scholarly journals Exposure to methoxyflurane: Low-dose analgesia and occupational exposure

2020 ◽  
Vol 17 ◽  
Author(s):  
Serah J Allison ◽  
Paul David Docherty ◽  
Dirk Pons ◽  
J Geoffrey Chase

IntroductionEvidence of nephrotoxicity led to abandonment of methoxyflurane anaesthesia. In lower doses via the Penthrox® inhaler, methoxyflurane is used for analgesia. We aim to review the literature to identify the relevance of methoxyflurane as an effective analgesic agent, identify whether there are any patient safety concerns in modern use, and determine occupational risk to healthcare personnel due to environmental methoxyflurane exposure.MethodsArticles were located via PubMed, ScienceDirect, Google Scholar, Anaesthesiology and the Cochrane Library.ResultsSingle low-dose exposure to methoxyflurane may elevate blood fluoride levels below the toxic range, and appears relatively safe for patients. There is limited literature of occupational methoxyflurane exposure within modern parameters. Risks could include nephrotoxicity or hepatotoxicity.ConclusionsThe safety of occupational methoxyflurane exposure is yet to be proved. Further independent studies quantifying occupational exposure and monitoring the health of personnel exposed to methoxyflurane need to be undertaken to ensure safety. 

Blood ◽  
2009 ◽  
Vol 114 (22) ◽  
pp. 3990-3990
Author(s):  
June M. McKoy ◽  
Monica Boen ◽  
Dianne Deleon ◽  
Josephine Feliciano ◽  
D. Mark Courtney ◽  
...  

Abstract Abstract 3990 Poster Board III-926 Background In 2005, the first ever Citizen Petition filed by a State Attorneys General, Attorney General Richard Blumenthal, requested that the FDA adopt 6 measures to improve VTE prophylaxis and patient safety of thalidomide (thal). While 4 recommendations were accepted, the FDA refused to mandate a Phase IV randomized, controlled trial designed to identify the best VTE prophylaxis stating that substantial data already existed, but no specific prophylaxis was identified. We review the progress of this safety concern pre- and post-FDA approval of thal in 2006, specifically for the use of multiple myeloma patients. Similar safety concerns apply to lenalidomide. Methods A literature search was performed from 2006 to 2009 through Pubmed and Ovid using the key words “thalidomide,” “lenalidomide,” “thrombosis,” and “multiple myeloma.” High dose thal was defined as higher than 200mg/d, low dose thal as 200mg/d or lower, and high dose dexamethasone (dex) as higher than 20mg/d and low dose dex as 20mg/d and lower. Results See table Conclusion Since 2006, we have found information on 2657 patients with no prophylaxis, 539 patients with thal/dex with prophylaxis, and 2210 patients with len/dex with prophylaxis. VTE rates remain high, except for the low dose thal and/or low dose dex group. Overall, optimal VTE prophylaxis remains an enigma. Current recommendations for VTE prophylaxis are not supported by empirical data. Against this backdrop, Blumenthal's team should consider resubmitting their safety request. Disclosures: No relevant conflicts of interest to declare.


2019 ◽  
Author(s):  
Erta Iman Jelita Harefa

Latar belakang: Keselamatan pasien (patient safety ) merupakan prioritas dalam aspek pelayanan di rumah sakit dan sudah menjadi tuntutan kebutuhan dalam pelayanan kesehatan. Untuk itu diperlukan gerakan keselamatan pasien di rumah sakit agar menghindari kesalahan pada prinsip dalam pengobatan pasien yang harus dipertanggungjawabkan oleh pimpinan pengobatan. Tujuan: Penulisan ini bertujuan untuk mengetahui dan memberi informasi tentang peningkatan pelaksanaan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit.Metode: Penulisan ini menggunakan metode literature review dengan pendekatan jurnal atau artikel, buku dan e-book yang relevan dan akurat serta berfokus pada peningkatan pelaksanaan keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit dengan menggunakan Google Scholar, Portal Garuda, dan Jurnal Keperawatan Indonesia.Hasil: Berdasarkan hasil pencarian literatur di dapatkan beberapa standar keselamatan pasien dalam pelayanan kesehatan di rumah sakit yang terdiri dari hak pasien, mendidik pasien dan keluarga, keselamatan pasien dan kesinambungan pelayanan, penggunaan metode-metode peningkatan kinerja, peran kepemimpinan, mendidik staf, dan komunikasi untuk mencapai keselamatan pasien.Pembahasan: keselamatan pasien adalah hal yang menjadi perhatian bagi rumah sakit dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien/klien. Dalam keselamatan pasien ini, setiap rumah sakit sudah diwajibkan untuk melakukan gerakan keselamatan pasien sesuai dengan standar departemen kesehatan.Penutup: Pelaksanaan keselamatan pasien saat ini sudah memiliki peningkatan atau kemajuan yang dapat dilihat dari perbandingan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 1691 Tahun 2011 dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 11 Tahun 2017 yang memberikan pembaharuan dengan menyesuaikan perkembangan fasilitas kebutuhan pelayanan.


2021 ◽  
Vol 72 (1) ◽  
pp. 6-11
Author(s):  
Mihaela Stoia

Abstract This study aims to estimate the occupational etiology of COVID-19 in the healthcare sector and obtain a risk matrix for the burden of disease across occupations and specific activities. The study population included 4515 cases and 133077 controls. We have used an epidemiological model that included data collected over one year from employed persons with confirmed SARS-CoV-2 infection, age group 20-64, and residing in Sibiu County. We measured the incidence rate (IR), relative risk (RR), and risk of COVID-19 attributable to the occupational exposure (AR), respectively, statistical analysis based on frequency distribution and the portion of cases to compute the risk levels in social- and healthcare workers. According to this model, approximately 70.5% of COVID-19 risk could be attributable to occupational exposure. The workplace is a strong predictor of infection risk (RR 3.4), particularly in residential long-term care facilities, hospitals, and ambulance services. The highest-risk job functions are nurse, nursing assistant, ambulance worker, and dentist. In conclusion, we believe in having demonstrated that epidemiological modeling may be helpful for risk management and notification of COVID-19 as an occupational disease in frontline staff and essential healthcare personnel.


2019 ◽  
Author(s):  
Nadia Safira

AbstrakDalam sistem akreditasi yang mengacu pada standar Joint commission International (JCI) diperoleh standar yang paling relevan terkait dengan mutu pelayanan Rumah Sakit International Patient Safety Goals (sasaran international keselamatan pasien) yang meliputi enam sasaran keselamatan pasien rumah sakit. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa rumah sakit yang sudah terakreditasi mampu memberikan pelayanan yang memenuhi standar kualitas serta jaminan rasa aman dan perlindungan terhadap dampak pelayanan yang diberikan dalam rangka pemenuhan hak-hak masyarakat akan berkualitas aman. Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode pengumpulan data Adapun data yang digunakan pada kajian ini adalah bersumber dari data yang didapatkan dengan menggunakan Google Scholar, scopus, ebook dan beberapa buku tentang keselamatan pasien,Rumah sakit Universitas Sumatera Utara merupakan salah satu Rumah Sakit yang sudah terakreditasi telah menerapkan program patient safety yang merupakan syarat yang diterapkan oleh semua RS yang sudah terakreditasi. akreditasi rumah sakit yang baik akan menunjamg keselamatan pasien.Kata kunci : menunjang, ketepatan, mengurangi


2019 ◽  
Author(s):  
OASENEA MELLIANY

ABSTRAKRumah sakit seharus memiliki sistem yang bebas dari kesalahan dan juga memiliki pelayanan kesehatan yang menjunjung tinggi hak hak pasien . Upaya meminimalisir terjadinya kesalahan medis atau yang terkait dengan aspek keselamatan pasien, maka manajemen rumah sakit perlu menciptakan sistem keselamatan pasien. Perawat merupakan profesi yang memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit selama 24 jam dalam sehari, sehingga perannya dalam penerapan keselamatan pasien sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perawat dalam penerapan keselamatan pasien (patient safety) di RS. Metode yang digunakan adalah Literature review dimana dengan cara menganalisis, eksplorasi dan kajian bebas pada artikel, jurnal, text book, maupun e-book yang relevan dan berfokus pada metode pembelajaran klinik yang berhubungan dengan penerapan keselamatan pasien dalam peningkatan akreditasi rumah sakit . Adapun artikel yang digunakan pada literature review ini adalah artikel yang didapatkan dengan menggunakan 3 database Pubmed, Google Scholar dan Science Direct. Artikel yang digunakan minimal menggunakan 14 referensi yang diterbitkan sepuluh tahun terakhir. dalam meberikan pelayanan kesehatan dirumah sakit harus dapat berkerjasama dengan baik dengan sesama perawat serta tim kesehatan sesama bahkan antar profesi pelayanan kesehatan yang terdiri dari berbagai karakteristik, tanpa membeda-bedakan pendidikan, usia, jenis kelamin, masa kerja dan status kepegawaian. Kondisi tersebut menuntut perawat memiliki komitmen kerja dengan tujuan utama yaitu menjamin keselamatan pasien.


2019 ◽  
Author(s):  
OASENEA MELLIANY

ABSTRAKRumah sakit seharus memiliki sistem yang bebas dari kesalahan dan juga memiliki pelayanan kesehatan yang menjunjung tinggi hak hak pasien . Upaya meminimalisir terjadinya kesalahan medis atau yang terkait dengan aspek keselamatan pasien, maka manajemen rumah sakit perlu menciptakan sistem keselamatan pasien. Perawat merupakan profesi yang memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit selama 24 jam dalam sehari, sehingga perannya dalam penerapan keselamatan pasien sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perawat dalam penerapan keselamatan pasien (patient safety) di RS. Metode yang digunakan adalah Literature review dimana dengan cara menganalisis, eksplorasi dan kajian bebas pada artikel, jurnal, text book, maupun e-book yang relevan dan berfokus pada metode pembelajaran klinik yang berhubungan dengan interprofesional collaboration perawat dalam peningkatan keselamatan pasien di rumah sakit. Adapun artikel yang digunakan pada literature review ini adalah artikel yang didapatkan dengan menggunakan 3 database Pubmed, Google Scholar dan Science Direct. Artikel yang digunakan minimal menggunakan 14 referensi yang diterbitkan sepuluh tahun terakhir. dalam meberikan pelayanan kesehatan dirumah sakit harus dapat berkerjasama dengan baik dengan sesama perawat serta tim kesehatan sesama bahkan antar profesi pelayanan kesehatan yang terdiri dari berbagai karakteristik, tanpa membeda-bedakan pendidikan, usia, jenis kelamin, masa kerja dan status kepegawaian. Kondisi tersebut menuntut perawat memiliki komitmen kerja dengan tujuan utama yaitu menjamin keselamatan pasien.


2019 ◽  
Author(s):  
OASENEA MELLIANY

ABSTRAKRumah sakit seharus memiliki sistem yang bebas dari kesalahan dan juga memiliki pelayanan kesehatan yang menjunjung tinggi hak hak pasien . Upaya meminimalisir terjadinya kesalahan medis atau yang terkait dengan aspek keselamatan pasien, maka manajemen rumah sakit perlu menciptakan sistem keselamatan pasien. Perawat merupakan profesi yang memberikan pelayanan kepada pasien di rumah sakit selama 24 jam dalam sehari, sehingga perannya dalam penerapan keselamatan pasien sangat diharapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran perawat dalam penerapan keselamatan pasien (patient safety) di RS. Metode yang digunakan adalah Literature review dimana dengan cara menganalisis, eksplorasi dan kajian bebas pada artikel, jurnal, text book, maupun e-book yang relevan dan berfokus pada metode pembelajaran klinik yang berhubungan dengan Pemahaman perawat terhadap budaya keselamatan pasiendi rumah sakit . Adapun artikel yang digunakan pada literature review ini adalah artikel yang didapatkan dengan menggunakan 3 database Pubmed, Google Scholar dan Science Direct. Artikel yang digunakan minimal menggunakan 14 referensi yang diterbitkan sepuluh tahun terakhir. dalam meberikan pelayanan kesehatan dirumah sakit harus dapat berkerjasama dengan baik dengan sesama perawat serta tim kesehatan sesama bahkan antar profesi pelayanan kesehatan yang terdiri dari berbagai karakteristik, tanpa membeda-bedakan pendidikan, usia, jenis kelamin, masa kerja dan status kepegawaian. Kondisi tersebut menuntut perawat memiliki komitmen kerja dengan tujuan utama yaitu menjamin keselamatan pasien.


2019 ◽  
Author(s):  
Atikah Ulfah Marwa

latar belakang : Keselamatan (safety) telah menjadi isu global termasuk juga untuk rumah sakit. Ada enam sasaran keselamatan pasien di rumah sakit yaitu ketepatan identifikasi, peningkatan komunikasi efektif, peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai, kepastian tepat lokasi, tepat prosedur, tepat pasien operasi, pengurangan resiko infeksi terkait pelayanann kesehatan pengurangan resiko pasien jatuh Tujuan : untuk mengenal lebih jauh kebudayaandalam keselamatan pasien. Metode penelitian : literature review dengan cara menganalisis artikel, jurnal maupun text book. Artikel yang digunakan 14 referensi yang diterbitkan sepuluh tahun terakhir yang menggunakan google scholar, google book dan science direct. Hasil : Mengembangkan budaya patient safety bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi untuk merubah budaya yang sudah ada menjadi budaya keselamatan pasien. Hal yang dapat dilakukan berupa menjadikan keselamatan pasien sebagai salah satu bagian utama dalam organisasi pelayanan kesehatan. Kesimpulan : Keselamatan pasien belum menjadi budaya oleh organisasi pemberi layanan kesehatan. Kejadian yang Tidak Diinginkan (KTD). Upaya pengembangan faktor yang mendukung budaya keselamatan pasien perlu terus digalakkan oleh organisasi pemberi pelayanan kesehatan..


2007 ◽  
Vol 8 (3) ◽  
pp. 1-12
Author(s):  
Geza T. Terezhalmy ◽  
Michaell A. Huber

Abstract Aim To present the essential elements of an infection control/exposure control plan in the oral healthcare setting with emphasis on HIV infection. Methods and Materials A comprehensive review of the literature was conducted with special emphasis on HIV-related infection control issues in the oral healthcare setting. Results Currently available knowledge related to HIV-related infection control issues is supported by data derived from well-conducted trials or extensive, controlled observations, or, in the absence of such data, by best-informed, most authoritative opinion available. Conclusion Essential elements of an effective HIV-related infection control plan include: (1) education and training related to the etiology and epidemiology of HIV infection and exposure prevention; (2) plans for the management of oral healthcare personnel potentially exposed to HIV and for the follow-up of oral healthcare personnel exposed to HIV; and (3) a policy for work restriction of HIV-positive oral healthcare personnel. Clinical Significance While exposure prevention remains the primary strategy for reducing occupational exposure to HIV, knowledge about potential risks and concise written procedures that promote a seamless response following occupational exposure can greatly reduce the emotional impact of an accidental needlestick injury. Citation Huber MA, Terezhalmy GT. HIV: Infection Control Issues For Oral Healthcare Personnel. J Contemp Dent Pract 2007 March;(8)3:001-012.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document