scholarly journals Dolus eventualis jako remedium na braki legislacyjne ustawodawstwa karnego Polski Ludowej 1944–1969 – analiza prawna

2021 ◽  
Vol 73 (2) ◽  
pp. 143-159
Author(s):  
Tomasz Szczygieł
Keyword(s):  

Artykuł prezentuje wykorzystywanie w doktrynie i praktyce orzeczniczej Polski Ludowej 1944–1969 konstrukcji zamiaru ewentualnego (dolus eventualis) do kształtowania – a de facto zaostrzania – polityki karnej w sprawach o czyny objęte nieumyślnością. Autor koncentruje swoje rozważania w szczególności na sprawach przeciwko interesom politycznym i gospodarczym państwa, przestępczości komunikacyjnej oraz dotyczących przeciwdziałania negatywnym skutkom alkoholizmu. Przeprowadzone analizy wskazują, że we wszystkich tych obszarach braki systemu prawa karnego oraz subtelna (dowodowa) różnica między świadomą nieumyślnością (lekkomyślnością) a zamiarem ewentualnym były wykorzystywane na niekorzyść potencjalnych sprawców. Fakty te dobitnie potwierdzają znaną powszechnie właściwość ówczesnego systemu, a więc jego instrumentalizm w wykorzystywaniu prawa karnego, do kształtowania – zwalczania – negatywnych aspektów rzeczywistości społeczno-gospodarczo-politycznej.

2009 ◽  
Vol 44 (03) ◽  
pp. 155-180
Author(s):  
Kjell V. Andorsen
Keyword(s):  

De Jure ◽  
2019 ◽  
Vol 10 (2) ◽  
Author(s):  
Anita Veleva ◽  
◽  
◽  

The article outlines the specialities in the intellectual content of recklessness and by the formation and course of action of its will attitude. Тhe article submits some new, additional standards and develops the action of the standard of differentiation between recklessness and dolus eventualis.


2020 ◽  
Author(s):  
Theresa Bausch
Keyword(s):  

Die Autorin nimmt interdisziplinäre wissenschaftliche Erkenntnisse zum Anlass, um sich mit der Berücksichtigung von Entwicklungs- und Reifeprozessen innerhalb strafrechtlicher Bewertungen des allgemeinen Strafrechts zu befassen. Nicht die Diskussion von Altersgrenzen, sondern die entwicklungs- und altersangemessener Auslegung des allgemeinen Strafrechts ist Gegenstand der Arbeit. Die wissenschaftlichen Erkenntnisse, die eine Verlängerung der Entwicklungsphase Jugend konstatieren, werden in Beziehung zu den kriminologischen Erkenntnissen gesetzt. Die Rechtsprechung wird dahingehend analysiert, inwieweit sie den individuellen Entwicklungsstand des Angeklagten berücksichtigt. Ausgehend davon werden Perspektiven aufgezeigt, wie die im Jugendstrafrecht entwickelten Ansätze im allgemeinen Strafrecht fruchtbar gemacht werden können, insbesondere bei der Bewertung des bedingten Vorsatzes.


2019 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 97
Author(s):  
Eddy Hariyanto

Penelitian ini diajukan untuk menjawab tiga hal yaitu apakah surat kesepakatan antara pelaku dan pihak korban dapat menjadi instrumen hukum dalam menilai peristiwa korban jiwa manusia menurut hukum pidana Indonesia, apakah terjadi pergeseran persepsi sosial, korban dan penegak hukum dalam menilai alasan peniadaan pertanggungjawaban hukum pidana atas hilangnya nyawa dengan kualifikasi culva lata (bewuste schuld) dan dolus eventualis dan bagaimanakah pengaturan Surat Perintah Penghentian Penyidikan terhadap kasus korban meninggal dunia pada sasaran penyidikan yang melibatkan korporasi. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah social legal research dengan membangun variabel sebagai dasar pengukuran isu hukum yang dibangun. Dalam pendekatan ini, variabel mengenai perdebatan dalam kerangka teori, perdebatan pada tingkat penyidikan terkait penerbitan surat perintah penghentian penyidikan dalam kasus meninggalnya nyawa manusia di lubang tambang dengan norma yang berlaku. Surat kesepakatan yang dibuat oleh pelaku dan pihak korban dalam peristiwa hilangnya jiwa seseorang sejatinya tidak serta merta menghapus pertanggungjawaban pidana terhadap yang melakukannya. Namun tidak bisa dipungkiri dalam hukum pidana Indonesia mengenal penyelesaian sengketa diluar pengadilan yang sering dinamakan mediasi penal yang merupakan tradisi dari hukum adat budaya Indonesia yang memberikan penghargaan terhadap penyelesaian secara musyawarah terhadap pelaku dan korban dalam menyelesaikannya secara bersama-sama sehingga mendapatkan kesepakatan untuk berdamai yang kita kenal dengan sistem restorative justice. Sehingga dari kesepakatan perdamaian yang dibuat itulah dapat menjadi dasar pertimbangan penyidik untuk menerbitkan surat perintah penghentian penyidikan.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document