scholarly journals PENGARUH HYPNOBIRTHING TERHADAP INTENSITAS NYERI PADA PERSALINAN KALA I FASE AKTIF DI BPM ISTRI UTAMI DAN TUTIK PURWANI KABUPATEN SLEMAN

2017 ◽  
Vol 8 (2) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Zaiyidah Fathony

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh hypnobirthing terhadap intensitas nyeri pada persalinan kala I fase aktif. Jenis penelitian ini eksperimen  dengan rancangan Randomized Controlled Trial (RCT). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu hamil yang memeriksakan diri ke BPM Istri Utami  dan BPM Tutik Purwani Kabupaten Sleman dengan teknik pengambilan sampel secara random dengan 22 sampel pada masing-masing kelompok perlakuan dan kontrol. Analisis data menggunakan chi square. Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, rerata skor nyeri antara  kelompok perlakuan dan kelompok  kontrol terdapat perbedaan (p= 0,025). Hasil analisis multivariat model II didapatkan nilai OR dari variabel hypnobirthing adalah 4,50 yang berarti ibu yang tidak diberikan hypnobirthing berpeluang 4,50 kali untuk mengalami nyeri persalinan berat dibandingkan ibu bersalin yang diberikan perlakuan hypnobirthing. Hypnobirthing  yang dilakukan sejak kehamilan trimester III (usia kehamilan 32 minggu) yang diberikan sebanyak 3 kali dalam 3 minggu berpengaruh terhadap intensitas nyeri saat persalinan kala I fase aktif.

2017 ◽  
Vol 9 (02) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Adinda Putri Sari Dewi ◽  
Djaswadi Dasuki ◽  
Farida Kartini

Penelitian ini bertujuan untuk Mengetahui efek pijat punggung sebagai salah satu cara dalam meningkatkan produksi ASI pada ibu pasca bedah sesar. Desain Penelitian yang digunakan adalah Randomized Controlled Trial. Teknik Pengambilan sampel dengan simple random sampling dengan jumlah sampel sebanyak 27 responden pada masing-masing kelompok (intervensi dan kontrol). Analisis bivariat menggunakan chi square dengan tingkat kemaknaan p<0,05, analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk mengidentifikasi variabel perancu terhadap produksi ASI pasca bedah sesar. Hasil Penelitian menunjukan adanya perbedaan produksi ASI antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dengan RR sebesar 1,9 (95%CI: 1,097-3,291). Paritas dan frekuensi menyusui mempunyai hubungan yang bermakna dengan produksi ASI pada ibu pasca bedah sesar.Usia ibu, obesitas, waktu rawat gabung tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan produksi ASI.


2011 ◽  
Vol 51 (2) ◽  
pp. 111
Author(s):  
Yenny Yenny ◽  
Roni Naning ◽  
Amalia Setyati

Background T h e prevalence of the common cold in children is high, v.ith 30% of cases exhibiting an acute cough, the most common complaint by parents. Erdosteine, a recently developed cough medicine, is available for children. Erdosteine has been reported to increase mucodliary clearance, act as an antioxidant and prevent bacterial adhesion.Objective To assess the clinical improvement in acute cough in children \\lith a common cold taking erdosteine vs. a placebo.Methods We conducted a double􀀾blind, randomized, controlled trial at the Public Health Center of Gedongtengen, Yogyakarta with 140 children selected by a consecutive sampling method. Research subjects were randomized by computer program into two treatment groups, those receiving erdosteine therapy and those receiving a placebo. Both groups were monitored for 6 days. A scoring system was used to assess the improvement of acute cough symptoms and analyzed by Chi-square test.Results No significant differences in basic characteristics, cough severity, or environment were found among the 140 children with common cold in the two groups. After 6 days of treatment, no significant difference in clinical improvement of acute cough was found between the erdosteine (65 subjects improved out of 70) and placebo groups (62/70),92.5% and 88.6%, respectively (P=0.382).Conclusion Erdosteine was not more effective than the placebo for treatment of acute cough in children with common cold.


Sari Pediatri ◽  
2016 ◽  
Vol 16 (4) ◽  
pp. 221
Author(s):  
Elvi Suryati ◽  
Agus Priyatno ◽  
Noor Wijayahadi

Latar belakang. Anak dengan penyakit jantung bawaan (PJB) pirau kiri ke kanan lebih mudah menderitapneumonia. Seng merupakan trace element yang berperan dalam sistem imunitas tubuh.Tujuan. Membuktikan pengaruh suplementasi seng dalam mencegah kejadian pneumonia pada anak PJBpirau kiri ke kanan.Metode. Dilakukan double blind randomized controlled trial pada anak PJB pirau kiri ke kanan usia 12–60bulan di Poliklinik Kardiologi Anak RS dr Kariadi. Subjek penelitian dibagi 2 kelompok yang mendapatsuplementasi seng 20 mg/hari dan plasebo, pemberian selama 2 minggu, selanjutnya dipantau selama 3bulan. Data kejadian pneumonia dikumpulkan melalui wawancara saat kontrol atau melalui telepon setiap2 minggu selama 3 bulan. Pemeriksaan antropometri dan laboratorium dilakukan sebelum dan sesudahsuplementasi. Analisis statistik dilakukan dengan uji chi-square dan Mann-Whitney.Hasil. Subjek 40 anak dengan PJB pirau kiri ke kanan didapatkan kejadian pneumonia pada kelompok seng(5%) lebih rendah dibanding plasebo (30%), perbedaan ini tidak berbeda bermakna. Episode pneumonialebih rendah pada kelompok seng 1 kali dibandingkan plasebo 1-2 kali selama 3 bulan pengamatan, tidakberbeda bermakna. Terdapat peningkatan kadar seng secara bermakna pada kelompok perlakuan dari median57,55 menjadi 72,42 mcg/dL dibandingkan plasebo 42,40 menjadi 52,85 mcg/dL (p=0,002). Terdapatperbedaan bermakna selisih peningkatan kadar seng pada kelompok seng 20 mcg/dL dibanding plasebo7,25 mcg/dL (p=0,004). Didapatkan manfaat suplementasi seng terhadap pencegahan pneumonia denganrelative risk reduction (RRR) 83%.Kesimpulan. Suplementasi seng menurunkan kejadian pneumonia pada anak PJB pirau kiri ke kanan.


2020 ◽  
Author(s):  
Margrethe Røed ◽  
Frøydis Nordgård Vik ◽  
Elisabet Rudjord Hillesund ◽  
Wendy Van Lippevelde ◽  
Anine Christine Medin ◽  
...  

BACKGROUND Parents seek trustworthy information online to promote healthy eating for their toddlers. Such information must be perceived as relevant and easy to implement and use. OBJECTIVE The objectives of this study were to conduct a process evaluation of the electronic health (eHealth) intervention (Food4toddlers) targeting food environment, parental feeding practices, and toddlers’ diet and to examine possible differences in these areas according to education and family composition. METHODS A 2-armed randomized controlled trial, including 298 parent–toddler dyads from Norway, was conducted in 2017. In total, 148 parents in the intervention group received access to an intervention website for 6 months. Data on website usage were retrieved from the learning management platform used (NEO). Participants’ satisfaction with the intervention was asked for in a postintervention questionnaire. Chi-square and <i>t</i> tests were used to examine differences in usage and satisfaction between education and family composition groups. RESULTS Most participants were mothers (144/148, 97.2%), lived in two-adult households (148/148, 100%), and were born in Norway (132/148, 89.1%). Mean parental age was 31.5 years (SD 4.2). More than 87.8% (129/147) had a university education degree and 56.5% (83/147) had over 4 years of university education. Most (128/148, 86.5%) intervention participants entered the website at least once (mean days of access 7.4 [SD 7.1]). Most parents reported the website as appropriate to the child’s age (71/83, 86%) and self-explanatory (79/83, 95%) and appreciated the interface (52/83, 63%) and layout (46/83, 55%). In total, 61% (51/83) stated that they learned something new from the intervention. Parents with over 4 years of university education and in 1-child households used the intervention website more than those with 4 years or less of university education (8.4 vs 5.9 days in total, <i>P</i>=.04) and households with more than 1 child (8.3 vs 5.8 days in total, <i>P</i>=.04), respectively. CONCLUSIONS The Food4toddlers intervention website was found to be relevant by most participants in the intervention group, although usage of the website differed according to educational level and family composition. For eHealth interventions to be effective, intervention materials such as websites must be used by the target group. Our results highlight the need to include users from different groups when developing interventions. CLINICALTRIAL ISRCTN Registry ISRCTN92980420; http://www.isrctn.com/ISRCTN92980420


e-CliniC ◽  
2021 ◽  
Vol 9 (2) ◽  
pp. 524
Author(s):  
Raven C. P. Maubanu ◽  
Rizaldy T. Pinzon ◽  
M. M. A. Dewi Lestari

Abstract: There are several types of medications that can be used to relieve pain in low back pain (LBP) cases, inter alia non-steroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs), opioids, non-opioid analgesics, antidepressants, and muscle relaxants. This study was aimed to compare the functional status of patients treated with combination of ibuprofen and eperisone hydrochloride and those treated with ibuprofen only. This was a randomized controlled trial. Samples were taken by using purposive sampling with a total of 100 samples as subjects, divided into two groups: group 1 as the experimental group treated with combination therapies of ibuprofen and eperisone hydrochloride and group 2 as the control group treated with ibuprofen only. The therapy was performed for three times with a span of two weeks between each visit. The functional status was measured with finger-to-floor distance (FFD) test and the analysis was performed by using the chi-square test. The results showed 39 males and 61 females as subjects. There was no meaningful difference on the basic characteristics. The functional status of the subjects improved as the intensity of pain decreased. The results of the FFD test indicated that there was improvement of functional status of each group on the second visit, as follows: group 1 had 30 subjects (62.5%) with a distance of <10 cm and group 2 had 24 subjects (55.8%) with a distance of <10 cm. In conclusion, the functional status of non-specific acute lower back pain patients treated with combination of ibuprofen and eperisone hydrochloride was better than those treated with ibuprofen only.Keywords: low back pain; functional status; ibuprofen; eperisone hydrochloride combination  Abstrak: Terdapat beberapa jenis obat yang dapat digunakan untuk menghilangkan nyeri pada nyeri punggung bawah (NPB), antara lain golongan obat anti inflamasi non steroid (OAINS), opioid, analgesik non-opioid, antidepresan, dan pelemas otot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OAINS tidak cukup memadai sehingga perlu tambahan pelemas otot. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan status fungsional pasien yang diberikan terapi kombinasi ibuprofen dan eperison dengan yang diberikan terapi ibuprofen saja. Penelitian ini menggunakan randomized controlled trial. Sampel diambil menggunakan purposive sampling dengan total 100 sampel sebagai subjek. Subjek dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok 1 sebagai kelompok eksperimental yang diberikan terapi kombinasi ibuprofen dan eperison dan kelompok 2 sebagai kelompok pembanding yang diberikan terapi ibuprofen. Terapi dilakukan sebanyak 3 (tiga) kali dengan rentang waktu dua minggu antara setiap kunjungan. Status fungsional diukur dengan finger-to-floor distance test (FFD). Data penelitian dianalisis dengan uji chi-square. Hasil penelitian mendapatkan 39 laki-laki dan 61 perempuan sebagai subyek penelitian. Tidak terdapat perbedaan bermakna pada karakteristik dasar. Status fungsional subjek semakin membaik bila intensitas nyeri semakin berkurang. Hasil FFD test menunjukkan adanya perbaikan status fungsional setiap kelompok pada kunjungan kedua, yaitu pada kelompok 1 terdapat 30 subjek (62,5%) yang memiliki jarak <10 cm dan pada kelompok 2 terdapat 24 subjek (55,8%) yang memiliki jarak <10 cm. Simpulan penelitian ini ialah status fungsional pada pasien NPB akut non-spesifik yang diberikan pengobatan terapi kombinasi ibuprofen dan eperison lebih baik daripada yang diberikan pengobatan ibuprofen saja.Kata kunci: nyeri punggung bawah; status fungsional; ibuprofen; eperison


2010 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 37-39
Author(s):  
MB Bellad ◽  
Patil Kamal ◽  
Patil Rajeshwari

ABSTRACT Objective To study the effectiveness of artificial rupture of membranes(ARM) in reducing the duration of labor in primigravida. Methods A one year prospective randomized controlled trial was carried out on 200 primigravida (100 each to ARM and no ARM group) meeting the selection criteria. The outcomes were noted in both the groups. Data analysis was done using Chi Square and Z test. Results The mean duration of labor from enrolment to full dilation of the cervix or bearing down sensation was 4.76 ± 1.64 in ARM group compared to 5.66 ± 1.85 in the control group which was statistically significant (p value = 0.000; 95%). There was no difference in the duration of second and third stage of labor in both groups. There was no significant difference in the mode of delivery between ARM and control group. There was no significant difference in mean birth weight and Apgar score between the two groups. Conclusion ARM definitely reduced the duration of labor without any detrimental effects on fetus, mother and mode of delivery. Hence, there is no reason to strive to maintain the integrity of the fetal membranes in spontaneous labor in women where ARM is not contraindicated.


2019 ◽  
Vol 7 (1) ◽  
pp. 25-32
Author(s):  
Arna Fransisca ◽  
Iwan Fuadi ◽  
Dewi Yulianti Bisri

Mual muntah pascaoperasi merupakan salah satu komplikasi anestesi dan operasi yang menjadi perhatian khusus karena memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan, memperpanjang lama perawatan, dan meningkatkan angka morbiditas perioperatif. Pascaoperasi payudara berkaitan dengan angka kejadian mual muntah pascaoperasi yang tinggi. Beberapa konsensus penatalaksanaan mual muntah pascaoperasi merekomendasikan pemberian terapi nonfarmakologi dengan aromaterapi sebagai terapi rescue untuk mengatasi mual muntah pascaoperasi. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan aromaterapi pepermin dengan ondansetron sebagai terapi rescue dalam menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi mastektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan secara prospektif dengan desain penelitian double blind randomized controlled trial dan consecutive sampling terhadap 32 subjek penelitian yang menjalani operasi mastektomi elektif dan memenuhi kriteria inklusi di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli–September 2018. Pada penelitian ini, data ordinal diuji dengan Uji Mann Whitney dan untuk data kategorik diuji dengan uji chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan penurunan kejadian mual muntah pascaoperasi yang signifikan pada kelompok pepermin dibanding dengan kelompok ondansetron dengan perbedaan yang bermakna (p<0,05) pada penilaian menit kedua dan menit kelima setelah perlakuan. Simpulan, aromaterapi pepermin efektif menurunkan kejadian mual muntah pascaoperasi mastektomi dan dapat digunakan sebagai alternatif terapi atau terapi tambahan untuk penatalaksanaan mual muntah pascaoperasi.Comparison of Peppermint Aromatherapy with Ondansetron Intravenous as a Rescue for Postoperative Nausea Vomiting after Mastectomy SurgeryPostoperative nausea and vomiting are among anesthesia and surgery  complications that receive special considerations as it affects the quality of healthcare services, prolongs care, and increases perioperative morbidities. The incidence of postoperative nausea and vomiting is high in patients that have undergone breast surgery. The consensus for postoperative nausea and vomiting management recommends non-pharmacological treatments, one of which is through the use of aromatherapy as a rescue to resolve postoperative nausea and vomiting. This study aimed to compare the effects of peppermint aromatherapy and ondansetron as a rescue in reducing the incidence of postoperative nausea and vomiting after elective mastectomies. This was a prospective experimental double blind randomized controlled trial study with consecutive sampling on 32 research subjects underwent elective mastectomies and met the inclusion criteria in Dr. Hasan Sadikin General Hospital in July–September 2018. The ordinal data were tested using the Mann Whitney statistics test and the categorical data using the chi square test. The results show a significant decrease in nausea and vomiting incidence in the peppermint group compared to the ondansetron group with significant difference (p<0.05) in two minutes and five minutes after treatment. In conclusion, peppermint aromatherapy is effective in reducing the incidence of postoperative nausea and vomiting after mastectomies and can be used as an alternative or additional treatment in managing postoperative nausea and vomiting.


2021 ◽  
Author(s):  
Jong Hoon Lee ◽  
Badar Kanwar ◽  
Chul Joong Lee ◽  
Jenny Balentine ◽  
Asif Khattak ◽  
...  

Abstract Background Clinicians considered DDS administration to treat SARS-CoV-2 inflammasome. DDS is helpful in the molecular regulation of Nod-like receptor family pyrin domain-containing 3 (NLRP3).Objective To study the targeting of NLRP3 itself or up-/downstream factors of the NLRP3 inflammasome by DDS must be responsible for its observed preventive effects, functioning as a competitor.Methods This is a randomized controlled trial (RCT). We set out to use objective criteria of improvement. We treated the patients with standard Covid-19 acute respiratory distress syndrome (ARDS) treatment with DDS. The RCT results were analyzed.Results ARDS progression was blocked in 17 of 19 total patients at the first period. The 44 subjects were analyzed during the second period. It is significant at the ARDS onset stage. The mortality of ARDS-onset patients was 0% with DDS and 40% without DDS among the total of 65 cases. The t-value of RCT is -1.5, and the p-value is .075475. The result is significant at p < 0.10. ARDS onset with DDS prescribed group survived more 90% than ARDS onset without DDS group. The chi-square is 5.8108. The p-value is .015928. (Significant at p < .05) (RR 0.15, OR 0.09)Conclusion There was a significant difference in DDS treatment results in the ARDS-onset group. We confirmed that DDS clinically treated the onset of ARDS by targeting SARS-CoV-2-activated inflammasomes. Like chemically reacting substances, inflammasome and DDS compete, proving that it is effective in early ARDS.ClinicalTrials.gov Identifier: NCT04918914


Sari Pediatri ◽  
2016 ◽  
Vol 14 (3) ◽  
pp. 147
Author(s):  
BRW. Indriasari ◽  
JC. Susanto ◽  
Suhartono Suhartono

Latar belakang.Defisiensi seng sangat sering terjadi pada anak-anak di negara berkembang. Suplementasi seng dapat menurunkan insidens diare, memperbaiki defisiensi seng, serta memperbaiki pertumbuhan dan perkembangan anak. Tujuan.Membuktikan pengaruh suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu terhadap insidens diare serta tumbuh kembang pada anak usia 24-33 bulan. Metode.Penelitian eksperimental dengan double-blind, randomized controlled trial, dilakukan di beberapa kelompok PAUD di Kelurahan Tandang, Semarang pada Desember 2010-Februari 2011. Seratus anak usia 24-33 bulan secara random dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (n=50) menerima 5 cc sirup seng elemental 20 mg dua kali seminggu dan kelompok kontrol (n=50) menerima 5 cc sirup plasebo dua kali seminggu selama 12 minggu. Kadar seng plasma diperiksa sebelum perlakuan. Pertumbuhan dinilai dengan antropometri (berat badan, tinggi badan) dan perkembangan (skor bahasa, visual motorik) menggunakan Capute scale test, diukur sebelum dan setelah perlakuan. Data morbiditas diare dan pengukuran tinggi badan dan berat badan dicatat dan diukur setiap 2 minggu, perkembangan kognitif dipantau setiap 4 minggu saat kunjungan rumah. Uji statistik dilakukan dengan Chi-square dan Mann-Whitney test.Hasil. Insidens diare pada kelompok perlakuan 34%, risiko relatif 1,32 (95% IK=0,89-1,95), sedang pada kontrol 22%. Rerata kadar seng serum pada kelompok perlakuan dan kontrol rendah (<60 mcg/dL) dengan nilai p=0,059. Rerata perubahan skor WAZ dan HAZ kelompok perlakuan sama dengan kontrol 0,11 dengan nilai p=0,098. Rerata perubahan skor WHZ kelompok perlakuan 0,19 dan kontrol 0,32 dengan nilai p=0,647. Perubahan skor bahasa kelompok perlakuan 7,72 dan kontrol 6,98 dengan nilai p=0,319 dan perubahan skor visual motorik kelompok perlakuan 6,30 dan kontrol 5,78 dengan nilai p=0,342.Kesimpulan.Suplementasi seng 20 mg dua kali seminggu selama 12 minggu tidak menurunkan insidens diare pada kelompok perlakuan. Terjadi percepatan pertumbuhan serta perubahan skor bahasa dan visualmotorik pada kelompok perlakuan tetapi dengan uji statistik tidak ada perbedaan bermakna.


2018 ◽  
Vol 30 (2) ◽  
pp. 127
Author(s):  
Mohammad Jaelani ◽  
Meirina Dwi Larasati ◽  
Ana Yuliah Rahmawati ◽  
Ria Ambarwati

<p><br />Diet rendah energi dan peningkatan aktivitas secara individual belum efektif dalam penurunan berat badan. Oleh karena itu, perlu dicari metode lain atau memodifikasi metode dengan membentuk kelompok peer group aktivitas. Tujuan penelitian ini menganalisis efektifitas aktivitas peer group terhadap kepatuhan aktivitas fisik, kepatuhan diet, penurunan berat badan dan persen lemak tubuh pada remaja overweight. Desain penelitian menggunakan Randomized Controlled Trial dengan rancangan eksperimental ulang pre-posttest control group design. Subjek penelitian adalah remaja putri overweight sebanyak 13 orang kelompok kontrol dan 13 orang kelompok perlakuan. Subjek dilakukan intervensi berupa jogging minimal 30 menit dan naik turun tangga sebanyak 10 kali per hari selama empat minggu. Ukuran kepatuhan diet diambil setiap minggu berdasarkan hasil recall 2x24 jam selama 4 minggu. Perbedaan kepatuhan aktivitas fisik dan kepatuhan diet diuji menggunakan Chi Square Test sedangkan perubahan berat badan dan persen lemak tubuh menggunakan ANOVA Repeated Measure Test. Ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan aktivitas fisik (p=0,000) dan penurunan berat badan (p=0,004) antara kelompok perlakuan dan kontrol namun tidak ada perbedaan yang signifikan antara kepatuhan diet (p&gt;0,05) dan penurunan persen lemak tubuh (p=0,382) antara kelompok perlakuan dan kontrol. Peer group efektif dalam meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan berat badan pada remaja overweight.</p>


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document