scholarly journals NEMATODOS ANISAKIDAE Y RAPHIDASCARIDIDAE PARÁSITOS DE ATUNES (PERCIFORMES: SCOMBRIDAE) DEL ESTADO DE RÍO DE JANEIRO, BRASIL

2020 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
Author(s):  
Marcelo Knoff ◽  
Michelle Cristie Gonçalves da Fonseca ◽  
Nilza Nunes Felizardo ◽  
Antonia Lúcia Dos Santos ◽  
Sérgio Carmona De São Clemente ◽  
...  

Para el presente estudio, fueron adquiridos 276 atunes, entre enero de 2000 y diciembre de 2002, en mercados de peces, siendo 107 ejemplares de Katsuwonus pelamis (Linnaeus, 1758), 5 Auxis thazard (Lacepède, 1800), 92 Thunnus albacares (Bonnaterre, 1788), 30 Thunnus atlanticus (Lesson, 1830), 25 Thunnus obesus (Lowe, 1839), y 17 Thunnus thynnus (Linnaeus, 1758) pescados en el municipio de Cabo Frio, Estado de Rio de Janeiro, Brasil. Cincuenta y seis (20,28%) de los peces fueron parasitados por lo menos con una especie de parásito. Se colectaron un total de 196 nemátodos larvarios y fueron identificados como: Anisakis (Rudolphi, 1809, det. Krabbe, 1878), A. physeteris Baylis 1923, Contracaecum sp. y Raphidascaris sp. Este estudio es el primer registro en Brasil con nuevos registros para los hospederos de A. simplex en T. albacares, T. atlanticus y T. obesus, de A. physeteris en T. albacares, de Contracaecum sp. en T. atlanticus y T. obesus y de Raphidascaris sp. en T. albacares y T. obesus. Se presentaron sus índices parasitarios de prevalencia, intensidad/intensidad media, abundancia/abundancia media y el rango de la variación de la infección. Los nemátodos se colectaron en la mayoría de los cinco sitios de infección, estómago, intestino, ciego, hígado y cavidad abdominal. A. simplex parasitando T. obesus presentó el mayor nivel de prevalencia (32%), intensidad media (4,6) y abundancia media (1,48); y K. pelamis presentó el mayor rango de la variación de la infección (1-17 parásitos por pez) y el número de sitios de infección (estómago, intestino, ciego, hígado y cavidad abdominal). Se evaluó la importancia de la presencia de larvas de nematodos en estos peces para la salud pública.

2002 ◽  
Vol 62 (3) ◽  
pp. 453-457 ◽  
Author(s):  
B. M. M. FERNANDES ◽  
A. KOHN ◽  
A. L. SANTOS

Rhipidocotyle pentagonum (Ozaki, 1924) is reported for the first time in South America parasitizing Auxis thazard and in a new host Katsuwonus pelamis. Tergestia laticollis (Rudolphi, 1819) is reported for the first time in South America and in Thunnus albacares, representing a new host record. Copiatestes filiferus (Leuckart, in Sars, 1885) is recorded for the first time in Brazil and in Thunnus albacares, another new host record. Tetrochetus coryphaenae (Yamaguti, 1934) is presented for the first time in Brazil parasitizing Thunnus albacares.


Author(s):  
Antônio Alberto da Silveira Menezes ◽  
Roberta Aguiar Dos Santos ◽  
Celso Fernandes Lin ◽  
Luis Fernando Faulstich Neves ◽  
Marcelo Vianna

Foram amostrados 2.702 bonitos-listrados (Katsuwonus pelamis) desembarcados no porto de Niterói-RJ, entre janeiro e dezembro de 2007, com comprimentos furcais (Lf) entre 40,1 e 85,6 cm e pesos (Wt) entre 1,0 kg (1° e 2° trimestres) e 11,3 kg (2° trimestre). As maiores médias de comprimento e peso foram registradas no 4° trimestre (61,4 cm e 4,9 kg, respectivamente) e as menores no 1° trimestre (57,2 cm e 3,1 kg). A relação entre o comprimento furcal e peso total, para sexos agrupados, foi: Wt= 3,817 x 10-6Lf3,3773 (n=2026; r2= 0,8716). As médias dos fatores de condição (K) variaram de 0,0062, no 3° trimestre, a 0,0221 no 2° trimestre. As maiores capturas foram observadas nos meados do verão até o início do outono, principalmente compostas por peixes com mais de três anos de idade. Os desembarques de atuns e afins, em 2007, no estado do Rio de Janeiro pela frota atuneira de vara e isca-viva, situaram-se ao redor de 4.484 t, sendo 3.982 t de bonito-listrado e 502 t das demais espécies, entre elas albacora-laje (Thunnus albacares), albacorinha (T. atlanticus), albacora-bandolim (T. obesus), albacora-branca (T. alalunga), bonito-cachorro (Auxis thazard), bonito-pintado (Euthynnus alletteratus), dourado (Coryphaena hippurus) e xerelete (Caranx sp). Entre 2005 e 2007, o número de barcos permaneceu estável, com 14 embarcações atuantes. Em 2007, estes barcos apresentaram médias de 24,6 metros de comprimento e 112,8 de arqueação bruta.  


2017 ◽  
Vol 3 (6) ◽  
pp. 377
Author(s):  
Ria Faizah ◽  
Aisayah Aisayah

Sendang Biru merupakan salah satu tempat pendaratan ikan pelagis besar di Jawa Timur. Penelitian tentang komposisi jenis dan ukuran ikan pelagis besar hasil tangkapan pancing ulur yang didaratkan di PPI Pondok Dadap, Sendang Biru, Jawa Timur, dilakukan pada bulanApril dan Oktober 2010. Hasil penelitian menunjukkan hasil tangkapan pancing ulur didominasi oleh jenis tuna (Thunnus albacares dan Thunnus obesus) 45%, cakalang (Katsuwonus pelamis) sebesar 38 %, dan lainnya (marlin, lemadang, lauro) sebesar 1,7 %. Ikan tuna yang didaratkan terdiri dari jenis yellowfin tuna (Thunnus albacares) dan bigeye tuna (T. obesus) dengan ukuran panjang cagakmasing –masing berkisar antara 40 - 170 cmFL dan 40 - 140 cmFL. Berat individumasing-masing berkisar antara 0.1 - 71 kg dan 0.5 - 43 kg. Sendang Biru is one of big pelagic’s landing site in East Java. Tuna on this research are caught by handline that landing in PPI Pondok Dadap, Sendang Biru, East Java. Research on the species composition and size distribution of big pelagic fish caught by handline were carried out during April and October 2010 at Sendang Biru, East Java. The result showed that Thunnus sp. are the most landed (45%) followed by Katsuwonus pelamis (38 %) and others (Xiphias gladius, Coriphaena sp., Elagatis bipinnulatus) of 1.7 %. The dominant fork lengthof Thunnus albacares and Thunnus obesus ranged from about 40 - 170 cm and 40 – 140 cm. Individual weight ranged between 0.1 - 71 kg and 0.5 - 43 kg respectivelly.


2017 ◽  
Vol 2 (6) ◽  
pp. 299
Author(s):  
Agustinus Anung Widodo ◽  
Budi Nugraha

Kendari merupakan salah satu basis perikanan tangkap di Kawasan Timur Indonesia yang berhadapan langsung dengan Laut Banda. Produksi perikanan tuna di Kendari cukup besar, hal ini dikarenakan alat tangkap yang digunakan merupakan alat tangkap yang dikhususkan untuk menangkap ikan tuna, yaitu huhate, pukat cincin mini, dan pancing tonda. Pada bulan April, Agustus, dan Desember 2007 dilakukan penelitian dengan mengambil pengambilan contoh di PPS Kendari. Pengambilan contoh dilakukan secara acak terhadap kapal-kapal yang mendarat pada minggu terakhir bulan April, Agustus, dan Desember. Masing-masing jenis kapal (huhate, pukat cincin mini, dan tonda) diambil satu unit sebagai contoh. Jenis data yang diambil adalah aspek eksploitasi yang meliputi upaya, jumlah, dan jenis hasil tangkapan dan daerah penangkapan. Data lain yang dikumpulkan adalah produksi tuna tahunan dari PPS Kendari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa produksi tuna selama 10 terakhir cenderung naik, pada tahun 2007 mencapai 8.381 ton. Daerah operasi penangkapan huhate dan pukat cincin mini meliputi perairan Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Tengah, adapun pancing tonda sampai Laut Banda. Rata-rata CPUE huhate rata-rata 6,6 ton/trip, rata-tara CPUE pukat cincin mini 0,9 ton per setting dan rata-rata CPUE pancing tonda 1,3 ton/trip. Penangkapan tuna terjadi sepanjang tahun, puncak musim tahun 2007 terjadi pada bulan September dengan indeks mencapai 0,4. Jenis tuna yang tertangkap huhate, pukat cincin mini, maupun tonda ada empat, yaitu ikan cakalang (Katsuwonus pelamis), madidihang (Thunnus albacares), tuna mata besar (Thunnus obesus), dan tongkol (Auxis sp.). Komposisi dari keempat jenis tuna tersebut didominansi oleh ikan cakalang yaitu mencapai lebih dari 65%.


2018 ◽  
Vol 18 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Nebuchadnezzar Akbar ◽  
Muhammad Aris ◽  
Muhammad Irfan ◽  
Abdurrachman Baksir ◽  
Surahman Surahman ◽  
...  

The tuna fish (Thunnus spp.) is highly migratory and commercial tuna fishery. The fish tuna abudance supported ocea-nography and geography condition in North Mallucas Sea. The fishery targets catch increase on fish tuna provided a view of the need for assessment of phylogenetic tuna. The study was conducted to infer the phylogenetic in North Mollucas Sea. The research method was PCR-Sequensing. Moleculer analysis included extraction, Polymerase Chain Reaction (PCR), electrophoresis and DNA sequencing in control region mtDNA locus. Phylogenetic reconstructed with Neigbor joining with Kimura 2-parameter model using MEGA5. The result showed that four clade (bigeye, yellowfin, alalunga and skipjack). Genetic distance between bigeye with yellowfin was (0.084), bigeye with alalunga (0.163), ye-llowfin with alalunga (0.174), bigeye with skipjack (0.294), skipjack with alalunga (0.312) and yellowfin with skipjack (0.297). The overall result showed significant genetic different. That information explain about one populations species tuna. The tuna phylogeography unlimitedin geographic distributions. AbstrakIkan tuna (Thunnus spp.) adalah ikan pelagis yang memiliki kemampuan ruaya dan nilai komersial. Kondisi oseanogra-fis dan letak geografis mendukung kelimpahan stok sumber daya ikan tuna di Perairan Maluku Utara. Aktifitas penang-kapan yang meningkat memberikan pandangan perlu adanya pengkajian filogenetik ikan tuna. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasi filogenetik ikan tuna di perairan Maluku Utara. Metode yang digunakan adalah metode PCR-Sekuensing pada lokus mtDNA control region. Analisis molekuler meliputi ekstraksi, Polymerase Chain Reaction (PCR), elektroforesis dan sekuensing DNA. Rekonstruksi pohon filogenetik dengan metode Neighbor joining dengan model evolusi Kimura 2-parameter dilakukan menggunakan aplikasi MEGA5. Hasil penelitian menemukan empat clade spesies ikan tuna yang berbeda (tuna mata besar, sirip kuning, alalunga, dan cakalang). Jarak genetik tuna mata besar (Thunnus obesus) dengan sirip kuning (Thunnus albacares) adalah 0,084; tuna mata besar dengan tuna alalunga (Thunnus albacore) adalah 0,163; tuna sirip kuning dengan tuna alalunga sebesar 0,174; tuna mata besar dengan caka-lang (Katsuwonus pelamis) adalah 0,294; cakalang dengan tuna alalunga adalah 0,312; dan tuna sirip kuning dengan cakalang adalah 0,297. Semua hasil menunjukkan perbedaan genetik signifikan. Namun dapat dijelaskan bahwa spesies tuna berasal dari satu keturunan. Filogeografi tuna tidak memiliki batas distribusi yang nyata spesies.


Check List ◽  
2015 ◽  
Vol 11 (3) ◽  
pp. 1628 ◽  
Author(s):  
Marcia C. N. Justo ◽  
Anna Kohn

Eleven known species of Monogenoidea were found parasitizing six different species of scombrid fishes collected from Rio de Janeiro coast, Southwestern Atlantic Ocean: Capsala biparasitica, Capsala katsuwoni, Capsala notosinense, Nasicola brasiliensis, Nasicola klawei, Allopseudaxinoides euthynni, Sibitrema poonui, Hexostoma albsmithi, Hexostoma euthynni, Hexostoma keokeo and Hexostoma sibi. Katsuwonus pelamis is reported as a new host to A. euthynni and Thunnus obesus to H. albsmithi. Capsala notosinense, A. euthynni, H. albsmithi and H. sibi are referred for the first time in Brazil, Southwestern Atlantic Ocean. Morphological and morphometric features are presented for each species.


Author(s):  
Alfa FP. Nelwan ◽  
. Sudirman ◽  
Mukti Zainuddin ◽  
Muh. Kurnia

<p>-------</p><p>ABSTRACT</p><p>Large pelagic fish is a fishery commodity which has a high economic value, so its development can improve the economy of communities and regions. The aim of this study was to determine the fishing productivity of large pelagic fisheries using handline. This research was conducted in July until September 2012. This study examines the fishing productivity of handling with operated by a fisherman in Majene district, West Sulawesi. Fishing activity utilizing FADs as a fishing ground. Fishing Productivity was obtained from the weight ratio of the amount of catches and duration of fishing time. Fishing productivity is determined for each type of fish catches, namely skipjack tuna (Katsuwonus Pelamis), yellowfin tuna (Thunnus albacares), and mackerel tuna (Auxis thazard). The proportion of the total catches of skipjack tuna showed greater than other fish species. The relationship between fishing productivity with the time fishing is declining with increasing duration of time fishing. Cluster analysis showed that there are two clusters of fishing productivity for 23 fishing activity. Fishing ground with the largest production was in the FADs in 118031'44,8''E and 118°34'16.0"E, and 04030'25.6"S and 118029'37,3''BT. Large pelagic fish species observed is the skipjack tuna (Katsuwonus pelamis), yellowfin tuna (Thunnus albacares), and tongkol (Auxis hazard). Fishing productivity shows the downward trend and the fishing ground for the production of tuna, mackerel and yellowfin tuna fish highest in FADs at position 04026’06,3”S and 118031’44,8’’E ; 04030’25.6”S and 118029’37,3’’E.<br /><br />Keywords: FADs, fishing productivity, handline, large pelagic, majene<br /><br />ABSTRAK<br /><br />Ikan pelagis besar merupakan salah satu komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomi yang relatif tinggi, sehingga pengembangan perikanan pelagis besar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan daerah. Tujuan penelitian ini adalah menentukan produktivitas penangkapan ikan pelagis besar menggunakan pancing ulur. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Juli-September 2012. Penelitian ini mengkaji produktivitas penangkapan pancing ulur yang dioperasikan nelayan di Kabupaten Majene, Sulawesi Barat. Aktivitas pemancingan memanfaatkan rumpon sebagai daerah penangkapan ikan. Produktivitas penangkapan diperoleh dari perbandingan berat jumlah hasil tangkapan dengan lama waktu pemancingan. Produktivitas penangkapan ditentukan pada masing-masing jenis ikan hasil tangkapan, yaitu cakalang (Katsuwonus pelamis), tuna ekor kuning (Thunnus albacares), dan tongkol (Auxis thazard). Proporsi jumlah hasil tangkapan menunjukkan cakalang lebih besar dibandingkan jenis ikan lainnya. Hubungan antara produktivitas penangkapan dengan lama waktu pemancingan menunjukkan kecenderungan menurun dengan bertambahnya lama waktu pemancingan. Analisis kluster menunjukkan terdapat dua kluster produktivitas penangkapan selama 23 aktivitas pemancingan. Daerah penangkapan ikan dengan produksi terbesar berada pada rumpon dengan posisi geografi 04026’06,3”LS dan118031’44,8’’BT ; 04030’25.6”LS dan 118029’37,3’’BT. Produktivitas penangkapan menunjukkan tren menurun. Posisi geografi rumpon yang memiliki produksi tuna, cakalang dan tongkol adalah pada posisi 04026’06,3”LS dan 118031’44,8’’BT ; 04030’25.6”LS dan 118029’37,3’’BT.<br /><br />Kata kunci: rumpon, produktivitas penangkapan, pancing ulur, pelagis besar, Majene</p>


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document