scholarly journals EPISIOTOMY APPLICATION FOLLOWED BY VINCRISTINE CHEMOTHERAPY OF TRANSMISSIBLE VENEREAL TUMOR TREATMENT IN FEMALE MONGREL: A CASE REPORT

2020 ◽  
Vol 9 (6) ◽  
pp. 1024-1035
Author(s):  
Muhammad Rama Imam Saputra ◽  
I Nengah Wandia

Transmissible Venereal Tumor (TVT) adalah tumor pada anjing yang dapat menular melalui proses perkawinan. Pada kasus ini, seekor anjing kampung berumur tiga tahun dengan bobot 11 kg, berjenis kelamin betina mengalami abnormalitas pada alat kelaminnya. Berdasarkan anamnesis, tanda klinis dan hasil pengujian histopatologi, anjing kasus didiagnosis mengalami TVT. Penanganan kasus TVT dilakukan dengan menerapkan metode episiotomi. Anjing diinjeksi asam traneksamat satu jam sebelum dilakukan operasi dengan dosis 10-20 mg/kgBB yaitu sebanyak 2 mL. Premedikasi menggunakan atropin sulfat dengan dosis 0,02-0,04 mg/kgBB diberikan sebanyak 1 mL subkutan. Anastesi diberikan kombinasi xylazine dengan dosis 1-3 mg/kgBB diberikan sebanyak 1 mL dan ketamin dosis 10-15 mg/kgBB diberikan sebanyak 1,3 mL intramuskuler. Episiotomi dilakukan dengan melakukan insisi pada vagina dan perineum untuk memperlebar bagian vagina sehingga memudahkan pengangkatan masa tumor. Dilanjutkan dengan penutupan daerah insisi menggunakan benang chromic catgut ukuran 3,0 dengan metode jahitan simple interrupted suture, dan diikuti dengan jahitan subcuticular untuk daerah dermis dan jahitan terakhir yaitu menggunakan benang jahit silk ukuran 2,0 dengan metode jahitan terputus. Perawatan pascaoperasi menggunakan antibiotik amoxicillin dengan dosis 10-20 mg/kgBB yang diberikan sebanyak 1/3 tablet dan analgetik asam mefenamat dengan dosis 10-30 mg/kgBB yang diberikan sebanyak 1/5 tablet secara per oral selama lima hari. Anjing diberikan obat kemoterapi vincristin sulfat dengan dosis 0,025 mg/kgBB dan diberikan sebanyak 0,27 mL secara intravena pada hari ke-4 pascaoperasi. Vincristin sulfat diberikan dua kali dengan interval satu minggu. Hasil penanganan mendapatkan hasil yang baik, perdarahan berhenti pada hari ke-2 pascaoperasi, luka insisi mengering pada hari ke-7.

Urology ◽  
2020 ◽  
Author(s):  
Alexandre Azevedo Ziomkowski ◽  
João Rafael Silva Simões Estrela ◽  
Nilo Jorge Carvalho Leão Barretto ◽  
Nilo César Leão Barretto

2021 ◽  
Vol 17 (1) ◽  
pp. 79
Author(s):  
Pribakti Budinurdjaja ◽  
Ihya Ridlo Nizomy ◽  
Inas Tsurayya Fauziah Lahdimawan

Abstract: Female genital tract anomalies have important effects on reproductive function, and usually recognized after puberty. The membrane canalization process end to various hymenal forms. Microperforate hymen appears as a partial obstruction depending on its  size. Most often, patient will present with menstrual disorders, dyspareunia, and infertility. The aim of this research was to report a case of spontaneous pregnancy in postoperative microperforated hymen in form of case report. A 27-year-old woman, P0A0, complained of pain during intercouse. Patient had been married for 1,5 years, had reguler menstrual cycles without any contraceptive method, but not conceived yet. Inspection showed an obstructed vaginal introitus with a small opening laterally at 3 o’clock, consistent witn microperforate hymen. During surgery, short vaginal introitus was observed and no vaginal canal was seen. A sound was inserted through a small opening of 1 mm in diameter laterally at 3 o'clock, followed by sufficient incision and excision of the distal vaginal tissue. Interrupted suture of the proximal and distal mucosa was performed. The vaginal portion as well as uterus appeared normal. Postoperative tissue healing was good. A spontaneous pregnancy occurred 56 days after the surgery and a healthy term baby was born by caesarean section. In the case of microperforated hymen, menstrual flow can be normal. The patient complained of dyspareunia or impaired sexual penetration leading to infertility, although the presence of a small opening may allow passage of sperm and spontaneous pregnancy may occur before the surgery. Surgery can reduce psychological stress and improve reproductive function, allowing pregnancy to occur. Keywords:Abstract: Female genital tract anomalies have important effects on reproductive function, and usually recognized after puberty. The membrane canalization process end to various hymenal forms. Microperforate hymen appears as a partial obstruction depending on its  size. Most often, patient will present with menstrual disorders, dyspareunia, and infertility. The aim of this research was to report a case of spontaneous pregnancy in postoperative microperforated hymen in form of case report. A 27-year-old woman, P0A0, complained of pain during intercouse. Patient had been married for 1,5 years, had reguler menstrual cycles without any contraceptive method, but not conceived yet. Inspection showed an obstructed vaginal introitus with a small opening laterally at 3 o’clock, consistent witn microperforate hymen. During surgery, short vaginal introitus was observed and no vaginal canal was seen. A sound was inserted through a small opening of 1 mm in diameter laterally at 3 o'clock, followed by sufficient incision and excision of the distal vaginal tissue. Interrupted suture of the proximal and distal mucosa was performed. The vaginal portion as well as uterus appeared normal. Postoperative tissue healing was good. A spontaneous pregnancy occurred 56 days after the surgery and a healthy term baby was born by caesarean section. In the case of microperforated hymen, menstrual flow can be normal. The patient complained of dyspareunia or impaired sexual penetration leading to infertility, although the presence of a small opening may allow passage of sperm and spontaneous pregnancy may occur before the surgery. Surgery can reduce psychological stress and improve reproductive function, allowing pregnancy to occur. Keywords: hymen, microperforate, infertility, spontaneous pregnancy


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 316-326
Author(s):  
Utari Resky Taruklinggi ◽  
I Nyoman Suartha ◽  
I Gede Soma

Seekor kucing lokal betina bernama Calico berumur 1,5 tahun dengan bobot 2,5 kg diperiksa di Laboratorium Ilmu Penyakit Dalam Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana. Berdasarkan anamnesis, kucing menunjukan bersin-bersin dan mengeluarkan leleran hidung dari kedua lubang hidung sejak berumur tiga bulan. Pada pemeriksaan fisik menunjukkan terdapat bercak leleran hidung yang mengering pada kedua lubang hidung dan pemeriksaan sinar X menunjukkan adanya gambaran radiopaque pada rongga hidung. Pemeriksaan ulas leleran hidung berhasil diidentifikasi bakteri Klebsiella sp. dan Staphylococcus sp. Hasil pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan kucing kasus mengalami leukositosis dan limfositosis. Kucing didiagnosis menderita rhinitis infeksi bakteri dengan prognosis fausta dari rangkaian pemeriksaan yang telah dilakukan. Terapi yang diberikan pada kucing kasus terdiri dari antibiotik cefixime (sediaan 100 mg, dosis 10 mg/kg bobot badan (BB), diberikan per oral (PO) dua kali sehari selama 10 hari) antiinflamasi meloxicam (sediaan 7,5 mg, dosis 0,1 mg/kg BB, diberikan PO satu kali sehari selama empat hari) dan imunomodulator Echinacea purpurea (sejumlah 2 mL, diberikan PO satu kali sehari selama 10 hari). Hasil pengobatan selama 10 hari menunjukkan terjadi perubahan leleran hidung yang tadinya berupa purulen menjadi serous serta frekuensi bersin berkurang yang menandakan kucing mulai membaik.


2021 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
pp. 281-292
Author(s):  
Lalu Rian Mahpuz ◽  
I Wayan Wirata ◽  
I Nengah Wandia

Fraktur tibia fibula adalah terputusnya kontinuitas pada tulang tibia fibula akibat pukulan langsung, jatuh dalam posisi plexi atau gerakan memuntir yang keras. Hewan kasus merupakan seekor anjing peranakan pomeranian berumur enam bulan, berjenis kelamin jantan diperiksa dan bobot badan 5,2 kg di Rumah Sakit Hewan, Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana dengan keluhan mengalami pincang pada kaki belakang kanan, secara tidak sengaja tertabrak motor saat melintas dijalan raya. Nafsu makan dan minum anjing kasus baik. Hasil pemeriksaan radiografi, anjing mengalami fraktur diafisis pada tibia fibula kanan jenis oblique dengan prognosis fausta. Anjing ditangani dengan fiksasi internal menggunakan wire atau kawat. Hewan diberikan premedikasi berupa atropine sulfat secara subkutan, dan kombinasi anestesi ketamin dan xylazin diberikan secara intravena. Selama operasi digunakan isofluran sebagai anestesi inhalasi untuk maintenance anestesi. Pembedahan dilakukan dengan insisi kulit dan subkutan pada bagian medial tibia fibula, kemudian menguakkan otot-otot muskulus fibularis longus dan musculus flexor digitorum medialis sehingga bagian patahan tulang terlihat. Selanjutnya, tulang direposisi pada kedudukan semula secara manual, dilakukan pemasangan wire pada patahan tulang. Pada daerah operasi dilakukan pembersihan menggunakan cairan NaCl kemudian ditetesi dengan antibiotik penisilin dan streptomisin 1%. Otot dan subkutan dijahit dengan pola sederhana menerus menggunakan chromic catgut 2/0, serta kulit dijahit dengan pola terputus menggunakan silk 2/0. Pasca operasi diberikan antibiotik amoxicillin, analgesik meloxicam, dan terapi supportif kalsium laktat. Dua minggu pasca operasi sudah terbentuk kalus pada bagian diaphisis tibia fibula yang patah dan anjing sudah bisa berjalan dengan baik.


2015 ◽  
Vol 1 (2) ◽  
pp. 92
Author(s):  
Heri Iswanto ◽  
Indah Titien S ◽  
Rahardjo Rahardjo

Impaksi kaninus memiliki prevalensi tinggi setelah impaksi molar ketiga. Impaksi kaninus atas terjadi 2 kali lebih banyak pada anak perempuan daripada laki-laki. Inklinasi letak gigi terhadap garis median wajah lebih dari 450 memiliki prognosis jelek untuk erupsi. Tujuan laporan kasus ini adalah memberikan informasi penatalaksanaan impaksi kaninus kiri atas pada anak dengan pembedahan. Kasus ini dilaporkan pada anak perempuan usia 12,5 tahun yang datang di klinik Kedokteran Gigi Anak RSGM Prof Soedomo dengan keluhan utama seringkali sakit kepala sisi kiri serta gigi 23 belum erupsi. Berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis dan radiologis tampak gigi 23 posisinya horisontal, perlu dilakukan odontectomy dengan metode in toto. Gigi 63 dipertahankan karena tidak ada luksasi. Traksi secara ortodontik pada pasien ini tidak dilakukan karena letak gigi 23 dalam dan posisinya horisontal. Kesimpulan laporan kasus ini adalah impaksi gigi 23 dengan posisi horizontal kemungkinan dapat menimbulkan sakit kepala. Odontectomy gigi 23 berhasil dengan baik melalui pembuatan flap envelope dan penjahitan interrupted. Kontrol pada hari ke-7 dan setelah 1 bulan, pasien tidak mengeluhkan sakit kepala sisi kiri. ABSTRACT: Management of Horizontally Impacted Maxillary Left Canines in Children. Impacted canines have a high prevalence after impacted third molar. Impacted maxillary canines occur twice more often in female children than male ones. The location of the tooth inclination towards the midline of the face which is more than 450 has a poor prognosis for eruption. The purpose of this case report is to provide information of surgical management of impacted maxillary left canines in children with local anesthetic. This case was reported in 12.5 year old girl who came to the Pediatric Dentistry Clinic of the Dental Hospital of Prof Soedomo with the chief complaint of left-sided headache as well as unerupted tooth 23. Based on the history, clinical and radiologic examination, it appeared that tooth 23 was in horizontal position, and it needed to be treated with odontectomy with in toto method. In the checkup on the 7th day, an ulcer on injury appeared. Tooth 63 was maintained because there was no shakiness (only one third root resorbtion). Orthodontic traction in this patient was not performed because the location of tooth 23 was deep and the position was horizontal. The conclusion of this case report is that horizontally impacted 23 can possibly cause headache. Tooth 23 odontectomy was done successfully through envelope flap creation and ended with interrupted suture. On the checkup on the 7th day and after the 1st month, the patient did not complain of headache anymore.


2020 ◽  
Vol 8 (2) ◽  
pp. 59
Author(s):  
Luísa Bandeira Lopes ◽  
Rodrigo Themudo ◽  
João Botelho ◽  
Vanessa Machado

Rhabdomyosarcoma is one of the most common soft-tissue sarcomas in children. The therapy for this condition has evolved significantly over recent decades, as has survival rates. Nevertheless, multiagent chemotherapy, radiation therapy, surgical resection or a combination of these modalities still have to be performed. This case report presents a 16-year-old boy with oral and dental effects after rhabdomyosarcoma treatment, diagnosed at the age of 4 years old. This report highlights the key role of dentists in the clinical management of rhabdomyosarcoma cases before, during and after treatment, and its potential side effects.


2013 ◽  
Vol 16 (1) ◽  
pp. 44-46
Author(s):  
KABM Taiful Alam ◽  
Md Sayedul Islam ◽  
Toufiqul Haque ◽  
Shamim Hossain ◽  
Tazul Islam ◽  
...  

A 24 year old young patient presented in the emergency department of Shaheed Monsur Ali Medical College Hospital, Uttara, Dhaka with swollen, curved and flaccid penis after forceful bending of his erect penis. The patient was anxious with normal vital sign. Rolling sign was positive. There was no bleeding at external urethral orifice, scrotum & testicle were found normal. On the above facts, penile fracture was diagnosed clinically. The penis was degloved upto the root of the penis & after evacuation of the haematomas, transverse tears were detected in Bucks fascia & tunica albugenia of the left corpus cavernosum, which were repaired by interrupted suture. In the post operative period sedative was given & recovery was uneventful. The aim of this case report is to increase the awareness of the condition which should be regarded seriously and treated expeditiously and to draw attention to its possible complications. DOI: http://dx.doi.org/10.3329/jss.v16i1.14448 Journal of Surgical Sciences (2012) Vol. 16 (1) : 44-46


2020 ◽  
Vol 9 (6) ◽  
pp. 1036-1047
Author(s):  
Dzikri Nurma'rifah Takariyanti ◽  
I Wayan Batan ◽  
I Gusti Made Krisna Erawan
Keyword(s):  

Rhinitis adalah peradangan pada selaput lendir hidung. Masalah ini umum dan sering terjadi pada kucing. Penyakit ini dapat timbul dari sejumlah gangguan intranasal atau sistemik. Seekor kucing lokal betina berumur satu tahun dengan bobot badan 2,2 kg diperiksa dengan keluhan adanya leleran pada hidung sebelah kiri dan sering bersin disertai dengan dahak dan bercak darah. Pemeriksaan klinis menunjukkan adanya pembengkakan limfonodus mandibularis sebelah kiri, ditemukan lubang pada langit-langit mulut (cleft palate). Auskultasi paru-paru normal terdengar bunyi vesikular. Pemeriksaan hematologi menunjukkan adanya trombositosis yang menunjukkan adanya peradangan. Hewan didiagnosis rhinitis dan ditangani dengan pemberian antibiotik cefadroxin monohidrat dua kali sehari dan bromhexine sebagai terapi simptomatis satu kali sehari secara per oral. Hari ketujuh setelah pengobatan kucing kasus sudah tidak bersin dan tidak ada leleran yang keluar dari hidung.


2021 ◽  
Vol 10 (1) ◽  
pp. 146-157
Author(s):  
Irdha Eka Septhayuda ◽  
I Ketut Anom Dada ◽  
I Gusti Agung Gde Putra Pemayun

Hernia umbilikalis adalah cacat anatomis karena otot–otot di sekitar umbilkus tidak menyatu dan tetap terpisah sehingga bagian dari usus atau omentum masuk dari rongga perut ke kantong hernia. Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk meningkatkan keterampilan dalam mendiagnosis, penanganan dan pengobatan kasus hernia umbilikalis pada kucing. Seekor kucing persilangan persia berumur 14 bulan, dengan bobot 2,9 kg berjenis kelamin betina memiliki keluhan adanya benjolan lunak pada bagian perut bawah. Berdasarkan anamnesis, hasil pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan radiografi bagian abdominal, kucing Kimi didiagnosis menderita hernia umbilikalis dengan prognosis fausta. Metode pengobatan yang dipilih adalah tindakan pembedahan. Sebelum dilakukan pembedahan, kucing kasus diberikan atropin sulfat sebagai premedikasi dan kombinasi ketamin dan xylazin sebagai anastesi. Pembedahan dilakukan dengan laparatomi yaitu tepat di atas dari cincin hernia. Selanjutnya mereposisi isi hernia dengan cara memasukkan omentum ke dalam rongga abdomen. Kemudian dilakukan penjahitan pada peritoneum dan subkutan menggunakan benang chromic catgut 3.0 serta di lanjutkan dengan jahitan kulit menggunakan benang silk 2.0. Pasca operasi diberikan antibiotik amoxicillin injeksi dengan dosis 10,3 mg/kg BB yang dilanjutkan dengan pemberian amoxicillin oral dengan dosis 51 mg/kg BB/hari serta pemberian asam tolfenamik sebagai analgesik dengan dosis 10 mg/hari dengan pemberian selama lima hari. Pada hari ke-10 pascaoperasi kucing dinyatakan sembuh dengan luka operasi yang sudah kering dan menyatu.


2020 ◽  
Author(s):  
Biniam Ewnte

Abstract Background: Primary small intestinal volvulus is one of the common causes of intestinal obstruction in various localities of the developing world. Although operative intervention has been the usual mode of treatment; this case report depicts with meticulous follow-up & care, there is a possibility for relief of obstruction with non-operative management.Case presentation: This is a case report of a 20-year-old male patient presented with crampy abdominal pain and frequent bilious vomiting. Plain abdominal film showed multiple distended small bowel loops with air fluid level, consistent with small bowel obstruction. Ruling out other etiologies primary small bowel volvulus was entertained and naso-gastric tube inserted, patient catheterized and kept nil per oral. After 48 hours of admission all symptoms resolved the patient resumed feeding and was discharged home. Conclusions: The reported case shows evidence in which the pa­tient’s primary small bowel volvulus was relieved non-operatively with insertion of naso gastric tube keeping nil per oral.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document