scholarly journals Upaya peningkatan self-esteem pada dewasa muda penyitas kekerasan dalam pacaran dengan Cognitive Behavior Therapy

2020 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 141-159
Author(s):  
Pradipta Christy Pratiwi

Kekerasan dalam pacaran, sering dijumpai pada dewasa muda, dapat terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikologis, dan kekerasan seksual. Dampak signifikan dari kekerasan dalam pacaran adalah rendahnya self-esteempenyitas. Hal ini juga yang menyebabkan penyitas sulit keluar dari siklus kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan intervensi Cognitive Behavior Therapy(CBT) pada dewasa muda penyitas kekerasan dalam pacaran untuk meningkatkanself-esteem mereka. Desain penelitian ini adalah one-group pre-test-post-test design (kuasi eksperimen). Jumlah sampel ialah tiga orang, diperoleh dengan teknikpurposive sampling. Efektivitas terapi dilihat dari evaluasi kualitatif (penambahan skor RSES, observasi, dan wawancara). Alat ukur yang digunakan adalah Rosenberg Self-esteem Scale (RSES) untuk mengukur self-esteem dan Revised Conflict Tactics Scale (CTS2) untuk mengetahui karakteristik kekerasan yang dialami penyitas. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor pada RSES. Selain itu, evaluasi kualitatif juga menunjukkan peningkatan positif aspek kognitif, afektif, dan perilaku subjek penelitian. Oleh karena itu, CBT dapat dikatakan efektif meningkatkan self-esteempada penyitas kekerasan dalam pacaran.

2017 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
pp. 141
Author(s):  
Pradipta Christy Pratiwi

Kekerasan dalam pacaran, sering dijumpai pada dewasa muda, dapat terjadi dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikologis, dan kekerasan seksual. Dampak signifikan dari kekerasan dalam pacaran adalah rendahnya <em>self-esteem</em> penyitas. Hal ini juga yang menyebabkan penyitas sulit keluar dari siklus kekerasan. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan intervensi <em>Cognitive Behavior Therapy</em> (CBT) pada dewasa muda penyitas kekerasan dalam pacaran untuk meningkatkan <em>self-esteem</em> mereka. Desain penelitian ini adalah <em>one-group pre</em><em>-test-post-test design (</em>kuasi eksperimen). Jumlah sampel ialah tiga orang, diperoleh dengan teknik <em>purposive sampling</em>. Efektivitas terapi dilihat dari evaluasi kualitatif (penambahan skor RSES, observasi, dan wawancara). Alat ukur yang digunakan adalah <em>Rosenberg Self-esteem Scale</em> (RSES) untuk mengukur <em>self-esteem</em> dan <em>Revised</em> <em>Conflict Tactics Scale</em> (CTS2) untuk mengetahui karakteristik kekerasan yang dialami penyitas. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan skor pada RSES. Selain itu, evaluasi kualitatif juga menunjukkan peningkatan positif aspek kognitif, afektif, dan perilaku subjek penelitian. Oleh karena itu, CBT dapat dikatakan efektif meningkatkan <em>self-esteem </em>pada penyitas kekerasan dalam pacaran.


2021 ◽  
Vol 11 (2) ◽  
pp. 117
Author(s):  
Dewi Lianasari ◽  
Purwati Purwati

<p>Kuantitas kelulusan tepat waktu mahasiswa menjadi hal yang penting bagi penilaian akreditasi program studi dan mahasiswa. Salah satu penyebab keterlambatan dalam kelulusan tepat waktu mahasiswa adalah kecemasan akademik terhadap skripsi atau sering disebut dengan <em>anxiety academic</em>. Tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah membantu mahasiswa untuk mengurangi <em>anxiety academic</em> terhadap skripsi melalui konseling kelompok pendekatan <em>cognitive behaviour therapy</em> teknik <em>thought stopping</em>. Metode dalam penelitian ini adalah pre eksperimen <em>one group pre test post test design</em> dengan teknik pengambilan sampel <em>purposive sampling</em>. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling kelompok pendekatan <em>Cognitive Behavior Therapy</em> teknik <em>Thought Stopping </em>mampu mengurangi <em>anxiety acedemic</em> mahasiswa terhadap skripsi dibuktikan dengan hasil uji statistik perhitungan <em>Paired Samples test</em> menunjukkan t-<sub>hitung </sub>= 13.132 &gt; t-<sub>tabel</sub>= 2.015.</p>


2017 ◽  
Vol 15 (2) ◽  
Author(s):  
Mutmainah .

Abstract This research aims to examine the implementation of cognitive behaviour therapy to self-confidence of people with disability at Wyata Guna Social Institution for People with Visual Impaired, the subject is 1 person, total visual impaired (IK), 20 years old, has low confidence according to the observation conducted in accordance with confidence characteristic by Peter Lauster (2002) related to stuttering, less participate in starting talk, aloof behaviour and supported by the score of Peter Lauster (2002) self-confidence test translated by Gulo that IK has low confidence characteristic. The method used action research with Single Subject Design ABA model which is aimed to monitor IK behaviour on baseline (A1), intervention and baseline (A2) phase.The result showed that the Cognitive Behavior Therapy intervention proved to enhance self-confidence of people with visual impaired. According to the observation there is a change in positive and significant that is proven from the hypothesis result to the bahavior where the deviation gained is greater than 2 standard deviant (2SD). Moreover it is also supported by the score of self-confidence test of Peter Lauster (2002) on the post-test that has increased with strong average category. Researcher also performed epsilon variable measurement to know the determination coefficient level with a score of 94% while the 6% is the epsilon variable outside factor of Cognitive Behavior Therapy such as influence from family especially parents and peer influence in the environment of subject that contributes to self-confidence of research subject (IK). The interview result showed that IK experienced positive benefit by following the intervention program. Key words: Cognitive Behavior Therapy, Self-Confidence Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menguji penerapan cognitive behavior therapy terhadap kepercayaan diri penyandang disabilitas netra di Panti Sosial Bina Netra Wyata Guna Bandung. Subjek penelitian berjumlah satu orang, penyandang disabilitas netra total (IK), usia 20 tahun, memiliki kepercayaan diri rendah berdasarkan observasi yang dilakukan sesuai dengan karakterisitik kepercayaan diri menurut Peter Lauster (2002) yang berkaitan dengan perilaku gagap, perilaku kurang berinisiatif dalam memulai pembicaraan, perilaku menyendiri, dan didukung juga berdasarkan skor Tes Kepercayaan Diri Peter Lauster (2002) diterjemahkan oleh Gulo bahwa IK memiliki kategori kepercayaan diri rata-rata lemah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan (action reseach), dengan desain penelitian Single Subject Design model ABA yang bertujuan memonitor perilaku IK pada fase baseline (A1), fase intervensi, dan fase baseline (A2).Hasil penelitian menunjukkan intervensi Cognitive Behavior Therapy terbukti dapat meningkatkan kepercayaan diri penyandang disabilitas netra. Berdasarkan observasi yang dilakukan mengalami perubahan yang positif dan signifikan, hal tersebut terbukti pada hasil uji hipotesis terhadap perilaku di mana nilai selisih yang diperoleh lebih besar dari 2 standard deviant (2SD). Selain itu didukung pula dengan hasil skor tes kepercayaan diri Peter Lauster (2002) pada post-test yang mengalami peningkatan dengan kategori rata-rata kuat. Peneliti juga melaksanakan pengukuran variabel epsilon untuk mengetahu tingkat koefisien determinasi dengan nilai 94%, sedangkan 6% lagi adalah nilai dari variabel epsilon yaitu faktor di luar penerapan Cognitive Behavior Therapy berupa pengaruh dari keluarga terutama orangtua dan pengaruh teman sebaya dari lingkungan subjek yang berkontribusi terhadap peningkatan kepercayaan diri subjek penelitian (IK). Hasil wawancara juga menunjukkan bahwa IK merasakan manfaat positif dengan mengikuti program intervensi. Kata kunci: Cognitive Behavior Therapy, Kepercayaan Diri


2018 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 39-51
Author(s):  
Sira Te'dang Patandean

This study aims to determine the effectiveness of Cognitive Behavioral Therapy to  reduce inmates’ prerelease anxiety in Narcotics Prison Class II A Pamekasan using a  quasi-experimental single subject design (A-B) in 5 inmates. Instrument used is Taylor  Manifest Anxiety Scale (TMAS) of Janet Taylor Spence which has been widely used in  Indonesia, including in prisons. Analysis of data using visual analysis and Wilcoxon  Signed Rank Test and calculating the value of r to determine effect size. The trend line  on the visual analysis showed a decrease in inmates’ prerelease anxiety after the  intervention Cognitive Behavior Therapy (CBT) is given. Wilcoxon Signed Rank Test  showed that there are significant differences in inmates’ prerelease anxiety levels before  and after Cognitive Behavior Therapy (CBT) is given (p = 0.042). Wilcoxon Signed Rank  Test results in post test 1 and post test 2 showed that no significant differences in  inmates’ prerelease anxiety levels (p = 0.785). This means that the results of intervention  is likely to be maintained. The results of effect size calculation is done by calculating the  value of r (r = 0.65) showed that CBT provides large effect to reduce the level of inmates’  prerelease anxiety. It can be concluded that CBT is effective to reduce the level of  inmates'prerelease anxiety with large effect. 


2014 ◽  
Vol 21 (1) ◽  
pp. 43-54 ◽  
Author(s):  
Nasrettin Sönmez ◽  
Roger Hagen ◽  
Ole A. Andreassen ◽  
Kristin Lie Romm ◽  
Marit Grande ◽  
...  

2019 ◽  
Vol 4 (2) ◽  
Author(s):  
Hariadi Ahmad ◽  
Yolana Oktaviani

Harga diri merupakan satu kesatuan dalam kebutuhan manusiauntuk menilai dirinya sebagai sesuatu yang positif maupun negative. Harga diri yang positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna, serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini. Sebaliknya, harga diri yang negative akan cenderung merasa bahwadirinya tidak mampu dan tidak berharga, cenderung takut menghadapi respon dari orang lain, tidak mampu membina komunikasi yang baikdan cenderung merasa hidupnya tidak bahagia. Harga diri (self esteem) yang rendah akan digambarkan dengan sikap yang negatif yang cendrung menunjukan keadaan individu lemah yang mengarahp ada kesimpulan tidak berhargadan merasa tidak dapat berpengaruh pada orang lain. Harga diri dapat ditingkaktan dengan membentuk sikap dan perilaku yang salah satunya dapat diterapkan melalui konseling kelompok dengan teknik self instruction. Konseling kelompok adalah proses pemberian bantuan kepada konseli secara kelompok untuk menciptakan dinamika dalam kelompok agar konseli menjadi mandiri. Sedangkan self instruction adalah salah satu teknik di dalam pendekatan Cognitive Behavior Therapy yang bertujuan untuk membentuk ulang pola-pola kognitif, asumsi-asumsi, keyakinan-keyakinan, dan penilaian irasional, merusak dan menyalahkan diri sendiri menjadi lebih realistis. Rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah: Apakah ada pengaruh teknik self instruction terhadap harga diri siswa kelas XI di SMKN 1 Lingsar Kabupaten Lombok Barat tahun pelajaran 2018/2019?.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari teknik self instruction terhadap peningkatan harga diri siswa kelas XI di SMKN 1 Lingsar Kabupaten Lombok Barat tahun pelajaran 2018/2019. Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan kuesioner harga diri dan wawancara sebagai metode pokok serta metode dokumentasi dan observasi sebagai metode pelengkap. Analisis data yang digunakan adalah dengan menggunakan uji t-tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa t-hitung 2,569 lebih besar dari t-tabel 2,365 dengan taraf sifnifikansi 5% sehingga Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh teknik self instruction terhadap peningkatan harga diri siswa kelas XI di SMKN 1 Lingsar Kabupaten Lombok Barat tahun pelajaran 2018/2019 sehingga penelitian ini dapat dikatakan  “signifikan”.


Author(s):  
Claudia Wuri Prihandini ◽  
Ni Komang Matalia Gandari ◽  
Ni Wayan Bunter

Halusinasi adalah merasakan segala sesuatu dalam keadaan sadar yang tampak nyata, namun sebenarnya hanya diciptakan oleh persepsi pikiran sendiri. Pasien dengan halusinasi pendengaran jika tidak segera ditangani akan berakibat kehilangan kontrol seperti bunuh diri, membunuh, bahkan merusak lingkungan. Terapi keperawatan yang direkomendasikan adalah Cognitive Behaviour Therapy (CBT). Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh CBT terhadap penurunan tingkat kekambuhan halusinasi dengar. Penelitian ini menggunakan desain one group pre test post test dengan jumlah sampel sebanyak 63 orang dengan menggunakan teknik sampling purposive. Instrumen untuk mengumpulkan data menggunakan instrumen Psychotic Syndrome Rating Scale. Data dianalisis dengan uji paired-t. Berdasarkan hasil penelitian diatas dapat disimpulkan pemberian terapi CBT memberi pengaruh yang signifikan secara statistik terhadap tingkat kekambuhan halusinasi pada pasien dengan halusinasi dengar dengan nilai signifikansi sebesar 0,000.


2011 ◽  
Vol 14 (3) ◽  
pp. 165-170
Author(s):  
Tri Setyaningsih ◽  
Mustikasari Mustikasari ◽  
Tuti Nuraini

Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan tentang pengaruh Cognitif Behavior Therapy (CBT) terhadap perubahan harga diri klien Gagal Ginjal Kronik (GGK) di unit hemodialisa RS H Jakarta. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif, dengan metode quasi eksperimen pre-post test without control group. Penelitian dilakukan terhadap 27 responden (klien GGK) yang sedang menjalani hemodialisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan harga diri baik dari aspek kognitif maupun perilaku yang signifikan sesudah dilakukan intervensi CBT (p= 0,000; α= 0,05). Rekomendasi hasil penelitian CBT dijadikan salah satu terapi spesialis bagi klien GGK di unit hemodialisa pada khususnya dan klien yang mengalami gangguan psikososial pada umumnya.


2018 ◽  
Vol 7 (2) ◽  
pp. 118-134
Author(s):  
Nafisa Alif Amalia

Self-esteem accorded a prominent role in the transition adolescence to adulthood. High self-esteem was associated with life satisfaction and predicts success and well-being in life domains. Otherwise, low self-esteem predicted depressive symptoms and as an indicator of various forms of internalizing and externalizing psychopathology. This study aimed to determine effectiveness the principles of Cognitive Behavior Therapy (CBT) to increase self-esteem. This study uses single-subject research design. The participant of this study is a 13 years 8 months old girl who has low self-esteem. Self-esteem was measured by a Coopersmith Self-Esteem Inventory (CSEI) from Coopersmith (1967), adolescent’s behavior was measured by Child Behavioral Checklist (CBCL), and supported by interview with adolescent and parent. This intervention consists of three stages, such as the pre-intervention that consists of one session, the intervention that consists of eight sessions, and the post-intervention that consist of one session. The result of this study indicates that CBT can increase self-esteem, especially in certain domains, such as school and general self. Meanwhile, adolescent’s behavior also changes, especially in thought problem aspect. However, other problem experienced by adolescent can be obstacle to effectiveness the principles of Cognitive Behavior Therapy (CBT) to increase self-esteem.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document