scholarly journals ANALISA FAKTOR RISIKO PEKERJAAN YANG BERPENGARUH TERHADAP KEJADIAN KATARAK PADA MASYARAKAT DI SRAGEN

2017 ◽  
Vol 8 (2) ◽  
Author(s):  
Sri Suparti ◽  
Sri Purwanti

Katarak merupakan kelainan  lensa mata yang keruh di dalam bola mata. Kekeruhan lensa atau katarak akan mengakibatkan sinar terhalang masuk ke dalam mata sehingga penglihatan menjadi menurun. Banyak faktor dikaitkan dengan katarak, yaitu usia sebagai faktor utama, dan faktor lain seperti penyakit diabetes melitus (DM), pajanan kronis terhadap sinar ultraviolet (sinar matahari), konsumsi alkohol, merokok, tingkat pendidikan, dan pekerjaan. Desain penelitian yang digunakan adalah desain cross sectional subyek penelitian diobservasi hanya satu kali saja dan faktor risiko serta dampak diukur menurut keadaan atau status pada saat observasi. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui risiko pekerjaan.Hasil: faktor pekerjaan yang terbukti sebagai faktor risiko terjadinya katarak adalah Satus gizi (p = 0.033; OR adjusted 2.568; 95% CI = 0.962-6851) Umur tua akan berisiko terjadi katarak dengan nilai (p = 0.05 OR adjusted; OR 0.441; 95% CI = 0.962-6851) Kebiasaan merokok (p = 0.001; OR adjusted 5.182 ;95% CI = 1846-14545) Kadar gula darah dalam  tubuh yang lebih dari dua ratus yeng mengalami DM berisiko terjadi katarak dengan nilai (p = 0.000 OR adjusted OR 0.588; 95% CI = 0.740-4.053) Pekerjaan (p = 0.040; OR adjusted OR 5.902 ;95% CI = 0.740-4.053)Simpulan: Umur yang lebih dari empat puluh tahun berisiko 0.441 kali untuk terjadi katarak. Kebiasaan merokok akan berisiko 5.182 kali terjadi katarak. Kadar gula darah yang tinggi lebih dari dua ratus berisiko 0.588 kali terjadi katarak.  Pekerjaan yang terpapar sinar UV secara langsung akan berisiko 5.902 kali terjadi katarak.Kata Kunci: Katarak, Pekerjaan, Faktor Risiko Cataract is an abnormality of eye's lens.Cloudly lens or cataract Will block the ray to the eye so the vision decreases.Many risk factors of cataract these are:Age(the main of risk factor),and other factors are diabetes mellitus(DM),chronic exposure to ultraviolet rays,alchohol,smoking,education,working. Experience design was used cross sectional design and the subject was observed once in experience,risk factor and also the impact measured according to the situations and statues of the observation.this experience did to know the risk factor in work. The result:Risk of work already proven risk to be cataract,statues of nutritions (p:0,033;OR adjusted 2,568;95%,CI:0,962-6851),old age would risk to be cataract with value(p:0,05,OR adjusted;0,441;95%,CI:0,962-6851), habitually of smoking (p:0,001;OR adjusted:5,182;95%CI:1846-14545).glucose in blood more than two hundred of DM risk to be cataract with value p:0,000,OR adjusted 0,588,95%CI:0,740-4,053,working (p:0,040;OR adjusted OR 5,902;95%,CI :0,740-4053).The conclusion:Age more fourty risk 0,441x to be cataract. Habitually of smoking riks 5,182x,glucose in blood more than two hundred risk 0,588x to be cataract,working with UV exposured risk 5,902x to be cataract.Keywords:cataract,working,risk factor.

e-CliniC ◽  
2014 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
Author(s):  
Richie Irvanto Ciandra ◽  
Corry N. Mahama ◽  
Melke J. Tumboimbela

ABSTRACT: Stroke is a big health problem in all industrial nations. In Indonesia, the prevalence of stroke keeps on increasing with each passing year. In addition to physical complaints suffered, sexual function may affect the patient’s. Erectile dysfunction is a problem that often arises in stroke patients. Purpose: This research is aimed in understanding describe of erectile dysfunction and the relationship between the risk factor namely diabetes mellitus and hypertension among stroke patients. Methods: The research method used is analytic descriptive with cross sectional approach. The study subjects were 40 men stroke patients, recruited by consecutive sampling in Polyclinic Neurology RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado during the period of November to December 2013. The measurement of erectile dysfunction used International Index of Erectile function/IIEF-5. Conclusion: Stroke patients who experience erectile dysfunction by 85%, with the highest amount on mild erectile dysfunction and mild to moderate erectile dysfunction at  35% dan 32,5%. Age most experienced erectile dysfunction are in the age group 35-44 years and >75 years. Low levels of education may suffer from erectile dysfunction is higher than the high education level. And the insiden of erectile dysfunction among stroke patients having risk factor of diabetes mellitus were higher than haven’t (OR=2,391). While hypertension risk factors correlated with a reduced risk of disease (OR=0,771). Keywords: Stroke, erectile dysfunction, diabetes mellitus, hypertension   ABSTRAK: Stroke merupakan masalah kesehatan yang besar di negara-negara industri, prevalensi stroke di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain keluhan fisik yang diderita, keadaan fungsi seksual dapat mempengaruhi penderita. Disfungsi ereksi merupakan masalah yang sering timbul pada pasien stroke. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran disfungsi ereksi dan hubungan diabetes melitus dan hipertensi terhadap kejadian disfungsi ereksi pada pasien stroke. Metode: Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 40 pasien stroke laki-laki yang diambil secara consecutive sampling di Poliklinik Neurologi RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado selama bulan November - Desember 2013. Pengukuran disfungsi ereksi menggunakan International Index of Erectile Function/IIEF-5. Simpulan: Pasien stroke yang mengalami disfungsi ereksi sebesar 85% dengan jumlah terbanyak pada disfungsi ereksi ringan dan disfungsi ereksi ringan sampai sedang sebesar 35% dan 32,5%. Umur terbanyak mengalami disfungsi ereksi terletak pada kelompok umur 35-44 tahun dan >75 tahun. Tingkat pendidikan rendah dapat mengalami disfungsi ereksi lebih tinggi daripada yang tingkat pendidikannya tinggi. Dan insiden disfungsi ereksi diantara pasien stroke yang mempunyai faktor resiko diabetes melitus adalah lebih tinggi daripada yang tidak mempunyai faktor resiko tersebut (OR=2,391). Sedangkan faktor resiko hipertensi berkorelasi dengan berkurangnya resiko penyakit (OR=0,771). Kata Kunci: Stroke, disfungsi ereksi, diabetes melitus, hipertensi


e-CliniC ◽  
2015 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
Author(s):  
Febrina R. Wuwung ◽  
Ora I. Palandeng ◽  
Olivia C. P. Pelealu

Abstract: Diabetes mellitus is a group of chronic metabolic disease which can affect nearly every organ system in the body. Complications of this disease are diverse and include retinopathy, nepropathy and neuropathy. It has a high prevalence and continued to increase. The relationship between diabetes mellitus and hearing loss have been studied. This study aimed to obtain the average of hearing threshold in patients with diabetes mellitus. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Total 38 diabetes mellitus patients were included in the study. Hearing threshold obtained based on air conduction pure tone audiometry average at 500, 1000, 2000, and 4000 Hz. The results showed that subjects were 65.8% females and 32.4% males. There were 9 subjects (23.6%) with normal hearing, 24 subjects (63.2%) with bilateral hearing loss, and 5 subjects (13.2%) with unilateral hearing loss. Of the 29 subjects with hearing loss, the levels were mild and moderate. None of the subjects had moderately severe, severe, or profound. Conclusion: The majority of subjects in this study had hearing loss.Keywords: diabetes mellitus, hearing threshold, pure tone audiometryAbstrak: Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik kronik yang dapat mempengaruhi hampir setiap sistem organ dalam tubuh. Komplikasi penyakit ini beragam, termasuk retinopati, nefropati dan neuropati. Prevalensinya cukup tinggi dan diperkirakan akan terus meningkat. Terdapat beberapa penelitian yang menghubungkan diabetes melitus dan gangguan pendengaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ambang pendengaran rata – rata pada penderita diabetes melitus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain penelitian potong lintang. Sampel total ialah 38 pasien diabetes melitus. Ambang pendengaran rata – rata diperoleh berdasarkan hantaran udara audiometri nada murni rata-rata pada frekuensi 500, 1000, 2000, dan 4000 Hz. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa subjek penelitian 65,8% perempuan dan 34,2% laki – laki. Terdapat 9 orang (23,6%) yang mempunyai pendengaran normal, 24 orang (63,2 %) mengalami gangguan pendengaran bilateral dan 5 orang (13,2%) dengan gangguan pendengaran unilateral. Dari 29 subjek penelitian dengan gangguan pendengaran mengalami gangguan pendengaran kategori ringan dan sedang. Tidak ditemukan subjek penelitian dengan gangguan pendengaran kategori sedang berat, berat atau sangat berat. Simpulan: Mayoritas subjek penelitian mengalami gangguan pendengar.Kata kunci: ambang pendengaran, audiometri nada murni, diabetes melitus


2017 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
Author(s):  
Rian Panelewen ◽  
Janette M. Rumbayan ◽  
Lusiana Satiawati

Abstract: Diabetes mellitus (DM) is a disease with high blood glucose level due to the inadequasy of insulin. Erectile dysfunction or inability to maintain an erection often occurs among males due to various factors. Males with DM have higher risk of erectile dysfunction compared to those without DM. This study was aimed to determine the relationship of the age of type 2 diabetes mellitus (T2DM) patient and erectile dysfunction. This was an analytical survey study with a cross sectional design. Respondents were all patients with T2DM at the Endocrine Polyclinic of Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from October 2015 to January 2016. There were 38 respondents in this study; most had mild erectile dysfunction (36.8%). The Chi-square analysis showed a significant relationship (p<0.05) between the age of T2DM patients and erectile dysfunction. Conclusion: There was a significant relationship between the age of T2DM patients and erectile dysfunction. The older the patient, the more severe the erectile dysfunction.Keywords: diabetes mellitus, erectile dysfunction Abstrak: Diabetes melitus (DM) adalah penyakit dimana kadar glukosa dalam darah tinggi karena tubuh tidak dapat melepaskan atau menggunakan insulin secara adekuat. Disfungsi ereksi (DE) atau ketidakmampuan mempertahankan ereksi seringkali dialami oleh pria karena berbagai faktor. Laki-laki yang menyandang DM berisiko DE lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak menyandang DM. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan usia penyandang DMT2 dan tingkat DE. Jenis penelitian ialah survei analitik dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah semua pasien DMT2 di Poliklinik Endokrin periode Oktober 2015-Januari 2016. Hasil penelitian mendapatkan dari 38 responden, terbanyak yang mengalami DE ringan (36,8%). Berdasarkan analisis chi-square didapatkan hubungan bermakna (p <0,05) antara usia penyandang DMT2 dan DE. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara usia penyandang DMT2 dan disfungsi ereksi. Semakin tinggi usia, semakin parah tingkat disfungsi ereksi yang terjadi.Kata kunci: diabetes mellitus, disfungsi ereksi


2020 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 205
Author(s):  
Suyanto Suyanto

Pendahuluan: Penurunan vaskuler perifer dapat dideteksi dengan menilai ankle brakhial indext (ABI). ABI dapat terjadi pada seseorang sejalan dengan meningkatnya umur, terlebih lagi pada pasien diabetes mellitus yang mengalami peningkatan resiko aterosklerosis. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara umur dengan nilai ABI pada pasien diabetes mellitus. Metode: Cross sectional design digunakan dalam penelitian ini. Adapun jumlah sampelnya sebanyak 39 responden. Tehnik concecutive sampling digunakan pada penelitian ini dengan kriteria inklusinya adalah semua pasien yang mengalami diabetes mellitus tanpa adanya ulkus diabetikum. Analisis data dilakukan dengan uji product moment dengan tingkat kemaknaan (α ≤ 0,05).Hasil: Rata-rata umur responden adalah 54±7,90 rata-rata nilai ABI adalah 1,08±0,13,. Hasil uji analisis didapatkan tidak ada hubungan antara umur dengan nilai ABI (p value > 0,05).Kesimpulan: Banyak faktor yang dapat mempengaruhi nilai ABI pada pasien diabetes mellitus. Faktor utama yang mempengaruhi nilai ABI adalah adanya aterosklerosis yang dikaitkan dengan adanya kolesterol, hiperglikemia kronis. Sehingga perlu adanya penelitian lainnya mengenai hal-hal tersebut yang dihubungkan dengan nilai ABI.


2015 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
Author(s):  
Putri Yuriandini Yulsam ◽  
Fadil Oenzil ◽  
Efrida Efrida

AbstrakPenyakit jantung koroner (PJK) merupakan salah satu penyakit non-infeksi yang menjadi sorotan dunia. Hal ini terkait dengan adanya perubahan gaya hidup seiring dengan perkembangan zaman. WHO pada tahun 2008 memperkirakan 17,3 juta jiwa meninggal akibat penyakit kardiovaskular, 7,3 juta jiwa diakibatkan oleh PJK dan 6,2 juta akibat strok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran insidens riwayat hipertensi dan diabetes melitus pada pasien PJK di RS. Dr. M. Djamil Padang. Ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan potong lintang yang dilakukan di Bagian Rekam Medik RS. Dr. M. Djamil Padang yang berlangsung dari Februari 2012 sampai Maret 2013. Populasi penelitian sebanyak 184 rekam medik, tetapi yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi sebanyak 124 sampel Pengolahan data dilakukan secara manual dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan distribusi frekuensi pasien PJK berdasarkan usia yaitu kelompok usia 51-56 tahun sebesar 30,64% dan sebagian besar adalah laki-laki (75%). Prevalensi riwayat hipertensi pada pasien PJK didapatkan sebesar 46,77%, sedangkan riwayat diabetes melitus sebesar 10,48%.Kata kunci: penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes mellitus AbstractCoronary heart disease (CHD) is one of the non-infectious disease that become the world spotlight. It is associated with a change in lifestyle paralel to the era development. WHO in 2008 estimated that 17,3 million people died from cardiovascular disease, 7,3 million attributable to CHD, and 6,2 million died due to stroke. The objective of this study was to describe the incident history of hypertension and diabetes mellitus in patient with CHD in Dr. M. Djamil Hospital Padang. This was a descriptive study with cross sectional design which carried out in Medical Record of Dr. M. Djamil Hospital Padang from February 2012 until March 2013. The population in this study were 184 medical record, but the samples had the inclusion and exclusion criteria were 124 medical record. All data were processed and analysed by manually and then the data shown by frequency distribution table. The result showed the highest distribution of CHD patient based on age is in the age group of 51-56 years, and majority were male (75%). The prevalence of hipertension history in CHD patient is 46.77% while a history of diabetes mellitus is 10,48%.Keyword: coronary heart disease, hypertension, diabetes mellitus.


2020 ◽  
Vol 8 (1) ◽  
pp. 14-24
Author(s):  
Maria Getrida Simon

Latar belakang Peran dan fungsi keluarga sangat dibutuhkan oleh anggota keluarga yang sakit. Ketika salah satu anggota keluarga atau lebih mengalami masalah kesehatan maka keluarga berperan penting dalam memberikan dukungan dalam pemecahan masalah. Bentuk pemecahan masalah kesehatan khususnya pada pasien diabetes melitus yaitu dengan cara memotivasi pasien dalam mengontrol kadar gula darah. Pengontrolan kadar gula darah secara teratur harus dilakukan untuk mencegah komplikasi berupa luka gangren, koma diabetikum dan retinopati diabetikum. Tujuan: untuk mengetahui hubungan antara Dukungan keluarga dengan Motivasi pengontrolan gula darah  pada pasien dengan Diabetes mellitus tipe 2.metode: Desain dalam penelitian ini menggunakan cross sectional design. Penelitian ini menggunakan uji statistik sperman rho untuk melihat hubungan antara kedua variabel. Penelitian ini akan dilakuan di Puskesmas di kabupaten Manggarai. Hasil: sebagaian besar responden mendapatkan dukungan keluarga cukup dan motivasi mengontrol gula darah kurang sebanyak 45 responden dengan P value 0,046 yang berarti ada hubungan antara dukungan keluarga dan motivasi dalam mengontrol gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di puskesmas kota Ruteng.kesimpulan: ada hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan motivasi dalam mengontrol gula darah pada diabetes melitus tipe 2 di pusksmas kota ruteng. Saran: melalui penelitian ini peneliti menyarankan bahwa sebagai tenaga kesehatan penting untuk meberikan penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya mengontrol gula darah.


2019 ◽  
Vol 5 (1) ◽  
pp. 70-78
Author(s):  
Abd Gani Baeda

Diabetes mellitus is a chronic metabolic disorder disease caused by ineffective production of insulin used by the body causing hyperglycemia. Blood sugar is controlled by insulin. One of the therapy in control of blood sugar is insulin. The aim of this study was to find out the correlation among nurses knowledge, attitudes and behaviors in handling and administering insulin. A Cross-sectional design study involving 103 nurses in the surgery and internal room applied to this study. The results showed that there was no significant correlation between knowledge and attitudes toward nurses' behavior in providing noncritical insulin therapy. A majority of respondents have 67% moderate knowledge, 50% of respondents have a positive attitude, and 61.2% of respondents have satisfactory behaviour. The Conclusion of this study was the training is required to improve knowledge and satisfactory performance.


2019 ◽  
Vol 7 (1) ◽  
Author(s):  
Monica Welliangan ◽  
Mayer F. Wowor ◽  
Arthur E. Mongan

Abstract: Glycosuria is a condition characterized by an excess of sugar in the urine. Diabetes mellitus (DM) is one of the causes of glycosuria. Mortality risks of pregnant women and their babies increase in diabetes during pregnancy. Gestational diabetes mellitus (GDM) is DM diagnosed in 2nd and 3rd trimesters of pregmancy in women without DM before pregnancy. The probability of GDM among women with family history of DM is 3.46 times higher than those without family history. This study was aimed to evaluate the urine glucose level among primigravids who had diabetic parents in Manado. This was a descriptive observational study with a cross sectional design. Urine samples were obtained by using non-probability sampling with consecutive sampling adjusted to the criteria and time. The results showed that glycosuria (urin sugar level ≥50mg/dL) was found in three subjects (10%), most in age group of 20-35 years old and in 1st trimester. Conclusion: Some of the primigravids in this study had glycosuria.Keywords: DM, glycosuria, DM family history Abstrak: Glukosuria adalah kondisi dimana glukosa ditemukan dalam urin. Salah satu penyebab glukosuria ialah diabetes melitus (DM). Risiko kematian ibu dan bayi meningkat pada DM dalam kehamilan. Diabetes melitus gestasional (DMG) adalah DM yang terdiagnosis pada trimester dua atau tiga kehamilan yang bukan DM sebelum kehamilan. Peluang DMG pada wanita dengan riwayat DM dalam keluarga sebesar 3,46 lebih besar daripada wanita tanpa riwayat keluaarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar glukosa urin pada primigravida dengan orang tua penyandang DM di Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Penelitian ini menggunakan non-probability sampling jenis consecutive sampling untuk mendapatkan urin dari semua subyek penelitian sesuai dengan kriteria dan waktu yang ditentukan. Hasil penelitian mendapatkan glukosuria (kadar glukosa urin ≥50mg/dL) pada 3 subyek (10%) dengan karakteristik cenderung pada kelompok usia 20-35 tahun dan pada trimester satu. Simpulan: Sebagian primigravida dengan orang tua penyandang DM memiliki glukosuria.Kata kunci: DM, glukosuria, riwayat DM pada orang tua


2021 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 654-662
Author(s):  
Desi Susanti ◽  
Dita Amita

This study aims to explain the factors associated with foot deformity in people with type 2 diabetes. This study used a descriptive-analytic method with a cross-sectional design. The results showed that the aspects related to the incidence of foot deformity were education (P=0.022; OR=4.57), body mass index (BMI) (P=0.035; OR=0.23), and knowledge (P=0.001). ; OR = 9.17), while the factors of age (P = 0.22) and gender (P = 0.712) were not associated with the incidence of foot deformity. In conclusion, the knowledge factor is a factor that can influence nine times more strongly the incidence of foot deformity in people with type 2 DM compared to other factors.   Keywords: Foot Deformity, Diabetes Mellitus


2019 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 42-56
Author(s):  
Michael Joseph Rovito ◽  
Amanda Koontz ◽  
Martha Garcia ◽  
Mary Tripp ◽  
Kim Schneider ◽  
...  

The impact of peer coaches embedded in classrooms are outlined in the literature. There is, however, a lack of evidence on when their services should be introduced into the curriculum to have the most impact possible. The goals of this exploratory research project, therefore, were to aim to provide baseline evidence on the most effective and efficient application of ‘Research Coaches’. A total of 129 undergraduate students took part in a cross-sectional design by completing a series of original surveys on the research process and qualities about their research identity. Our research suggests that peer coaches can most benefit those with the least previous research experiences as related to perceived increases in understanding of fields, research skills, previous knowledge of the subject of study and confidence in research abilities. Such quantitative findings are reinforced through our qualitative findings, suggesting that overall, peer coaches and faculty can be perceived as complimentary support systems for effective research-focused course implementation. Future implications of the use of ‘Research Coaches’ in the classroom are discussed.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document