scholarly journals Factors Predicting Self-Care Behaviors among Low Health Literacy Hypertensive Patients Based on Health Belief Model in Bushehr District, South of Iran

2018 ◽  
Vol 2018 ◽  
pp. 1-7 ◽  
Author(s):  
Azam Larki ◽  
Rahim Tahmasebi ◽  
Mahnoush Reisi

The aim of this study was to determine the factors influencing adherence to self-care behaviors among low health literacy hypertensive patients based on health belief model. A cross-sectional study was conducted among 152 hypertensive patients with low health literacy. Patients with limited health literacy were identified by S-TOFHLA. The data were collected using H-scale for assessing self-care behaviors and, HK-LS for assessing knowledge of hypertension. A researcher-made questionnaire was applied for collecting data of health belief model constructs. Data were analyzed by SPSS version 22 with using multiple logistic regression analyses. Perceived self-efficacy was associated with all self-care behaviors except medication regimens. There was a significant association between perceived susceptibility and adherence to both low-salt diet (OR = 3.47) and nonsmoking behavior (OR = 1.10). Individuals who had more perceived severity (OR = 1.82) had significantly greater adherence to their medication regimens. Perceived benefits and barriers were not significantly associated with either type of hypertension self-care behaviors. It seems that designing and implementation of educational programs to increase self-efficacy of patients and promote their beliefs about perceived susceptibility and severity of complications may improve self-care behaviors among low health literacy hypertensive patients.

Author(s):  
Kiyat Sudrajad ◽  
◽  
RB. Soemanto RB. Soemanto ◽  
Hanung Prasetya ◽  
◽  
...  

Background: Depression is common among adolescents that have been victims of bullying at school or through social media. However, numerous cases of bullying are never reported. Several studies have shown that suicidal ideation is associated with depression in adolescents with bullying. The purpose of this study was to examine the effect of bullying on depression in adolescents in Surakarta using Health Belief Model. Subjects and Method: A cross sectional study was carried out in Surakarta, Central Java, in December 2019. A sample of 250 adolescents was selected for this study randomly. The dependent variable was depression. The independent variables were bullying, perceived susceptibility, perceived severity, and self-efficacy. The data were collected by questionnaire and analyzed by a multiple logistic regression. Results: Depression increased with bullying (OR= 3.5; 95% CI= 1.70 to 7.25; p= 0.001), strong perceived susceptibility (OR= 2.86; 95% CI= 1.32 to 6.19; p= 0.008), strong perceived severity (OR= 2.65; 95% CI= 1.20 to 5.88; p= 0.016), and weak self-efficacy (OR= 5.26; 95% CI= 2.49 to 11.09; p<0.001). Conclusion: Depression increases with bullying, strong perceived susceptibility, strong perceived severity, and weak self-efficacy. Keywords: bullying, depression, health belief model Correspondence: Kiyat Sudrajad. Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret. Jl. Ir. Sutami 36 A, Surakarta 57126, Central Java. Email: [email protected]. Mobile: +6285647116834. DOI: https://doi.org/10.26911/the6thicph.02.56


Author(s):  
◽  
Eti Poncorini Pamungkasari ◽  
Bhisma Murti ◽  
◽  

ABSTRACT Background: In the field of health-care education, theories and models help us to explain and predict behaviors to conduct effective health-care educational programs for changing behaviors. The Health Belief Model (HBM) contains several primary concepts by which individuals evaluate themselves to take action to change their behaviors, including antenatal care uptake in pregnant women. This study aimed to examine factors affecting the use of antenatal care. Subjects and Method: A cross sectional study was carried out in Semarang, Central Java, from June to August 2020. A sample of 250 pregnant women was selected by simple random sampling. The dependent variable was antenatal care. The independent variables were attitude, knowledge, information, self-efficacy, perceived seriousness, perceived susceptibility, perceived barrier, perceived benefit, cues to action, husband support, and facilities. The data were collected by questionnaire and analyzed by a multiple logistic regression. Results: Complete antenatal care increased with strong support (OR= 38.97; 95% CI= 3.19 to 476.53; p= 0.004), high knowledge (OR= 16.44; 95% CI= 2.54 to 106.60; p= 0.003), positive attitude (OR= 29.88; 95% CI= 2.88 to 309.92; p= 0.004), high information toward antenatal care (OR= 31.42; 95% CI= 4.07 to 242.41; p= 0.001), strong self-efficacy (OR= 7.85; 95% CI= 1.50 40.99; p= 0.015), strong cues to action (OR= 11.97; 95% CI= 2.01 to 71.36; p= 0.006), high perceived seriousness (OR= 32.99; 95% CI= 3.93 to 276.98; p= 0.001), high perceived susceptibility (OR= 24.29; 95% CI= 2.50 to 235.78; p= 0.006), high perceived benefit (OR= 30.43; 95% CI= 2.99 to 308.80; p= 0.004), high perceived barrier (OR= 0.07; 95% CI= 0.01 to 0.57; p= 0.013) and complete facilities (OR= 63.52; 95% CI= 3.62 to 1115.08; p= 0.005). Conclusion: Complete antenatal care increases with strong support, high knowledge, positive attitude, high information toward antenatal care, strong self-efficacy, strong cues to action, high perceived seriousness, high perceived susceptibility, high perceived benefit, high perceived barrier and complete facilities. Keywords: antenatal care, health facility, Health Belief Model Correspondence: Widyawati. Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret. Jl. Ir. Sutami 36A, Surakarta 57126, Central Java. Email: [email protected]. Mobile: +6285742919076. DOI: https://doi.org/10.26911/the7thicph.03.117


2021 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 71-79
Author(s):  
Ellia Ariesti ◽  
Felisitas A. Sri S ◽  
Elizabeth Y. Y. Vinsur ◽  
Kristianto D. N

ABSTRAK Proses menua sering dikaitkan dengan insiden penyakit kronik seiring dengan penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial serta berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh luar dari ketahanan tubuhnya. Banyak permasalahan timbul dari kondisi kronis di lansia karena meningkatnya jumlah lansia. Pengontrolan maupun pencegahan menuju kondisi lebih parah dapat dilakukan melalui gaya hidup sehat. Salah satu model yang dikembangkan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang untuk mencari upaya hidup sehat adalah model kepercayaan kesehatan atau Health Belief Model. Tujuan penelitian mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku lansia dengan penyakit kronis dalam mengatasi penyakitnya berdasarkan Health Belief Model di Puskesmas. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami penyakit kronis di Puskesmas Bareng Kota Malang. Jumlah sampel sebanyak 76 responden. Hasil analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa variabel perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers yang berhubungan dengan perilaku lansia (p<0.05). Hasil model akhir analisis multivariat, variabel perceived barriers merupakan variabel yang berhubungan dengan perilaku lansia yang menderita penyakit kronis. Dukungan individu lain terhadap lansia mulai dari mereka yang tinggal bersama maupun oleh aparat penduduk setempat untuk meminimalkan atau menghilangkan rintangan mesti dilakukan agar kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis dapat optimal. Kata Kunci       : Health Belief Model, Penyakit Kronis, Perilaku Lansia


2020 ◽  
Vol 2 (1) ◽  
pp. 92
Author(s):  
Muhamad Solikul Hamdani ◽  
Kun Ika Nur Rahayu ◽  
Yeni Lufiana Novita Agnes

Program Voluntary Counseling and Testing (VCT) merupakan salah satu strategi kesehatan masyarakat yang di lakukan untuk menekan penyebaran HIV/AIDS. Tingginya kasus HIV/AIDS di Indonesia salah satunya dikarenakan minta seseorang yang berisiko untuk melakukan pemeriksaan VCT yang masih rendah. Teori Health Belief Model adalah model teoritis yang dapat digunakan untuk memandu promosi kesehatan dan program pencegahan penyakit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan pemanfatan klinik VCT pada LSL remaja dengan pendekatan teori Health Belief Model (HBM) di Kota Kediri tahun 2020. Pwnwlitian ini termasuk penelitian analiotik korelasi dengan pendekatan Cross sectional. 83 sampel orang dipilih denagn porposive sampling. Variabel Independen variabel meliputi perceived susceptibility, perceived benefits, perceived barrier, perceived seriusnes, dan cues to action. Variabel dependen adalah pemanfaatan layanan VCT. Data di kumpulkan dengan kuesioner dan di analisis dengan sperman rank. Hasil menunjukan bahwa perceived susceptibility dengan pemanfaaatan layanan VCT (p = 0,255), perceived seriousness dengan pemanfaatan layanan VCT (p = 0,241), perceived  benefits dengan pemanfaatan VCT ( p = 0,064), perceived barrier dengan pemanfaatan layanan VCT (p = 0,026), Hubungan cues to action dengan pemanfaatan layanan VCT (p = 0,169). Perceived susceptibility, perceived benefits, perceived seriusnes, dan cues to action tidak memiliki korelasi denagn pemanfaatan layana VCT, perceived barrier memiliki korelasi dengan pemanfaatan layanan VCT. Di saran kan bagi LM untuk sering memberikan informasi kepasa orang-orang beresiko tinggi HIV/AIDS. Kata kunci : VCT, LSL, HIV, HBM


2020 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 94
Author(s):  
Minarni Wartiningsih ◽  
Danoe Soesanto ◽  
Hanna Tabita Hasianna Silitonga ◽  
Gianina Angelia Santoso

Di Surabaya pada tahun 2017, Incidence penyakit diare sebesar 76,602 kasus yang sebelumnya sebanyak 77,617 suspek kasus (98,69%). Kota Surabaya memiliki 63 Puskesmas dan dari tahun 2016 hingga tahun 2018, terdapat 12 Puskesmas yang  inciden penyakit diare pada balita meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh persepsi ibu yang mengasuh balita terhadap perilaku gaya hidup bersih dan sehat berdasarkan Health Belief Model. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Terdapat 120 ibu yang mengasuh balitanya dari 12 Puskesmas ikut terlibat dalam penelitian ini. Responden mengisi kuesioner tentang karakteristik, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefit, cues to action and perilaku gaya hidup sehat. Penelitian ini dilakukan pada bulan Mei tahun 2019. Analisis variabel dilakukan dengan uji analisis bivariat dengan regresi binomial. Karakteristik responden yang terdiri dari (usia, tingkat pendidikan dan tingkat sosio ekonomi) pada penelitian ini berpengaruh terhadap perceived susceptibility, perceived severity and perceived benefits. Perceived susceptibility dan perceived severity berpengaruh terhadap perceived barriers, tingkat pendidikan juga berpengaruh terhadap perceived benefits. Cues to action berpengaruh terhadap perceived barriers dan perceived barrier dan perceived benefits berpengaruh terhadap perilaku hidup bersih dan sehat. Kata kunci: Diare, Persepsi, Health Believe Models, PHBS


2021 ◽  
Author(s):  
Eko Winarti ◽  
Chatarina Umbul Wahyuni ◽  
Yohanes Andy Rias ◽  
Yudied Agung Mirasa ◽  
Sondang Sidabutar ◽  
...  

Background: Understanding the health practice of Indonesian residents and its related factors during the COVID-19 pandemic is crucial, but such association necessitates clarity. Objective: To examine the health practices of the Indonesian citizens and their correlations with knowledge and health belief model (perceived susceptibility, barriers, benefits, severity, and self-efficacy) during the COVID-19 pandemic. Methods: A community-based online cross-sectional design was employed. The study was conducted from 10 July to 30 August 2020 among 552 citizens selected using convenience sampling. Sociodemographic characteristics, knowledge, health belief model, and health practices, including wearing a mask, social distancing, and washing hands, were measured using validated questionnaires. Adjusted odds ratios (AORs) and logistic regression were employed for data analysis.Results: The adjusted AORs (95% CIs) of a good level of health practices—wearing the mask, social distancing, and washing hands—were 3.24 (1.52~6.89), 2.54 (1.47~4.39), and 2.11 (1.19~3.75), respectively, in citizens with the high level of knowledge. Interestingly, respondents with positively perceived susceptibility exhibited significantly good practice in wearing the mask (4.91; 2.34~10.31), social distancing (1.95; 1.08~3.52), and washing hands (3.99; 2.26~7.05) compared to those with negatively perceived susceptibility. In addition, perceived barriers, benefits, severity, and self-efficacy also exhibited a significantly good all variables of health practice regarding COVID-19 pandemic after adjusting for confounding variables.Conclusion: Citizens with high levels of knowledge and positive levels of the health belief model had good practice of wearing masks, social distancing, and washing hands. The outcomes of this survey could encourage health professionals, including nurses, through management practices of nursing intervention based on the health belief model during the pandemic.Funding: This study was funded by the University of Kadiri, Kediri, Indonesia (106/P.1/LP3M/XII/2020).


2019 ◽  
Vol 49 (1) ◽  
pp. 24-33
Author(s):  
Dwi Indah Lestari

Efek buruk asap rokok lebih besar bagi perokok pasif dibandingkan perokok aktif. Oleh karena itu diperlukan langkah-langkah pengamanan rokok bagi kesehatan, diantaranya melalui penetapan Kawasan Tanpa Rokok. Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II adalah bandara internasional dan salah satu tempat Kawasan Tanpa Rokok yang memiliki sejumlah promosi kesehatan tentang Kawasan Tanpa Rokok. Penelitian ini bertujuan Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dampak promosi kesehatan kawasan tanpa rokok di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode in-depth interview (wawancara mendalam) dan observasi. Informan penelitian ini sebanyak 7 orang ditentukan secara purposive sampling. Analisis dampak promosi kesehatan menggunakan konsep Health-Belief Model (perceived susceptibility, perceived seriousness/severity, perceived benefit, perceived barriers, cues to action, self-efficacy). Penelitian ini dilakukan dengan metode in-depth interview (wawancara mendalam) dan observasi. Analisis dampak promosi kesehatan menggunakan konsep Health-Belief Model. Terdapat dampak dari promosi kesehatan kawasan tanpa rokok di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II pada pekerja dan pengunjung. Persepsi kerentanan pada pekerja yaitu merasa rentan terkena sanksi KTR. Persepsi kerentanan pada pengunjung yaitu merasa rentan membahayakan kesehatan orang lain dan lingkungan. Persepsi keseriusan/keparahan pada pekerja dan pengunjung yaitu merasa berbahaya kebakaran dan mengganggu penerbangan. Persepsi manfaat pada pekerja yaitu keselamatan bandara dan penerbangan. Persepsi manfaat pada pengunjung yaitu dapat terhindar dari asap rokok. Persepsi hambatan pada pekerja dan pengunjung yaitu kecanduan, kurang kesadaran, dan kurang pemahaman mengenai KTR. Pemicu untuk bertindak pada pekerja dan pengunjung adalah teguran dari petugas. Kemampuan diri pada pekerja dan pengunjung karena memahami peraturan dan menaatinya.


2017 ◽  
Vol 6 (1) ◽  
pp. 71-82
Author(s):  
Juliette Pepita Felicia ◽  
Weny Savitry S. Pandia

Penelitian ini bertujuan memberikan deskripsi persepsi guru taman kanak-kanak Islam (TKI) terhadap pendidikan seksual anak usia dini berdasarkan teori Health-Belief Model (HBM). Penelitian dilakukan di TKI XYZ menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode kuesioner dan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara. HBM mengandung berbagai persepsi individu yang berkaitan dengan perilaku kesehatan. Perilaku kesehatan dalam penelitian ini adalah penerapan pendidikan seksual anak usia dini. Hasil data kuantitatif menunjukkan sebagian besar guru memiliki persepsi netral dalam setiap variabel HBM yaitu 50% guru pada Perceived Susceptibility, 62.5% guru pada Perceived Severity, 62.5% guru pada Perceived Benefit, 68.75% guru pada Perceived Barrier, 62.5% guru pada Cues to Action, 81.25% guru pada Self-Efficacy, dan 56.25% guru pada Perilaku Kesehatan. Data kualitatif menunjukkan guru TKI XYZ belum melakukan Perilaku Kesehatan secara komprehensif. Informasi terkait pendidikan seksual yang disampaikan pada siswa tidak sistematis, bersifat situasional, belum merata kepada seluruh siswa, dan belum dapat di evaluasi keefektifannya. Hal ini disebabkan pemahaman guru yang kurang mengenai kekerasan seksual, perkembangan seksual, dan pendidikan seksual anak usia dini. Hambatan guru dalam menerapkan Perilaku Kesehatan adalah kemampuan diri, faktor budaya, dan persetujuan orangtua siswa. Kata Kunci: persepsi, guru, health-belief model, pendidikan seksual, anak usia dini 


2021 ◽  
Vol 11 (1) ◽  
pp. 71-79
Author(s):  
Ellia Ariesti ◽  
Felisitas A. Sri S ◽  
Elizabeth Y. Y. Vinsur ◽  
Kristianto D. N

ABSTRAK Proses menua sering dikaitkan dengan insiden penyakit kronik seiring dengan penurunan kondisi fisik, psikologis, maupun sosial serta berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi pengaruh luar dari ketahanan tubuhnya. Banyak permasalahan timbul dari kondisi kronis di lansia karena meningkatnya jumlah lansia. Pengontrolan maupun pencegahan menuju kondisi lebih parah dapat dilakukan melalui gaya hidup sehat. Salah satu model yang dikembangkan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang untuk mencari upaya hidup sehat adalah model kepercayaan kesehatan atau Health Belief Model. Tujuan penelitian mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku lansia dengan penyakit kronis dalam mengatasi penyakitnya berdasarkan Health Belief Model di Puskesmas. Jenis penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah lansia yang mengalami penyakit kronis di Puskesmas Bareng Kota Malang. Jumlah sampel sebanyak 76 responden. Hasil analisis menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa variabel perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers yang berhubungan dengan perilaku lansia (p<0.05). Hasil model akhir analisis multivariat, variabel perceived barriers merupakan variabel yang berhubungan dengan perilaku lansia yang menderita penyakit kronis. Dukungan individu lain terhadap lansia mulai dari mereka yang tinggal bersama maupun oleh aparat penduduk setempat untuk meminimalkan atau menghilangkan rintangan mesti dilakukan agar kualitas hidup lansia dengan penyakit kronis dapat optimal. Kata Kunci       : Health Belief Model, Penyakit Kronis, Perilaku Lansia


2021 ◽  
Author(s):  
Ravi Prakash ◽  
Lonsako Abute ◽  
Belay Erchafo ◽  
Tegegn Tadesse ◽  
Tirulo Kedir ◽  
...  

Abstract Background Diabetes a chronic disease requires lifelong medical treatments and life-style adjustment. Hence, it requires dedication towards self-care behavior in multiple domains. We aimed to identify determinants of self-care behavior among patients with diabetes through Health Belief Model Perspective. Methods A cross-sectional study was conducted on 276 patients with simple random sampling technique. The level of self-care behavior on diabetic patients was measured using parameters of physical exercise, diet, medication and blood glucose. Bivariate and multivariable logistic regression analyses were conducted. Results Approximately, 119 (43.1%) of them practiced recommended self-care practices. Patients with more information performed 3 times more self-care (OR-3.07;95%CI 0.19–7.9) than less informed patients. Individuals with high income performed two times more self-care than less income (OR-2.42;95%CI 1.04–17.95). High perceived severity was 8 times more likely to performed for self-care than less perceived severity (OR-8.3,95%CI1.19-16.25). Conclusion Status of self-care practices on diabetic patients is lower than studies in other areas. Training should be focused on perceived severity of diabetes and how to overcome perceived barriers for self-care by increasing the frequency and reach out message on diabetes.


Sign in / Sign up

Export Citation Format

Share Document