scholarly journals Efektivitas Pelatihan Relaksasi Otot Progresif terhadap Penurunan Kecemasan Primary Caregiver Anak Penderita Leukemia

2020 ◽  
Vol 4 (3) ◽  
pp. 297-307
Author(s):  
Ananda Imanuela Nainggolan ◽  
Widyastuti Widyastuti ◽  
Ahmad Ridfah

Tingkat kecemasan di antara primary caregiver dalam memberikan perawatan pada anak penderita leukemia tergolong sedang hingga tinggi, sehingga dibutuhkan intervensi yang sesuai untuk mengatasinya. Salah satu intervensi yang sesuai adalah teknik relaksasi otot progresif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan relaksasi otot progresif terhadap penurunan tingkat kecemasan primary caregiver anak penderita leukemia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain nonrandomized pretest-posttest control group design with follow up. Subjek dalam penelitian ini berjumlah empat orang yang merupakan primary caregiver dan instrumen penelitian yang digunakan adalah Skala Kecemasan. Subjek penelitian berjumlah empat orang yang memperoleh skor dari Skala Kecemasan pada kategori sedang. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pelatihan relaksasi otot progresif yang dilakukan secara rutin dapat menurunkan kecemasan primary caregiver anak penderita leukemia. Kata kunci: kecemasan, primary caregiver, relaksasi otot progresif

2021 ◽  
Vol 14 (1) ◽  
pp. 25-37
Author(s):  
Nurfitria Laili Hidayati ◽  
Rahma Widyana

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan regulasi emosi pada remaja pelaku perundungan untuk mengurangi perilaku perundungan. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 10 orang remaja pelaku perundungan yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 5 subjek untuk kelompok eksperimen dan 5 subjek untuk kelompok kontrol yang memiliki skor regulasi emosi rendah dan sedang, serta skor perilaku perundungan tinggi dan sedang. Pemilihan subjek dalam penelitian ini dengan menggunakan teknik random assigment. Penelitian ini menggunakan metode pre-test post-test control group design. Alat pengumpulan data berupa skala regulasi emosi, skala perilaku perundungan, observasi dan wawancara. Pelatihan regulasi dalam penelitian ini dilakukan secara online dengan menggunakan aplikasi layana komunikasi video berupa GoogleMeet selama dua kali pertemuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan tingkat perilaku perundungan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah diberikan pelatihan regulasi emosi yang dilihat pada hasil pengukuran post-test. Pada hasil pengukuran follow up menunjukkan adanya perbedaan tingkat perilaku perundungan pada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Namun, ada perbedaan yang signifikan pada tingkat perilaku perundungan dilihat hasil pengukuran post-test dan follow up. Pelatihan regulasi emosi dalam penelitian ini mengajarkan kelompok subjek penelitian untuk mengenali emosi, menyadari emosi, memaknai emosi, dan mengubah emosi negatif menjadi emosi positif dengan mengubah sudut pandang positif.


1985 ◽  
Vol 13 (3) ◽  
pp. 202-217 ◽  
Author(s):  
Judith A. McBrien ◽  
Marie Edmonds

Methods of evaluating training courses in behaviour modification for staff working in mental handicap are briefly reviewed. Insufficient attention seems to have been paid to changes in staff behaviour following training. A widely used training package—the E.D.Y. Course—was investigated using a non-equivalent control group design. Four special school teachers were given E.D.Y. training and compared with four control teachers pretraining, post-training and at a fourteen month follow-up. Results indicated that experimental teachers changed their behaviour following training in the expected direction and maintained this change at follow-up. Control group teachers showed no behavioural change from occasion to occasion and scored significantly lower than the experimental group on the dependent variable on each occasion. The results are discussed in terms of the effectiveness of the package and the maintenance and generalization of skills.


2020 ◽  
Vol 12 (1) ◽  
pp. 1-12
Author(s):  
Indahria Sulistyarini

Gratitude training is one of the Islamic intervention that is able to improve quality of life in hypertension patients. It applied quasy experimental design with pretest-posttest with control group design. Participants consist of 23 hypertension patients and at least diagnosed for 1 year. The result showed that gratitude training able to improved quality of life in hypertension patients. This indicated by increasing the score of quality of life in experiment group (MD = -18.833, p = 0.000 on pretest to posttest; MD = -28.417, p = 0.000 on pretest to follow up). MD’s negative value indicates that the mean score of the quality of life during posttest and follow up was higher than the mean score during pretest. It means gratitude training can be used to improve quality of life in hypertension patients. So it can also a companion to medical intervention.


2017 ◽  
Vol 5 (2) ◽  
pp. 186
Author(s):  
Prapti Leguminosa ◽  
Fuad Nashori ◽  
Mira Aliza Rachmawati

Penelitian ini menguji pengaruh pelatihan kebersyukuran dalam menurunkan stres kerja guru di sekolah inklusi. Hipotesis dalam penelitian ini adalah tingkat stres kerja kelompok yang diberi perlakuan pelatihan kebersyukuran lebih rendah daripada kelompok yang tidak diberi perlakuan pelatihan kebersyukuran. Rancangan penelitian menggunakan untreated control group design with dependent prates and postetst dengan menambahkan tindak lanjut. Responden penelitian sebanyak 14 orang yang terbagi ke dalam 7 orang kelompok eksperimen dan 7 orang kelompok kontrol. Penelitian ini menggunakan alat ukur stres kerja guru dengan koefisien reabilitas sebesar 0,873. Modul pelatihan kebersyukuran disusunberdasarkan tiga aspek kebersyukuran (Al-Munajjid, 2006; Al-Jauziyyah, 2010), yakni niat (hati), ucapan (lisan), dan perbuatan (anggota badan). Data dianalisis menggunakan Anava Mixed Design untuk melihat perbedaan skor dalam kelompok (prates, pascates, dan tindak lanjut) serta perbedaan skor antar kelompok (eksperimen dan kontrol). Hasil analisis data menunjukkan adanya perbedaan skor yang signifikan pada prates, pascates, dan tindak lanjut antar kedua kelompok. Hal tersebut ditunjukkan dengan skor F = 7,393 dan p = 0,003 (p<0,05). Selain itu, terdapat penurunan tingkatstres kerja pada kelompok eskperimen secara signifikan (MD = 13,857 dan p = 0,012), sementara pada kelompok kontrol terjadi peningkatan stres kerja (MD = -6,571 dan p = 0,189). Artinya, kelompok eksperimen mengalami penurunan tingkat stres kerjasetelah diberi pelatihan kebersyukuran sementara kelompok kontrol yang tidak diberi pelatihan kebersyukuran mengalami peningkatan stres kerja. Selanjutnya, skor partial Eta Squared = 0,561 yang berarti bahwa pelatihan kebersyukuran memberikan kontribusi sebesar 56,1 % terhadap penurunan stres kerja guru.Kata kunci: Stres Kerja Guru, Pelatihan Kebersyukuran, Sekolah Inklusi This study examines the effect of gratitude training in reducing teachers work stress in inclusive schools. The hypothesis of this study is the group that given gratitude training has lower work stress than the group that did not receive gratitude training. This study was an experimental research that used the untreated control group design with dependent pretest and postetst added by follow-up. Participants of this study were 14 participants that divided into 2 groups (experimental group and control group). There are 7 participants in each group. This study used teacher stress inventory developed by Fimian (1988) that were modified by researchers with coefficient of reliability at 0,873. Gratitude training manuals were developed based on three aspects of gratitude according to Al-Munajjid, (2006) and Al-Jawziyyah (2010). Those three aspects are intention (liver), speech (verbal), and behavior (physically). The data were analyzed using Mixed Design Anova to determine the differences of pretest, pascates, and follow-up’s score, and the different between experimental and controlled group’s score. The results showed a significant difference in work stress score at pretest, posttest, and follow-up between the experimental and controlled group (F = 7.393, p = 0.003 (p <0.05)). In addition, there was significant changes in work stress at experimental group (MD = 13.857 and p = 0.012), whereas in the control group there was no significant change (MD = -6.571 and p = 0.189). Those findings indicate that there was reduction in the level of work stress in the experimental group. Whereas the increase of work stress showed in the controlled group. Furthermore, a score partial Eta Squared = 0.561 indicates that the gratitude training contributed 56.1% to the reduction of teacher work stress.Keywords: teachers work stress, gratitude training, inclusive school


2016 ◽  
Vol 18 (2) ◽  
pp. 128
Author(s):  
Destri Luh Sita Dewi ◽  
Rahma Widyana ◽  
Sriningsih Sriningsih

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelatihan analisis transaksional (AT) untuk peningkatan kemampuan komunikasi interpersonal pada perawat poli eksekutif Nusa Indah RSUD Dr. Adhyatma, Provinsi Jawa Tengah. Hipotesis yang diajukan penelitian ini adalah ada perbedaan kemampuan komunikasi interpersonal antara subjek yang mendapatkan pelatihan AT dengan subjek yang tidak mendapatkan pelatihan AT, ada perbedaan skor kemampuan komunikasi interpersonal pada kelompok eksperimen sebelum dan sesudah diberikan pelatihan AT. Subjek penelitian ini sebanyak 10 orang perawat poli eksekutif Nusa Indah RSUD Dr. Adhyatma, Provinsi Jawa Tengah. Subjek dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu 5 orang subjek sebagai kelompok eksperimen, dan 5 orang subjek sebagai kelompok kontrol. Penempatan subjek  dalam kelompok dilakukan secara random. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah randomized pretest-posttest control group design. Pengukuran dilakukan dengan pengukuran pre-test, post-test, dan follow-up menggunakan skala Kemampuan Komunikasi Interpersonal. Metode analisis yang digunakan adalah analisis non parametrik (Mann-Whitney dan Uji Wilcoxon). Hasil uji hipotesis menghasilkan nilai Z = -2,032 (p<0,01), artinya ada perbedaan kemampuan komunikasi interpersonal antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Selisih rerata skor kemampuan komunikasi interpersonal kelompok eksperimen (69,4) lebih besar daripada kelompok kontrol (-5,8), sehingga hipotesis penelitian ini diterima. Pada kelompok eksperimen menunjukkan ada perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah pelatihan (Z=-2,023;P<0,01), dengan peningkatan rerata skor sebesar 71,6 sehingga hipotesis juga diterima.


2020 ◽  
Vol 8 (2) ◽  
pp. 177
Author(s):  
Agus Salim ◽  
Nanik Prihartanti

Objektif:Karyawan diharapkan mampu menyelesaikan tuntutan pekerjaannya seperti kelelahan kerja agar mampu bersaing dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Pelatihan job crafting menjadi salah satu cara untuk mengurangi burnout, karena job crafting membantu karyawan untuk aktif dan proaktif dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pelatihan job crafting untuk menurunkan burnout pada karyawan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah 28 orang karyawan PT. CDM Semarang Jawa Tengah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran burnout dilakukan dengan skala Maslach Burnout inventory (MBI). Data dianalisis dengan analisis ANOVA mixed design.Temuan: Hasil uji interaksi skor burnout antara kelompok eksperimen dan kontrol yang disilangkan dengan waktu pengukuran skor (pretest-posttest-follow up) menunjukkan nilai F-hitung sebesar 52,977 dan signifikansi 0,000. Sumbangan efektif yang diberikan pelatihan job crafting dalam menurunkan burnout adalah sebesar 85,5% untuk kelompok eksperimen.Kesimpulan:Pelatihan job crafting efektif digunakan untuk menurunkan burnout pada karyawan.Objektif:Karyawan diharapkan mampu menyelesaikan tuntutan pekerjaannya seperti kelelahan kerja agar mampu bersaing dan meningkatkan produktivitas dalam bekerja. Pelatihan job crafting menjadi salah satu cara untuk mengurangi burnout, karena job crafting membantu karyawan untuk aktif dan proaktif dalam bekerja. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas pelatihan job crafting untuk menurunkan burnout pada karyawan.Metode: Penelitian ini menggunakan metode quasi eksperimen dengan desain pretest-posttest control group design. Subjek penelitian adalah 28 orang karyawan PT. CDM Semarang Jawa Tengah yang dibagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Pengukuran burnout dilakukan dengan skala Maslach Burnout inventory (MBI). Data dianalisis dengan analisis ANOVA mixed design.Temuan: Hasil uji interaksi skor burnout antara kelompok eksperimen dan kontrol yang disilangkan dengan waktu pengukuran skor (pretest-posttest-follow up) menunjukkan nilai F-hitung sebesar 52,977 dan signifikansi 0,000. Sumbangan efektif yang diberikan pelatihan job crafting dalam menurunkan burnout adalah sebesar 85,5% untuk kelompok eksperimen.Kesimpulan:Pelatihan job crafting efektif digunakan untuk menurunkan burnout pada karyawan.


2017 ◽  
Vol 1 (1) ◽  
pp. 30
Author(s):  
Rela Mar'ati ◽  
Moh. Toriqul Chaer

<div class="WordSection1"><p class="IABSTRAK"><strong>Abstract:</strong> Everyone has experienced anxiety at certain moments in his life. But if anxiety is excessive and left alone without proper treatment it will become maladaptive behaviors that harm and degrade the quality of life. This article aims to examine empirically the effect of reading and meaning of the verses of the Qur'an to the decrease anxiety of <em>santriwati</em> Ar Rohmah Aliyah Boarding School Ngawi. The hypothesis is reading and meaning of the verses of the Qur'an can reduce the level of anxiety in <em>santriwati</em> of Aliyah Pondok Pesantren Al-Rohmah Ngawi. The number of subjects in this study 80 female students with purposive sampling technique. The research method used experimental design with pretest-posttest control group design. Based on the test results Mann Whitney U and Wilcoxon for pretest, posttest, and follow-up on the experimental and control groups was concluded that the reading and interpreting process of the verses of the Qur'an significantly to lowering anxiety levels of <em>santriwati</em> in Ar Rohmah Aliyah Boarding School Ngawi.</p><p class="IABSTRAK"><strong>Abstrak:</strong> Setiap orang pernah mengalami cemas pada saat-saat tertentu dalam hidupnya. Namun jika kecemasan ini berlebihan dan dibiarkan saja tanpa ada penanganan yang tepat maka akan menjadi perilaku yang maladaptif yang merugikan dan menurunkan kualitas hidup. Artikel ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh pembacaan dan pemaknaan ayat-ayat al-Qur’an terhadap penurunan kecemasan santriwati Aliyah Pondok Pesantren Ar Rohmah. Hipotesis yang diajukan adalah pembacaan dan pemaknaan ayat-ayat<em> </em>al-Qur’an dapat menurunkan tingkat kecemasan santriwati Aliyah Pondok Pesantren Ar-Rohmah Ngawi. Jumlah subjek dalam penelitian ini 80 santriwati dengan tehnik <em>purposive sampling</em>. Metode penelitian menggunakan eksperimen dengan rancangan <em>pretest-posttes control group design</em>. Berdasarkan hasil uji <em>Mann u whitney</em> dan <em>Wilcoxon</em> untuk <em>pretest, posttest, dan follow up</em> pada kelompok eksperimen dan kontrol diperoleh kesimpulan bahwa pembacaan dan pemaknaan ayat-ayat al-Qur’an signifikan untuk menurunkan tingkat kecemasan santriwati Aliyah Pondok Pesantren Ar Rohmah Ngawi.</p></div><p class="IKEYWORDS"> </p>


2019 ◽  
Vol 2 (2) ◽  
pp. 759
Author(s):  
Ade Ubaidah ◽  
Sri Tiatri ◽  
Heni Mularsih

Biblioterapi adalah  suatu metode yang menggunakan literatur dalam membantu klien agar mampu mengungkapkan permasalahan yang dihadapinya dan merubah cara pandang berpikirnya sebagai upaya membantunya mengatasi masalah emosi, kondisi mental yang tidak stabil untuk mengatasi perubahan dalam hidupnya. Banyak penelitian biblioterapi yang mengungkapkan bahwa biblioterapi efektif dalam mengatasi masalah, diantaranya dalam menurunkan agresivitas pada remaja. Akan tetapi, peneliti belum mendapati kajian penelitian biblioterapi untuk meningkatkan ketangguhan akademik pada siswa remaja. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas biblioterapi untuk meningkatkan ketangguhan akademik santri pesantren, suatu studi pada santri kelas 7 SMPIT, Pesantren X, Bogor, Jawa Barat. Penerapan biblioterapi dilakukan pada lima partisipan eksperimen yang dipilih secara purposive sampling, yang dilaksanakan dalam sebelas kali pertemuan, yang dibagi menjadi empat tahap berdasarkan teori tahapan biblioterapi menurut Pardeck (1993) yaitu identifikasi, seleksi, presentasi, dan follow-up. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen, dengan randomized pretest-posttest control group design. Data pengukuran ketangguhan akademik pada kelompok kontrol dan eksperimen diolah dengan SPSS menggunakan metode Independent Sample T-test menunjukkan biblioterapi tidak efektif untuk meningkatkan ketangguhan akademik santri pesantren(t = -,17, p = 0,87, p > 0,05),. Hal ini dikarenakan keberhasilan biblioterapi sangat dipengaruhi oleh kesiapan partisipan untuk terlibat dalam proses vicarious learning selama mengikuti biblioterapi.


2018 ◽  
Vol 4 (1) ◽  
Author(s):  
Retno Issroviatiningrum ◽  
Shanti Wardaningsih ◽  
Novita Kurnia Sari

ABSTRAK Upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan keperawatan khususnya untuk mendukung peserta didik menjadi perawat profesional memerlukan proses pembelajaran dengan menggunakan fasilitas keterampilan klinis. Practice based simulation model didasarkan pada teori belajar konstruktif yang menegaskan bahwa pengetahuan tidak pasif ditransfer dari pendidik kepada peserta didik, tetapi dibangun oleh peserta didik melalui pengolahan pengalaman dan interaksi dengan lingkungan mereka. Dengan metode simulasi di laboratorium dapat mendorong mahasiswa untuk menggunakan critical thinking dalam mengambil keputusan dalam mengatasi masalah tanpa merugikan pasien yang sebenarnya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh practice based simulation model terhadap critical thinking pada mahasiswa semester VI di FIK Unissula Semarang. Penelitian ini menggunakan metode Quasy – Experiment dengan pendekatan pretest-posttest with control group design. Pengambilan sampel dengan teknik  simple random sampling dengan jumlah 21 responden baik kelompok intervensi maupun kelompok kontrol. Analisis data menggunakan uji Paired T-Test dan Independent Samples T-Test. Hasil penelitian selisih peningkatan critical thinking pada kelompok intervensi sebanyak 11.95 poin dan pada kelompok kontrol 2.05. Practice based simulation model berpengaruh terhadap critical thinking dengan nilai p=0.00<0.05. Disimpulkan bahwa practice based simulation model mempengaruhi critical thinking pada mahasiswa semester VI FIK Unissula Semarang. Kata kunci: Practice based simulation model, critical thinking


2017 ◽  
Vol 9 (2) ◽  
pp. 99
Author(s):  
St Fatimah Azzahra

ABSTRACTThis research is aimed to know the differences increase critical thinking skills through learning group and individual problem solving in thermochemical material. This research uses a quasi-experimental design with nonequivalent control group design and study sample consisted of 103 students, divided into the first experimental (group problem solving) (35 students), the two group experimental (individual problem solving) (34 students). The collected through pretest-posttest. The analyzed with the Kruskal Wallis test, the results showed that the learning problem solving as a group or individually can improve students’ critical thinking skills. Statistical test there are significant differences in the students critical thinking skills thermochemical material between students who received group and individual problem solving. Critical thinking skills improvement with problem solving individual learning higher compared with group learning problem solving.Keywords: problem solving learning, critical thinking skillsABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan peningkatan keterampilan berpikir kritis siswa melalui pembelajaran group dan individual problem solving pada materi termokimia. Penelitian ini menggunakan metode quasi experimen dengan desain Nonequivalent Control Group Design dan sampel penelitian ini terdiri dari 103 siswa yang terbagi ke dalam kelompok eksperimen pertama (pembelajaran group problem solving) (35 siswa), kelompok eksperimen kedua (pembelajaran individual problem solving) (34 siswa).Pengumpulan data dilakukan melalui pretest-posttest. Data dianalisis dengan uji Kruskal Wallis Test, hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran problem solving secara group maupun secara individual dapat meningkatkan keterampilan berpikir kritis siswa. Data uji statistik, terdapat perbedaan yang signifikan keterampilan berpikir kritis siswa pada materi termokimia antara siswa yang mendapat pembelajaran group problem solving dan individual problem solving. Peningkatan keterampilan berpikir kritis dengan pembelajaran individual problem solving lebih tinggi dibandingkan dengan pembelajaran group problem solving.Kata Kunci: Pembelajaran Problem Solving, Keterampilan Berpikir Kritis


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document