scholarly journals Application of Loop-Mediated Isothermal Amplification in an Early Warning System for Epidemics of an Externally Sourced Plant Virus

Plants ◽  
2019 ◽  
Vol 8 (5) ◽  
pp. 139 ◽  
Author(s):  
Benjamin Congdon ◽  
Paul Matson ◽  
Farhana Begum ◽  
Monica Kehoe ◽  
Brenda Coutts

Restricting Turnip yellows virus (TuYV) spread in canola (Brassica napus) crops often relies upon the application of systemic insecticides to protect young vulnerable plants from wide-scale green-peach aphid (GPA; Myzus persicae) colonization and subsequent virus infection. For these to be applied at the optimal time to ensure they prevent epidemics, growers would need to be forewarned of incoming viruliferous aphid migration and colonization. This study was conducted to field validate a loop-mediated isothermal amplification (LAMP) protocol designed to detect TuYV in aphids caught on traps and develop an early warning system for TuYV epidemics. Double-sided yellow sticky traps were deployed at 30 sites sown with canola over a two-year period in the south-west Australian grainbelt. Using LAMP, the percentage (%) of trap sides with TuYV-carrying aphids was measured and related to TuYV infection incidence in the adjacent crop. When TuYV was detected in aphids on >30% trap sides in a six-week period from pre-emergence to GS15 (five-leaf stage), TuYV reached >60% crop incidence by GS30 (beginning of stem elongation). Whereas, TuYV detection in aphids on ≤15% trap sides during this period was associated with ≤6% TuYV incidence by GS30. Furthermore, when large numbers of aphids, including GPA, were caught during this period but no TuYV was detected in them, minimal TuYV spread (≤5%) occurred in the crop by GS30. Therefore, the LAMP TuYV protocol can be used in an early warning system for TuYV epidemics by providing detection of initial viruliferous aphid migration into a canola crop before they establish colonies throughout the crop and spread virus. This would enable proactive, non-prophylactic, and thereby more effective systemic insecticide applications to minimize seed yield and quality losses due to early season TuYV infection.

2020 ◽  
Vol 6 (2) ◽  
pp. 112
Author(s):  
Veronika Hutabarat ◽  
Enie Novieastari ◽  
Satinah Satinah

Salah satu faktor dalam meningkatkan penerapan keselamatan pasien adalah ketersediaan dan efektifitas prasarana dalam rumah sakit. Early warning system (EWS) merupakan prasarana dalam mendeteksi perubahan dini  kondisi pasien. Penatalaksanaan EWS masih kurang efektif karena parameter dan nilai rentang scorenya belum sesuai dengan kondisi pasien. Tujuan penulisan untuk mengidentifikasi efektifitas EWS dalam penerapan keselamatan pasien. Metode penulisan action research melalui proses diagnosa, planning action, intervensi, evaluasi dan  refleksi. Responden dalam penelitian ini adalah  perawat yang bertugas di area respirasi dan pasien dengan kasus kompleks respirasi di Rumah Sakit Pusat Rujukan Pernapasan Persahabatan Jakarta. Analisis masalah dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone. Masalah yang muncul belum optimalnya implementasi early warning system dalam penerapan keselamatan pasien. Hasilnya 100% perawat mengatakan REWS membantu mendeteksi kondisi pasien, 97,4 % perawat mengatakan lebih efektif dan 92,3 % perawat mengatakan lebih efesien mendeteksi perubahan kondisi pasien. Modifikasi EWS menjadi REWS lebih efektif dan efesien dilakukan karena disesuaikan dengan jenis dan kekhususan Rumah Sakit dan berdampak terhadap kualitas asuhan keperawatan dalam menerapkan keselamatan pasien. Rekomendasi perlu dilakukan monitoring evaluasi terhadap implementasi t.erhadap implementasi REWS dan pengembangan aplikasi berbasis tehnologi


PEDIATRICS ◽  
2016 ◽  
Vol 137 (Supplement 3) ◽  
pp. 256A-256A
Author(s):  
Catherine Ross ◽  
Iliana Harrysson ◽  
Lynda Knight ◽  
Veena Goel ◽  
Sarah Poole ◽  
...  

2019 ◽  
Vol 3 (2) ◽  
pp. 88
Author(s):  
Riski Fitriani

Salah satu inovasi untuk menanggulangi longsor adalah dengan melakukan pemasangan Landslide Early Warning System (LEWS). Media transmisi data dari LEWS yang dikembangkan menggunakan sinyal radio Xbee. Sehingga sebelum dilakukan pemasangan LEWS, perlu dilakukan kajian kekuatan sinyal tersebut di lokasi yang akan terpasang yaitu Garut, Tasikmalaya, dan Majalengka. Kajian dilakukan menggunakan 2 jenis Xbee yaitu Xbee Pro S2B 2,4 GHz dan Xbee Pro S5 868 MHz. Setelah dilakukan kajian, Xbee 2,4 GHz tidak dapat digunakan di lokasi pengujian Garut dan Majalengka karena jarak modul induk dan anak cukup jauh serta terlalu banyak obstacle. Topologi yang digunakan yaitu topologi pair/point to point, dengan mengukur nilai RSSI menggunakan software XCTU. Semakin kecil nilai Received Signal Strength Indicator (RSSI) dari nilai receive sensitivity Xbee maka kualitas sinyal semakin baik. Pengukuran dilakukan dengan meninggikan antena Xbee dengan beberapa variasi ketinggian untuk mendapatkan kualitas sinyal yang lebih baik. Hasilnya diperoleh beberapa rekomendasi tinggi minimal antena Xbee yang terpasang di tiap lokasi modul anak pada 3 kabupaten.


Author(s):  
Marianne Guffanti ◽  
William E. Scott ◽  
Carolyn L. Driedger ◽  
John W. Ewert

Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document