scholarly journals Effect of Single or Multiple Injection of Follicle Stimulating Hormone Combined with Pregnant Mare Serum Gonadotropin on Superovulatory Response, and Normal and Freezable Embryos in Ewes.

1996 ◽  
Vol 42 (2) ◽  
pp. 81-87 ◽  
Author(s):  
Aki YAMADA ◽  
Mayuko KAWANA ◽  
Yoshio TAMURA ◽  
Akio MIYAMOTO ◽  
Yutaka FUKUI
1992 ◽  
Vol 8 (3) ◽  
pp. 217-224 ◽  
Author(s):  
R.J. Pendleton ◽  
C.R. Youngs ◽  
R.W. Rorie ◽  
S.H. Pool ◽  
M.A. Memon ◽  
...  

1992 ◽  
Vol 45 (7) ◽  
pp. 471-475 ◽  
Author(s):  
NORIYUKI OHISA ◽  
NAOKAZU TAKADA ◽  
TAKASHI NUMABE ◽  
ITARU YOSHIURA ◽  
YUSHI ISHIKAWA

ZOOTEC ◽  
2013 ◽  
Vol 33 (1) ◽  
pp. 58
Author(s):  
Tery Wenda ◽  
Frans A. Kairupan ◽  
Petrus R. R. I. Montong ◽  
Sjaloom E. Sakul ◽  
Mien Th. R. Lapian

ABSTRAKSuperovulasi merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan derajat ovulasi dengan penyuntikan hormon gonadotropin pada tubuh hewan betina. Pada umumnya hewan donor disuntik dengan preparat follicle stimulating hormone (FSH) danPregnant mare's serum gonadotropin(PMSG) atau kombinasi (Pregnant mare's serum gonadotropin) dan human chorionic gonadotropin (hCG).Tujuan Penelitian iniadalah untuk mengetahui sejauh mana prestasi beranak babi dara (calon induk) dengan menggunakan hormon pregnant mare's serum gonadropin (PMSG) dan human Chorionic Gonadotropin (hCG).Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas dua perlakuan (menggunakan dan tanpa menggunakan hormon PMSG dan hCG) dengan masing-masing 21 ulangan. Semua data dianalisa dengan analisis sidik ragam (ANOVA) Steel dan Torrie (1993).Variabel yang diamati untuk adalah litter size, berat lahir anak babi yang dilahirkan dan mortalitas anak babi yang lahir sampai disapih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah anak babi yang lahir hidup dalam satu kelahiran ada perbedaan sangat nyata bahwa yang lahir dari induk Superovulasi dibandingkan dengan induk yang tidak disuperovulasikan, rata-rata 9.19-6.66 ekor. Dan juga berat lahir rata-rata 1.53-1.40 kg Demikian juga mortalitas anak rata-rata 14.36-29.19%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunakan hormon PMSG dan hCG dapat memperbaiki litter size lahir, bobot lahir, dan menekan persentase mortalitas ternak babi. Kata Kunci:Potensi beranak babi dara,hormon PMSG dan hCG, Babi betina bunting.ABSTRACTTHE ACHIEVEMENT PIGS BEAR LIVESTOCK USING PMSG AND hCG HORMONE ON RANCH IN THE VILLAGE COMMERCIAL KAYAWU. Superovulation is an effort to increase the degree of ovulation by injection of gonadotropin hormones in the body of a female animal. In general, animal donors were injected with preparations of follicle stimulating hormone (FSH) and Pregnant mare's serum gonadotropin (PMSG) or a combination (Pregnant mare's serum gonadotropin) and human chorionic gonadotropin (hCG). The objective of this research was to determine the extent of achievement farrow dara (prospective parent) using pregnant mare's serum hormone gonadropin (PMSG) and human chorionic gonadotropin (hCG). The research using completely randomized design (CRD) consisting of two treatments (using and without using PMSG and hCG hormone) with 21 replications each. All data were analyzed with analysis of variance (ANOVA) Steel and Torrie (1993). Variables was observed for litter size, birth weight piglets born and piglets born mortality until weaning. The results showed that the number of piglets born alive in the birth there is a very real difference that is born of a parent superovulation compared with the parent who does not to superovulated on average 9.19–6.66 tail. And also the average birth weight 1:53 to 1:40 kilograms likewise the average child mortality 14.36–29.19%. From the results of the study concluded that the use of PMSG and hCG hormone can improve birth litter size, birth weight and reduce the percentage of mortality of pigs. Keywords: Extent of achievement of gilt,PMSG dan hCG hormone, and Pregnant mare.


Author(s):  
Amiruddin A ◽  
Tongku Nizwan Siregar ◽  
Teuku Armansyah ◽  
Hamdan H ◽  
Aris Munandar ◽  
...  

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh induksi superovulasi dengan pregnant mare’s serum gonadothropin (PMSG) dan follicle stimulating hormone (FSH) terhadap peningkatan level steroid sapi aceh. Penelitian ini menggunakan 6 ekor sapi aceh betina dengan status tidak bunting, minimal 2 bulan pasca partus, sudah pernah beranak, dan sehat secara klinis. Sapi dibagi atas dua kelompok, masing-masing 3 ekor untuk tiap kelompok. Pada kelompok I, sapi diinjeksi dengan 1.500 IU PMSG pada hari ke-9 yang diikuti dengan penyuntikan 5 ml prostaglandin pada hari ke-11. Pada kelompok II, hari ke-9 sampai hari ke-12, sapi diinjeksi dengan FSH dua kali sehari (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB) menggunakan dosis bertingkat yakni 3-3, 2-2, 1-1, dan 0,5-0,5 ml. Pada hari ke-11 sapi diinjeksi dengan 2,5 ml prostaglandin (pagi dan sore, 08.00 dan 16.00 WIB). Koleksi darah untuk pemeriksaan estrogen dilakukan ketika sapi memperlihatkan gejala berahi (saat inseminasi) setelah pemberian PMSG dan FSH yang diikuti dengan pemberian prostaglandin (berahi sesudah superovulasi) sedangkan koleksi darah untuk pemeriksaan konsentrasi progesteron dilakukan pada hari ke-7 setelah inseminasi. Pengukuran konsentrasi estrogen dan progesteron dilakukan dengan metode enzymelinkedimmunosorbanassay (ELISA). Konsentrasi estrogen pada saat estrus setelah induksi superovulasi dengan PMSG dan FSH masing-masing adalah 89,46±2,46 dan 54,62+9,91 pg/ml sedangkan konsentrasi progesteron pada hari ke-7 setelah inseminasi masing-masing adalah 14,78±2,33 dan 17,40±5,8 ng/ml. Hormon PMSG mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam meningkatkan konsentrasi estrogen pada saat berahi tetapi hormon FSH mempunyai kemampuan yang lebih baik dibandingkan dengan hormon PMSG dalam meningkatkan konsentrasi progesteron hari ke-7 setelah inseminasi.


1976 ◽  
Vol 160 (3) ◽  
pp. 663-670 ◽  
Author(s):  
D H Smith ◽  
N J Kuhn

1. The previously reported induction of luteal 20α-hydroxy steroid dehydrogenase by administration of aminoglutethimide to late-pregnant rats was shown to be unaffected by prior removal of the foetuses. Aminoglutethimide therefore does not act via the foetuses in this context. 2. The ability of injected oestrogen to prevent the above induction was lost by delaying the injection for 12h after aminoglutethimide, although the increase in enzyme activity begins only after 24h. 3. Induction of 20α-hydroxy steroid dehydrogenase by foetoplacental removal on day 18 of pregnancy was inhibited by human choriogonadotropin, lutropin (luteinizing hormone) and pregnant-mare serum gonadotropin, but not by somatotropin (growth hormone), thyrotropin or follitropin (follicle-stimulating hormone) 4. Indomethacin blocked the normal induction of 20α-hydroxy steroid dehydrogenase in late pregnancy and that caused by aminoglutethimide. It partially blocked that caused by human choriogonadotropin given on days 19-20 and that caused by 2-bromo-α-ergocryptine on days 5-6, but failed to block that caused by human choriogonadotropin on days 15-16 or by foetoplacental removal on day 18 of pregnancy. 5. These findings, and the control of progesterone synthesis in late pregnancy, are interpreted in terms of a sequence of hormonal or enzymic syntheses, each of which is inhibited by the product of the preceding synthesis.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document