scholarly journals Rural Environment. Education. Personality. (REEP) Proceedings of the 13th International Scientific Conference

2020 ◽  
1996 ◽  
pp. 41-45
Author(s):  
Mykhailo Babiy

This is extremely relevant and very important both in theoretical and practical dimensions, the problem was at the center of the discussions of the international scientific conference, which took place on May 6-7, 1996 in Lviv. The mentioned conference was one of the main events within the framework of the VI International Round Table "History of Religions in Ukraine", at its meetings 3-6, as well as on issues of outstanding dates in the history of the development of religious life in Ukraine on the 8th of May: "400 "the anniversary of the Brest Union", and "400th anniversary of the birth of Peter Mohyla"


2018 ◽  
Vol 4 (01) ◽  
pp. 13
Author(s):  
Hasbullah Hasbullah

Abstract. Educational environment is needed in the education process, because the educational environment serves to support the process of teaching and learning, a comfortable environment and support for the implementation of an education is needed. The environment is distinguished into the biological environment, the non-living natural environment, the artificial environment and the social environment. Education is one of the first obligations for parents. In Islam, the person most responsible for the education of the child is the parent. The family is the "smallest people" who have leaders and members, has a division of work and work, and the rights and obligations of each member. The best exemplary education for children is if both parents are able to connect their child with the example of Rasûlullâh SAW, as uswah of all mankind. A positive school environment is a school environment that provides facilities and motivation for religious education. Keywords. Environment, Education   Abstrak. Lingkungan pendidikan sangat dibutuhkan dalam proses pendidikan, sebab lingkungan pendidikan berfungsi menunjang terjadinya proses belajar mengajar, lingkungan yang nyaman dan mendukung bagi terselenggaranya suatu pendidikan sangat dibutuhkan. Lingkungan dibedakan menjadi lingkungan alam hayati, lingkungan alam non-hayati, lingkungan buatan dan lingkungan sosial. Pendidikan merupakan salah satu kewajiban pertama bagi orang tua. Dalam Islam, orang yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan anak adalah orang tua. Keluarga adalah “umat terkecil” yang memiliki pimpinan dan anggota, mempunyai pembagian tugas dan kerja, serta hak dan kewajiban bagi masing-masing anggotanya. Pendidikan keteladanan terbaik bagi anak, ialah jika kedua orang tua mampu menghubungkan anaknya dengan keteladanan Rasûlullâh SAW, sebagai uswah seluruh umat manusia. Lingkungan sekolah yang positif yaitu lingkungan sekolah yang memberikan fasilitas dan motivasi untuk berlangsungnya pendidikan agama. Kata Kunci. Lingkungan, Pendidikan Daftar Pustaka Ahmadi, Abu dan Nur Uhbiyati. 2001. Ilmu Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta. Badudu, Js. 1996. Kamus Umum Bahas Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Juhji. 2015. “Telaah Komparasi Konsep Pembelajaran Menurut Imam Al-Zarnuji dan Imam Al-Ghozali”. Tarbawi. 1(02): 17-26 Juli - Desember 2015. Terdapat dalam http://jurnal.uinbanten.ac.id/index.php/tarbawi/article/view/257/254 Nata, Abudin. 2010. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Nizar, Samsul dan Zainal Efendi Hasibuan. 2011. Hadist Tarbawi. Jakarta: Kalam Mulia. Purwanto, Ngalim. 1996. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosda Karya. Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. Soejono, Ag. tt. Pendahuluan Pendidikan Umum. Bandung: CV. Ilmu. Suwarno. 1982. Pengantar Umum Pendidikan. Jakarta: Aksara Baru. Tafsir, Ahmad. 2000. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosda Karya. Tafsir, Ahmad. 2003. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Bandung: Rosdakarya. Uhbiyati, Nur. 1997. Ilmu Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia.


Metahumaniora ◽  
2017 ◽  
Vol 7 (3) ◽  
pp. 293
Author(s):  
Tania Intan

AbstrakSecara alamiah, manusia membutuhkan sarana untuk mengisi waktu luangnyasetelah bekerja keras. Satu media yang murah, mudah dijangkau, dan digemari oleh semuakalangan di seluruh dunia adalah cerita bergambar atau komik yang merupakan bagiandari budaya populer. Pada umumnya, karya paraliteratur-visual ini memang bersifat fiktifdan hanya merupakan peniruan dari kenyataan yang digambarkan secara berlebihan(grotesque). Namun demikian, di dalam komik, sering ditemukan nilai-nilai kehidupanyang bersifat universal dan abadi sehingga dianggap layak sebagai bahan kajian budaya.Naruto, salah satu manga Jepang, dan Astérix, bande dessinée dari Prancis, akan ditelitisebagai representasi dunia Timur dan Barat. Latar sebagai unsur struktural dalam karyakaryafiksi ini ternyata juga menunjukkan kesamaan mendasar, yaitu keberadaan desasebagai tempat hidup para tokohnya. Dalam tulisan ini, akan dibahas pemaknaan lainterhadap lingkungan rural tersebut, yang memiliki andil dalam pembentukan karakterpara tokoh dari kedua komik. Metode kajian komparasi budaya akan digunakan denganpenerapan teori-teori yang relevan. Penelitian singkat ini bertujuan untuk melengkapistudi mengenai komik yang belum banyak dilakukan di Indonesia.Kata kunci: Desa, komik, Naruto, Astérix, Komparasi BudayaAbstractNaturally, humans need a way to fill their spare time after working hard. Acheap, accessible and popular medium by all circles around the world is a picture or comicstory, which is part of popular culture. McCloud (1993:7) defines comics as drawings andembossed symbols in a particular order, aimed at providing information or achievingaesthetic responses from the reader. In general, this visual-paraliterature work isindeed fictitious and merely an imitation of grotesque reality. However, in the comics, itis often found that values of life that are universal and eternal so comics are consideredappropriate as a material of cultural studies. Naruto, one of the Japanese manga, andAstérix, the bande dessinée of France, are examined as a representation of the East andWest. The background as a structural element in these works of fiction also shows the basicsimilarity of the existence of the village as the place of life of the characters. According toKartohadikoesoemo (1984:16), the village is a legal entity, in which a ruling society livesits own government. In this paper, other meanings of the rural environment, which hascontributed in the character formation of the characters from both comics are discussed.The method of cultural comparative is used with the application of relevant theories. Thisbrief study aims to complete the study of comics which is still very limited in Indonesia.Keywords: Village, Comic, Naruto, Astérix, Cultural Comparison


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document