Survival of Mycobacterium tuberculosis and Mycobacterium bovis in human urine

2011 ◽  
Vol 63 (6) ◽  
pp. 1075-1080 ◽  
Author(s):  
Björn Vinnerås ◽  
Göran Bölske ◽  
Helene Wahlström ◽  
Ann Albihn

Tuberculosis is a zoonotic disease that mainly causes respiratory infection. However, it can also infect other organs such as the kidneys and bladder, which can lead to high counts of the organisms in the urine. Introducing urine diversion systems and reuse of the urine in agriculture may introduce new transmission routes for infection, increasing the risk of spread. This study evaluated the inactivation rate of mycobacteria in human urine for ensuring safe reuse in agriculture and examined whether current World Health Organization recommendations on storage time are sufficient for inactivating Mycobacterium tuberculosis and Mycobacterium bovis. In this study, a decimal reduction in M. tuberculosis and M. bovis in human urine containing 7 and 3 g NH3-N L−1, respectively, was obtained in just over 10 days at 4°C and below three days at 22°C. This is considerably faster than previously reported reduction rates of mycobacteria in animal slurry at similar temperatures. Based on the present results, a storage time of five weeks at temperatures below 20°C or of two weeks at temperatures above 20°C is sufficient to prevent transmission of mycobacteria when recycling human urine. These values lie within the WHO recommended storage period.

2017 ◽  
Vol 107 (6) ◽  
pp. 466 ◽  
Author(s):  
Nesri Padayatchi ◽  
Sharana Mahomed ◽  
Max O’Donnell ◽  
Francesca Conradie ◽  
Kogieleum Naidoo

2017 ◽  
Vol 3 (1) ◽  
pp. 1
Author(s):  
Pompini Agustina ◽  
Huda Rahmawati ◽  
Adria Rusli ◽  
Titi Sundari ◽  
Ida Bagus Sila Wiweka

AbstrakLatar belakang : Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi yang disebabkan Mycobacterium tuberculosis terutama menyerang paru. Laporan World Health Organization (WHO) menuliskan pada umumnya hanya sedikit orang yang terinfeksi TB menjadi sakit TB namun pada orang dengan HIV/AIDS yang terinfeksi TB banyak menjadi sakit TB. Resistensi terhadap Obat Anti Tuberkulosa (OAT) menjadi salah satu masalah penting dalam pengobatan TB. Ketersediaan obat yang ampuh tetapi tidak diberikan dengan baik menimbulkan masalah resistensi termasuk Resistensi Ganda (RG)/ Multidrug Resistant (MDR).Metode : Penelitian ini mempunyai desain deskriptif potong lintang menggunakan data yang sudah direkapitulasi dari case report form (CRF). Sampel penelitian ini adalah pasien suspek resistensi ganda TB pada HIV. Kriteria inklusi adalah semua pasien usia > 15 tahun dengan HIV TB Paru BTA positif atau negatif kasus baru, kasus kambuh, kasus putus obat, gagal terapi (suspek resistensi ganda) yang berobat ke Instalasi rawat jalan maupun Instalasi rawat inap RSPI Prof Dr. Sulianti Saroso. Sampel berjumlah 21 orang pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS periode Maret – Desember 2012 di RSPI Prof dr Sulianti Saroso. Hasil disajikan ke dalam bentuk tabel distribusi frekuensi kemudian dianalisis secara univariat.Hasil : Secara keseluruhan kelompok pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS paling banyak didapatkan pada usia 15-35 tahun sebesar 18 orang (85,7%), sebanyak 7 orang (33,33%) bekerja dengan pekerjaan sebagai karyawan, tingkat pendidikan paling banyak Sekolah Menengah Atas berjumlah 15 orang (71,4%) dan faktor risiko pasien paling banyak dari seks bebas dengan jumlah 13 orang (61,9%), Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan jumlah CD4 pasien cenderung rendah yaitu CD4 <100 sel/μL berjumlah 18 orang (66,7%), sementara jumlah limfosit paling banyak antara 15 % sampai 40 % sebanyak 10 orang (47,6%).Kesimpulan : Profil pasien suspek resistensi ganda TB HIV/AIDS RSPI Prof dr Sulianti Saroso pada kelompok usia produktif dengan faktor risiko utama adalah seks bebas dan kondisi sistem kekebalan tubuh buruk.


2019 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 101-105
Author(s):  
Farida Ariyani ◽  
Maulin Inggriani ◽  
Noor Andryan Ilsan

Pendahuluan: Tuberkulosis atau TB paru merupakan penyakit infeksi kronis yang sering dikaitkan dengan daerah urban, populasi yang padat dan ventilasi bangunan yang buruk. Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacteriun tuberculosis. World Health Organization (WHO) melaporkan 9 juta kasus dan 1,4 juta kematian disebabkan oleh TB. Berdasarkan data pengendalian TB tahun 2010, Indonesia menduduki peringkat kelima sebagai penyumbang kasus terbanyak di dunia. Diagnosa utama TB ditegakkan bedasarkan keberadaan Bakteri Tahan Asam (BTA) pada pemeriksaan mikroskopis. Pemeriksaan mikroskopis memiliki kelemahan yaitu memiliki spesifisitas dan sensitivitas yang relatif rendah. Pemeriksaan terkini M.Tb Ag rapid test merupakan uji serologi yang mendeteksi antigen protein yang disekresi Mycobacterium tuberculosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil pewarnaan BTA metode Ziehl Neelsen secara mikroskopis dengan M.Tb Ag rapid test pada pasien yang didiagnosa klinis TB paru. Metode: Penelitian ini menggunakan observasi cross sectional. Sampel penelitian berupa sputum dari pasien dengan klinis TB paru sebanyak 40 sampel dengan populasi pasien dengan klinis TB. Analisis data menggunakan uji hipotesis chi- square. Hasil: Data yang diperoleh dianalisis menggunakan chi-square dari hasil perhitungan didapatkan hasil yang signifikan yaitu sig 0,001 (sig <0,05). Pada penelitian ini diketahui bahwa kasus positif TB pada pasien perempuan lebih tinggi (55%) dibandingkan dengan laki-laki (45%) Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil pewarnaan BTA mikroskopis dengan pemeriksaan M.Tb Ag rapid test pada pasien diagnosa klinis TB paru.


2018 ◽  
Vol 16 (2) ◽  
Author(s):  
Deny Febriyanto ◽  
Yogiek Indra Kurniawan

Tuberculosis (TB) is an infectious disease caused by mycobacteria, especially Mycobacterium tuberculosis. TB disease remains one of the threats, especially in a country with low and middle economic levels. According to the World Health Organization (WHO) TB disease became one of the biggest causes of death in the world. Indonesia ranks second with the largest number of TB cases in the world. In addition, there are some symptoms and factors that can cause a person affected by TB disease. For the treatment of TB disease can be done intensively, but it takes a long time. Research in the diagnosis of disease with classification techniques using C4.5 algorithm has been done by several previous researchers and get good results. Therefore, in this research will be predicted TB disease using C4.5 algorithm. The C4.5 algorithm is chosen because it is very easy to interpret, fast, and has high precision accuracy. The results of this study is an application that can help people to make the diagnosis of TB disease from an early age.


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 00317-2019 ◽  
Author(s):  
Roland Diel ◽  
Albert Nienhaus ◽  
Peter Witte ◽  
Renate Ziegler

BackgroundEmployees in contact with infectious tuberculosis (TB) patients in healthcare facilities of low-incidence countries are still at considerable risk of acquiring TB infections. However, formal precautions recommended on the protection of healthcare workers may not only vary from country to country but also within a single country. The objective of this study was to compare current guidelines with respect to hospital infection control of TB, focusing on common shared priorities and discrepancies between sets of recommendations.MethodsFive types of procedures captured in guidelines of the World Health Organization, the United States of America, the United Kingdom and Germany are compared and the underlying evidence is discussed.ResultsUncontroversially, personal protection by respirators in the TB ward and during aerosol-generating procedures is key to reducing Mycobacterium tuberculosis exposure. However, there is no consensus on the types of masks that should be worn in different situations. Closely connected to this, there is considerable uncertainty with respect to the optimal date of removing sputum smear-negative and multidrug-resistant TB patients from isolation. Indeed, the use of notable new tools for this purpose, such as the highly sensitive PCR tests recommended by the World Health Organization for detecting TB/multidrug-resistant TB, have yet to be sufficiently incorporated into TB guidelines. Perceptions differ, too, as to whether long-term control measures for M. tuberculosis infections in healthcare workers by serial testing for latent TB infection should be established and, if so, how testing results should be interpreted.ConclusionsAlthough the current recommendations on protection of healthcare workers are otherwise homogeneous, there are considerable discrepancies that have important implications for daily practice.


2020 ◽  
Vol 12 (2) ◽  
pp. 878-888
Author(s):  
Tri Anti Permata Sari

Tuberkulosis (TB) masih menjadi salah satu penyakit yang menyebabkan masalah kesehatan di masyarakat Indonesia. TB adalah penyakit menular langsung paru yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) yang juga dikenal sebagai bakteri tahan asam (BTA). Survei yang dilakukan oleh World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa hingga kini di seluruh dunia terhitung 9.000.000 insiden kasus dan 1,5 juta orang meninggal karena TB, sehingga TB mendapat peringkat 10 penyebab tertinggi kematian di dunia. Indonesia sendiri menduduki peringkat dua kasus TB terbanyak di dunia. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui potensi dan efektivitas ekstrak daun pegagan sebagai anti-tuberkulosis dalam menghambat pertumbuhan Mycobacterium. Metode penelitian ini adalah dengan meninjau artikel review dengan kata kunci tuberkulosis, daun pegagan, Mycobacterium tuberculosa, dan anti-tuberkulosis. Data menunjukkan bahwa pemberian ekstrak daun pegagan dapat menurunkan pertumbuhan Mycobacterium tuberculosis secara signifikan, karena daun pegagan memiliki kandungan senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas anti-mikobakterial. Konsumsi daun pegagan bersamaan dengan obat anti tuberkulosis (OAT) tidak berbahaya dan tidak menimbulkan efek samping, justru daun pegagan memberikan efek hepatoprotektif terhadap dampak hepatotoksik yang ditimbulkan oleh OAT. Daun pegagan juga memiliki kemampuan untuk meningkatkan respon imunitas tubuh karena kaya akan kandungan antioksidan dan dapat mencegah kerusakan jaringan paru akibat infeksi TB.


2021 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 48-53
Author(s):  
Zuriati ◽  
Nani Asna Dewi ◽  
Mustika Pramestiyani ◽  
Erika Lubis ◽  
Sondang Manurung

Tuberkulosis paru (TB paru) adalah penyakit menular yang disebabkan bakteri mycobacterium tuberculosis. The World Health Organization (WHO) melaporkan Indonesia menduduki posisi ketiga dengan kasus  TB tertinggi di dunia dan merupakan negara penyumbang 60% dari seluruh kasus TB dunia. Upaya menurunkan kasus TB adalah melalui suatu literasi yang baik pada tentang sistem pernafasan. Tenaga kesehatan berusaha mengedukasi masyarakat dengan skrining. Pelayanan Keperawatan merupakan ujung tombak dalam pelayanan asuhan kepada pasien, tenaga kesehatan merupakan garda depan yang melayani masyarakat, terlebih pada masa pandemi COVID 19 sehingga berusaha memberikan pendampingan dan skrining kesehatan pada sistem pernafasan yang selaras dengan program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas). Metode yang digunakan adalah ceramah dengan tatap muka yang diikuti oleh kader Kampung Cililitan berjumlah 15 orang. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan kader dengan kriteria baik naik dari 15,3% menjadi 90,6%. Kegiatan upaya literasi dan pendampingan skrining kesehatan sistem pernafasan meningkatkan pengetahuan kader dalam upaya program gerakan masyarakat sehat.


F1000Research ◽  
2018 ◽  
Vol 7 ◽  
pp. 217 ◽  
Author(s):  
Ankur Gupta-Wright ◽  
Gillian S Tomlinson ◽  
Molebogeng X Rangaka ◽  
Helen A Fletcher

On 24th March, the world commemorates the day in 1882 when Dr Robert Koch announced his discovery of Mycobacterium tuberculosis (MTB). Over 130 years later, tuberculosis (TB) continues to affect individuals, communities, and entire health systems and economies. Koch unsuccessfully tried to ‘cure’ TB, and despite major advances in other areas of medicine, control of TB remains elusive- in 2016 TB was the leading infectious cause of death. The STOP TB partnership and World Health Organization (WHO) have announced their theme for World TB Day 2018 “Wanted: Leaders for a TB-Free World. You can make history. End TB.” This theme recognizes that TB is much larger than any one person, institute or discipline of research, and provides an opportunity for us to reflect on the major challenges and consider how we, as a scientific community, can work together and take the lead to address the global crisis of drug-resistant TB (DR-TB).


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document