scholarly journals EVALUASI KETEPATAN PEMILIHAN ANTIBIOTIK SEFTRIAKSON PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSI SULTAN AGUNG SEMARANG

2021 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 86-94
Author(s):  
Dian Oktianti

Latar Belakang : Seftriakson adalah antibiotik generasi tiga yang berasal dari golongan sefalosporin dan memiliki efek antibakterial dengan spektrum luas. Intensitas penggunaan antibiotik yang relatif tinggi menimbulkan berbagai permasalahan bagi kesehatan terutama resistensi bakteri terhadap antibiotik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kejadian Drug Related Problem berdasarkan indikator pemilihan obat pada pasien rawat inap di RSI Sultan Agung Semarang yang menggunakan antibiotik seftriakson Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif non eksperimental, dan pengambilan data secara retrospektif. Pemilihan pasien dilakukan secara purposive sampling, sampel yang diambil sebanyak 100 pasien Hasil: Ketepatan pemilihan obat berdasarkan PCNE sebanyak 8% pasien tidak tepat pemilihan obat dan 92% tepat pemilihan obat. Pemilihan obat dengan parameter sesuai pedoman/formularium 5% tidak tepat, tidak ditemukan obat yang dikontraindikasikan sehingga ketepatan pemilihan 100%, kombinasi obat-obatan yang tidak tepat sebanyak 3%, duplikasi obat pada kelompok terapeutik yang tidak tepat sebanyak 1%. Kesimpulan : Diagnosa terbanyak yang mendapatkan antibiotic seftriakson adalah demam tifoid. Ketepatan pemilihan obat sebanyak 92% pasien tepat pemilihan antibiotik seftriakson.

2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Zulkarni R

Pengobatan sendiri (swamedikasi) upaya seseorang mengobati gejala sakit atau penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Pengobatan sendiri dapat menjadi sumber masalah terkait obat (Drug related Problem) akibat terbatasnya pengetahuan mengenai obat dan penggunaannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap rasionalitas swamedikasi. Penelitian ini menggunaan metode cross sectional. Sebanyak 193 responden dari tiga apotek yang terlibat dalam penelitian ini. Responden berusia 23- 60 tahun keatas dipilih dengan metode purposive sampling. Pengambilan data dilakukan melalui pengisian kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Data dianalisis dengan uji Chi-square menggunakan Statistical Product and Server Solution (SPSS) versi 23. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan pasien 43.0% tergolong baik, 38.3% tergolong sedang, 18.7% tergolong buruk. Penggunaan obat swamedikasi 77.2% rasional dan 22.8% tidak rasional. Berdasarkan hasil Chi-square, tingkat pengetahuan dipengaruhi usia, jenis kelamin dan pekerjaan. Sedangkan rasionalitas swamedikasi dipengaruhi oleh pendidikan terakhir. Tidak terdapat hubungan terhadap pengetahuan dan rasionalitas swamedikasi. Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa mayoritas tingkat pengetahuan pasien tergolong baik. Penggunaan obat swamedikasi yang tidak rasional mencapai 22.8%.


2021 ◽  
Vol 2 (3) ◽  
pp. 350-361
Author(s):  
Rini Irawati ◽  
Amelia Rumi ◽  
Firdawati Amir Parumpu

Swamedikasi merupakan usaha seseorang dalam menolong  dirinya sendiri berupa mengobati dirinya sendiri. Dalam menjalankannya, swamedikasi bisa menjadi masalah terkait obat (Drug related problem) karena pengetahuan yang terbatas mengenai obat dan penggunaannya. Analgesik merupakan obat yang berkhasiat untuk mengurangi atau menghilangkan rasa nyeri atau obat-obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit tetapi tidak menghilangkan kesadaran. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui bagaimana gambaran tingkat pengetahuan swamedikasi obat analgesik pada mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan Universitas Tadulako di Kota Palu. Penelitian ini menggunakan metode non eksperimental (observasional) dan bersifat cross sectional, dengan metode survei menggunakan kuesioner yang disebar melalului google form dengan jumlah mahasiswa kesehatan 349 responden dan mahasiswa Non kesehatan 396 responden. Teknik dalam pengambilan sampel yang digunakan pada penelitian ini yaitu purposive sampling. Hasil pengolahan data didapatkan hasil penelitian pengetahuan mahasiswa Kesehatan pada kategori baik sebesar 47,28 %, %, kategori cukup sebesar 49,28 %  dan kategori kurang 3,44 %. Sedangkan pengatahuan mahasiswa non Kesehatan masuk kedalam kategori baik sebesar 16,16 %, ketegori cukup sebanyak 72,98 % dan kategori kurang sebanyak 10,86 %. Hasil uji mann-whitney diperoleh nilai signifikansi < 0,05 (0,00 < 0,05) maka hasil tersebut menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan mahasiswa Kesehatan dan Non Kesehatan.  Kesimpulan mahasiswa kesehatan dan non kesehatan universitas tadulako memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan mahasiswa Kesehatan memiliki pengetahuan yang lebih baik dibandingkan mahasiswa non Kesehatan


2019 ◽  
pp. 30-40
Author(s):  
Ruri Renggani Sandra ◽  
Della Midi Wardhani ◽  
Woro Supadmi

   Autism spectrum disorders (ASD) adalah gangguan perkembangan saraf dengan penyebab yang kompleks dari banyak fakor Penggunaan obat pada pasien autis harus dimonitoring untuk mencegah terjadinya drug related problems. Intervensi farmasis dengan mengidentifikasi kejadian drug related problem adalah kegiatan pelayanan asuhan kefarmasian untuk meningkatkan keberhasilan terapi. Penelitian ini adalah observasional dengan pengumpulan data secara retrospektif berdasarkan data rekam medik. Evaluasi kejadian drug related problems meliputi indikasi yang tidak diterapi, terapi tanpa indikasi, pemilihan obat yang tidak tepat, overdosis, under dosis, adverse drug reactions dan interaksi obat. Literatur yang digunakan sebagai acuan adalah Drug Information Handbook, 18thed, Stockley Drug Interaction, Drugs Interaction Facts 2001, dan Pharmacotherapy A Pathophysiologic Approach 2005 dan jurnal yang relevan.   Hasil penelitian diperoleh pasien dengan jenis kelamin laki-laki 20 pasien (77%), perempuan 6 pasien (23%). Usia antara 6-11 tahun yaitu 15 pasien (58%), 1-5 tahun terdapat 9 pasien (34%), usia <1 tahun dan 12-17 tahun masing-masing sebanyak 1 pasien (4%). Penyakit penyerta ISPA merupakan kasus yang paling banyak terjadi, terbanyak kedua adalah epilepsi dan gastroenteritis akut (GEA). Kejadian DRPs Indikasi tidak diterapi 9%, Terapi tanpa indikasi 9%, Pemilihan obat tidak tepat 9%, Over dosis 31%, Under dosis 33% dan interaksi obat 9%.   Terdapat 24 pasien ( 92,3%) yang mengalami DRPs potensial dan 2 pasien (7,7%) yang tidak mengalami. Kriteria DRPs dengan persentase tertinggi adalah under dosis sebanyak 33% dan over dosis sebanyak 31%.


WARTA FARMASI ◽  
2017 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 37-49
Author(s):  
Musdalipah Musdalipah ◽  
Eny Nurhikma ◽  
Sartika Sartika

ABSTRAK Drug Related Problem (DRP) atau masalah terkait obat adalah bagian dari asuhan kefarmasian (parmaceutical care) yang menggambarkan suatu keadaan, dimana profesional kesehatan (apoteker) menilai adanya ketidaksesuaian pengobatan dalam mencapai terapi yang sesungguhnya. Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi DRPs penderita ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) di Instalasi Farmasi Rumah Sakit kota Kendari dengan kategori polifarmasi, interaksi obat dan interval dosis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan Cross Sectional, sampel dalam penelitian ini adalah resep pasien pediatrik yang menderita ISPA. Pengambilan sampel menggunakan metode acak sederhana. Data diolah secara deskriptif dan di jabarkan dalam bentuk narasi. Hasil penelitian ini menunjukkan identifikasi DRPs (Drug Related Problems) dari 30 pasien penderita ISPA di temukan 11 (36,66%) pasien (43,33%) mengalami DRPs kategori polifarmasi, dan 4 pasien (13,33%) mengalami DRPs kategori interval dosis dan tidak di temukan DPRs kategori interaksi obat. Kata Kunci     : DRPs, Peresepan, ISPA, Pediatrik   ABSTRACT Drug Related Problem (DRP) is a part of pharmaceutical care that describes a situation in which the health professional (pharmacist) assesses a treatment discrepancy in achieving actual therapy. The purpose of this research was identification patient of ISPA (Acute Respiratory Infection) at Pharmacy Installation of Kendari Hospital with Polifarmacy category, drug interaction and dose interval. This research uses descriptive method with Cross Sectional approach, the sample in this research is recipe of pediatric patient suffering from ARI. Sampling using simple random method. Data is processed descriptively and described in the form of narration. The results of this study indicate that based on the identification of DRPs (Drug Related Problems) it can be concluded that from 30 patients with respiratory infection found 11 patients (36.66%) experienced DRPs polifarmation category, and 4 patients (13.33%) experienced DRPs category interval Dose and not found DPRs drug interaction category. Keywords : DRPs, Prescribing, ISPA, Child


2008 ◽  
Vol 30 (6) ◽  
pp. 777-786 ◽  
Author(s):  
Jean-Marc Krähenbühl ◽  
Bertha Kremer ◽  
Bertrand Guignard ◽  
Olivier Bugnon

Author(s):  
Olatz Urbina ◽  
Olivia Ferrández ◽  
Sònia Luque ◽  
Santiago Grau ◽  
Sergi Mojal ◽  
...  

2004 ◽  
Vol 38 (5) ◽  
pp. 859-867 ◽  
Author(s):  
JW Foppe van Mil ◽  
LO Tommy Westerlund ◽  
Kurt E Hersberger ◽  
Marion A Schaefer

2021 ◽  
Author(s):  
bezie Kebede ◽  
abinet abebe

Abstract Background: Bacterial meningitis is considered a medical emergency and it is a life-threatening infection that requires immediate treatment. However, even with an early diagnostic approach and adequate treatment with effective antibiotics, death and different complications may occur.Objective: This study aimed to assess drug related problems and its association on bacterial meningitis related complication.Method: A prospective hospital-based observational study was conducted at the pediatric ward of Hiwot Fana Specialized teaching hospital, Harar. This study was conducted longitudinally for consecutive one year from December 30/2019-Juanuary 1/2021 admitted to pediatrics ward. All pediatrics admitted with the diagnosis of bacterial meningitis and fulfilled the inclusion criteria. To identify independent predictors of bacterial meningitis related complication, binary logistic regression model were used using STATA, version 14.2. Stastical significance was declared at p<0.05Result: After 1 year follow up, 384 children were included in this study with a response rate of 98.1%. Males(55.73%) outnumbered. The mean age and cerebrospinal fluid protein were 5.01±0.19 and 60.5±4.53 respectively. Nearly half of the child had co-morbidity in addition to admission diagnosis, meningitis. Two hundred twenty four(58.33%) patients exposed to at least one type of drug related problem. One hundred twenty one (31.51%) children were developed bacterial meningitis related complications. Drug related problem(AOR=6.26, 95%CI: 3.58-10.93), cerebrospinal fluid protein(AOR=9.38, 95%CI: 9.81.9-96), age(AOR=0.01, 95%CI: 0.13-0.19), duration of illness(AOR=) and co-morbidity(AOR=13.18, 95%CI: 1.81-5.6) were absolutely associated with the occurrence of complication. Conclusion: Drug related problem and associated complications were substantial among children admitted with meningitis. This study identified significant association between drug related problem and complication. Health professional shall prevent drug related problem to prevent associated complication.


Author(s):  
Lamtiar Parulian Parulian ◽  
Ening Listyanti ◽  
Anita Kumala Hati ◽  
Istianatus Sunnah

Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang umum di negara berkembang. Riskesdas tahun 2013 menyatakan bahwa prevalensi hipertensi secara  umum diindonesia sebesar 26,5% dengan proporsi  serbesar berada di Jawa Tengah yaitu 57,89%. Polifarmasi secara signifikan bisa meningkatkan resiko interaksi obat dimana interaksi obat merupakan salah satu faktor penting dalam drug related problem yang dapat mempengaruhi outcome terapi pasien. Interaksi obat merupakan satu dari delapan kategori masalah terkait obat (drug-related problem) yang dapat mempengaruhi outcome klinis pasien, dengan meningkatnya kompleksitas obat-obat yang digunakan dalam pengobatan saat ini dan kecenderungan terjadinya praktik polifarmasi, maka kemungkinan terjadinya interaksi obat semakin besar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan interaksi obat dalam resep polifarmasi pada pasien yang mendapat terapi obat antihipertensi di instalasi farmasi RSP dr. Ario Wirawan Salatiga. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif dengan menggunakan  resep pasien hipertensi rawat jalan di Rumah Sakit Paru Ario Wirawan Salatiga periode Januari-Maret 2019  sebanyak 72 sampel yang termasuk ke dalam kriteria inklusi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan Drug Interaction Facts dan di analisis dengan Spearman test. Diperoleh data bahwa jumlah interaksi obat-obat yang terjadi (51,39%). Pola mekanisme yang terbanyak adalah farmakokinetik (53,97%) dengan tingkat keparahan yang terbanyak adalah minor (42,86%). Hasil menunjukkan adanya korelasi antara jumlah obat dengan kejadian interaksi (r=0,986, p=000) adanya hubungan yang sangat signifikan.Kata kunci : Interaksi Obat, polifarmasi, terapi obat hipertensi.Hypertension is a common problem in developing countries. Based on the basic health research  in 2013, the prevalence of hypertension in Indonesia was 26.5% with a large proportion in Central Java at 57.89%. Polypharmacy can significantly increase the risk of drug interactions where drug interactions are an important factor in drug related problems that can affect the outcome of patient therapy. Drug interaction is one of eight categories of drug-related problems that can affect a patient's clinical outcome. Increasing complexity of the drugs used in current treatment will raise the tendency for polypharmacy to occur, resulting higher chance for the drug interaction possibility.This study is aimed to find relationship of drug interactions with polypharmacy prescriptions by patients receiving antihypertensive drug therapy in Dr. Ario Wirawan Hospital. This study was conducted retrospectively using the outpatient prescription that entered the inclusion criteria at Dr. Ario Wirawan Hospital Salatiga. A total of 72 samples that included in the inclusion criteria. Data were analyzed descriptively using Drug Interaction Facts and analyzed by Spearman test. Result showed that the number of drug interactions that occurred (51,39%). The most mechanism pattern of the drug interaction was pharmacokinetics (53,97%) with the highest severity level being minor (42,86%). This study showed that there is a a very significant correlation between the number of drugs and interactions (r = 0.986, p = 000).Keywords : Drug interactions, polypharmacy, hypertension drug therapy  


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document