


Author(s):  
Arne A Ratulangi ◽  
Reiny Tumbol ◽  
Hengky Manoppo ◽  
Henneke Pangkey

This study aims to apply vaccination against bacterial disease. The purpose of vaccination is to trigger the immune respone both non-specific and specific of fish against bacteria Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila. The vaccination for fish with different ages: 2-3 weeks and 5 weeks were done using immersion method. The fish were re-vaccinated (booster) after two weeks of the first vaccination. The survival rate was < 50 % for juveniles 2-3 weeks and > 50% for juveniles 5 weeks. Survival rate for juveniles 5 weeks was higher than juveniles of 2-3 weeks. This shows that organs of juveniles of 5 weeks were more complete than the 2-3 weeks juveniles. The age of fish is one of the important factors for successfully vaccination. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penerapan vaksinasi terhadap penyakit bakterial. Vaksinasi ditujukan untuk merangsang respon kekebalan non- spesifik dan spesifik pada tubuh ikan terhadap penyakit Motile Aeromonas Septicaemia (MAS) yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Vaksin diberikan pada benih ikan nila yang berbeda umur yaitu 2-3 minggu dan 5 minggu dengan menggunakan metode perendaman. Ikan divaksinasi ulang (booster) setelah 2 (dua) minggu dari vaksinasi yang pertama. Prosentase kelangsungan hidup < 50 % untuk benih umur 2-3 minggu dan > 50% untuk benih umur 5 minggu. Jumlah kematian benih umur 2-3 minggu lebih tinggi dari 5 minggu. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi organ benih umur 5 minggu telah lebih lengkap dari pada benih umur 2-3 minggu. Umur ikan merupakan salah satu faktor penting penentu keberhasilan suatu kegiatan vaksinasi.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document